
Pagi itu Pak Salihun pergi ke rumah Jamila untuk meminta
maaf atas beberapa kesalahannya yang telah lalu. Semalaman ia tidak bisa tidur
nyenyak karena memikirkan kesalahannya tersebut. Akhirnya, ia pun sampai di
depan rumah Jamila.
“Assalamualaikum …,” teriak Pak Salihun dari luar rumah
Jamila.
“Waalaikumsalam,” jawab Jamila dari dalam rumah.
Jamila pun membuka pintu untuk Pak Salihun.
“Eh, Pak Salihun. Silakan duduk, Pak!” ujar Jamila sambil
menggunakan isyarat tangan juga.
“Terima kasih, Mil,” jawab Pak Salihun dengan sopan.
“Aku buatkan minuman dulu ya, Pak?” tawar Jamila pada
tamunya itu.
“Nggak usah, Mil. Saya nggak lama-lama, kok!” jawab Pak
Salihun sambil mencegah tuan rumah untuk masuk ke dalam.
“Sebentar saja kok, Pak Kan nggak enak ngobrol nggak ada
minumannya?” protes Jamila.
“Sudahlah, kamu duduk saja. Saya hanya ingin menyampaikan
beberapa hal kepada kamu,” jawab Pak Salihun lagi
“Ya sudah, kalau memang Pak Salihun menolak. Kira-Kira ada
perlu apa Pak Salihun pagi-pagi datang ke rumah?” tana Jamila membuka pembicaraan.
Pak Salihun menarik napas panjang kemudian ia pun memulai
pembicaraannya.
“Begini, Mil. Kedatangan saya ke rumah kamu ingin meminta
maaf aats kesalahan-kesalahan yang pernah saya buat terhadap kamu,” ujar Pak
Salihun memulai pembicaraan.
“Hm … kesalahan yang mana, ya?” Jamila pura-pura lupa.
“Banyak, Mil. Kesalahan saya yang pertama yaitu pas saya
bentak-bentak kamu malam itu,” tutur Pak Salihun dengan nada sopan.
“Yang mana, ya?” tanya Jamila masih pura-pura lupa.
“Yang waktu saya ketem dengan hantu yang menyerupai Minul. Masih
ingat, kan?” tanya Pak Salihun.
“Oh, yang itu? Iya … Iya … Nggak masalah, kok!” jawab
Jamila.
“Sama kesalahan saya yang satunya lagi,” ucap Pak Salihun
lagi dengan sedikit keraguan.
“Loh, kesalahan yang mana lagi?” tanya Jamila benar-benar
tidak ingat.
“Yang waktu kamu mengembalikan kencah,” jawab Pak Salihun.
“Mengembalikan kencah? Yang mana, ya? Setahuku aku tidak
__ADS_1
pernah mengembalikan kencah kepada Pak Salihun,” protes Jamila.
“Bukan mengembalikan kepada saya, Mil. Tapi, kepad Pak Ratno”
jawab Pak Salihun berusaha menerangkan kepada Jamila.
“Kok aku malah tambah bingung, ya?” sahut Jamila.
“Begini, Mil. Waktu itu kamu kan bilang ke kami berdua kalau
kamu mau mengembalikan kencah ke rumah Ratno. Nah waktu itu jujur saya itu
ingin sekali kamu mengembalikan sama saya. Makanya, diam-diam saya menyamar
menjadi Ratno. Jadi pas waktu itu saya kan lihat kamu sedang berjalan di bawah
pohon bambu dengan membawa kencah, saya buru-buru masuk ke dalam rumah Ratno.
Kemudia lampu sengaja saya matikan untuk mengecoh kamu. Dan benar saja kamu
mengira saya adalah Ratno dan pada saat kamu mengembalikan kencah itu, tanpa
sengaja saya menyentuh tangan kamu. Saya mohon maaf ya, Mil. Saya mengakui
waktu itu saya terlalu kekanak-kanakan. Seharusnya saya tidak boleh bersikap
seperti itu kepada kamu. Karena hal itu dapat merusak hubunganmu dengan Ratno.
Sekali lagi saya mohon maaf, Mil,” ucap Pak Salihun pada Jamila dengan penuh
rasa penyesalan.
“Tapi, Pak … Waktu itu saya kan mau mengembalikan kencah
kepada Pak Ratno, tiba-tiba sewaktu aku lewat di bawah pohon bambu aku dicegat
oleh hantu dan karena kepanikanku kencah yang mau aku kembalikan kepada Pak Ratno
tanpa sengaja terjatuh dan hilang karena aku panik dan berlari menuju musholla.
