MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 60 : SALAH PAHAM


__ADS_3

Minul berjalan dengan lesu menuju ke kebun pisang milik Bu Reni yang letaknya agak jauh dari rumah penduduk. Sepanjang jalan, Minul yang memang tidak pernah melakukan pekerjaan mengambil daun pisang itu terus saja menggerutu.


“Kenapa sih Bu Reni ini harus menyuruh aku yang mengambil daun pisang di kebun? Jadinya aku harus panas-panasan di bawah sinar matahari, kan? Kalau sampai kulitku jadi tamba gelap bagaimana? Eh, tapi kalau kulitku tambah hitam, kayaknya bakal makin keren kalau aku menggunakan baju berwarna merah cabe atau hijau neon? Apalagi kalau pakai rumbai-rumbai. Pasti cowok-cowok di dusun ini akan semakin banyak yang suka sama aku. Hm … Tapi, yang paling utama itu yang cakep kayak Pak Ratno tentunya. Gentelnya kayak Pak Salihun … Duh, pasti aku aka menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia kalau bisa mendapatkan suami seperti itu. Loh, kok aku bawa-bawa nama Pak Salihun? Enggak lah! Meskipun Pak Salihun itu perhatian, tapi suami impianku tetaplah Pak Ratno seorang. Tak ada yang lain! Titik!” Minul berbicara dengan dirinya sendiri.


Semilir angin berhembus dan membuat daun-daun pisang itu bergoyang-goyang. Sementara itu Pak Ratno yang sedang berbunga-bunga hatinya karena ia merasa sebentar lagi akan bertemu dengan Jamila. Pria tua itu membawa sabit di belakang punggungnya dan galah di tangan kanannya. Sepanjang jalan pria tua itu bersiul sambil bersenandung menyiratkan kebahagiaan di hatinya. Pagi itu Pak Ratno mengenakan atasan kaus berkerah berwarna krem dengan bawahan berupa celana training dengan warna senada dengan atasannya. Tak lupa Pria tua itu juga mengenakan topi pelindung kepala dari panas matahari yang warnanya juga serasi dengan pakaian yang dikenakan. Pakaian yang dipakai Pak Ratno memang bukan pakaian baru, tapi karena orangnya rapi, jadi masih kelihatan baru.


“Ajining rogo soko busono. Ajining diri ono ing lati …,” itulah pesan orang tua Pak Ratno yang selalu diingat oleh pria itu sejak kecil sampai sekarang.


“Ke mana si Jamila? Kok, tidak kelihatan batang hidungnya dan senyumnya yang manis itu?” tanya Pak Ratno pada dirinya sendiri.


Pak Ratno terus saja berjalan sambil membawa sabit dan galah sehingga ia sudah sampai di tengah-tengah kebun pisang tersebut. Pak Ratno menghentikan langkahnya ketika dari kejauhan ia melihat sosok perempuan sedang berdiri di bawah pohon pisang dan celingukan ke sana ke mari.


“Apakah itu Jamila? Tapi, kok badannya agak lebih lebaran? Coba aku dekati saja!” ucap Pak Ratno pada dirinya sendiri.


Sementara itu Minul yang sedang kepanasan karena sinar matahari mulai terasa terik itu pun memilih untuk berdiri di bawah pohon pisang yang agak rimbun daunnya agar bisa terhindar dari sengatan sinar matahari. Ketika perempuan itu berdiri di bawah pohon pisang dan menoleh ke kiri dan ke kanan, ia melihat dari kejauhan ada seorang laki-laki sedang membawa galah dan laki-laki itu berjalan ke arahnya.


“Apakah itu orang yang akan membantuku untuk mengambil daun-daun pisang ini? Kok pria bukan wanita? Tunggu! Apakah itu Pak Salihun? Sebaiknya aku mendekati pria itu supaya lebih jelas kelihatan,” ucap Minul sambil melangkah mendekati pria yang dimaksud.


“Loh, perempuan itu ternyata mendekatiku. Tapi, aku kok masih ragu kalau itu Jamila, ya? Bodinya lebih besar dan warna pakaiannya juga terlalu terang. Jamila tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu. Sepertinya perempuan itu juga sedang berteriak. Tapi, apa yang ia teriakkan aku tidak dapat mendengarnya. Apa dia sedang memanggil namaku? Entahlah! Sebaiknya aku buru-buru mendatangi perempuan itu biar nggak penasaran,” ucap Pak Ratno lagi.


