MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 8 BENDA ANEH


__ADS_3

Saat aku melintasi ruangan dapur, aku seperti mencium wangi-wangian bunga yang tidak lazim. Aku terus melangkah melewati hambal yang dihamparkan di ruang tengah. Suara dengkuran Mas Diki terdengar dari pintu kamar depan yang sengaja kubiarkan terbuka. Di ruang tengah ini, aku tidak lagi mencium wangi-wangian seperti yang aku cium di dapur.


Aku terus melangkah ke ruang tamu dengan tidak menyalakan lampu yang ada di ruang tamu. Lampu ruang tamu memang sengaja dimatikan oleh Mas Wisnu sebelum tidur, sedangkan lampu di ruang tengah sengaja tetap dinyalakan. Biar tidak terlalu gelap katanya kalau ada yang bangun tengah malam.


Perasaanku semakin tidak enak tatkala aku merasa ada suara yang berasal dari depan rumah. Perlahan-lahan aku berjalan sambil memegangi dinding yang berbatasan dengan kamar depan. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk bisa sampai di pintu. Di sebelah pintu itu ada jendela lebar yang sengaja ditutup dengan kelambu. Suara kretek-kretek itu masih terdengar di telingaku. Dengan berhati-hati aku membuka sedikit tirai yang menutupi jendela. Dengan penuh rasa penasaran, aku pun mengintip ke arah luar jendela dan aku benar-benar terkejut saat itu setelah melihat keadaan di depan rumah Bude Yati.


"Astagfirullah!!!"


Ternyata bunyi kretek-kretek yang terdengar di telingaku berasal dari sebuah benda yang sedang terbakar dan tergeletak di atas tanah. Aku tidak dapat melihat dengan jelas benda apa yang sedang terbakar itu. Yang jelas benda itu mengeluarkan asap dan api membakar keseluruhan benda itu. Apinya memang semakin lama semakin kecil tapi asapnya sangat tebal sekali . Sepertinya bunyi itu juga berasal dari pembakaran benda tersebut.


"Siapa yang membakar benda itu dan meletakkannya di depan rumah Bude Yati?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


"Benda apa itu? Apa sebaiknya aku keluar untuk menyingkirkannya? Bagaimana kalau benda itu hanyalah umpan yang digunakan oleh perampok untuk membuat empunya rumah terpancing untuk keluar sehingga memudahkan mereka untuk beroperasi?" Aku berpikir lebih jauh.


Wangi bunga-bunga akhirnya masuk ke dalam ruang tamu melalui celah-celah. Aku bingung dengan apa yang kulihat saat itu. Belum terjawab kebingunganku, api yang kulihat pun padam. Asapnya pun juga berhenti. Menyisakan suasana malam yang semakin sunyi karena orang-orang di sekitar tempat itu sudah terlelap semuanya.


"Biar, aku singkirkan esok hari saja sisa-sisa sampah benda itu," ucapku di dalam hati.


Karena rasa kantuk yang kembali menyerang, aku pun lebih memilih untuk melanjutkan tidurku kembali dengan membawa rasa penasaran tentang benda asing yang tiba-tiba muncul di depan rumah Bude Yati. Aku kembali melangkah menuju ke arah kamarku dan aku oun berbaring di sebelah Mas Diki.


*


"Dik, bangun! sudah waktunya salat Subuh," panggil suamiku sambil menggoyang-goyangkan badanku


"Mas, semalam saya melihat ada benda aneh jatuh di depan rumah," laporku pada Mas Diki.


"Oh ya? Benda apa? Kenapa kamu tidak membangunkan saya?" ujar Mas Diki.


"Semula saya ke kamar mandi karena saya sakit perut. Terus saya mendengar suara ledakan dari arah depan. Saya samperi ke ruang tamu terus saya mengintip melalui jendela," tuturku.


"Apa yang kamu kihat di jendela, Dik?" tanya Mas Diki tidak sabar.

__ADS_1


"Ada semacam buntelan terbakar tepat di tengah-tengah latar rumah ini. Tapi nggak lama, Mas. Sebentar saja buntelan itu sudah terbakar habis dan mengepul menjadi asap," jawabku terus terang.


"Baiklah, kita periksa bareng-bareng habis ini. Sekarang kita siap-siap salat Subuh saja," tandas Mas Diki.