Nah, di musholla itulah aku tanpa sengaja bertemu dengan Pak Ratno. Kemudia aku
tidak mempermasalahkannya dan memafkan keteledoranku. Jadi, bukan aku yang
datang ke rumah Pak Ratno untuk mengembalikan kencah itu,” jawab Jamila dengan
jujur.
“Loh, terus siapa yang datang mengembalikan kencah itu
kepadaku, Mil? Lah wong jelas-jelas kencahnya ada di saya sampai sekarang,”
jawab Pak Salihun.
“Aku tidak tahu, Pak Salihun. Tapi yang jelas bukan aku. Pak
Salihun salah orang kalau mau meminta maaf,” jawab Jamila.
“Ya Tuhan … Siapa ya orang itu?” tanya Pak Salihun kebingungan.
“Hm … aku juga tidak tahu, Pak Salihun,” jawab Jamila.
“Ya sudah, kalau begitu saya ijin plang dulu, Mil. Saya
minta maaf kalau kedatangan saya sudah mengganggu aktifitasmu,” ujar Pak
Salihun dengan sangat sopan.
“Nggan kok, Pak. Aku pas nggak ada kesibukan,” jawab Jamila
dengan halus.
“Ya sudah saya pamit dulu, Assalamualaikum …,” ucap Pak
Salihun.
“Waalaikumsalam …,” jawab Jamila.
Sepanjang jalan pulang Pak Salihun memikirkan tentang
__ADS_1
kejadian malam itu. Ia heran kenapa Jamila tidak mengakui pertemuan malam itu.
“Apa perempuan yang malam itu saya temui memang bukan
Jamila, ya? Pantas saja tanganya tidak selangsing Jamila. Sialan! Terus, siapa
perempuan yang saya temui itu?” tanya Pak Salihun pada dirinya sendiri.
Sementara itu Jamila juga memikirkan tentang permintaan maaf
Pak Salihun.
“Kenapa Pak Salihun begitu yakin kalau aku datang untuk
mengembalikan kencah itu kepada Pak Ratno? Bukankah kencah itu memang tidak sengaja
terjatuh malam itu waktu aku bertemu dengan hantu? Kalau memang Pak Salihun
mengaku memegang kencah itu, siapa yang mengembalikan kencah itu kepadanya?
Kenapa bisa kencah itu ada pada orang itu? Atau jangan-jangan hantu itu …. Ah,
kenapa alu harus berpikir sejauh itu, ya?” ucap Jamila pada dirinya sendiri.
Sementara itu Minul pagi itu juga gelisah karena memikirkan
banyak hal.
“Aku sudah banyak bersalah pada Jamila. Selama ini aku sudah
sering menyakiti hati temanku itu. Sebaiknya aku segera menemui Jamila dan
meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat padanya. Terutama
dalam hal percintaan. Tidak seharusnya aku egois seperti itu. Toh nyatanya
dengan keegoisanku aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan juga
ternyata yan aku dapatkan justeru tidak baik untukku. Iya. Pagi ini aku akan
pergi menemui Jamila untuk meminta maaf padanya,” ucap Minul pada dirinya
sendiri.
Pagi itu pun Minul mempersiapkan diri untuk pergi ke rumah Jamila.
Sesampai di sana ia pun langsung mengetuk pintu rumah Jamila.
“Assalamualaikum …,” teriak Minul.
“Waalaikumsalam …,” sahut Jamila dari dalam rumah.
Jamila pun keluar dan membuka pintu rumahnya.
“Eh, kamu, Nul? Kirain siapa? Barusan soalnya Pak Salihun
juga datang ke sini,” sapa Jamila.
“Pak Salihun? Ngapain dia ke sini?” tanya Minul dengan
sedikit perasaan cemburu.
“Nggak ada sih, Nul. Beliau ke sini hanya untuk meluruskan
beberapa permasalahan dan meminta maaf,” jawab Jamila.
“Itu saja?” tanya Minul lagi.
“Iya, itu saja. Emangnya kenapa?” tanya Jamila.
“Nggak apa-apa, sih. Oh ya? Aku datang ke sini ingin ngomong
penting sama kamu, Mil,” ujar Minul memulai pembicaraan.
“Duh, serius banget. Mau ngomong apa, sih?” tanya Jamila
dengan penasaran.
Minul pun menghela napas panjang.
__ADS_1
BERSAMBUNG