“Duh, sinar matahari ini bikin silau mataku saja. Siapa sih pria itu? Apa itu Pak Salihun beneran? Atau aku panggil saja namanya? Siapa tahu pria itu mendengar panggilanku. Pak Salihuuuuuuuun … Pak Salihuuuuun … Duh, sampai habis suaraku pria itu tidak menyahut. Masa Pak Salihun budeg? Atau jangan-jangan dia itu …” Minul terus berjalan mendekati pria itu sambil otaknya terus berpikir.


“Minuuuuul????” pekik Pak Ratno terkejut setelah berada cukup dekat dengan perempuan di depannya.


“P-Pak Ratno???” pekik Minul terkejut karena orang yang ia sangka Pak Salihun ternyata adalah Pak Ratno.


Kali ini mereka berdua sedang berdiri berhadapan dengan jarak sekitar tiga meter. Mereka berdua sama-sama canggung karena sama-sama salah menebak terhadap identitas orang di depannya. Selama


“Kamu?” tanya Pak Ratno tergagap.


“I-iya, Pak. Aku disuruh Bu Reni untuk mengambil daun pisang di kebun ini untuk membuat kue iwel-iwel. Pak Ratno sendiri di sini ngapain?” sahut Minul dengan diakhiri pertanyaan serupa.


“A-ku di sini disuruh Bu Reni juga untuk membantu mengambil daun pisang,” jawab Pak Ratno dengan lemah karena ia merasa kecewa ternyata bukan Jamila yang akan menemaninya mengambil daun pisang di kebun ini.


“Berarti kita berdua ini jodoh, Pak!” sahut Minul dengan antusias.


“Apa, Nul?” tanya Pak Ratno karena ia tidak begitu mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Minul barusan.


“Maksudku kita berdua ini sama-sama disuruh oleh Bu Reni, Pak!” jawab Minul dengan kenes karena Pak Ratno tidak peka dengan apa yang ia maksudkan.


“Oooo … Kirain kamu ngomong apaan, Nul,” jawab Pak Ratno datar.


“Ah, Pak Ratno ini jadi pria nggak peka banget sih? Bukankah kemarin magrib kita sudah pernah ngobrol berdua? Malah kamu sengaja megangi tanganku, kan? Sekarang kok malah kayak amnesia saja. Dasar laki-laki sok jaim! Kalau gelap-gelapan saja berani. Bukankah di sini juga nggak ada orang? Ah, sudahlah! Mungkin kamu ini sok jual mahal saja, Pak Ratno,” kata Minul di dalam hatinya.


“Nul, matahari sudah mulai panas. Kita mulai saja mengambil daun pisangnya, ya? Biar aku pasangkan dulu sabitnya ke ujung galah. Nanti kamu yang mengambil daun-daun itu dari pohonya!” ucap Pak Ratno dengan nada serius.


“I-iya, Pak!” jawab Minul dengan salah tingkahnya.


“Duh, ngomongnya kok formal sekali sih, Pak? Nggak kayak semalam? Bikin bosan saja!” gerutu Minul di dalam hati.


Pak Ratno pun mulai memasang sabit ke ujung galah dengan cara mengikat gagang sabit ke ujung galah. Ketika Pak Ratno mengikat tali untuk merekatkan gagang sabit ke ujung galah, Minul memperhatikannya dengan sangat antusias. Pak Ratno merasa risih diperhatikan seperti itu oleh Minul.


“Kamu kok sampai segitunya melihatku mengikat gagang sabit ini, Nul? Kayak nggak pernah melihat orang mengikat sabit ke galah?” tegur Pak Ratno yang merasa risih diperhatikan seperti itu.


“Memang aku nggak pernah melihat seperti yang Pak Ratno lakukan,” jawab Minul sambil tersenyum getir.


“Ketus banget sih kamu sama aku, Pak Ratno. Sikap kamu itu berbeda banget ya antara semalam dengan hari ini? Semalam itu suaramu lebih kalem, lembut, dan ramah. Sekarang omonganmu kasar banget. Masih mending sikap Pak Salihun semalam. Meskipun dia nggak seganteng kamu, tapi Pak Salihun itu orangnya lumayan humoris dan perhatian banget. Lah, kamu sekarang kaya gini?” gerutu Minul di dalam hati.


“Sudah selesai. Ayo, kamu gunakan galah ini untuk mengambil daun pisang di atas. Ingat! Pilih daunnya yang bagus-bagus! Jangan yang dimakan ulat!” ucap Pak Ratno sambil menyerahkan galah yang sudah ia pasangkan kepada Minul.


