MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 40


__ADS_3

"Di tempat persembahan tumbal!" pekikku di dalam hati.


Aku yakin analisaku kali ini benar. Dan aku berkeyakinan bahwa kalau aku lebih dahulu sampai di tempat tersebut sebelum mereka berdua, maka aku memiliki kesempatan lebih besar untuk menyelamatkan anakku dan Riki.


Selama beberapa detik aku berpikir di manakah letak pemujaan pria jahat itu. Aku mereka-reka dengan pikiranku.


"Di dalam rumah, jelas tidak, sesuai perkataan suami Clara. Di sebelah rumah, jelas tidak, karena aku dan Mas Diki sudah mengobrak-abrik tempat itu. Di depan rumah, kayaknya tidak, karena hanya ada gajebo di sana. Jadi tinggal dua tempat yang memungkinkan, yaitu di timur rumah, dan di belakang rumah. Ada baiknya aku memeriksa di timur rumah ini, kemudian kalau tidak ada di sana, aku bisa langsung menuju ke belakang rumahnya. Semoga saja pria itu tidak menyekapnya di dalam bunker. Hal itulah mungkin yang menjadi salah satu alasan Mas Diki melarangku untuk menyergap suami Clara sekarang. Karena kalau benar ia menyekap Nur di bunker, tentunya hanya pria itu yang tahu tempatnya dan cara menuju ke sana."


Aku menarik tangan suamiku menuju ke bagian depan rumah ini.


"Kita mau ke mana, Dik?" bisik Mas Diki.


Aku tidak menyahut. Aku tetap menarik lengan suamiku. Kali ini ia tidak protes lagi. Pada satu kesempatan, aku pun berbisik di telinganya sambip berjalan perlahan. Aku sangat hati-hati berbisik pada suamiku, takut didengar oleh suaminya Clara.


"Ayo, kita periksa bagian timur rumah ini, Mas," ucapku.


Mas Diki mengangguk perlahan. Kami berdua pun melanjutkan langkah dengan tetap mengatur tempo supaya tidak didengar oleh pria itu. Setelah beberapa waktu, akhirnya kami berdua sampai di bagian depan rumah tersebut. Kami pun bersiap-siap untuk melangkah menuju sebelah timur rumahnya. Tiba-Tiba aku teringat dengan arwah Pak Handoko yang beberapa waktu lalu muncul tepat di balik dinding di timir rumahnya.


"Ya Tuhan ... semoga arwah Pak Handoko tidak muncul lagi dalam keadaan genting begini," ucapku di dalam hati.


Jantungku berdegup dengan kuat dan tidak beraturan. Keringat sebesar biji jagung mengalir menuruni kedua pelipisku. Rasa was-was menghinggapi dadaku. Desiran darah mengalir semakin deras tatkala aroma bunga kenanga tiba-tiba menyeruak di hidungku.


Aku berjalan di depan. Mas Diki mengekor di belakangku. Aku yang memintanya seperti itu karena aku lebih tenang kalau berjalan di depan. Merasa dilindungi oleh suamiku.


Saat ini kami berdua sudah hampir sampai di ujung timur beranda rumah tua tersebut. Bunga kenanga semakin menyengat tercium olehku. Aku menghentikan langkah diikuti oleh suamiku tepat di ujung dinding. Dan saat itu saatnya bagiku untuk mengintip pemandangan di balik dinding. Akunharus melakukannya dengan perlahan takutnya Clara dna suaminya tiba-tiba muncul di sana.


"Bismillahirrohmanirrohiiiiim ...,"


Aku memberanikan diri mengintip pemandangan di sebelah timur rumah itu. Dan ternyata di depan sana ada ruang semacam taman juga yang cukup luas. Tidak ada Clara atau suaminya di timur rumah itu. Hanya tanam-tanaman, kurungan unggas, dan kolam ikan yang sudah lama tidak terawat. Ada jalan setapak menuju bagian belakang rumah ini.


"Syukurlah, aku tidak melihat pemandangan mengerikan di timurnya rumah tersebut. Tapi, kenapa bau itu semakin menyengat saja? Dan, kenapa bulu kudukku merinding tiba-tiba? Ya Tuhaaaaan!!! Benda apa ini tepat di balik tembok ini, berwarna putih, duduk di kursi kayu yang sudah usang. Ada ikatan di bagian atasnya membentuk kuncup bunga. Astaga!!! Ternyata benda di depanku ini adalah POOOOOOOOOCOOOOOOONG!!!"


