
Aku memimpikan Riki mungkin karena aku merasa bersalah menolak keinginan anak kecil itu untuk melihat hasil karyanya.
"Sepertinya, besok pagi aku harus melihat hasil karya anak itu sambil memberikan mainan Nur kepadanya." Aku berkata pada diriku sendiri sambil mencuci mukaku sendiri.
"Mau ke kamar mandi juga, Mas?" sapaku pada Mas Diki yang tiba-tiba melintas di belakangku. Kalau sudah tengah malam begini, aku lebih nyaman menggunakan kamar mandi dengan pintu terbuka. Toh, tidak ada orang lain selain muhrimku di rumah ini.
Aku pun buru-buru keluar dari kamar mandi karena ingin memberi kesempatan kepada suamiku untuk menggunakan kamar mandi.
"Silakan, Mas!" ujarku sambil keluar dari kamar mandi.
"Loh??" Aku terheran-heran karena tidak ada siapapun di depan pintu kamar mandi maupun di dapur. Menyadari hal itu, aku pun segera berlari meninggalkan kamar mandi tersebut menuju ke kamarku. Ternyata suamiku masih mendengkur di depan televisi.
*
Keesokan harinya Mas Diki berangkat lebih pagi karena ada janji dengan salah satu pelanggan di pasar. Tak lama kemudian Nur juga berangkat ke sekolah. Tinggallah aku sendirian di rumah ini. Untunglah cucian piring dan baju sudah aku bereskan semua pagi tadi pada saat Mas Diki dan Nur sedang mandi, jadi aku tidak perlu berlama-lama di dapur lagi.
"Oh, ya, aku kan mau memberikan mainan untuk Riki!" seruku pada diri sendiri.
Setelah ingat hal itu, aku pun segera mengambil kresek di ruang tamu untuk aku bawa ke rumah Clara.
Clara membukakan pintu untukku begitu aku mengetuk pintu dan mengucap salam di depan pintu.
"Ada perlu apa, Mbak?" tanyanya
"Saya ingin menemui Riki, Clar."jawabku.
"Duh, Mbak jangan terpengaruh omongan anak itu. Dia memang selalu begitu terhadap orang yang baru dikenalnya." Clara berkata seakan tidak enak membuatku repot.
"Enggak, Clar. Saya sengaja datang ke sini memang ingin memberikan mainan-mainan masa kecil anak saya ini kepada Riki." jawabku.
"Makasih banyak, ya, Mbak. Biar nanti saya yang kasihkan mainan-mainan itu kepadanya," pekik Clara.
"Bolehkah saya memberikan sendiri mainan-mainan ini kepada anak itu?"
Clara terpana dengan perkataanku. Matanya yang tajam menatap lekat netraku.
"Oke, saya panggil Riki sekarang," ucapnya sambil melangkah ke dalam. Aku bersorak bahagia mendengar jawaban Clara. Aku tahu Clara seperti tidak menginginkan aku dekat dengan anaknya. Mungkin ia tidak punya jawaban lagi untuk menolakku. Yah, biarpun aku harus berdiri di depan pintu tanpa ia suruh masuk ke dalam, aku senang karena akhirnya Clara mengijinkanku bertemu dengan anaknya, Riki.
__ADS_1
Beberapa menit aku menunggu Clara di depan pintu. Akhirnya, sekitar sepuluh menit kemudian, ada yang muncul di depanku.
"Budeeee????" teriak anak kecil itu. Clara berdiri di belakang Riki yang sedang kegirangan.
"Riki!!!!" jawabku sambil memeluk erat tubuhnya yang berdarah dingin.
"Bude bawa apa? Untuk Riki, ya?" pekik Riki.
"Ini, bude bawa mainan untuk kamu. Tapi, ini mainan bekas, punya anaknya bude dulu waktu masih kecil. Jadi, ada yang kurang berfungsi normal. Kamu mau kan menerimanya?" Aku berkata sambil menatap ke arah mata dan kening Riki.
"Iya, tidak apa-apa, Bude. Riki suka, semua mainan ini. Masih bagus-bagus, loh!" ucapnya sambil mengeluarkan semua mainan dari dalam kresek.
"Wah, ada polisi-polisiannya, ya?" pekiknya lagi.