“Terima kasih, Pak. Aku akan mengambil daun pisang yang bagus sesuai dengan pesan Pak Ratno barusan,” jawab Minul sambil melempar senyuman kepada Pak Ratno.


Pak Ratno hanya membalas senyuman dari Minul dengan mengangkat kedua ujung bibirnya sejenak.


“Pelit banget senyummu, Pak! Tapi ganteng, sih! Dasar laki-laki! Sok jual mahal padahal suka kan sama aku?” ucap Minul di dalam hati.


Minul pun mulai mengambil daun pisang dengan memotong pangkal pelepah pisang dengan menggunakan sabit yang diikat ke ujung galah. Pak Ratno menunggu Minul menyelesaikan tugasnya sambil mencari tempat duduk yang teduh.

__ADS_1


Deg


Jamila yang sedang mengintai aktivas yang dilakukan mereka berdua pun merasa deg-degan seketika saat Pak Ratno duduk tepat di depan perempuan itu. Untunglah ada semak-semak yang cukup leba daunnya sehingga Pak Ratno tidak melihat keberadaannya di tempat itu.


“Ya Tuhan! Ngapain kamu di duduk di sini, Pak Ratno? Duh, bikin aku ketakutan saja. Bagaimana kalau sampai tempat persembunyianku ini diketahui oleh Pak Ratno. Pasti kamu akan marah kepadaku karena menganggapku sedang mempermainkan kamu. Begitu pula Minul. Dia pasti tidak akan mau lagi berteman denganku jika mengetahui sedang dipantau olehku,” rutuk Jamila di dalam hati.


Srrrrrrrt!!!


Daun pisang yang masih muda jatuh ke tanah. Hampir saja mengenai Pak Ratno yang sedang duduk-duduk di tempat itu. Daun pisang kalau dipotong pelepahnya memang jatuhnya kadang-kadang agak jauh dari posisi asalnya.


“Astagfirullah!” pekik Pak Ratno terkejut.


“Ya Tuhan!! Mohon maaf, Pak! Aku tida sengaja,” teriak Minul sambil berlari mendekati Pak Ratno.


“Nggak apa-apa aku, Nul. Tapi, kenapa kamu mengambil daun pisang yang baru saja tumbuh? Daunnya kan masih menguncup? Kamu pilih daun yang sudah mekar. Jangan yang masih berupa pucuk daun seperti ini!” tegur Pak Ratno dengan nada suara agak tinggi.


“Iya, Pak. Aku mohon  maaf karena jujur baru kali ini aku mengambil daun pisang di kebun makanya aku nggak tahu daun yang seperti apa yang bisa diambil,” sahut Minul dengan agak merengut.


“Kamu kan dari tadi sudah aku bilangi, Nul? Masa nggak paham-paham?” gerutu Pak Ratno mulai kesal dengan ketidaktahuan Minul.


“Iya … Iya deh! Ini aku ambil lagi yang besar!” sahut Minul sambil menarik daun pisang yang sesuai spek yang diminta Pak Ratno barusan.


“Nah, ini sudah benar, Nul. Tapi, pelan-pelan kamu potong pelepahnya! Jangan terlalu keburu-buru ntar bisa nyasar ke aku lagi pelepah pisangnya,” sahut Pak Ratno.


“Biarin! Biar tahu rasa! Suruh siapa jadi orang ketus banget!” sahut Minul dengan suara dipelankan.


“Apa, Nul?” teriak Pak Ratno karena tidak mendengar suara Minul dari posisinya duduk.


Pak Ratno hanya melihat ada pergerakan bibir dari Minul maka ia pun penasaran.


“Nggak ada, Pak. Aku bilang ‘iya’ barusan,” jawab Minul dengan agak dikeraskan.


Jamila yangsedang bersembunyi di balik semak-semak merasa bahagia karena ia tidak melihat Pak Ratno dan Minul berbuat macam-macam di tempat itu. Terlebih ia tidak melihat Pak Ratno sedang berusaha menggoda Minul. Perempuan itu mulai merasa menyesal telah melakukan rencana konyol tersebut. Terlebih perempuan itu mulai gelisah karena ternyata di semak-semak tempat ia bersembunyi itu ternyata ada semutnya yang mulai menggigit kakinya sehingga ia pun merasa gatal, tapi ia tidak berani bergerak sedikitpun karena Pak Ratno masih berada di dekat semak-semak itu.


“Buruan pindah dong, Pak! Kakiku gatal nih sudah tak tahan untuk digaruk. Mana semutnya tambah banyak nih!” omel Jamila pada dirinya sendiri yang telah membuat rencana konyol ini.


