MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 33


__ADS_3

Aku terkejut karena tidak ada siapa-siapa di atas kasur. Aku berlari memasuki kamar Nur dan berharap Nur ada di dalamnya. Namun, anak semata wayangku tersebut memang tidak ada di sana.


"M-m-maaas ... Nur, Mas!" rintihku.


"Tenang, Dik. Mungkin anak kita sedang di kamar mandi," ucap suamiku berusaha menenangkanku.


"Tidak, Mas. Saya baru saja dari kamar mandi. Nur tidak ada di sana, Mas," Aku menjawab dengan perasaan khawatir.


"Kita cari dulu di sekitar sini. Siapa tahu anak itu sedang melakukan sesuatu di sekitar sini tanpa sepengetahuan kita berdua," jawab suamiku sambil memeriksa ke seluruh penjuru rumah. Aku juga ikut mencari sampai ke kolong-kolong tempat tidur, tapi batang hidung Nur tidak kunjung terlihat. Kami berdua sudah tidak berpikir tentang adanya penjahat yang mungkin telah masuk ke rumah kami. Yang ada di dalam pikiran kami saat itu adalah kekhawatiran terhadap anak kami satu-satunya itu.


"Dik, ayo kita cari di luar rumah! Siapa tahu Nur sedang mengigau dan tidur sambil berjalan," ajak Mas Diki.


"Iya, Mas," jawabku


Kami berdua pun mengambil senter. Aku dan suamiku sama-sama memegang senter dan berjalan ke luar rumah untuk memeriksa keadaan di sekitar rumah kami dengan harapan kami dapat menemukan Nur. Tak lupa kami membawa senjata untuk berjaga-jaga. Mas Diki membawa pentungan andalannya sedangkan aku membawa pisau kecil warisan bapakku. Seluruh bagian-bagiam di sekitar rumah kami sorot dengan senter untuk mencari anak kami dan juga menelusuri jejak-jejak yang mungkin bisa dijadikan petunjuk kemana perginya remaja tanggung itu.


Kami bingung karena tidak menemukan tanda-tanda kemana perginya anak kami tersebut. Dalam keadaan panik seperti itu, aku tiba-tiba ingat dengan tetangga baruku itu. Siapa tahu Nur sedang ada di sana? Bukankah selama ini Nur cukup dekat dengan perempuan itu.


"Ya. Aku harus menemui Clara!" ucapku di dalam hati.


Aku pun melangkahkan kaki meninggalkan Mas Diki menuju ke rumah Clara. Akan kuketuk pintu rumah perempuan itu keras-keras supaya ia terbangun.


"Mau kemana, Dik?" tanya suamiku dari arah belakang sambil mengikutiku.


"Saya mau bertanya kepada Clara, Mas." jawabku pelan.


"Malam-Malam begini?" tanya suamiku.


"Iya, Mas. Masa mau nunggu besok? Saya tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kota, Mas!" jawabku lagi dengan terisak.


"I-iya, Dik!" Akhirnya Mas Diki mengerti.

__ADS_1


Jujur, aku ingin bertemu Clara tidak murni karena aku ingin bertanya kepada perempuan itu, tapi aku memiliki rasa kecurigaan kembali terhadap perempuan tersebut.


Aku dan Mas Diki sudah berdiri di depan pintu rumah Clara. Aku mengetuk pintu keras-keras sebanyak tiga kali kemudian berusaha memutar kenop pintunya untuk mencari keberuntungan. Siapa tahu pintu rumah itu tidak terkunci. Dan ...


"Loh, kok tidak dikunci?" Aku memekik heran dan beradu tatap dengan Mas Diki karena merasa aneh kenapa pintu rumah itu tidak dikunci.


"Claraaaaaa!!!! Assalamualaikuuuum!!!" teriak kami berdua sambil masuk ke dalam rumah tersebut. Suasana di dalam rumah gelap karena lampunya dimatikan. Aku dan Mas Diki terus masuk ke dalam dengan melangkah perlahan sambil memanggil-manggil nama perempuan itu. Anehnya, tidak ada suara sahutan dari arah dalam.


"Apakah Clara dan keluarganya tidak mendengarkan teriakan kami barusan? Padahal kami sudah berteriak dengan cukup keras. Jangan-Jangan ...." Pikiranku berkecamuk di otakku.


