MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 15 : HILANG


__ADS_3

Pak Salihun dan Pak Ratno terus saja berlari seperti anak kecil hingga mereka sampai di area yang sudah banyak


penduduknya. Di tengah jalan mereka bertemu dengan Ustad Andi yang kebetulan lewat.


"Ada apa Pak Salihun? Pak Ratno? Kok, kalian sampai lari terbirit-birit begitu? Kayak anak kecil yang


mengejar layangan putus saja," tanya Ustad Andi.


Pak Salihun dan Pak Ratno pun menghentikan aksi berlarinya tepat di depan Ustad muda tersebut. Namun, mereka


berdua tidak langsung bisa menyahut karena mereka berdua sibuk mengatur napas yang tersenggal. Maklum, usia mereka sudah terbilang cukup uzur, meski tingkah lakunya masih seperti Upin dan Ipin.


"A-nu, Ustad. Ka-mi berdua ba-ru saja da-ri ku-buran," jawab Pak Salihun dengan napas masih terengah-engah.


"Pelan-Pelan. Ambil napas dulu, Pak Salihun. Saya tidak keburu ke mana, kok. Diatur napasnya dulu! Makanya,Bapak berdua ini sudah sepuh kok masih lari-lari. Ntar kalau pingsan gimana?" potong Ustad Andi karena tidak tega melihat kedua pria tua itu yang masih ngos-ngosan.


Selama kurang lebih lima menit kedua pria tua itu pun mengatur napasnya sehingga mereka sudah tidak ngos-ngosan lagi. Kedua pria tua itu sama-sama memegangi dadanya yang terasa agak panas.


"Sudah, Ustad. Tadi, kami berdua ini pergi ke makam Laras untuk mengantar Pak Herman," jawab Ustad Andi.


"Di mana Pak Herman sekarang? Kenapa kalian berdua sampai ngos-ngosan begini?" tanya Ustad Andi lagi.


"Nah, itu dia Ustad. Kita berangkatnya memang bareng bertiga, tapi pas pulangnya tiba-tiba Pak Herman


hilang," jawab Pak Salihun. Sementara Pak Ratno hanya mengangguk-angguk saja melihat temannya berbicara dengan Ustad muda tersebut.


“Masa Pak Herman bisa menghilang, Pak Salihun? Paling kalian ini salah paham. Pak Herman mungkin berjalan ke arah yang lain sewaktu kalian pulang, cuma kalian berdua nggak sempat melihatnya,” protes Ustad Andi


"Loh, beneran, Ustad. Ngapain saya berbohong. Kami bertiga ini pas pulangnya juga barengan. Pas sampai di pintu gerbang kami menoleh beliau sudah nggak ada, padahal beberapa detik sebelumnya Pak Herman masih sempat mengajak kami mengobrol," jawab Pak Salihun.


"Sudah kalian cari di sekitar kuburan?" tanya Ustad Andi.


"Eeeee .. belum, Ustad," jawab Pak Salihun dengan ragu.

__ADS_1


"Loh, kenapa tidak kalian cari dulu?" tanya Ustad Andi keheranan.


"Kami takut, Ustad. Jadi, begitu Pak Herman nggak ada, kami langsung lari dan ketemu Ustad," jawab Pak Salihun dengan malu-malu.


"Takut sama apa, Pak?" tanya Ustad Andi.


"Takut sama hantunya Laras, Ustad. Saya yakin Pak Herman ini diculik hantunya Laras. Soalnya tadi saya dan Pak Ratno sempat terperosok di makamnya Laras. Pasti Laras sekarang sedang marah kepada kami. Habis menculik Pak Herman nanti giliran kami berdua yang akan diculik," jawab Pak Salihun.


"Hus!!! Bapak-Bapak ini nggak boleh mengarang-ngarang cerita seperti itu. Bagaimana pun Laras itu adalah saudara kita juga. Kita tidak boleh memfitnahnya. Kita wajib mendoakan dan menjaga nama baik orang yang sudah meninggal. Terus Bapak-Bapak berdua ini rencananya mau ke mana?" tanya Ustad Andi.


"Kami mau ke rumah Bu Dewi, Ustad, untuk mengabarkan perihal hilangnya Pak Herman," jawab Pak Salihun polos.


"Apa? Kalau sampai Bu Dewi kaget dan ternyata Pak Herman tidak hilang bagaimana?" protes Ustad Andi.


"Hm ... Kami bingung, Ustad. Apa yang sebaiknya kami lakukan sekarang?" tanya Pak Salihun.