“Hm, kayaknya kurang lima buah lagi, Nul!” jawab Pak Ratno sambil bangkit berdiri dan berjalan memunguti pelepah-pelepah pisang yang berceceran di tanah.


“Oke, Pak. Terima kasih banyak, ya? Berkat Pak Ratno aku sekarang bisa mengambil daun pisang di kebun. Ngomong-Ngomong daun pisangnya Pak Ratno apain itu?” ujar Minul lagi.


“Daun pisangnya aku jemur, Nul!” jawab Pak Ratno.


“Ngapain di jemur, Pak? Kan tidak basah?” protes Minul lagi.


“Dasar kamu ini, Nul. Masa kayak gini saja nggak paham? Daun pisangnya dijemur dulu supaya agak layu dan tidak keras tekstur daunnya sehingga tidak mudah sobek saat digunakan nanti. Paham?” sahut Pak Ratno.


“Oooo begitu. Iya, Pak. Aku paham sekarang. Sudah selesai aku menambahkan lima daun pisangnya, Pak! Aku harus ngapain sekarang?” tanya Minul lagi.


“Sudah, kamu istirahat saja dulu, Nul! Biar aku saja yang menjemur daun-daun ini semuanya,” jawab Pak Ratno.


“Tidak, Pak! Biar aku bantuin Pak Ratno menjemur daun pisangnya sampai selesai,” jawab Minul dengan antusias.


Sementara itu Jamila pun bisa bernapas dengan lega karena sudah bisa menggaruk kakinya yang gatal dan sekaligus ia bisa membunuh semut-semut merah itu.


“Pak, berapa lama daun-daun ini kita jemur?” tanya Minul sambil menata daun-daun itu agar terlihat rapi seperti yang dilakukan oleh Pak Ratno.


“Nggak usah lama-lama, Nul Nanti kita menunggunya sambil duduk-duduk di sana dulu,” jawab Pak Ratno sambil menunjuk ke arah tempa ia duduk tadi yang memang agak teduh karena daun pisangnya tidak diambil satupun.


“Baik, Pak.” Jawab Minul dengan perasaan bahagia.


“Duh, Pak! Kepalaku kok medadak pusing, ya?” ujar Minul sambil memegangi kepalanya.


“Kamu nggak apa-apa, Nul?” tanya Pak Ratno sambil memperhatikan Minul.


“Kepalaku pening, Pak! Aduh!” Minul memekik karena pandangannya menjadi gelap dan matanya berkunang-kunang.


“Nul!!!” teriak Pak Ratno sambil menangkap tubuh Minul yang tiba-tiba oleng.

__ADS_1


Untunglah Pak Ratno cepat menangkap tubuh Minul yang bongsor itu kalau tidak, Minul pasti sudah jatuh ke tanah. Posisi saat itu Minul sedan bergelandot di pelukan Pak Ratno. Awalnya Minul memejamkan matanya karena pusing. Namun setelah beberapa detik ia pun membuka matanya dan kedua mata mereka pun akhirnya saling beradu pandang. Ada kesejukan yang dirasakan Minul saat berada di pelukan Pak Ratno.


“Masyaallah! Ganteng sekali kamu Pak Ratno!” ucap Minul di dalam hati.


“Kamu nggak apa-apa, Nul?” tanya Pak Ratno begitu ia melihat mata Minul sudah bisa membuka.


Minul tidak serta merta menyahut. Ia sangat menikmati momen dipeluk oleh Pak Ratno saat itu.


“Nul! Kamu sudah tidak kenapa-kenapa? Ayo, kita berteduh di sana! Di sini panas ntar kamu kehilangan keseimbangan lagi kayak barusan,” ujar Pak Ratno lagi.


Sebenarnya saat itu Minul tidak ingin bergerak sedikitpun. Ia ingin waktu berhenti bergerak dulu karena Minul begitu bahagia bsa dipeluk oleh Pak Ratno. Namun, Minul menyadari bahwa ia tidak bisa terus-terusan begitu.


“Iya, Pak. Aku sudah enakan. Terima kasih, ya,” jawab Minul sambil berusaha bangun dan berdiri dengan kakinya sendiri.


“Biar aku tuntun kamu ke sana!’ sahut Pak Ratno sambil membimbing tubuh Minul berjalan menuju ke bawah pohon pisang.


Minul memanfaatkan kesempatan itu untuk bersandar di bahu Pak Ratno sambil berjalan secara perlahan menuju ke tempt yang dimaksud oleh Pak Ratno barusan.


