
Pak Salihun dan Pak Ratno pagi itu juga tak ketinggalan ikut berkumpul di rumah Pak Ade. Di sana sudah berkumpul warga yang lain yang juga ingin melihat keadaan Pak Ade secara langsung. Namun, setelah mereka semua sampai di rumah Pak Ade, mereka akhirnya mengetahui bahwa Pak Ade sudah dibawa ke rumah sakit oleh Bu Nisa dan keluarga Pak Dimas. Semua warga hanya bisa bertemu dan berbincang-bincang dengan Pak Jefri dan Bu Jefri.
“Gimana keadaan Pak Ade tadi, Bu?” tanya beberapa warga hamper bersamaan.
“Duh, kalau kalian tadi melihat kondisi Pak Ade pasti nggak tega. Mukanya ini penuh darah. Dan badannya peuh dengan luka,” jawab Bu Jefri dengan berapi-api.
“Apa Pak Ade tadi pingsan, Bu?” tanya warga lagi.
“Nggak sampai pingsan, sih. Tapi kondisinya sudah lemah sekali. Sudah nggak bisa bangun walaupun sekedar duduk,” jawab Bu Jefri lagi.
“Loh, apa ada tanda-tanda kelumpuhan, Bu?” tanya warga lagi.
“Semoga tidak sampai begitu ya Bu. Tapi, kalau Anda tadi melihat kondisinya langsung, Anda nggak akan tega pokoknya,” jawab Bu Jefri dengan nada dramatis.
“Apa benar Pak Ade itu jatuh karena dikejar oleh hantunya Laras, Bu?” tanya warga yang lain.
“Kalau kata Pak Ade sih emang begitu,” jawab Bu Jefri dengan nada tidak enak sambil agak melengos sebentar ketika beradu pandang dengan Pak Salihun dan Pak Ratno.
“Tapi, barusan Pak Jefri bilang kalau Pak Ade itu salah sangka. Dia mengira baju belakangnya ditarik Laras padahal kecantol gagang pintu kamar mandi. Mana yang benar, Bu? Omongan Anda apa omongan Pak Jefri?” potong warga yang lain.
“Suami saya memang melihat kalau robekan bagian belakang baju Pak Ade ada di gagang pintu, tapi Pak Ade sendiri bilang kalau dia dipegangi hantunya Laras. Sekarang Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu mau lebih percaya dengan analisa suami saya atau perkataan Pak Ade langsung. Mengingat Pak Ade yang mengalami kejadian itu sendiri,” pungkas Bu Jefri.
“Iya juga, sih. Benar juga kata Bu Jefri. Duh, berarti hantunya Laras ini sudah menelan banyak korban, ya? Jangan-Jangan Pak Hartono itu tewas karena diganggu oleh hantunya Laras juga,” gumam salah satu warga.
“Loh, kamu ini baru dengar, toh? Sebelum Pak Hartono itu tewas kecelakaan, Bu Reni kan sudah diganggu oleh hantu Laras sehari sebelumnya?” imbuh warga yang lain.
“Hus! Kalian ini ngomong apaan, sih? Kalau tidak ada bukti, jangan asal ngomong. Kalian bisa dikenai pasal perbuatan tidak menyenangkan. Apa kalian ini tidak sadar di sini ada kaki tangannya Pak Herman dan Bu Dewi?” tegur salah satu warga.
“Ups! Iya juga sih. Lagipula aku takut ntar malah aku yang didatangi hantunya Laras gara-gara membicarakannya,” jawab warga tadi.
Sementara itu di sudut yang lain, Pak Jefri juga sibuk menjawab pertanyaan para tetangganya. Mayoritas yang menggerumuti Pak Jefri adalah kaum adam yang tidak suka bertele-tele atau menambah-nambahi omongan. Pak Jefri sendiri pun menyampaikan informasi sesuai dengan apa yang ia lihat. Tidak dilebihkan maupun dikurangi.
Pak Salihun dan Pak Ratno yang juga berada di tempat itu pun mendengar dan melihat langsung semua isi percakapan mereka. Mereka hanya berpura-pura saja tidak menggubris ketika orang-orang itu membicarakan Laras. Begitu pula orang-orang itu. Mereka bukan tidak mengetahui keberadaan kedua pria itu di sana, tapi mereka sengaja berpura-pura tidak tahu keberadaan dua pria tua itu saja. Akhirnya, Pak Salihun dan Pak Ratno pun tidak betah berlama-lama di tempat tersebut. Mereka berdua datang paling akhir, tapi pulang lebih awal dibandingkan yang lain.
“Kita pulang saja, Rat!” ajak Pak Salihun.
__ADS_1
“Ayo, Hun!” jawab Pak Ratno.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah Pak Ade tanpa pamit terlebih dahulu kepada yang lain. Kepergian mereka disorot oleh warga yang masih bertahan di rumah Pak Ade. Entah apa yang akan mereka perbincangkan lagi di depan rumah Pak Ade. Apalagi kalau bukan mempergunjingkan Laras dan keluarga Pak Herman.
“Rat, kamu dengar nggak, apa yang tadi diperbincangkan orang-orang itu?” tanya Pak Salihun pada sahabatnya itu.
“Dengar sekali, Hun. Lah wong telingaku nggak budeg,” sahut Pak Ratno dengan nada emosi.
Pak Salihun sadar bahwa ia sudah salah mengajukan pertanyaan kepada temannya itu. Pak Ratno memang tidak pernah mengakui bahwa pendegarannya agak minim.
