
Jatmiko dan Pak Ade bergidik ngeri begitu membayangkan tubuh mereka akan disantap oleh ular raksasa yang berkepala arwah Laras. Pak Ade berteriak denga histeris karena saking takutnya. Sementara itu Jatmiko tetap berkonsentrasi untuk merapal mantera dan meludahkannya ke atas. Tepat saat mulut ular raksasa itu berada dalam jarak yang sangat dekat dengan kepala mereka berdua, Jatmiko menyemburkan ludahnya ke arah kepala ular raksasa berwujud arwah Laras itu.
“Arrrrrgh!!!” teriak arwah Laras dengan sangat kencang karena menahan sakit akibat diserang oleh mantera Jatmiko.
Wajah ualr raksasa itu pun terbakar seketika. Tidak hanya itu Jatmiko juga meludahi badan dan ekor ular yang sedang berusaha membelit mereka berdua dan terang saja arwah Laras pun kembali berteriak karena badannya terbakar akibat ulah Jatmiko.
“Arrrrgh!!” teriak arwah Laras dengan rasa kesakitan.
Jatmiko pun melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah pada saat arwah Laras sedang mengalami kesakitan akibat serangan mantera pemuda itu. Dengan langkah yang cukup berat, Jatmiko membawa Pak Ade menyusuri pelataran rumah Jatmiko yang cukup lapang.
“Ade, kakiku sudah tak kuat lagi kalau harus menuntunmu ke dalam,” ucap Jatmiko dengan suara lemah.
“Tinggalkan aku di sini, Jat! Biar aku merangkak lagi!” jawab Pak Ade dengan perasaan iba terhadap temannya itu.
“Tidak, Ade! Arwah Laras akan menangkapmu lagi kalau aku membiarkanmu merangkak. Biar aku tahan dulu rasa sakitku ini. Kamu pegangan yang erat, ya!” ucap Jatmiko kemudian.
“Aku tidak tega kalau harus melihatmu kesakitan, Jat!” ucap Pak Ade.
“Sudahlah! Fokuslah pada dirimu sendiri! Aku akan menggunakan sisa-sisa tenagaku untuk membantumu,” jawab Jatmiko.
“Satu …. Dua … Tiga …,” seru Jatmiko sambil memusatkan tenaganya pada hitungan ketiga.
Jatmiko dengan langkah pasti membopong Pak Ade menuju pintu rumahnya sambil memanfaatkan kelemahan arwah Laras yang sedang kesakitan karena diserang oleh mantera pemuda itu. Pak Ade menoleh ke belakang ke arah ular raksasa berkepala arwah Laras yang sedang kesakitan dan menggelepar di ujung pekarangan. Pak Ade melihat bahwa ular raksasa itu sudah berangsur kembali e bentuk semula setelah terkena mantera sahabatnya beberapa waktu yang lalu. Karena khawatir dengan keadaan seperti itu, Pak Ade pun berbisik kepada Jatmiko.
__ADS_1
“Jat, ular raksasa itu sudah kembali ke bentuk semula!” bisik Pak Ade dengan perasaan takut.
“Jangan kau lihat lar raksasa itu, Ade. Nanti kekuatannya akan bertambah kalau kamu semakin takut dengannya! Kamu konsen terhadap pintu itu saja supaya kita cepat sampai di sana!” sahut Jatmiko.
“Tapi, jat! Ular itu secara perlahan sedang menuju ke sini. Uwaaaaa!” peki Ade dengan ketakutan.
Jatmiko buru-buru memutar kepala sahabatnya itu agar tidak berfokus pada sosok ular raksasa berkepala arwah Laras yang sedang ia perhatikan dan telah berhasil menjatuhkan mental Pak Ade sekaligus meningkatkan tenaga arwah Laras tersebut yang bisa berubah-ubah menjadi bentuk apapun yang ia inginkan.
“Sudah kubilang kamu jangan perhatikan ular raksasa itu!” ucap Jatmiko dengan sedikit kesal karena Pak Ade tidak mau menuruti kata-katanya.
Jatmiko melangkah sambil membopong tubuh Pak Ade menuju pintu rumahnya yang sudah tinggal beberapa jengkal lagi. Sementara itu ular raksasa berkepala arwah Laras merayap dengan pasti sambil mengumpulkan energi dari rasa takut yang diciptakan oleh kedua mangsanya saat itu.
“Mau ke mana kalian? Hi hi hi hi hi …,” teriak ular raksasa tersebut sambil merayap semakin mendekati Jatmiko yang sedang membopong Pak Ade.
