MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 43 : DIBURU WAKTU


__ADS_3

Setelah melalui perdebatan yang cukup alot dengan para tim medis, akhirnya aku diperbolehkan pulang dengan menandatangani surat pernyataan pulang paksa yang disodorkan oleh pihak rumah sakit.


Mas Diki membawa mobil kami dengan cukup kencang dengan harapan kami akan sampai ke rumah Mbak Ning sebelum kakak sepupuku itu diserang lagi oleh arwah kiriman itu lagi. Sialnya, jalanan yang biasanya lengang saat itu mendadak macet. Aku yang berada di dalam mobil menjadi uring-uringan dengan adanya kemacetan itu. Kurang lebih selama tiga puluh menit mobil berjalan dengan pelan sekali. Ternyata, penyebab kemacetan di jalan itu adalah ada hajatan orang kawin yang digelar dengan menggunakan sebagian jalan raya.


"Duh, ada-ada saja warga di sini. Masa fasilitas umum digunakan untuk kepentingan pribadi," rutukku.


Belum selesai aku mengomel tiba-tiba aku mendengar celotehan dua orang ibu-ibu yang berdandan rapi sedang bercengkrama. Kalau dilihat dari penampilannya sepertinya dua orang itu akan bertamu ke rumah orang yang menggelar hajatan itu.


"Beruntungnya Juminten, ya? Bisa menikah dengan orang kaya?" ucap ibu berjilbab merah.


"Lah, wajar. Ibunya si Juminten kan tukang lintrik. Wajar saja kalau si bosnya Juminten itu sampai bertekuk lutut di kaki Juminten," jawab perempuan satunya.


Percakapan dua perempuan itu mengingatkanku pada masalah yang ada dalam rumah tangga aku dan Mas Diki.


"Jangan-Jangan ada orang yang sedang mengguna-gunai kami berdua? Selama belasan tahun menikah dengan Mas Diki, kami berdua tidak pernah mengalami masalah dalam urusan dalam negeri itu," pikirku di dalam hati.


"Mas ...," panggilku pada suamiku.


"Ada apa, Dik?" Mas Diki balik bertanya.


"Setelah melihat apa yang terjadi dengan Mbak Ning, apa Mas Diki tidak mencurigai sesuatu?" ucapku.


"Curiga apa, Dik? Ia bertanya lagi.


" Gini loh, Mas. Selama ini hubungan kita di dalam kamar kan tidak ada masalah. Tapi, akhir-akhir ini kan ada gangguan sedikit. Apa Mas Diki tidak curiga?" selorohku.


"Maksud Dik Sinta?" tanya Mas Diki dengan wajah serius.


"Mungkin nggak kalau apa yang terjadi di dalam kamar kita itu sebenarnya bukan gangguan psikologis semata, melainkan ada orang yang sengaja mengirim black magic kepada kita?" jawabku.


Mas Diki menimbang-nimbang sejenak perkataanku.


"Apa pendapat Mas Diki?" Aku bertanya.

__ADS_1


"Hm ... ada juga sih kemungkinan ke arah situ. Tapi, siapa yang tega berbuat seperti itu?" ujar Mas Diki kemudian.


"Hm ... Pelakunya bisa saja orang yang tidak suka dengan keharmonisan kita, Mas," jawabku.


"Siapa, Dik? Mas nggak pernah berhubungan dengan perempuan lain," jawab Mas Diki polos.


Saat Mas Diki berkata seperti itu, aku jadi teringat dengan Pak RT yang beberapa hari ini cukup intens berkomunikasi denganku melalui sosial media. Tapi, aku pikir nggak mungkin lah orang sekelas Pak RT akan melakukan perbuatan tercela seperti itu. Lagipula orang itu sudah berkeluarga dan selama ini tidak pernah berbuat kurang ajar kepadaku. Andaipun ia mau, pasti ia sudah melecehkanku saat aku tertidur pulas di mobilnya waktu itu.


"Hm ... Namanya orang iri, Mas. Hal kecil saja bisa membuat mereka melakukan hal tercela," jawabku datar.


"Kita tidak boleh asal menuduh, Dik, kalau tidak ada bukti kongkret," jawab Mas Diki.


"Gimana kalau kita minta tolong pada Pakdenya Siti seperti waktu itu?" tanyaku.