Kami pun akhirnya sampai di ruang tengah. Aku berusaha meraba-raba di dinding untuk mencari saklar. Akhirnya aku berhasil menemukannya setelah mencari selama beberapa detik. Saklar pun ku pencet sehingga lampu di ruang tengah pun menyala meskipun cahayanya cenderung temaram. Aku dan Mas Diki mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan untuk mencari keberadaan Clara. Tidak ada siapa-sapa di ruang tengah.


"Claraaaaaaaa!!!" panggilku kembali sambil berjalan menuju kamar Riki.


"Mau kemana, Dik?" tanya suamiku.


"Ke kamar anaknya Clara, Mas," jawabku pelan.


"Oke, kita periksa keadaan di sana," jawab suamiku sambil membuntutiku.


Akhirnya kami berdua pun sampai di kamar Riki. Aneh, tidak ada siapa-siapa di kamar tersebut dan anehnya lagi kami tidak melihat benda-benda yang menunjukkan bahwa kamar tersebut dihuni oleh anak kecil, seperti mainan atau kain bermotif kartun seperti layaknya kamar anak kecil oada umumnya. Yang ada hanya tempat tidur berlapis kain usang dan terlihat berdebu seperti tidak pernah dibersihkan.


"Kasihan sekali Riki haru tidur di kamar yang kurang terurus. Apakah Clara terlalu sibuk untuk membersihkannya? Ah ... sudahlah ... Mungkin kotoran itu berasal dari atap rumah ini yang sudah cukup tua," pikirku di dalam hati.


"Nggak ada, Mas," ucapku oada suamiku.


"Kalau kamar Clara di mana, Dik?" tanya suamiku.


"Hm ... Kalau aku tidak salah tebak. Kamar Clara yang itu," jawabku sambil menunjuk sebuah pintu yang tertutup yang letaknya di sebelah kamar nenek tua, ibu mertuanya Clara.


"Ayo, kita periksa kamar Clara!" bisik suamiku dengan suara pelan.

__ADS_1


"Tunggu, Mas. Kita periksa dapur dan kamar mandi dulu!" jawabku.


Kemudian aku pun berjalan menuju dapur dan kamar mandi. Sayangnya, di sana kami juga tidak menemukan apa-apa. Setelahnya, kami pun bergegas untuk memeriksa kamarnya Clara. Kami berdua berjalan secara perlahan-lahan menuju kamar itu. Setelah kami berdua sampai di depan pintu, kami mendorong pintunya ke dalam.


KRIEEEET


"Hah ... Kamarnya kosong!" pekik suamiku yang buru-buru masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku memperhatikan gerak-gerik suamiku di dalam ruangan itu dari arah pintu. Tampak ia memeriksa keseluruhan penjuru ruangan itu, kolong tempat tidur tak luput dari perhatiannya.


"Sepertinya ada yang tidak beres, Dik" Mas Diki berkata sambil memeriksa bagian-bagian yang lain di ruangan itu.


"Iya, Mas. Aneh sekali rasanya. Masa perginya Clara berbarengan dengan menghilangnya anak kita, Mas," jawabku.


"Nah, itu dia, Dik. Sepertinya kita harus bergerak cepat untuk mencari keberadaan Nur," ucap suamiku lagi.


"Iya, Mas," jawabku pelan sambil mengusap air mata yang terus mengalir karena memikirkan keadaan Nur.


Saat aku menunggu Mas Diki keluar dari kamar tersebut, tiba-tiba aku mendengar bunyi benda bergerak dari arah kamar nenek tua itu. Pandanganku tertuju pada tirai yang menutupi pintu kamar nenek tua itu. Makin lama suara gerakan itu makin jelas. Jantungku berdegup dengan kencang manakala benda bergerak itu sudah terasa begitu sangat dekat dengan tempat berdiriku. Aku menarik napas dalam-dalam menunggu sesuatu tersebut muncul dari balik tirai.


SREEEEET SREEEEEET SREEEEET


Bersambung


Jangan lupa ikutan program GIVE AWAY novel KAMPUNG HANTU. Dapatkan beberapa hadiah menarik untuk pemenang yang beruntung.


Caranya : upload gambar berikut di Instagram atau Facebook. Tambahkan caption sesuai keinginan Anda. Yang upload di instagram jangan lupa tag akun junan_olshop. Sedangkan untuk yang upload di facebook, silakan kirim bukti upload ke nomer wa 085236533388.


Aku tunggu partisipasi ANDA


Inilah gambar yang harus Anda upload


__ADS_1


Bye bye ...


Salam seram bahagia


__ADS_2