MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
Episode 3 : Empati


__ADS_3

Mendengar teriakan Bu Dewi, warga pun berdatangan ke rumah Laras. Namun, mereka hanya menengok kondisi jenazah ibunya Panji kemudian buru-buru pulang dan bergosip tentang perempuan muda itu.


"Ngono iku nek duwe rupo ayu, tapi digawe dodolan! (Begitulah, kalau punya wajah cantik, tapi dibuat melacur)" ucap Bu Reni yang rumahnya di sebelah gudang padi.


"Loh, emangnya si Laras di kota kerjanya jual diri tah, Yu?" tanya Bu Ajeng.


"Lah, masa kamu nggak tahu? Dia itu jadi pelacur di lokasi dekat pantai itu. Orang-Orang sudah tahu semuanya, kok!" jawab Bu Reni ngotot.


"Iya tah, Yu. Lah orangnya kalem begitu?" ujar Bu Ajeng.


"Kalem-Kalem raimu iku. Dee iku sak durunge budal nang kota, kerjone kan nggudoi lanangan nang kene. Bojomu ae sing nggak pernah digudo polae budal isuk mulih bengi. Tapi sek sek ... jojoan bojomu iku pelanggan tetape Senok Laras iku mau nang lokalisasi cedek pantai mau! (Kalem apaan ? Dia itu sebelum berangkat ke kota, suka godain suami-suami di sini. Suamimu saja yang belum karena kesibukan kerjanya. Tapi, jangan-jangan suamimu malah jadi pelanggan tetapnya)."


Bu Ajeng pun bersungut-sungut kesal dengan penjelasan Bu Reni.


*


"Bulek, bantuin saya mengurusi jenazah Laras, ya?" pinta Bu Dewi pada kerabat dan tetangganya.


"Saya lagi masak banyak, Nduk, nggak bisa ditinggal," jawab Bulek Atmo.


"Saya mau berangkat menjenguk anak saya di pondoknya, Mbak," jawab Bu Ibnu.


"Saya mau nelayat ke desa sebelah. Sudah kadung janjian naik elf sama tetangga," jawab Bulek Roso.


Demikianlah, semua tetangga dan kerabat Bu Dewi yang biasa mengurusi jenazah kabur semua dan menolak membantu Bu Dewi dengan berbagai alasan. Padahal itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh mereka saja.


Akhirnya Bu Dewi pun menelpon suaminya yang sedang bekerja di kota.


"Mas, Laras meninggal!" ucap Bu Dewi pada suaminya sambil terisak.


"Innalillahi wainnailaihi rojiuuun. Terus gimana, Dik? Saya masih di luar kota ini," jawab Pak Herman.

__ADS_1


"Para tetangga tidak ada yang mau membantu mengurusi jenazahnya. Gimana ini, Mas?" ujar Bu Dewi sambil terisak.


"Dik, kalau nunggu Mas pulang bisa sampai malam soalnya Mas sedang ada di luar kota mengirim barang. Saya telponkan kenalan saya, ya, biar membantu mengurusi jenazah Laras," jawab Pak Herman.


"Iya sudah Mas. Tidak apa-apa. Buruan, ya, saya tunggu kabarnya!" jawab Bu Dewi senang.


"Iya, Dik. Kamu nggak usah khawatir. Jaga Panji baik-baik!" pesan Pak Herman.


Bu Dewi menutup telepon dan memandangi tubuh Laras yang terbujur kaku tidak berdaya di atas amben.


"Maafkan saya, Laras!" ujar Bu Dewi di dalam hati.


Semua orang yang semula berkerumun di rumah Laras sudah pulang satu persatu. Bu Dewi pun sudah malas untuk meminta tolong kepada mereka setelah mendapat jawaban yang sama dari mereka. Bu Dewi heran karena masih ada dua orang yang belum pulang. Dia adalah Pak Salihun dan Pak Ratno. Keduanya adalah orang yang mengelola sawah Bu Dewi.


"Kenapa Pak Salihun dan Pak Ratno tidak ikut pulang kayak yang lain? Tidak, saya tidak akan memutus kerjasama dengan kalian atas dasar kejadian ini. Saya maklum kok!" ucap Bu Dewi pada dua orang duda tua itu.


"Mboten, Bu Dewi. Kami mau membantu, tapi kami takut diolok-olok oleh orang-orang kalau ketahuan membantu memakamkan Laras," jawab Pak Salihun yang lebih tua.


