MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 26 IDENTITAS CLARA


__ADS_3

Aku benar-benar syok setelah mengetahui latar belakang Clara yang sebenarnya. Aku yakin Bu RW tidak sedang berbohong kepadaku karena serempong-rempongnya perempuan itu, tak pernah sekalipun ia berbohong kepadaku, apalagi hal ini menyangkut nama baik seseorang. Ia sudah mewanti-wanti aku untuk merahasiakan hal ini dari orang lain karena rahasia itu hanya diketahui oleh ia dan suaminya saja. Pak RW bisa marah kalau ada orang lain yang mengetahui hal tersebut.


"Ya Tuhan ... aku tidak menyangka wanita secantik Clara bisa menikah dengan bapak angkatnya sendiri. Berarti nenek tua yang tinggal bersamanya itu adalah ibu dari lelaki yang beberapa waktu yang lalu mengobrol dengan Pal RW. Lantas, mengapa Clara akhir-akhir ini dekat dengan anakku? Apa sebenarnya yang ia rencanakan? Aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus menjauhkan Nur dari pengaruh buruk Clara!"


Sore menjelang dan kami bertiga pulang meninggalkan pasar. Tidak sampai satu jam, kami audah tiba di rumah. Aku sengaja meminta suamiku untuk melalui jalan utama saja, karena aku masih ngeri untuk melewati jalan di tengah sawah. Meskipun sebenarnya aku juga ngeri melewati jalan di dekat penemuan mayat anak laki-laki kemarin lalu.


Sesampai di rumah aku menjumpai anakku sudah rapi. Ia sedang membaca komik di kamarnya. Aku pun memeriksa meja makan, ternyata makanannya masih utuh sama seperti sebelum kami berangkat tadi pagi. Aku pun menghampiri kamar anakku tersebut.


"Nur, kamu sudah makan?" tanyaku.


"Sudah, Bu!" jawabnya kalem.


"Kamu makan di mana? Saya lihat makanan di meja makan masih utuh," cecarku.


"Emmmmm anu, Bu. Ta-tadi saya makan di rumah Tante Clara," jawab Nur dengan terbata-bata.


"Bukankah ibu sudah bilang, kamu tidak boleh makan sembarangan! Apa kamu tidak ingat beberapa hari yang lalu kamu sampai muntah-muntah karena salah makan?" omelku membabi buta.


"I-iya maaf, Bu. Ta-tadi saya habis main sama Riki dikasih makan sama Tante Clara. Saya tidak enak untuk menolak pemberiannya," jawab Nur dengan ketakutan.


"Ibu tidak mau mendengar alasanmu. Lain kali kalau kamu sampai mengulangi hal itu lagi. Ibu akan mengurangi jatah mainmu. Paham!" omelku lagi.


"Iya, Bu paham," jawab anakku.


"Ya sudah ibu mau mandi dulu. Habis maghrib ibu mau menemui perempuan itu!" ucapku dengan nada tinggi.


"Ibu mau ngapain ke sana?" tanya Nur.


"Itu bukan urusanmu!" jawabku.


Anakku seperti tidak terima kalau aku memarahi perempuan itu. Entah jurus apa yang digunakan oleh perempuan ifu sehingga bisa dekat dengan anakku. Aku pun semakin tak tahan untuk segera melabrak Clara supaya menjauhi anakku.


Setelah azan Magrib berkumandang, anakku dan Mas Diki pun berangkat untuk salat berjamaah. Aku menunaikan salat secara munfarid di rumah. Selesai salat Magrib, aku berencana untuk menemui Clara di rumahnya. Baru beberapa langkah aku meninggalkan rumah, tiba-tiba bulu kudukku meremang. Cuaca dingin di luar rumah ditambah pencahayaan yang minim menambah kengerian yang aku rasakan. Aku membulatkan tekadku untuk tetap menemui perempuan itu malam ini.

__ADS_1


KRIEEEEEEEET


Aku terkejut karena pintu rumah Clara tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Kelambu pembatas itu melambai-lambai di tiup angin.


"Assalamualaikum ...." Aku mengucapkan salam dengan cukup keras.


Tidak ada jawaban dari dalam rumah tersebut.


Aku meraba leher belakangku yang tiba-tiba terasa dingin.


"Siapa?" Aku menoleh ke belakang karena merasa seperti ada orang yang lewat, tapi setelah kutoleh ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.