"Baiklah, Mas," jawabku.


"Kamu cantik banget pagi ini, Dik. Bikin Mas semangat untuk-" ucap Mas Diki.


Mas Diki tidak menyelesaikan kata-katanya karena keburu kucubit pinggangnya.


"Aduh! Sakit, Dik!" serunya.


"Suruh siapa pagi-pagi sudah mikir jorok. Nggak tahu semalam saya nggak bisa tidur habis ngeliat begituan?" protesku.


"Dik, istri salihah itu tidak boleh menolak-" ucap Mas Diki.


Muach!!!


"Kita sedang di rumah Mbak Ning. Nggak enak ntar kalau begituan di kamar ini," bisikku ke telinga Mas Diki.


"Emang kenapa sih, Dik?" protes Mas Diki.


"Ih, Mas Diki ini. Saya risih lah kalau tidak di rumah sendiri. Gini saja wes saya janji nanti malam saya kasih Mas Diki dua kali lipat," rengekku pada Mas Diki.


"Beneran, ya? Dik Sinta nggak bohong?" tanya Mas Diki nggak percaya.


"Beneran, Mas. Sudah, ya, ayo buruan kita salat!" ujarku keburu-buru.


"Oke, deh. Awas kalau Dik Sinta bohong, ntar saya-" ucap Mas Diki dengan ekspresi wajah mengancamku.


Aku pun mengangguk agar ia bisa tenang dan tidak menagihku lagi. Emang, kalau urusan itu Mas Diki paling demen. Kalau tidak aku yang pandai-pandai mengalihkan pikirannya, hm ... entahlah, apa yang akan terjadi dengan diriku.

__ADS_1


*


"Dik Sin. Tadi malam siapa yang bangun tengah malam?" tanya Mbak Ning sambil menyapu lantai.


"Saya, Mbak. Mendadak sakit perut tengah malam," jawabku sambil memasang ekspresi wajah menahan sakit perut.


"Loh, masuk angin, tah? Kalau masuk angin, di atas nakas di ruang tamu ada minyak kayu putih" tanya Mbak Ning cemas


"Entahlah, Mbak. Kayaknya efek minum es teh yang saya beli dari warung di depan itu," jawabku.


"Oalah ... warung itu kayaknya pakai air mentah untuk membuat es batunya, Dik. Lebih baik kalau mau beli ninuman, di warung gang sebelah saja. Di sana lebih higienis. Cuma harganya agak mahalan sedikit, sih," ujar Mbak Ning.


"Iya, deh. Biar habis ini Nur dan Mas Diki beli di sana sebelum berangkat," jawabku.


"Ya sudah, Dik Sin buruan olesin perutnya pakai minyak kayu putih saja biar tidak makin parah sakitnya," ujar Mbak Ning.


"Iya, Mbak. Terima kasih," jawabku sambil berjalan ke arah ruang tamu untuk mengambil benda yang dimaksud untuk meredakan sakit perutku. Setelahnya, aku pun kembali ke ruang tengah untuk membantu Mbak Ning membersihkan ruangan itu.


"Oh ya, Mbak. Ada sesuatu yang mau saya sampaikan ke Mbak Ning," ucapku dengan nada serius.


"Ada apa, Dik Ning? Kok sepertinya serius sekali?" tanya Mbak Ning dengan wajah penasaran.


"Begini, Mbak. Tadi malam itu pas saya di kamar mandi tiba-tiba mendengar suara ledakan yang arahnya dari depan rumah. Saya pun buru-buru untuk mengintip ke depan melalui jendela. Tahu, nggak, Mbak. Saya melihat ada buntelan terbakar dan mengeluarkan asap di tengah-tengah latar rumah ini. Namun, pas habis salat Subuh saya dan Mas Diki memeriksanya ke depan, benda itu sudah tidak ada. Bahkan abu bekas pembakarannya pun tidak ada sama sekali. Padahal saya yakin semalam saya melihatnya sendiri," ujarku yang didengarkan dengan saksama oleh Mbak Ning.


"Ya Allah!!!" seru Mbak Ning dengan tangan gemetar.


BERSAMBUNG


Apa sebenarnya yang terjadi?


Rajinlah memberikan like dan menuliskan komentar agar aku semakin semangat untuk memberikan crazy up

__ADS_1


__ADS_2