"Oke. Sekarang kita cari Pak Herman di kuburan dulu. Kalau di sana memang tidak ada, kita ke rumah Pak Herman untuk menanyakan keberadaan suaminya kepada Bu Dewi. Kalau Bu Dewi bilang tidak tahu, baru kita ngomong kalau Pak Herman berpencar dengan kalian dan kita akan mencarinya dulu di sekitar daerah ini, mungkin Pa Herman sedang bertamu ke rumah salah satu warga," jawab Ustad Andi.


"Oooo ... jadi begitu, Ustad, caranya?" tanya Pak Salihun.


"Aamiiin ...," jawab Pak Salihun.


"Ayo ikut saya ke kuburan!" ajak Ustad Andi.


" Apa tidak sebaikya kami berdua mencari Pak Herman di rumah-rumah warga saja?" rayu Pak Salihun.


"Tidak,saya khawatir Bapak-Bapak ini malah ngomong yang enggak-enggak pas ditanya warga. Ayo, buruan, Pak!" paksa Ustad Andi.


Pak Salihun dan Pak Ratno pun tidak bisa menolak ajakan Ustad Andi. Bagaikan dua Bocil mereka pun berjalan menuju kuburan menemani Ustad Andi untuk mencari Pak Herman. Tidak sampai sepuluh menit, mereka pun sudah sampai di depan pintu masuk kuburan. Pak Salihun dan Pak Ratno kembali ciut nyalinya berada di tempat yang menurut mereka seram itu.


"Di mana terakhir kalian melihat Pak Herman?" tanya Ustad Andi dengan tenangnya.


"Di-di situ, Ustad!" jawab Pak Salihun sambil menunjuk ke area di dekat pintu masuk kuburan itu.

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo kita berpencar dulu untuk mencari Pak Herman. Jangan lupa memberi salam buat para ahli kubur yang dimakamka di sini," perintah Ustad Andi.


"Ya Tuhan ... tidak, Ustad. Kami tidak sanggup kalau harus berpencar. Bareng-Bareng saja kami ketakutan, apalagi kalau berpencar," protes Pak Salihun.


"Ya sudah. Saya mencari di sisi sebelah kiri. Kalian berdua mencari di sisi sebelah kanan. Gimana?" tawar Ustad Andi.


"Tidak bisa bareng-bareng saja, Ustad?" tawar Pak Salihun.


"Kuburan ini cukup luas, Pak Salihun. Kalau kita tidak berpencar, akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencarinya. Bagaimana kalau Pak Herman ternyata sedang membutuhkan pertolongan kita akibat terjatuh dan sebagainya?" ujar Ustad Andi.


"Baiklah, Ustad. Tapi, jangan jauh-jauh ya? Jujur, kami takut berada di sini," jawab Pak Salihun mengalah.


"Baiklah. Ayo, kita mulai bergerak!" ujar Ustad Andi sambil berjalan ke sisi kiri area kuburan.


Pak Salihun dan Pak Ratno berjalan ke sisi sebelah kanan sambil menoleh ke batu-batu nisan yang tersebar di sekeliling mereka.


"Rat, itu makam si Tumikem yang dulu pernah kamu taksir," ucap Pak Salihun pada Pak Ratno dengan mulut agak didekatkan ke telinga Pak Ratno.


"Jangan ngomong gitu, Hun. Kamu nggak tahu aku sekarang lagi ketakutan. Tuh, makam Juminah mantan tunanganmu dulu," goda Pak Salihun.


"Sialan kamu, Rat. Pake nginget-ngingetin segala," protes Pak Salihun.


"Suruh siapa kamu mulai duluan?" ujar Pak Ratno.


"Ya sudah. Ayo, buruan kita cari Pak Herman saja! Jangan sampai kita malah terpisah jauh dari  Ustad Andi!" ujar Pak Salihun.


"Ayo!" Jawab Pak Ratno.


"Pak Hermaaaaan!!" teriak Pak Salihun sengaja dikeraskan agar didengar oleh Pak Herman maupun Ustad Andi.


"Pak Herman!!" teriak Pak Ratno juga.


Kedua pria tua itu pun terus melangkah ke tengah kuburan dan dari kejauhan mereka masih bisa melihat Ustad Andi dan juga mendengar teriakan salah satu tokoh masyarakat itu. Mereka merasa agak tenang karena masih bisa melihat sosok Ustad Andi atau mendengar suaranya. Tapi, setelah mereka melangkah agak masuk lagi, mereka sudah tidak dapat melihat lagi sosok Ustad Andi maupun mendengar suaranya. Mereka mulai merasa ketakutan kembali terlebih ketika mereka baru menyadari bahwa kali ini mereka berdua tepat berada di samping makam yang tanahnya masih basah, yaitu makamnya Laras. Semilir angin berhembus dan membawa aroma bunga kenanga ke hidung mereka. Darah kedua pria tua itu pun mendesir dan mereka tak bisa berucap apa-apa lagi karena saing syoknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2