Jamila yang melihat adegan itu di depan matanya sendiri pun tak kuasa menahan sedih dan cemburu melihat bagaimana Pak Ratno memanjakan Minul. Hatinya betul-betul panas saat itu.


“Ternyata kalian berdua ini memang sama-sama menyimpan perasaan saling suka. Barusan kamu hanya berpura-pura saja kan, Nul? Kamu ingin dipeluk oleh Pak Ratno? Kamu juga sama Pak Ratno. Kamu memang maunya meluk-meluk Minul, kan? Kenapa? Karena dia itu lebih empuk dari aku, kan? Ah, sudahlah! Kalian ini sama saja!” Jamila marah dan berteriak pada hatinya sendiri.


Saat itu Jamila benar-benar merasa kecewa dengan Pak Ratno. Air mata Jamila menetes menyaksikan bagaimana Pak Ratno bermanja-manja dengan Minul di tempat sepi itu. Karena saking tidak tahannya, ia pun secara mengendap-endap meninggalkan tempat itu tanpa sepengetahuan Pak Ratno dan Minul.


Sementara itu Pak Ratno yang sudah berhasil menuntun Minul ke bawah pohon pisang, ia pun buru-buru menjaga jarak dengan perempuan itu. Minul merasa kecewa karena ia masih ingin merasakan dimanja oleh Pak Ratno, tapi ia sadar Pak Ratno bukanlah siapa-siapanya.


Minul bersandar di pohon pisang iu selama beberapa menit sehingga tubuhnya kembali segar seperti semula. Sementara Pak Ratno duduk dengan jarak sekitar lima meter dari posisi Minul.


“Makasih banyak sudah  menolongku tadi!” ucap Minul.


“Iya. Lain kali bawa topi kalau ke tempat panas biar nggak nyusahin orang!’ sahut Pak Ratno ketus.


“Hah???” pekik Minul tertahan. Ia tidak menyangka kalau Pak Ratno akan berkata seperti itu kepadanya.


Pak Ratno cuek dengan Minul. Saat ini pria itu sedang memisahkan daun-daun yang sudah agak layu itu dari pelepahnya. Tak sampai beberapa menit kemudian Pak Ratno sudah selesai memisahkan semua daun pisang itu dari pelepahnya. Daun-Daun itu juga sudah terlipat dengan rapi dan diikat menjadi satu oleh Pak Ratno.


“Kamu kuat membawa ini? Kalau nggak kuat kamu pulang saja! Biar aku yang mengantar ini ke rumah Bu Reni,” ucap Pak Ratno tegas kepada Minul yang sedang duduk di bawah pohon pisang.


Minul memang sudah tidak kenapa-kenapa. Tapi, ia tidak menyangka Pak Ratno akan setega itu berkata pada orang yang baru saja hampir pingsan di depannya.


“Aku pulang saja, Pak!” jawab Minul dengan kesalnya.


“Oke! Ayo, buruan kita pergi dari sini. Nggak baik berada di kebun pisang ini sendirian!” jawab Pak Ratno pendek.


“Oh ya? Kenapa?” tanya Minul penasaran meskipun pada saat itu ia merasa kesal dengan sikap batu pria itu.


“Di sebelah kebun pisang ini ada makam keramatnya,” jawab Pak Ratno.


“Makam keramat?” tanya Minul tidak percaya.


“Iya. Itu makam Nyi Ayu,” jawab Pak Ratno serius.


“Siapa Nyi Ayu itu?” tanya Minul makin penasaran.


“Sudahlah! Kalau aku jelasin kamu juga tidak akan tahu. Ayo, cepat pulang sebelum kamu mengalami hal yang tidak-tidak!” jawab Pak Ratno berjalan pergi sambil menyongkel sabit di pinggang belakangnya dan mengangkat tumpukan daun di atas kepalanya. Sedangkan galahnya ia pikul di bahu kirinya.


Minul yang mulai ketakutan itu pun berlari mengejar Pak Ratno.


BERSAMBUNG


Ikuti game berhadiah pulsa 10 ribu untuk 3 orang pemenang.


Syaratnya :


1. Berikan like dan komentar untuk semua bab novel MARANTI mulai bab 1 sd terakhir


2. 1 akun 1 kupon. Akan diundi awal bulan Desember 2022

__ADS_1


3. Jika Pemenang terpilih terbukti tidak memberikan komen di setiap bab maka didiskualifikasi


__ADS_2