
Akhirnya kecurigaan Herman terhadap perempuan tersebut tidak terbukti. Perempuan itu tidak berbuat jahat kepada Cintia seperti dugaannya.
“Saya tidak apa-apa, Mbak. Saya Cuma terkejut,” jawab perempuan muda tersebut kepada Cintia.
“Mbak beneran tidak kenapa-kenapa, kan? Kalau memang ada bagian tubuh Mbak yang terkena hantaman bamper mobil ini, sebaiknya Mbak kami bawa ke rumah sakit. Kami siap bertanggung jawab,” ujar Cintia lagi memaksa perempuan tersebut untuk berkata jujur.
“Saya sungguh tidak kenapa-kenapa, Mbak. Sepertinya teman Mbak sangat handal dalam mengendalikan kendaraan. Mbak tidak perlu membawa saya ke rumah sakit,” jawab perempuan muda itu lagi.
“Baiklah kalau memang Mbak yakin tidak kenapa-kenapa. Mungkin ini sekedar dari saya sebagai wujud permintaan maaf kepada, Mbak,” ucap Cintia sambil merogoh ke dalam tasnya untuk mencari dompet.
“Tidak, Mbak! Saya tidak mau dikasih uang. Saya beneran tidak apa-apa. Tidak ada kewajiban Mbak memberi uang kepada saya. Toh, ini juga bukan murni kesalahan kalian berdua. Saya punya andil kesalahan juga,” protes perempuan itu berusaha menolak atas apa yang akan dilakukan oleh Cintia terhadapnya.
“Terima saja, Mbak. Ini hanya sedikit sebagai wujud permintaan maaf kami,” paksa Cintia sambil menyelipkan uang dua ratus ribu ke tangan perempuan itu.
“Maaf, Mbak. Saya tidak bisa menerima ini,” jawab perempuan itu sambil menarik tangannya sehingga dua lembar uang ratusan ribu itu pun tetap berada di tangan Cintia.
“Plis, Mbak, terimalah ini!” paksa Cintia lagi.
“Tidak, Mbak!” jawab perempuan itu dengan kekeuhnya.
“Ada apa, Cin?” tanya Herman yang sudah keluar dari mobilnya.
Kali ini perempuan itu diapit oleh Herman dan Cintia. Perempuan itu merunduk karena malu.
“Mbak ini tidak mau aku kasih uang, Her!” jawab Cintia.
“Mbak, terima saja uang pemberian teman saya itu. Kalau Mbak tidak mau menerimanya, kami yang akan terus kepikiran.” Giliran Herman sekarang yang berusaha merayu perempuan muda itu.
“Ta-pi … Saya tidak bo-leh menerima u-ang su-ap oleh Bude saya,” jawab perempuan muda itu dengan terbata-bata.
“Mbak, ini bukan uang suap. Ini murni pemberian ikhlas dari kami. Jadi, Mbak tidak perlu takut akan dimarahi oleh Bude Mbak,” timpal Herman.
“Ti-dak. Saya tetap tidak bisa menerimanya. Saya mau pulang saja sekarang!” ucap perempuan itu sambil membalikkan badannya.
“Tunggu! Mbak mau pulang ke mana?” tanya Cintia.
“S-saya ma-u pulang ke rumah Bude saya. Ta-pi, Bude saya tidak mau menerima saya …,” jawab perempuan muda itu dengan terisak.
Cintia buru-buru merangkul tubuh mungil perempuan muda itu. Entah kenapa rasa dingin ketika menyentuh tangan perempuan itu membuat Cintia dapat merasakan betapa berat masalah yang sedang dihadapi oleh perempuan muda di sebelahnya itu.
“Kalau boleh tahu, di mana rumah Budenya Mbak? Biar kami berdua yang ngomong kepada Budenya Mbak. Agar Budenya Mbak ini bisa menerima kehadiran Mbak lagi,” ujar Cintia.
__ADS_1
Perempuan muda itu tidak menyahut.
“Apakah rumah Budenya Mbak jauh dari sini? Mbak kabur dari rumah Budenya Mbak, ya?” tanya Cintia lagi.
Lagi-Lagi perempuan muda itu tidak menyahut.
“Ayo, kami antar Mbak ke rumah budenya Mbak sekarang!” ujar Cintia sambil menarik tubuh perempuan muda itu ke dalam mobil.
Ternyata perempuan muda itu tidak menolak ketika dibawa masuk ke dalam mobil. Herman juga membantu Cintia menuntun perempuan muda itu ke dalam mobil. Namun, pria itu terkejut tatkala tangannya bersentuhan dengan tangan perempuan itu.