"Kamu suka mainan polisi?" tanyaku pada Riki yang sedang menimang-nimang mainan plastik berbentuk polisi.
"Suka banget, Bude!" pekiknya lagi.
"Kalau sudah besar kamu mau jadi polisi?" tanyaku sambil menatapnya.
Riki mendadak menghentikan aktifitasnya dan ia pun menoleh padaku.
"Loh, emangnya kenapa? Bukankah kamu suka mainan polisi-polisian?" tanyaku keheranan.
"Nanti Bude akan tahu sendiri, kenapa. Sekarang Bude tunggu di sini, ya!" ucapnya.
"Loh, kamu mau kemana?" tanyaku lagi sambil menatap kepergian anak kecil tersebut yang berlari dengan cepat.
"Tunggu situ pokoknya, Bude. Jangan pulang dulu!" jawaban yang sempat kudengar.
Aku menatap kelambu yang membatasi antara ruang tamu dan ruang tengah. Tidak ada Clara di sana.
"Mungkin, Clara sedang merawat ibu mertuanya di kamar sebelah," pikirku.
Selama beberapa menit, aku menunggu kedatangan Riki kembali. Entah kenapa selama berada di dalam ruamh Pak RW ini, suasana kampungku terasa sangat sunyi sekali. Tidak ada orang yang lalu lalang melewati jalan di deoan rumah ini. Padahal biasanya ada saja penduduk yang lewat di depan sambil menyapa orang-oramg yang mereka temui di pinggir jalan.
"Bude!!!!" Suara seseorang agak keras dari arah belakangku
__ADS_1
"Astagfirullah!!!!" cetusku spontan karena kaget.
Ketika aku menoleh ternyata Riki sudah berdiri di sebelahku dengan ekspresi wajah datar. Entah sejak kapan ia berdiri di sana aku kurang mengerti karena aku asik melamun sambil menatap ke arah jalan.
"Kamu ini, munculnya tiba-tiba bikin bude kaget saja," tegurku pada anak nya Clara tersebut.
"Aku sudah panggil-pagi Bude mulai tadi, tapi Bude tidak menyahut. Bude melamun sih!" jawabnya sambil tersenyum.
Lesung pipit anak ini membuat senyumannya terlihat imut dan menggemaskan.
"Oh, bude minta maaf kalau begitu," ucapku bermaksud memberi contoh untuk anak kecil di depanku tersebut.
"Iya, tidak apa-apa Bude." jawabnya masih dengan menunjukkan ekspresi wajahnya yang manis.
"Wah, ini hasil karyamu, Nak?" pekikku tidak percaya dengan apa yang aku lihat di depanku.
"Sssst!!!! Jangan rame-rame, Bude. Kalau kedengaran ibu, dia bisa marah," jawab anak itu sambil berbisik.
"Oh, ya? Kenapa ibumu harus marah? Hasil gambarmu bagus banget, kok!" ucapku berusaha meluruskan pemikiran anak kecil ini.
"Bude nggak tahu sih. Ibu itu paling tidak suka kalau aku menggambar," jawabnya.
"Ah, kamu pasti salah. Ibumu itu perempuan yang baik. Dia tidak akan marah sama kamu, apalagi hasil gambarmu ini bagus sekali," jawabku lagi berusaha meyakinkan Riki.
"Pokoknya Bude percaya sama aku. Bude hadus merahasiakan ini dari ibu. Kalau Bude nggak mau jaga rahasia, biar deh aku nggak mau kehemu Bude lagi," jawab anak itu sambil memonyongkan mulutnya.
"Iya deh. Bude mau menjaga rahasia ini. Bude nggak mau sampai kamu menolak ketemu bude. Tapi bude ingin tanya sama kamu," jawabku meyakinkan Riki.
"Oke deh. Emangnya Bude mau tanya apa sama aku?" tanya Riki dengan wajah penasaran.
Aku menatap gambar itu sejenak, kemudian aku berkata.
"Kenapa kamu menggambar seorang anak yang sedang berdiri di tengah hujan seperti ini?"
Riki menatap gambar itu juga. Ia terdiam dan pandangannya terpaku pada gambar yang sedang ia pegang. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
Bersambung
__ADS_1
Tunggu kehadiran NOVEL KAMPUNG HANTU versi cetak.