“Maksudku, kamu kan biasanya cuek dengan omongan orang. Barusan itu kamu tahu nggak, kalau orang-orang itu sedang membicarakan Mbak Laras dan kita?” ujar Pak Salihun.
“Iya, Hun. Aku dengar kok. Aku gregetan sama mereka itu. Apalagi sama Bu Jefri itu. Giliran Bu Dewi bagi-bagi sedekah saja mereka itu berebut dan sok bermanis-manis muka. Nggak tahunya mereka itu di belakang Bu Dewi malah ngejelek-jelekin Mbak Laras. Itu kan sama saja dengan ngejelekin Bu Dewi juga? Mana perempuan gembrot itu pake nyindir-nyindir kita segala. Kenapa nggak ngomong langsung saja, biar kurobek mulut perempuan yang ember macam itu!” jawab Pak Ratno dengan semakin emosi.
“Sabar! Sabar! Kalau kamu ngomong kasar kayak gini. Itu artinya kamu nggak ada bedanya dengan Bu Jefri itu. Emang kamu punya uang berapa, kok berani menyobek mulut orang? Berani kamu sama Pak Jefri” balas Pak Ratno.
“Ya, enggak, sih. Lagipula kalau Pak Jefri orangnya baik. Beda banget sama istrinya. Omongannya bikin orang darah tinggi saja,” sahut Pak Ratno dengan nada rendah.
“Ya sudah. Nggak usah dipikirkan, Rat. Anggap saja anjing menggonggong, lah wong Bu Dewi dan Pak Herman baik-baik saja tuh. Bu Dewi malah tiap malam sendirian tinggal hanya bareng Panji. Rumahnya dekat dengan rumah Mbak Laras. Buktinya aman-aman saja tuh! Berarti gosip Mbak Laras jadi hantu itu hanya isu semata, jawab Pak Salihun.
“Hm … Aku sebenarnya juga ragu, sih, Rat. Tapi, benar kata kamu barusan, buktinya Bu Dewi aman-aman saja sampai sekarang. Orang-Orang saja yang bikin suasana di dusun Delima ini jadi terkesan seram,” jawab Pak Salihun
“Sip lah kalau begitu. Berarti mulai saat ini kita nggak usah takut lagi sama rumor hantu itu, ya?” ujar Pak Ratno.
“Oke,” jawab Pak Salihun.
“Kita mau ke mana sekarang? Apa kita akan melaporkan hal ini kepada Pak Herman atau Bu Dewi?” tanya Pak Ratno.
“Jangan, Rat! Aku nggak mau mereka jadi kepikiran lagi” jawab Pak Salihun.
“Terus, kita mau ke mana sekarang?” tanya Pak Ratno.
“Gimana kalau kita ke sawah, Rat, untuk mengecek hasil perangkap tikus kita, apa berhasil atau tidak?” jawab Pak Salihun.
“Sepagi ini?” tanya Pak Ratno ragu.
__ADS_1
“Kamu mau panen besar, nggak?” tanya Pak Salihun.
“Mau dong, biar bisa nabung untuk naik haji,” sahut Pak Ratno.
“Ya, kita jangan menunda-nunda pekerjaan kalau mau panen besar. Kalau kita pulang sekarang ntar bawaannya malah ngantuk dan tidur. Nggak baik loh tidur di pagi hari,” jawab Pak Salihun.
“Ya sudah kalau begitu. Ayo, kita segera berangkat ke sawah!” jawab Pak Salihun dengan penuh semangat.
“Nah, gitu dong yang semangat! Ngomong-Ngomong kamu kok sekarang fokus banget pendengarannya?” tanya Pak Salihun dengan kalimat diperhalus agar tidak menyinggung perasaan temannya itu.
“Apa? Kamu mau bilang aku budeg, kan? Pendengaranku ini kalau habis mendengar suara ibu-ibu bawel dan nyinyir jadinya malah makin peka Hun!” jawab Pak Ratno.
“Ya, sudah. Ayo, berangkat sekarang ke sawah!” ucap Pak Salihun dengan suara normal tidak keras seperti sebelumnya. Pria itu memang punya kebiasaan berbicara agak keras kepada Pak Ratno.
“Apa, Hun?” tanya Pak Ratno sambil mendekatkan telinganya.
“Ya Allah … Kirain sudah sembuh kamu, Rat! Tenyata masih bude saja!” umpat Pak Salihun dengan suara normal.
“Kamu ngomong apaan sih, Hun? Kok, kayak bisik-bisik?” protes Pak Ratno.
“Enggak kok, Rat. Aku barusan hanya bergumam saja. Sekarang, kita berangkat, yuk!” ucap Pak Salihun tepat di telinga sahabatnya itu.
“Oke, Hun! Gitu dong ngomongnya diperjelas!” jawab Pak Ratno dengan wajah polos.
Pak Salihun hanya bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan sahabatnya itu.
“Lewat mana, Hun?” tanya Pak Ratno lagi.
“Lewat depan kuburan lah! Mau lewat mana lagi?” jawab Pak Salihun datar.
“Ya Tuhan!” pekik Pak Ratno.
“Kenapa, Rat, kamu takut?” tanya Pak Salihun dengan berbisik di telinga Pak Ratno.
“Eng-enggak, kok, aku nggak takut!” jawab Pak Ratno sedikit terbata-bata.
__ADS_1
BERSAMBUNG