"Tooooo--" suaraku teriakanku tiba-tiba terhenti karena mulutku dibekap dan kepalaku ditarik dari belakang.

__ADS_1


Ternyata yang sedang membekap mulutku adalah suamiku sendiri, Mas Diki.


"Ssttttt!!! Ada apa? Jangan teriak!" bisik suamiku pelan.


"I-i-itu a-a-ada po-pocong!" bisikku pelan sambil menunjuk ke balik tembok.


Mas Diki menjulurkan kepalanya ke balik dinding, untuk menengok ke tempat yang kutunjuk.


"Nggak ada apa-apa, Dik!" ucap suamikj pelan setelah memeriksa keadaan di balik tembok.


"Coba kamu periksa sekali lagi, Mas. Pocongnya sedang duduk di kursi tepat di balik tembok ini," ucapku masih dengan rasa takut.


"Sudah aku cek semuanya, Dik. Nggak ada apa-apa, kok. Paling kamu salah lihat saja. Hanya kursi kayu usang yang ada di balik tembok," jawab suamiku dengan penuh keyakinan.


"Tuuuuuuh ... Nggak ada, kan?" ucap suamiku lagi sambil mendorong kepalaku ke balik tembok. Aku memejamkan mataku tatkala Mas Diki mendorongkan kepalaku ke balik tembok karena aku masih yakin, pocong itu ada di sana. Mas Diki kemudian ikut menjulurkan kepalanya tepat di sebelahku. Kali ini aku memberanikan diri membuka mata. Dna aku menengok ke depan agak ke bawah. Benar saja, pocong dengan kain kafan lusuh tadi sudah tidak ada di sana lagi.


"Nah, kan, nggak ada beneran?" ucap Mas Diki.


"I-i-ya, Mas," jawabku mempercayainya.


"Ya, mungkin kamu salah lihat," jawab Mas Diki enteng.


"Aku paling takut sama pocong, Mas" protesku.


"Tenang, nggak usah takut. Ada mas, kan?" jawab Mas Diki.


"Iya, Mas," jawabku.


"Ayo, kita segera bergerak menyisir tempat ini terus lanjut ke belakang rumah," ucap Mas Diki.


"Ayo, Mas!" jawabku.


Kami pun berjalan menyusuri jalan setapak di timur rumah itu dengan masih mengendap-endap. Kami bergerak dan bersembunyi dari balik rerimbunan tanaman ke rerimbunan tanaman yang lain. Kami terus beringsut, sehingga sampailah kami di pinggir kolam. Kami berdua mengintip sekitar kolam ikan itu melalui celah di antara tanaman yang ada di dekat kami. Kami berdua terkejut karena di pinggir kolam itu kami melihat ada seseorang sedang duduk di kursi roda sedang mengamati kolam tersebut.

__ADS_1


"Dik, ada orang!" ucap suamiku.


"Iya, Mas. Bapak-Bapak. Apa yang harus kita lakulan?" tanyaku.


"Kita perhatikan dulu pergerakan bapak-bapak tua itu. Sedang apa ia duduk-duduk di sana," jawab Mas Diki.


"Iya, Mas," jawabku.


Kami pun mengamati pria tu dengan saksama dari balik tanaman.


"Dik ... Dik ... pria itu menggerakkan kepalanya," ucap suamiku.


"Iya, Mas" Aku membenarkan karena aku juga melihatnya.


"Dia mau ngapain, ya, Dik?"


"Entahlah, Mas. Kita amati saja dulu,"


"Loh, kok kayak ada yang aneh, Dik?"


"Aneh kenapa, Mas?"


"I-i-itu coba kamu lihat!"


"Iya, Mas, aku melihatnya. Kenapa?"


"Kepala orang itu kok bisa sampai muter seratus delapan puluh derajat begitu, ya?"


"Ah, Mas ini mengada-ada, wong dia hanya peregangan saja, Mas,"


"Peregangan gimana, Dik? Coba kamu lihat dengan teliti!"


Aku pun memperhatikan bapak-bapak itu dengan teliti dan darahku pun mendesir.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2