
Bulek Roso terbiasa salat lima waktu di musala dekat rumahnya. Biasanya yang menjadi imam di musala itu adalah Ustad Andi. Bulek Roso tinggal sendirian karena Paklek Dirman suaminya sudah meninggal cukup lama dan Bulek Roso memilih untuk tidak menikah lagi. Anak semata wayang mereka pun sudah menikah dan ikut suaminya ke desa lain.
Tadi sore Bulek Roso pergi nelayat ke kerabat besannya. Ada beberapa tetangga yang ikut dengannya. Dengan alasan itulah Bulek Roso tidak bisa membantu mengurusi jenazah Laras. Bulek Roso termasuk orang yang dituakan di dusun Delima. Ia memang bukan alumni pondok pesantren, tapi ia orangnya ringan tangan. Dulu, sewaktu Hajah Maemunah, ibunya Ustad Andi masih hidup, Bulek Roso sering diajak merawat jenazah perempuan oleh beliau, sehingga Bulek Roso menjadi paham dan terampil mengurus jenazah jika ada perempuan yang meninggal di dusun Delima.
"Bu Dewi ... Mohon maaf saya tidak bisa ikut merawat jenazah Laras tadi sore. Sebenarnya bukan karena saya mau nelayat ke keluarga besan di desa sebelah. Bukan ... kalau itu bisa saya kondisikan. Tapi, saya takut dikata-katai oleh ibu-ibu yang lain. Saya tinggal sendirian di sini. Kalau saya dijauhi oleh ibu-ibu tetangga. Saya sendiri yang repot nanti. Maafkan saya Laras ...," Bulek Roso tiba-tiba berkata sendiri di dalam hati.
Bulek Roso berwudu di kamar mandi musala seperti biasanya. Entah kenapa malam ini ia merasa perasaannya tidak enak. Terlebih, sudah mendekati waktu salat Isya, tapi belum ada satu pun tetangga yang datang ke musala, termasuk Ustad Andi.
"Ke mana orang-orang ini, sih? Apa mereka tahlilan di rumah Bu Dewi? Kayaknya sedikit tetangga sink yang ikut tahlilan. Paling-Paling hanya Ustad Andi saja. Gimana enggak, lah wong Ustad Andi itu dulu dekat banget dengan Laras. Malah kayak pacaran saja," pikir Bulek Roso.
"Siapa?" teriak Bulek Roso karena merasa ada sekelebat bayangan yang lewat di belakangnya. Setelah ditoleh tidak ada siapa-siapa. Bulek Roso pun berjalan dari kamar mandi menuju ke musala. Kamar mandi dari musala jaraknya kurang lebih lima meter.
Setelah berada di musala, Bulek Roso langsung memasang mukena panjangnya dan kemudian duduk sambil berzikir. Aktifitas itu sengaja ia lakukan sambil menunggu kedatangan tetangga yang lain.
Cukup lama berada di dalam musala, tak kunjung ada tetangga yang datang untuk salat. Bulek Roso merasa ia sudah terlalu lama menunggu kedatangan mereka dan sepertinya azan Isya sudah tadi dikumandangkan dari dusun sebelah yang menggema sampai ke tempatnya berada.
Bulek Roso memutuskan untuk salat Munfarid saja. Setelah salat ia pun berzikir sekedarnya. Sampai ia selesai berzikir tidak ada tetangga yang datang. Bulek Roso sempat menerka alasan tetangganya tidak ada yang salat Isya di luar karena ada orang mati baru. Jadi mereka takut Laras jadi hantu. Bulek Roso senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu.
"Ada-Ada saja orang-orang ini. Paling mereka ngggak salat Isya di musala karena takut ketemu demitnya Laras. Orang mati ya wes mati. Nggak mikir jadi demit segala," pikir Bulek Roso.
__ADS_1
Bulek Roso menutup semua puntu musala dengan tenaganya yang sudah tidak muda lagi. Setelah selesai ia langsung berjalan menuju rumahnya dengan mencincing bagian bawah mukenahnya.
