MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 4 :LAMPU


__ADS_3

Entah kenapa, Panji yang sejak tadi rewel terus tiba-tiba tertawa cekikikan seperti ada yang mengkudang.


"Panji kok ketawa sendiri?" tanya Bu Dewi sambil memegangi kepala anaknya.


Panji berontak tidak mau dipegangi kepalanya. Ia malah memiringkan badannya ke sisi kiri dan kanan seolah-olah sedang bermain Cilukba dengan seseorang di belakang Bu Dewi.


"Panjiiiii!!! Jangan miring-miring, Nak! Nanti jatuh. Nggak ada siapa-siapa di belakang ibu," ucap Bu Dewi pada Panji yang sebenarnya masih Balita itu.


Panji tetap saja menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan suara cekikikan yang semakin keras. Bu Dewi makin kebingungan dengan aksi yang dilakukan Panji. Ia pun buru-buru pergi meninggalkan rumah yang ditempati Laras. Dan Panji menangis dengan keras seolah-olah diambil mainan kesukaannya.


"Cup ... Cup ... Cup ... Nak! Sudah mau magrib, Nak. Nggak boleh main di luar. Kita main di dalam rumah, yuk!" bujuk Bu Dewi pada Panji.


Panji agak tenang setelah diomong-omongi seperti itu.


"Anak pinter!" ucap Bu Dewi sambil mengecup kening Panji.


"Kasihan kamu, Nak. Sekecil ini sudah ditinggal sama ibumu. Ibu janji akan merawatmu seperti anak ibu sendiri,"


*


Selepas magrib, Pak Salihun dan Pak Ratno datang ke rumah Bu Dewi untuk membantu menata ruang tamu yang akan digunakan sebagai tempat tahlilan.


"Bapak belum datang, Bu?" tanya Pak Salihun.


"Belum. Masih di jalan," jawab Bu Dewi enteng sambil menata kue basah yang tadi ia beli ke atas piring.


"Kok tumben? Biasanya sebelum magrib sudah duduk-duduk di depan sambil gendong Panji?" tanya Pak Salihun.


"Iya. Ngirim barang ke luar kota," jawab Bu Dewi.


"Bu, lampu di rumah satunya kok dimatikan, ya? Apa tidak sebaiknya dihidupkan saja kalau malam?" ujar Pak Salihun lagi.


Bu Dewi sejenak menghentikan aktifitasnya dan menatap heran ke Pak Salihun.


"Rumah yang mana, Pak? Rumah yang ditempati Laras? Sudah saya hidupkan tadi sebelum magrib," jawab Bu Dewi tegas.

__ADS_1


"Loh! Iya tah? Barusan saya lewat sana gelap kok. Iya kan, Rat?" ujar Pak Salihun sambil bertanya kepada Pak Ratno.


"Iya, Bu. Barusan gelap rumahnya. Saya melihatnya agak gimana gitu," sahut Pak Ratno.


"Ooo ... Mungkin lampunya rusak. Biar besok saya ganti," jawab Bu Dewi.


"Ibu sendiri yang mau ganti?" tanya Pak Salihun tidak percaya.


"Iya. Kenapa, Pak? Apa ada yang aneh?" Bu Dewi balik bertanya.


"E-enggak ... nggak apa-apa, Bu," jawab Pak Salihun kemudian.


*


Malam itu yang datang untuk ikut acara tahlilan tidak sampai sepuluh orang, termasuk di antaranya Pak RT dan Ustad Andi.


"Bu Dewi saya mohon maaf tadi tidak bisa ikut bantu-bantu pemakaman Laras. Saya sama istri baru pulang kampung. Baru sampai sebelum magrib tadi," ucap Ustad Andi setelah acara selesai.


"Tidak apa-apa, Ustad. Sampean mau datang sekarang saya sudah senang," jawab Bu Dewi dengan sopan pada salah satu tokoh pemuda di dusun Delima yang pernah ditaksir Laras itu.


"Iya, Ustad. Dulu waktu sampean sama Laras masih kecil sering main bareng, kan?" ucap Bu Dewi.


"Iya, Bu. SD dan SMP kita satu sekolah. SMA baru misah. Laras sekolah SMK, sedangkan saya sekolah Aliyah," jawab Ustad.


"Iya, Ustad. Mohon sambung doanya, ya, semoga Laras dipadangno kubure. (Dilapangkan kuburnya)" ucap Bu Dewi dan diaminkan semua tetangga yang hadir di sana.