"Hm ... ide yang bagus. Oke, kita hubungi Pakde nanti. Sekarang kita konsentrasi dulu dengan Mbak Ning," jawab Mas Diki.


"Iya, Mas," jawabku.


Setelah itu mobil pun melaju dengan cukup kencang membelah jalanan yang sudah kembali lengang. Beberapa menit kemudian kami pun sampai di area kebun kopi kurang lebih sepuluh menit dari tempat tinggal Mbak Ning. Sepanjang jalanan tadi aku sudah berkali-kali menghubungi nomor Mbak Ning dan juga nomor Nur anakku, tapi keduanya tidak ada yang aktif. Begitu sampai di area kebun kopi itu tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor anakku ke nomor Mas Diki. Aku pun buru-buru mengangkatnya karena Mas Diki sedang konsentrasi menyetir.


"Bu, tolooooong!!! Di depan rumah ada hantunya Pak Agung!!!" suara Nur dari microphone Ponsel suamiku.


"Apaaaaaa? Kamu teriak, Nak! Minta tolong sama orang!" teriakku kebingungan.


"Sudah, Bu. Tidak ada orang sama sekali di sinj. Semuanya takziah ke rumah Bu Dibyo. Nur takut, Bu ...," jawab Nur dengan suara ketakutan.


"Jangan takut, Le. Kamu sembunyi sama Budemu, ya? Kalau hantu itu datang kamu bacain dengan doa-doa. Kamu jaga budemu dengan baik, ya? Ibu dan bapak sebentar lagi akan sampai di sana," teriakku.


BLEP!!!


"Nur!!!!! Nur!!!!"


Tiba-Tiba panggilan telepon kami berhenti dan aku berusaha untuk menghubungi nomer Nur kembali, tapi sia-sia. Aku coba mengganti dengan Ponselku hasilnya sama saja. Nomor Nur sudah tidak aktif. Aku dan Mas Diki semakin cemas.

__ADS_1


"Mas buruan, Mas. Nur dan Mbak Ning dalam bahaya! Ayo, ngebut Mas!" teriakku pada Mas Diki


"Sudah, Dik! Tapi mobilnya tidak bisa diajak kompromi. Putaran rodanya tetap pelan!" pekik Mas Diki dengan kepanikan.


GLEK!!


"Loh, kenapa, Mas?" tanyaku pada suamiku karena mobil tiba-tiba berhenti.


"Entahlah, Dik. Tiba-Tiba mesinnya mati," jawab Mas Diki bingung.


"Ayo, cepat hidupin lagi Mas! Nur dalam bahaya!" teriakku panik.


Mas Diki berusaha untuk menstarter mobilnya kembali, namun usahanya berkali-kali gagal.


"Duh, gimana ini Mas? Apa kita lari saja ke rumah Mbak Ning?" tanyaku dengan panik.


"Saya cek dulu air radiatornya, Dik. Kalau tidak ada masalah apa boleh buat. Kita harus lari ke rumah Mbak Ning!" jawab suamiku.


Mas Diki pun turun dari mobil dan membuka kap depan mobil. Ia memeriksanya selama beberapa waktu. Aku hanya mendengar suara Mas Diki yang karena tubuh Mas Diki terhalang oleh kap mobil yang ia buka.


"Alhamdulillah sudah ketemu masalahnya, Dik," ujar Mas Diki sambil berjalan ke arahku.


"Apa, Mas?" tanyaku.


"Air radiatornya habis!" jawab Mas Diki sambil mengambil sebotol air mineral berukuran besar dari dalam mobil.


"Ayo, buruan Mas! Kasihan Nur sama Mbak Ning!" jawabku.


"Iya, Dik. Sekarang beres sudah, Dik. Ayo, kita buruan ke tempat Mbak Ning!" ujar suamiku sambil menutup kembali kap mobil.


Aku yang berada di dalam mobil saat ini bisa melihat sosok Mas Diki yang sedang berdiri menghadapku. Namun, sesuatu di luar dugaan terpampang nyata di depanku. Di depan mobil, aku tidak hanya melihat sosok Mas Diki, tapi aku juga melihat ada sosok berpakaian serba hitam sedang berdiri di belakang Mas Diki tanpa sepengetahuan suamiku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Sudah punya koleksi novel KAMPUNG HANTU belum? Kalau berminat, silakan inbox harga cuma 75 ribu.


__ADS_2