MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 54 : POLISI


__ADS_3

Herman dan Chintia naik ke dalam satu mobil yang sama. Bu Dimas dan Niko ikut dengan mobil ambulan sambil memegangi jenazah Pak Dimas yang harus diikat ke brankar karena harus melalui jalan yang rusak di dusun Delima. Sepanjang jalan Bu Dimas dan Niko terus menangis dan masih tidak percaya dengan musibah yang menimpa suami dan ayah mereka. Bu Dimas tidak habis pikir kenapa bisa suaminya mengkonsumsi barang haram sebanyak yang ia lihat. Ingatannya kembali ke masa lalu saat ia memergoki suaminya sedang membuka benda yang mencurigakan itu. Ia sempat menuduh suaminya sedang menyembunyikan barang terlarang, tapi tuduhannya terbantahkan oleh omongan Pak Ade bahwa barang itu adalah zat kimia untuk tambahan campuran beton.


Tapi, dengan kejadian ini Bu Dimas mulai berpikir bahwa suaminya dan Pak Ade telah menyembunyikan sesuatu darinya. Perempuan itu juga mengingat-ingat bahwa selama ini suaminya hanya bekerja part time saja kepada Pak Ade, tapi bayarannya lebih dari cukup.


“Mungkinkah suamiku dan Pak Ade adalah pengedar obat-obatan terlarang? Ah, tidak mungkin. Aku tahu dengan pasti bahwa Pak Ade benar-benar seorang pemilik CV kontraktor bangunan yang cukup ternama di kota ini. Lantas, untuk apa Pak Ade dan suamiku memiliki obat terlarang itu? Dan, kenapa suamiku harus mengkonsumsi barang haram itu dalam jumlah yang banyak? Apa suamiku memang berusaha untuk bunuh diri? Kenapa? Bukankah selama ini ia tidak punya masalah serius? Apa dia tertekan dengan kehidupan yang ia jalani? Ah, buktinya selama ini dia baik-baik saja hubungannya denganku dan juga dengan Niko. Ya Tuhan, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada suamiku? Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan polisi tentang kematian suamiku ini?” Bu Dimas bingung dengan kejadian yang sedang ia hadapi.


“Pak ... Jangan tinggalkan Niko! Niko butuh Bapak!” Niko terus meraung-raung memanggil nama bapaknya yang sudah tidak mungkin bangun lagi.


Bu Dimas memeluk anaknya dan membelai rambut anak laki-lakinya itu. Entahlah, bagaimana ia dan Niko akan menghadapi hidup ke depannya.


“Mas, terus terang ini sangat berat buat kami. Selama ini Mas sudah banyak berkorban untuk kami berdua. Aku tidak akan menggugat dari mana Mas memberikan nafkah untuk kami berdua selama ini. Aku berterima kasih banyak kepada Mas. Namun, untuk ke depan aku akan berusaha dengan segenap upayaku untuk menafkahi Niko dengan cara yang halal. Dan aku akan selalu berdoa kepada Tuhan agar dosa-dosa Mas diampuni oleh-Nya. Sebesar apapun dosa itu. Aku akan mendidik Niko menjadi orang yang baik yang semoga bisa menolong kita berdua nanti dari siksa-Nya. Terima kasih atas semua yang sudah Mas berikan kepada kami. Aku mencintaimu, Mas ...,” ucap Bu Dimas di dalam hatinya.


Sementara itu Herman dan Chintia yang berada di dalam satu mobil sedang berdiskusi tentang kejadian tersebut.


“Her, gimana pendapatmu tentang kasus ini?” tanya Chintia.


“Sudah bisa dipastikan ini adalah kejadian over dosis. Korban mungkin ada masalah berat makanya melakukan hal itu,” jawab Herman.


“Apa kamu tidak menangkap ada unsur pembunuhan di sini?” tanya Chintia.


“Pembunuhan bagaimana, Chin. Kamu tahu sendiri tidak ada pintu atau jendela yang rusak. Dari mana pembunuhnya akan masuk sementara keluarga pelaku juga ada di sana,” jawab Herman.


“Iya, mungkin saja pembunuhnya lebih lihai dari dugaan kita?” protes Chintia.

__ADS_1


“Kita lihat saja perkembangannya nanti. Sambil menunggu hasil otopsi dan uji lab terhadap barang-barang bukti yang kita temukan. Justeru yang tidak boleh kita abaikan adalah asal dari barang haram itu dan bagaimana bisa ia memiliki barang haram sebanyak itu? Hanya untuk bunuh diri atau untuk tujuan yang lain,” jawab Herman.


“Benar, Her. Kita juga harus melakukan analisa keterkaitan antara kasus ini dengan kasus-kasus Narkoba lainnya,” jawab Chintia.


“Nanti kamu yang mewawancarai Bu Dimas, ya? Biar aku yang mewawancarai anak mereka,” ujar Herman.


