MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 48 : PAK JEFRI


__ADS_3

Pak Jefri saat itu sedang menemani Revan bersama dengan Bu Jefri.


“Dik, bagaimana keadaan Pak Ade sekarang? Apa kamu tidak mengirim pesan kepada Bu Nisa untuk menanyakan kabarnya?" tanya Pak jefri kepada istrinya.


“Sudah, Mas. Tadi siang sih Bu Nisa bilang kalau Pak Ade mau dipindah ke ruang perawatan,” jawab Bu Jefri.


“Apa Bu Nisa tidak menyuruh kita untuk membawa Revan ke rumah sakit?” tanya Pak Jefri lagi.


“Kata Bu Nisa jangan dulu, Mas. Soalnya kamarnya masih belum ditentukan. Bu Nisa juga bilang katanya Pa Ade masih mau dirontgen dulu untuk memastikan bahwa organ di dalamya tidak kenapa-kenapa,” jawab Bu Jefri.


“Oh begitu …,” jawab Pak Ade.


“Tante, bagaimana kondisi ayah sekarang?” tanya Revan tiba-tiba.


“Seperti yang barusan saya bilang sama ommu. Tadi siang ibumu bilang kalau kondisi ayahmu hanya mengalami luka luar saja dan sudah dijahit semua luka-luka ayahmu. Tapi, ayahmu harus dirontgen dulu untuk memastikan bahwa tidak ada organ dalam ayahmu yang rusak,” jawab Bu Jefri dengan nada lembut agar tidak menimbukan kecemasan pada anak Pak Ade itu.


“Kapan aku boleh ke rumah sakit, Tante? Aku ingin melihat kondisi ayah,” ujar Revan.


“Tante tanya dulu ke ibumu, ya?” kata Bu Jefri.


“Iya, Te,” jawab Revan.


“Buruan kamu kirim pesan kepada Bu Nisa, Dik. Agar kita cepat mengetahu kondisi terkini perkembangan kesehatan Pak Ade,” jawab Pak Jefri.


“Baik, Mas. Ngomong-Ngomong Mas kok nggak ikut tahlilan di rumah Pak Hartono?” tanya Bu Jefri kepada suaminya.


“Mas nggak tega ninggalin Revan berdua sama kamu, Dik. Kamu tahu sendiri kan gimana paniknya anak ini sewaktu melihat ayahnya dibawa ambulan tadi pagi?” ujar Pak Jefri.


“Iya sudah. Tapi, besok kamu tahlilan ya, Mas? Nggak enak sama Bu Reni,” jawab Bu Jefri.


“Iya, Dik. Semoga keadaan Pak Ade segera membaik. Jadi, kita semua menjadi lebih tenang,” jawab Pak Jefri.


“Oh ya? Pak Dimas dan Bu Dimas apa sudah datang dari rumah sakit, ya?” tanya Bu Jefri.

__ADS_1


“Kayaknya belum, Dik. Sejak tai aku tidak mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. Kalau pun mereka datang pasti mereka langsung ke sini, Dik, untuk mengabari kondisi Pak Ade,” jawab Pak Jefri.


“Tapi, kayaknya rumahnya sudah hidup lampunya, Mas?” ujar Bu Jefri.


“Niko kan tidak ikut ke rumah sakit, Dik!” jawab Pak Jefri.


“Iya, sih. Aku baru ingat,” jawab Bu Jefri.


“Oh ya, apa kamu sudah mengirim pesan kepada Bu Nisa, Dik?” tanya Pak Jefri.


“Eh, belum, Mas. Aku ketik sekarang, ya?” jawab Bu Jefri.


“Buruan ngetiknya. Kasihan Revan sudah tak sabar ingin mengetahui kabar dan bertemu dengan ayahnya,” jawab Pak Jefri.


“Iya, Mas!’ sahut Bu Jefri.


Saat Bu Jefri akan mengetik pesan kepada Bu Nisa, tiba-tiba pintu depan diketuk orang.


“Bu Jef!!!” panggil seseorang dari balik pintu.


Bu Jefri buru-buru membuka pintu depan dan muncullah Bu Jefri dari balik pintu.


“Mbaaaak,akhirnya sampean datang. Hampir saja aku mengirim pesan kepada Bu Nisa untuk menanyakan kabar Pak Ade. Kasihan si Revan nanya terus sejak tadi,” sapa Bu Jefri setelah menyuruh Bu Dimas duduk di kursi sofa.


“Iya. Mbak. Aku baru datang sama suami. Tahu, nggak? Kami jalan kaki dari depan sampai rumah,” ujar Bu Dimas dengan nada serius.


“Ya Allah … kasihan sekali sampean, Mbak. Kok nggak ngabari suamiku?” tegur Bu Jefri.


“Emangnya Pak Jefri sudah mahir menyetir di jalan berbatu? Ntar malah nyungsep lagi kayak dulu waktu belajar menyetir sama Mas Dimas. Untung ada Pak Eko sayur yang bantuin. Iya kan Pak Jefri?” jawab Bu Dimas dengan nada dikeraskan agar Pak Jefri dan Revan yang sedang berjalan ke ruang tamu mendengarnya.