Orang-Orang pulang sebelum isya. Bapak-Bapak pulang duluan, disusul Pak Salihun dan Pak Ratno di belakangnya setelah menggulung hambal dan menyenderkannya di pojok ruang tamu. Tinggal Bu Dewi sendirian di rumah tersebut bersama Panji yang sudah terlelap tidur saat orang-orang membaca surat Yasin tadi. Bu Dewi menyentuh dahi Panji. Alhamdulillah sumer-nya sudah hilang.


*


Ustad Andi berjalan menuju rumahnya. Untuk sampai ke rumahnya, ia harus melalui rumah Bu Dewi yang ditempati Laras. Ustad Andi melirik sebentar ke arah rumah yang lampunya mati itu. Kenangan masa kecil ketika ia bermain sama Laras di rumah itu tiba-tiba terbayang di pikirannya. Mbok Inah, ibu dari Laras adalah sosok yang sabar dan pekerja keras. Ustad Andi yang dulu hidupnya sederhana sering makan bareng sama Mbok Inah dan Laras di rumah itu. Biasanya Mbok Inah itu mendapatkan makanan enak dari rumah Bu Dewi dan Pak Herman sebagai majikan.


Ustad Andi dan Laras sangat akrab sekali. Setiap pagi mereka berangkat ke sekolah bareng-bareng. Kalau nggak Ustad Andi yang menjemput Laras, Ya sebaliknya, Laras yang menjemput Ustad Andi di rumahnya. Tapi, mereka tidak pernah pacaran. Mereka sama-sama lugu waktu itu.


"Dik, mau ke mana?" sapa Ustad Andi pada istrinya yang kebetulan salipan jalannya dengan Ustad Andi

__ADS_1


Istri Ustad Andi tidak menyahut. Dia terus saja ngelonyor berjalan seolah-olah tidak memperdulikan panggilan suaminya.


"Diiiik!!!" panggil Ustad Andi dengan suara lebih keras.


Istri Ustad Andi tetap saja ngelonyor pergi tanpa menghiraukan suaminya. Ustad Andi mulai resah, ia berpikir bahwa istrinya sedang kesal padanya. Ia pun mengikuti istrinya yang naik ke titian dan berjalan menuju rumah Laras.


Ustad Andi yang mulai cemas dengan perilaku aneh istrinya itu pun segera berlari dan menarik tangan istrinya untuk mencegahnya masuk ke rumah Laras.


"Diiiiik! Kamu mau ke mana?" tanya Ustad Andi.


Istri Ustad Andi diam mematung di pelataran rumah Laras. Ustad Andi menarik tangan istrinya ke arah dadanya dengan maksud istrinya supaya menoleh. Namun, tiba-tiba Ustad Andi dikejutkan dengan suara panggilan dari arah jalan.


"Ustaaaaaad? Ngapain di situ?" teriak Pak Salihun.


Ustad Andi menoleh ke arah Pak Salihun dengan tetap mempertahankan pegangannya pada tangan istrinya. Ia tidak ingin mengungkap kemarahan istrinya pada Pak Salihun.


"Ini, Pak. Saya sedang-," jawab Ustad Andi sambil menoleh lagi ke arah istrinya.


"Astagfirullah!!!" pekik Ustad Andi karena ia tidak melihat istrinya ada di sebelahnya.


"Kenapa, Ustad?" tanya Pak Salihun dan Pak Ratno sambil mendekati Ustad Andi.


Pak Salihun dan Pak Ratno sebenarnya ngeri berada di depan rumah Laras. Tapi, ia tidak tega melihat Ustad Andi kebingungan di tempat itu. Mata Pak Salihun dan Pak Ratno sibuk melihat ke seluruh sudut halaman rumah Laras dengan tatapan was-was.


"Nggak apa-apa, Pak. Saya ke sini karena saya mau mengecek meteran rumah ini. Siapa tahu saklar meterannya lupa dinyalakan. Soalnya gelap," jawab Ustad Andi berbohong.


"Oalah. Bukan Ustad. Lampunya memang mati. Tadi saya sudah lapor ke Bu Dewi. Katanya besok mau diganti lampunya," jawab Pak Salihun.


"Ooo begitu," sahut Ustad Andi.


"Ayo, kita pulang saja Ustad!" ajak Pak Salihun yang sudah tidak tahan berlama-lama di tempat itu.


"Ayo!" jawab Ustad Andi.


Mereka bertiga pun pulang ke rumah masing-masing. Ustad Andi masih kepikiran dengan apa yang ia alami barusan. Sesampai di rumahnya, ia masih curiga dengan istrinya. Itu benar-benar istrinya apa bukan?

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2