Sontak rasa rasa takut yang keluar dari perasaan Pak Ade tersebut membuat energi arwah Laras yang berwujud ular itu semakin besar dan semakin gesit untuk mampu mengejar ia dan Jatmiko. Ketika sejengkal lagi mereka berdua menuju pintu rumah Jatmiko, ular raksasa itu sudah berhasil mengejar mereka berdua dan melilitkan badan dan ekornya pada dua sahabat itu sehingga menghalangi pandangan mereka berdua. Perasaan jijik dan takut membuat Jatmiko tidak mampu melanjutkan langkahnya yang sudah tinggal sejengkal lagi ke arah pintu. Terlebih, lilitan ular raksasa itu saat ini sudah berhasil menghalangi pandangannya terhadap apa yang ada di depannya. Kali ini yang dilihat oleh Jatmiko adalah sisik ular raksasa yang terasa semakin nyata saja berada di depan mereka. Saking paniknya sampai Jatmiko lupa dengan mantera yan harusnya ia baca saat itu.
“Jat, baca manteranya!” ucap Pak Ade dengan suara merintih ketakutan.
“A-a-aku lupa dengan mantera yang harus aku baca, Ade!” jawab Jatmiko dengan panik.
“Kenapa bisa begitu, Jatmiko? Bukankah tadi kamu sudah sangat hapal dengan mantera itu?” tanya Pak Ade dengan perasaan takut.
“Iya, Ade. Rasa takut kita berdua membuat arwah Laras semakin kuat bahkan ia mampu menutupi ingatan kita,” jawab Jatmiko dengan perasaan cemas.
__ADS_1
“Lantas, apa yang harus kita lakukan sekarang, Jat? Hanya kamu yang bisa membantu kita keluar dari lilitan ular raksasa ini,” ucap Pak Ade semakin panik.
“Entahlah, Ade. Aku jua bingung,” jawab Jatmiko berputus asa.
“Hi hi hi hi hi … Kalian bersiaplah sekarang untuk mati!” teriak ular raksasa berkepala arwah Laras dari atas tubuh mereka berdua.
Kali ini ualr raksasa itu ukurannya semakin membesar dan warna kulitnya semakin gelap dari sebelumnya sebagai tanda bahwa energi ular tersebut sudah cukup besar sekarang dibandingkan dengan sebelumnya.
“Jatmiko! Ayo, ingat-ingat lagi manteramu sebelum kepala ular raksasa itu menyantap tubuh kita!” teriak Pak Ade kebingungan sambil kepalanya mendongak ke atas dan merasa ngeri dengan wujud kepala ular raksasa itu yang merupakan perpaduan wujud ular dan hantu Laras.
“A-a-aku lupa, Ade. Aku sudah berusaha mengingat-ingatnya, tapi tetapsaja aku tidak sanggup,” jawab Jatmiko dengan terbata-bata dan juga mendongakkan kepalanyake atas dan melihat wujud kepala ular raksasa berbentuk arwah Laras itu.
“Hi hi hi hi hi … Inilah saatnya kematian kalian berdua. Aku akan menyantap tubuh kalian berdua dan kuremukkan tulang kalian sampai hancur. Hi hi hi hi hi …,” teriak arwah Laras dari atas langit pekarangan rumah Jatmiko.
“Tolooooooooong!!!!” teriak Pak Ade dan Jatmiko secara bersamaan karena mereka sudah tidak punya kekuatan untuk melawan ular raksasa berkepala arwah Laras tersebut.
Kepala ular raksasa itu ditarik setinggi-tingginya dan kemudian kepala ular raksasa itu pun meluncur ke bawah dengan sangat cepat mengarah kepada dua orang sahabat yang sedang berteriak ketakutan itu.
“Inilah saatnya kematian kalian berdua. Hi hi hi hi hi …,” pekik ular raksasa tersebut sebelum mulutnya menyentuh kedua tubuh manusia yang ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran ular raksasa tersebut.
“Tidaaaaaaaaaaaak!!” teriak Pak Ade dan Jatmiko berusaha meminta pertolongan di sisa-sisa tenaga mereka yang sudah banyak terkuras mengahadap ular raksasa berkepala arwah Laras itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Ayo ikuti kuis berhadiah pulsa 20 ribu untuk 3 orang pemenang. Caranya, di bulan Desember ini like dan komen setiap bab novel KAMPUNG HANTU. Yang ikutan kayaknya belum ada. Jadi kalau kamu ikut, kamulah pemenangnya!