“Dingin sekali tangan gadis ini?” Herman bertanya-tanya di dalam hatinya sambil menatap wajah perempuan itu.
Perempuan itu juga menoleh ke arah Herman saat Herman terkeut seperti itu.
“Ayo, Mbak, Masuk ke dalam!” ucap Cintia sambil memberikan ruang kepada perempuan itu untuk masuk ke dalam mobil.
Herman masih bengong saat Cintia menegurnya.
“Her, kok malah bengong?Ayo, kita antar gadis ini ke rumah budenya!” tegur Cintia.
“Cin, kamu tidak melihat ada yang aneh dengan gadis itu?” bisik Herman.
“Aku barusan pas megang tangannya dingin banget,” jawab Herman.
“Halah kamu ini. Coba kamu rasakan betapa dinginnya suhu di dusun ini. Siapapun akan seperti itu kalau berada di alam terbuka malam begini dalam kurun waktu yang lama,” jawab Cintia.
“Tapi Cin-“ jawab Herman.
“Sudah! Ayo, buruan kita antar gadis ini! Kasihan dia!” jawab Cintia sambil berjalan masuk ke dalam mobil.
Herman pun tidak bisa berbuat apa lagi. Ia langsung saja masuk ke dalam mobil juga. Namun, ia menyempatkan untuk menoleh ke belakang untuk mengecek perempuan itu yang ternyata menundukkan wajahnya.
“Ayo, buruan, Her!” perintah Cintia.
Herman pun menstarter mesin mobilnya dan menjalankan mobil tersebut meninggalkan jalanan di depan rumah Laras.
“Mbak, rumah budenya Mbak masih jauh dari sini?” tanya Cintia sambil menoleh ke belakang.
Perempuan itu mendongakkan wajahnya kemudian menunjuk tangannya lurus ke depan.
“Oooo masih lurus ya?” tanya Cintia.
__ADS_1
Perempuan muda tersebut menganggukka kepalanya.
“Lurus dulu, Her!” perintah Cintia pada temannya itu dengan santai.
Sementara itu Herman menyetir dengan perasaan gelisah. Ia curiga ada yang tidak beres dengan perempuan muda yang sedang mereka bawa saat ini. Herman pun mencuri-curi kesempatan untuk melihat perempuan muda itu melalui kaca dashboard. Dan Herman terkejut karena perempuan itu juga menatap tajam ke arah Herman melalui pantulan kaca dashboard.
“Ya Tuhan! Bikin kaget saja kamu, Mbak!” ucap Herman di dalam hatinya.
Tidak terasa mobil yang mereka naiki sebentar lagi akan meninggalkan dusun Delima. Perempuan muda itu belum memberikan kode apapun kepada Cintia dan Herman.
“Mbak, rumah Budenya belok kiri apa belok kanan?” tanya Cintia lagi.
Perempuan muda itu tidak menjawab. Ia hanya memberikan kode kepada Cintia untuk berbelok ke arah kiri.
“Belok kiri, Her!” perintah Cintia pada rekan kerjanya.
Herman tidak menyahut. Ia juga tidak berani mengintip ke kaca dashboard karena takut kepergok seperti tadi. Setelah berbelok ke arah kiri selama beberapa meter, tiba-tiba mobil yang mereka naiki mogok.
“Loh, ada apa dengan mobil ini?” tanya Herman kebingungan.
Coba kamu cek, Her! Mungkin air radiatornya habis,” jawab Cintia.
Herman pun turun dari mobil dan berjalan ke bagian depan mobilnya untuk memeriksa mesinnya. Herman memeriksa semua bagian mesin mobil dengan sangat teliti. Ia heran karena selama ini mobilnya tidak pernah rewel. Sekarang kok malah tiba-tiba mogok.
Sementara itu di dalam mobil, perempuan itu menyodorkan sesuatu kepada Cintia.
“Mbak Cintia … tolong berikan ini kepada Bude saya,” ucap perempuan itu dengan suara serak.
“Kenapa Mbak tidak memberikannya sendiri?” tanya Cintia.
“To-long bantu saya, Mbak!” sahut perempuan itu lagi.
“I-iya, Mbak,” jawab Cintia karena ia pikir ia memang harus membantu mendamaikan antara perempuan itu dengan budenya.
Setelah menerima benda dari perempuan itu, Cintia pun memasukkannya ke dalam tas. Namun, ia baru kepikiran sesuatu.
“Loh, dari mana Mbak tahu nama saya?” tanya Cintia sambil menoleh ke belakang.
Namun, Cintia terkejut karena perempuan muda itu sudah tidak berada di jok belakang lagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1