Pandanganku kembali tertuju ke dalam rumah Clara.


"Assalamualaikum ...." Sekali lagi aku mengucapkan salam, tapi lagi-lagi tidak ada yang menyahut.


Aku bersiap melangkah ke depan supaya aku lebih dekat dengan rumah Clara, tapi aku dikejutkan dengan sentuhan dingin di pergelangan tanganku. Aku menoleh secara perlahan ke belakang untuk mengetahui siapa yang sedang memegang pergelangan tanganku.


"Clara??" pekikku setelah mengetahui perempuan yang di belakangku tersebut.


"Mbak Sinta mau ketemu saya?" tanyanya kemudian.


"Iya, saya ingin membicarakan sesuatu denganmu," jawabku.


"Kita bicara di rumah Mbak Sinta saja," jawab perempuan muda itu.


"Baiklah!" jawabku.


Kami pun berjalan menuju rumahku. Aku memimpin di depan dan Clara mengikuti di belakangku. Kami berdua kemudian duduk saling berhadapan di ruang tamu.


"Clara ... tolong jauhi anak saya!" ucapku yang membuat perempuan muda itu terlihat terkejut.


"Kenapa Mbak Sinta berbicara seperti itu kepada saya?" Clara bertanya dengan nada tersinggung.

__ADS_1


"Maaf, Clara. Anak saya berubah sikapnya akhir-akhir ini semenjak ia dekat dengan kamu," jawabku masih dengan nada tegas.


"Mbak, saya sedang berusaha menyelamatkan nyawa Nur!" Kalimat itu tiba-tiba tercetus dari mulut perempuan ini.


"Apa maksudmu dengan kalimat 'menyelamatkan nyawa'?" Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran.


"Ada orang yang sedang mengincar Nur, Mbak. Mbak ingat, beberapa hari yang lalu Nur diganggu oleh makhluk halus, sebelum akhirnya ia memakai gelang pemberian saya?" ujar Clara.


"Siapa yang mengincar anak saya? Kami tidak memiliki musuh. Jangan-Jangan itu hanya akal-akalan kamu saja! Sebelum-Sebelumnya Nur baik-baik saja kok!" protesku.


"Saya belum bisa mengatakannya kepada Mbak sekarang, tapi yang jelas kalau Nur sampai melepas gelang itu, jiwa anak itu bisa tergoncang. Dan itulah yang diinginkan oleh orang tersebut. Nur itu memiliki kemampuan yang istimewa makanya ia diincar oleh orang tersebut," jawab Clara dengan nada serius.


"Nur itu sama dengan anak-anak yang lain. Tidak ada yang berbeda darinya!" protesku lagi.


"Tidak, Mbak. Nur itu lahir hari Jumat sama seperti Riki. Makanya mereka berdua sama-sama diincar untuk dijadikan tumbal!" jawab Clara tegas.


"Jangan mengada-ada, Clara! Itu hanya akal-akalanmu saja, kan?" tanyaku tidak percaya.


"Saya tidak mungkin mengada-ada, Mbak. Karena saya juga sama seperti Mbak Sinta. Saya pindah ke sini karena lari dari orang tersebut!" rengek Clara.


"Kamu bohong, kan? Mana mungkin perempuan perebut suami orang sepertimu berkata jujur!" cetusku spontan.


BRAK!


"Apa maksudmu mengatakan hal itu kepada saya, Mbak?" Clara tiba-tiba marah dan memukul meja tamuku.


"Bukankah kamu menikah dengan suami ibu angkatmu, Clara? Kenapa kamu harus marah ketika saya mengatakan yang sebenarnya?" Aku berkata dengan tidak kalah keras.


Clara tertunduk mendengar perkataanku. Ia menarik napas dalam-dalam kemudian dikeluarkan melalui sela-sela hidungnya. Tak sampai lima detik, air mata sudah menggenang di sana. Dan Clara pun menangis sesegukan sambil menahan sesak di dadanya.


Bersambung


Monggo yang ingin memiliki koleksi novel cetak KAMPUNG HANTU edisi spesial, bisa menghubungi nomer wa 085236533388. Harga 60 ribu saja.

__ADS_1


Ada banyak bonus yang kami sediakan. Stok terbatas. Harga pada pemesanan selanjutnya akan naik menjadi 75 ribu.


__ADS_2