MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 11


__ADS_3

Riki sudah bersiap memberikan jawaban kepadaku, sebelum akhirnya kami mendengar suara langkah seseorang di balik tirai ruang tengah.


"Clara!!!" sapaku pada perempuan yang terlihat emosi itu.


Clara tidak menjawab sapaanku. Ia berjalan mendekati kami yang sedang berada tidak jauh dari pintu depan. Riki nampak tegang saat itu. Perempuan muda itu terus berjalan mendekati kami berdua yang sedang mengamati gambar yang kami pegang berdua. Clara mengambil gambar itu, mengamatinya dengan seksama, sambil memperhatikan ekspresi wajahku. Hatiku terasa ditusuk benda tajam saat itu. Terus terang aku tidak pernah berbohong dan tidak tahu caranya berbohong. Namun, saat ini aku harus memasang wajah tidak berdosa di depan Clara demi keselamatan Riki.


"Anakmu memiliki bakat menggambar, Clara!" cetusku spontan berusaha meredam emosi yang mungkin membuncah di dada perempuan itu.


Clara tersenyum kecut kepadaku.


"Pikiran Mbak sudah diracuni oleh anak ini, rupanya. Mbak belum tahu saja, bahwa anak ini senang membuat gambar-gambar yang aneh!" jawab perempuan itu.


"Namanya juga anak-anak, Clara. Biasa seperti itu. Dulu, anak saya waktu masih kecil juga sering berbuat aneh," jawabku lagi.


"Mbak tidak mengerti yang saya maksudkan. Suatu saat kalau Mbak sudah tahu, Mbak pasti akan setuju dengan saya," jawab Clara.


Clara memberikan kembali gambar itu kepada Riki, kemudian ia meninggalkan kami berdua melangkah ke ruang tengah, mungkin ia ingin melihat kondisi ibunya atau melakukan aktifitas rumah tangga.


Syukurlah, tadi sebelum Clara sampai di ruangan ini, Riki sempat menyembunyikan gambar yang pertama di dalam bajunya dan menggantinya dengan gambar yang lain.


"Makasih, Bude sudah mau melihat karya saya," ucap anak kecil itu.


"Sama-Sama, tapi kenapa gambar kamu yang ini tidak sebagus gambar yang tadi? Gambar yang tadi seperti ada nyawanya," ucapku.


Riki tersenyum lebar seraya berkata.


"Seperti apa yang dibilang ibu tadi, Bude akan tahu nanti,"


Mataku menatap lekat ke arah mata anak kecil di depanku ini. Ada sedikit rasa penasaran tiba-tiba menyeruak ke dalam pikiranku.


"Apa sebenarnya maksud perkataan mereka bahwa 'aku akan tahu nanti'? Apakah itu sesuatu yang besar? Sesuatu yang menakutkan? Ah, paling-paling yang mereka maksudkan adalah kenakalan Riki. Wajar, kan, seorang anak kecil nakal?" Aku berkata di dalam hati.

__ADS_1


"Eh, Riki. Bude pamit pulang dulu, ya?" ucapku pada Riki.


"Bude mau kemana sih? Masa bude tega ninggalin aku main sendirian?" suara yang keluar dari mulut anak itu.


"Riki nggak usah sedih. Rumah bude dekat, kan? Jadi ini bukanlah kunjungan bude yang terakhir. Nanti, bude pasti akan mengunjungi Riki lagi," hiburku pada anak itu.


"Bude janji, ya?" ucap Riki sambil mengangkat jempol kecilnya.


Aku menatap mata sendu anak kecil tersebut. Ada perasaan iba menyeruak ke dalam hatiku.


"Bude janji," jawabku sambil mengangkat jempolku juga dan menempelkan ke jemponlnya yang mungil. Dingin, rasa itu yang kembali kurasakan kala kedua jempol kami saling beradu. Ada perasaan getir yang tiba-tiba merangsek ke dadaku.


"Dada Rikiiiii ... Assalamualaikum ...," Aku melambaikan tanganku ke arah anak kecil itu.


"Dada Budeeeee ...,"


Aku pun melangkah meninggalkan rumah Pak RW yang dikontrak oleh Clara.