"Loh, siapa itu kok pake mukenah berdiri di bawah pohon? Apa dia Bu Jefri yang mau ikutan salat Isya, tapi terlambat? Kalau dari ukuran tubuhnya, sih, mirip banget sama Bu Jefri. Hhhhh ... maklum, mataku sudah tua, jadi nggak begitu jelas kalau melihat malam-malam," pikir Bulek Roso sambil berjalan dengan agak tergesa menuju sosok berkain putih itu yang kebetulan berdiri di bawah pohon yang akan ia lalui.
"Bu Jefri! Mau salat Isya jamah di musala, ya? Huh! Telat sampean! Saya tadi salat Isya sendirian. Ngvak ada tetangga yang datang. Ustad Andi kayaknya belum balik dari tahlilan di rumah Bu Dewi," cerocos Bulek Roso tanpa jeda.
Orang yang dikira Bu Jefri oleh Bulek Roso itu tidak menyahut. Ia tetap berdiri membelakangi Bulek Roso. Semakin didekati Bulek Roso semakin yakin kalau orang tersebut ternyata tidak sedang memakai mukenah seperti dugaannya. Melainkan memakai kain putih yang lain. Bulek Roso yang matanya sudah agak buram itu pun tetap mendatangi orang tersebut karena memang itu jalan satu-satunya untuk sampai ke rumahnya.
Bulek Roso akhirnya sudah berada pada jarak yang cukup dekat dengan orang tersebut. Kurang lebih lima meter.
"Bu Jefri!" teriaknya sekali lagi sambil berdiri tidak berani mendekati orang tersebut. Orang yang dipanggil tidak menyahut. Kali ini Bulek Roso yakin bahwa orang itu bukanlah Bu Jefri.
"Kamu siapa kok berdiri di situ?" tanya Bulek Roso sambil mengucek-ngucek matanya. Suara jangkrik mendominasi suara apapun di tempat itu. Tidak ada orang lain selain mereka berdua yang berada di sana. Rumah penduduk posisinya agak jauh dan dalam kondisi tutupan semuanya.
Sosok putih itu membalikkan badan dan menghadap ke arah Bulek Roso. Bulek Roso terkejut karena yang muncul di depannya ternyata adalah Laras, tetangganya yang baru saja meninggal sore tadi.
"Ya Allah!!!!" Bulek Roso secara spontan membaca doa-doan dan badannya tersungkur ke bawah karena kaget. Dalam sekejap sosok Laras lenyap dari pandangan perempuan itu, tapi rasa sesak di dada Bulek Roso masih belum hilang.
Napas Bulek Roso tersendat. Suara teriakannya hanya tercekat di tenggorokan. Kondisi tubuhnya yang sudah cukup tua tidak memungkinkan untuk mengalami keterkejutan seperti itu. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Aliran darah mengalir dengan lebih cepat. Bulek Roso terus berdoa agar diberikan kekuatan untuk bisa berjalan sampai di rumahnya.
__ADS_1
Dengan segenap sisa keberanian dan tenaganya akhirnya Bulek Roso menemukan kekuatannya kembali untuk bisa berjalan sampai di rumahnya. Begitu sampai di rumahnya ia buru-buru menutup pintunya rapat-rapat dan segera masuk ke kamar pribadinya. Ia berharap hantu Laras tidak mengikutinya sampai ke kamar. Kalau tidak, ia bisa mati ketakutan karenanya. Bulek Roso kerukupan mukenah yang ia pakai. Ia merasa aman tidur menggunakan mukenah saat itu.
"Laras, maafkan saya, Nduk. Kamu kok sampai jadi memedi begitu, Nduk? Perkara apa yang belum kamu tuntaskan di dunia ini sampai kamu gentayangan seperti ini? Ya Allah ... semoga Laras bisa segera beristirahat dengan tenang," ucap doa Bulek Roso sambil memejamkan matanya dengan menahan ketakutan yang amat sangat.
BERSAMBUNG
baca novelku yang lain :
KAMPUNG HANTU
SEKOLAH HANTU
__ADS_1