“Iya, Bu Dimas. Saya belum berani menyetir di jalan dusun ini. Kalau di jalan raya sih aku oke-oke saja,” jawab Pak Jefri.


“Eh Revan! Gimana kabarnya? Sini, Nak. Duduk di sebelah bude!” sapa Bu Dimas pada anaknya Bu Nisa dan Pak Ade itu.

__ADS_1


Sebenarnya suami Bu Dimas hanya selisih satu tahun di atas Pak Ade. Tapi, Pak Dimas lebih dulu menikah daripada Pak Ade. Sehingga anak Pak Dimas dan Bu Dimas lima tahun lebih tua daripada Revan. Niko sudah bisa dibilang remaja tanggung, sedangkan Revan masih anak-anak.


“Alhamdulillah, sehat Bude. Revan ingin ketemu sama ayah, Bude!” sahut Revan dengan mata mulai berlinang air mata.


“Sini, Nak! Revan kangen sama ayah, ya?” ujar Bu Dimas sambil memeluk erat tubuh Revan.


Revan tidak menyahut. Tangisnya semakin pecah. Bu Dimas membiarkan Revan menangis untuk melampiaskan emosinya. Ia tidak buru-buru menasehati anak itu dulu. Ia pernah punya teman yang mengatakan padanya apabila ada anak yang menangis, jangan langsung dinasehati. Biarkan anak itu menumpahkan perasaan hatinya dulu. Ketika sudah selesai menumpahkan perasaannya, barulah anak itu siap untuk dinasehati. Dan benar saja setelah menangis sesegukan di pelukan Bu Dimas. Suasana hati anak itu mulai mereda.


“Revan sudah selesai menangisnya?” tanya Bu Dimas untuk memastikan.


“Sudah, Bude,” sahut Revan.


“Sekarang Bude mau cerita kondisi ayah, ya? Ayahnya Revan itu kondisinya sudah stabil. Lukanya semua sudah diobati oleh dokter dengan pelayanan terbaik. Setelah dirontgen ternyata tidak ada luka yang serius. Tapi, ayah Revan untuk sementara dirawat di rumah sakit dulu supaya bisa beristirahat dengan cukup dan juga supaya luka-luka ditubuh ayah cepat sembuh karena di rumah sakit itu alat and obatnya lengkap. Revan senang nggak mendengarnya? Jawab Bu Jefri panjang lebar.


“Wah, beneran nih, Bude? Revan senang sekali medengarmya,” jawab Revan dengan gembira.


“Masa bude berbohong sama Revan? Dan ada satu lagi kabar baik yang harus Revan tahu,” lanjut Bu Dimas.


“Apa, Bude?” tanya Revan penasaran.


“Revan sudah boleh menjenguk ayah di rumah sakit. Tadi, ibunya Revan sudah berpesan kepada bude. Revan disuruh minta anter sama Om Jefri dan Tante,” jawab Bu Dimas dengan ekspresif.


“Horeeeeee!! Makasih infonya, Bude. Ayo, Om Dimas! Tante! Kita buru-buru berangkat ke rumah sakit!” Revan bersorak gembira setelah mendengar kabar baik itu. Ia semakin tak sabar untuk menjenguk ayahnya.


“Kita berangkat sekarang, Dik?” tanya Pak Jefri.


“Ao, Mas. Kasihan Revan sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya,” jawab Bu Dimas.


“Ya sudah, buruan kalian berangkat. Mumpung masih tidak terlalu malam,” suruh Bu Dimas.


“Baiklah, ayo kita berangkat ke rumah sakit, tapi nggak naik mobil soalna Om Jefri masih belum lancar menyetirnya. Kita naik sepeda motor, ya?” ajak Pa Jefri.


“Nggak masalah, Om. Yang penting aku bisa ketemu ayah,” jawab Revan dengan sangat antusias.

__ADS_1


Setelah bersiap-siap sebentar dengan diperhatikan oleh Bu Dimas, mereka bertiga pun berangkat menuju ke rumah sakit dengan mengendarai motor. Bu Dimas menatap kepergian tetangganya itu dengan perasaan gamang. Entah kenapa ia harus segamang itu sekarang. Bu Dimas tiba-tiba mencium aroma bunga kenanga ketika ia berjalan menuju rumahnya. Rumahnya dan Rumah Bu Jefri hanya berjarak lima puluh meter. Semakin dekat dengan rumahnya, bau bunga kenanga itu semakin menyengat. Perasaan Bu Dimas semakin tidak karuan saat itu. Terlebih, beberapa hari ini ada isu-isu tentang kemunculan hantu Laras di dusun Delima. Meskipun Bu Dimas sendiri menganggap hal itu hanya efek dari ketakutan orang-orang saja. Menurut Bu Dimas, hantu itu diciptakan oleh rasa ketakutan orang itu sendiri. Kalau ia berani melawan rasa ketakutannya sendiri, maka hantu itu tidak akan pernah hadir. Namun, saat ini Bu Dimas tiba-tiba merasakan hawa keanehan di sekitar rumahnya. Bahkan bulu kuduk perempuan itu juga berdiri di luar kendali. Terlebih, saat Bu Dimas sampai di depan rumahnya. Ia melihat ada keanehan di sana.


BERSAMBUNG


__ADS_2