"Ooo ... Kalau memang Bapak-Bapak berdua mau membantu. Tolong pindahkan jenazah Laras ke ruang tamu biar nanti enak sewaktu dimandikan oleh orang-orang yang dikirim suami saya!" pinta Bu Dewi.


Bu Dewi pun mengarahkan Pak Salihun dan Pak Ratno ke dalam kamar untuk mengangkat jenazah Laras. Akhirnya, jenazah Laras sekarang sudah dibaringkan di ruang tamu.


Setelah itu Bu Dewi pun mengambil buku Yasin di atas bufet untuk dibaca di sebelah jenazah Laras sambil menggendong Panji. Pak Salihun dan Pak Ratno masih menunggu di ruang tamu. Di luar rumah, sesekali ada tetangga yang mengintip melalui jendela dan kemudian pulang ke rumahnya lagi.


"Kenapa Pak Salihun dan Pak Ratno belum pulang, katanya takut dirasani tetangga?" tanya Bu Dewi.


"Kami menunggu orang-orangnya Pak Herman datang, Bu. Baru kami pulang," jawab Pak Salihun lagi.


Bu Dewi tenang mendengar jawaban itu. Setidaknya ia tidak sendirian di dekat jenazah Laras.


*

__ADS_1


Sekitar pukul dua siang orang-orang kiriman Pak Herman datang. Tidak hanya laki-laki. Perempuan juga ikut di dalam rombongan itu. Setelah mengukur tinggi badannya Laras, para laki-laki pun menuju ke area pemakaman dengan diantar oleh Pak Salihun dan Pak Ratno sebagai penunjuk jalan. Sedangkan yang ibu-ibu langsung mempersiapkan acara memandikan dan mengkafani jenazah Laras. Mereka sudah siap dengan perlengkapannya.


Bu Dewi sangat terbantu dengan kedatangan rombongan itu. Meskipun ia harus merogoh kocek cukup dalam, hal itu bukan masalah baginya. Yang penting jenazah Laras bisa segera dikuburkan. Bu Dewi ikut memandikan jenazah Laras. Panji sementara digendong oleh salah satu dari ibu-ibu itu. Bu Dewi terisak saat memandikan tubuh Laras yang hanya tertinggal tulang dan kulit itu.


*


Pukul empat sore jenazah Laras dibawa ke are pemakaman. Sekitar pukul lima pemakaman selesai dilaksanakan. Pada saat di pemakaman barulah ada beberapa tetangga yang ikut melayat.


"Itu siapanya Bu Dewi?" tanya salah seorang tetangga.


"Itu masih saudara saya, Pak. Ada juga yang masih ada hubungan saudara dengan ibunya Laras," jawab Bu Dewi berbohong.


Bagaimanapun Bu Dewi tidak ingin mempermalukan para tetangganya yang enggan membantu mengurusi jenazah Laras.


"Ada tahlilan, Bu Dewi?" tanya Pak RT.


"Ada, Pak seperti biasa habis magrib, ya," jawab Bu Dewi.


"Di mana tempatnya, Bu?" tanya Pak RT.


"Gimana kalau di rumah Laras saja?" ujar Bu Dewi kalem.


"Apa tidak sebaiknya tahlilannya di rumah Bu Dewi saja? Biar Bu Dewi juga tidak repot-repot," usul Pak RT.


"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Pak atas bantuannya," jawab Bu Dewi. Padahal Pak RT dan tetangga yang lain hanya mengantar ke makam saja tidak ikut mengurusi jenazah.


"Sama-Sama, Bu," jawab Pak RT.


Semua warga pun pulang ke rumah masing-masing. Bu Dewi pun buru-buru pergi ke rumah Bu Yana untuk membeli kue basahan dan air minum yang akan ia suguhkan pada bapak-bapak yang akan ikut tahlilan di rumahnya nanti malam.


"Biar wes ntar yang ikut tahlilan dikasih kue basahan saja, nggak nutut kalau mau ngasih makan nasi."

__ADS_1


Sebelum pulang ke rumahnya sendiri, Bu Dewi sambil menggendong Panji pergi ke rumah Laras untuk menghidupkan lampu di dalam dan di luar agar tidak singup. Setelah itu ia mengunci pintu rumah itu dari luar. Entah kenapa tiba-tiba bulu tengkuknya berdiri.


BERSAMBUNG


__ADS_2