Ada keanehan yang aku rasakan ketika aku meninggalkan rumah tersebut. Setiap tarikan napas dan langkahku menjauhi rumah tersebut, suasana di sekitarku berubah sedikit demi sedikit, mukai dari hening, semakin ramai ... semakim ramai ... satu langkah ... dua langkah ... tiga langkah ...


Aku menoleh ke arah belakang, ke rumah Pak RW, berharap Riki masih berdiri di sana untuk melihat kepulanganku. TIDAK, sepertinya ia sudah masuk ke dalam rumah.


"Apakah aku selama itu bermain dengan Riki? Perasaanku mengatakan aku hanya bermain sebentar dengannya. Masa iya, perbincangan singkat itu membutuhkan waktu lebih dari dua jam? Apa yang terjadi denganku? Ah, mungkin faktor umur yang membuatku jadi lamban bergerak dan lemah ingatan," pikirku di dalam hati.


*


Malam harinya aku, Mas Diki, dan Nur menonton televisi di ruang tamu.


"Mas, apa keluarga jenazah anak kecil itu sudah ditemukan?" tanyaku tiba-tiba.


"Belum, Dik. Belum ada orang yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya yang mirip dengan anak kecil itu," jawab suamiku.

__ADS_1


"Duh, kasian, ya, Mas! Berarti jenazah anak kecil itu belum dimakamkan, ya?" tanyaku spontan.


"Ya, belum, Dik. Polisi terus mencari informasi tentang identitas anak kecil itu, meskipun mungkin akan kesulitan karena kondisi jenazahnya yang penuh dengan luka akibat benturan dengan dinding gorong-gorong," ucap suamiku.


"Ya Tuhan! Kasihan sekali anak itu dan juga keluarganya," pekikku.


"Orang-Orang menduga kalau anak kecil itu dibunuh oleh keluarganya sendiri makanya keluarganya tidak mencarinya," ucap suamiku lagi.


"Ih, tidak mungkin ada orang setega itu, Mas. Orang-Orang itu senangnya bergosip saja. Wong, polisi saja belum menetapkan kalau anak itu korban pembunuhan," protesku.


"Iya, aku setuju denganmu. Tapi, kenapa keluarganya belum melaporkan kehilangan salah satu anggota keluarganya, ya?" Mas Diki berkata.


"Bagaimana kalau anak itu tinggal sendirian? Anak jalanan misalnya!" ucapku.


"Meskipun tinggal sendirian, pasti tetangganya ada yang kenal, kan?" suamiku bertanya balik.


"Kalau ia jauh dari tetangga atau orangnya tidak pernah bersosialisasi, gimana?" Aku bertanya lagi.


"Iya, masuk akal analisamu. Semoga polisi segera menemukan keluarganya. Miris banget, ya? Makanya kita harus mau beraosialisasi dengan orang lain supaya bisa saling membantu dan berbagi informasi dengan orang lain," ucap suamiku.


"Iya, Mas" jawabku.


Entah mengapa, ketika Mas Diki mengatakan tentang 'sosialisasi', aku jadi ingat dengan keluarga yang sedang mengontrak rumah di depanku. Semenjak ia mengontrak di situ, rumah itu selalu tertutup. Lampu-Lampu pun tidak ditambah, tetap seperti sewaktu rumah tersebut belum dikontrak. Mereka hanya bersosialisasi denganku saja, tidak dengan tetangga-tetangga yang lain. Memang sih, rumah tetangga yang lain masih agak jauh dari sini. Tapi, sebagai penghuni baru di sini, seharusnya mereka mau membaur dengan penduduk di sini.


"Nanti, aku akan mengingatkan Clara untuk berkunjung ke rumah tetangga yang lain," ucapku di dalam hati sambil menutup tirai ruang tamu. Sejenak aku pandangi rumah di depan. Terlihat gelap sekali.


"Kasihan Riki harus tumbuh dan berkembang di dalam keluarga yang selalu tertutup seperti itu. Mau menggambar saja, dia harus sembunyi-sembunyi dari ibunya," pikirku kembali di dalam hati.


BUK!


Tiba-Tiba aku melihat sebuah kelapa gading yang tumbuh di depan rumahku jatuh ke tanah.

__ADS_1


Bersambung


Tunggu kehadiran versi cetak novel berjudul KAMPUNG HANTU yang tentunya isinya ad ayang berbeda dengan versi aplikasi.


__ADS_2