“Oke,” jawab Chintia.


Mobil yang mereka naiki akhirnya sampai di rumah sakit daerah. Herman dan Chintia ikut turun untuk mengawal jenazah dari ambulan menuju ruang otopsi. Pada saat melalui koridor ruangan VIP, Chintia melihat ada seorang laki-laki keluar dari sebuah kamar dan mengajak Bu Dimas mengobrol. Entah apa yang mereka omongkan saat itu. Tidak lama kemudian, pria itu pun masuk lagi ke dalam kamar VIP. Sesampai di ruang otopsi, Chintia menghampiri Bu Dimas dan Niko yang sedang duduk di ruang tunggu. Chintia berusaha untuk menghibur Bu Dimas dan anaknya.


“Mbak ... Apapun hasilnya nanti saya sudah pasrahkan semuanya kepada pihak yang berwajib,” ucap Bu Dimas dengan terisak.


“Iya, Bu. Kami akan mengupayakan yang terbaik untuk semuanya,” jawab Chintia.


“Mbak, kira-kira kapan jenazah suami saya bisa dikuburkan?” tanya Bu Dimas.


“Iya, Mbak. Kalau boleh tahu apakah ada tempat tidur untuk anak saya?” tanya Bu Dimas.


“Tenang, Bu. Ada kok. Ibu tidak usah khawatir. Nanti, urusan makan dan tidur Ibu dan anak ibu akan kami sediakan semuanya,” jawab Chintia.


“Terima kasih banyak, Mbak. Tapi, kami mau di sini dulu boleh, Mbak?” tanya Bu Dimas.


“Boleh. Tapi, jangan lama-lama ya, Bu. Kalian berdua juga butuh istirahat biar tidak sakit. Kalau sampai sakit siapa yang akan mengurusi selamatan suami ibu?” ucap Chintia.

__ADS_1


“Iya, Mbak. Sekali lagi terima kasih banyak dan maaf kalau kami sudah banyak merepotkan,” jawab Bu Dimas.


“Tidak, Bu. Justeru kami yang berterima kasih kepada Ibu karena mau bekerja sama dengan kami untuk mengungkap kasus ini karena kami yakin ada orang-orang yang juga harus bertanggung jawab atas kejadian ini,” jawab Chintia.


“Iya, Mbak,” jawab Bu Dimas.


Chintia pun memberikan waktu kepada perempuan dan anaknya itu untuk duduk di sana. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran mereka. Mungkin mereka masih berat untuk meninggalkan keluarganya di ruang otopsi. Sementara itu tim forensik sudah mulai bekerja sejak tadi. Chintia dan Herman sangat berharap bahwa semua tim akan memperoleh hasil terbaik sehingga kasus tersebut bisa dikembangkan dan dapat menyeret banyak orang yang memang harus bertanggung jawab atas kerusakan yang diakibatkan oleh peredaran barang terlarang oleh undang-undang itu.


Setelah waktu yang disepakati berlalu, Bu Dimas dan Niko pun akhirnya dibawa ke kantor polisi oleh Herman dan Chintia. Kapten Yosi menyambut hangat kedatangan mereka. Rupanya ia sudah menyiapkan hidangan terbaik untuk mereka semuanya sebelum Chintia dan Herman melakukan interogasi terhadap Bu Dimas dan Niko. Bu Dimas dan Niko merasa tenang berada di kantor polisi karena perlakuan anggota-anggotanya yang sopan dan ramah.


Chintia dan Herman akhirnya melakukan tugasnya menginterogasi mereka berdua. Proses interogasi itu dilakukan di ruangan terpisah. Khusus untuk Niko, ada seorang psikolog yang sengaja didatangkan untuk mendampinginya. Proses interogasi berjalan dengan lancar. Chintia dan Niko merasa kurang puas dengan hasil yang mereka dapatkan. Chintia curiga Bu Dimas belum terbuka seratus persen karena ada sesuatu yang masih ditutup-tutupi. Sepertinya Chintia harus memikirkan cara lain agar ia dapat mengetahui fajta-fakta yang masih disembunyikan oleh perempuan itu.


Herman menyadari bahwa Chintia kecewa dengan hasil wawancaranya. Ia pun mendatangi perempuan itu.


“Gimana, Chin?” tanya Herman.


“Ada sesuatu yang disembunyikan istri korban, Her,” ucap Chintia.


“Lantas apa yang harus kita lakukan? Merayunya? Atau memaksanya?” ujar Herman.


“Tidak, Her. Perempuan itu seolah menutup hal itu rapat-rapat. Kita harus melakukan cara yang lain,” jawab Chintia.


“Apa itu, Chin?” tanya Herman penasaran.

__ADS_1


“Kamu akan tahu sendiri nanti,” jawab Chintia.


BERSAMBUNG


__ADS_2