
Sampai larut malam Jamila tak kunjung bisa tertidur. Ia teringat dengan apa yang sudah dilakukan kepada Pak Ratno beberapa jam sebelumnya. Pada waktu itu perempuan cantik itu menghindar dari laki-laki yang sebenarnya selalu ada di dalam lamunannya itu. Karena ia tahu ada yang cemburu kalau ia terlalu dekat dengan Pak Ratno. Tapi, akibat ulahnya tersebut justeru memunculkan perasaan bersalah pada perempuan itu sendiri.
“Mil, tunggu!” teriak Pak Ratno saat Jamila sedang berjalan untuk pulang.
Jamila mempercepat jalannya aga tidak terkejar oleh Pak Ratno, tapi pria tua itu malah berlari mengejarnya. Karena tidak tega melihat Pak Ratno ngos-ngosan, Jamilapun akhirnya memperlambat jalannya dan tersusullah ia oleh teman Pak Salihun itu.
“Kamu mau ke mana, Mil? Kok lewat jalan ini?” tegur Pak Ratno sambil menghela napasnya.
“Aku mau pulang, Pak. Aku sengaja lewat jalan ini karena aku masih trauma lewat jalan yang kemarin. Taku ketemu hantu itu lagi,” jawab Jamila.
“Justeru kalau lewat jalan ini kamu akan menempuh waktu yang lebih lama. Nggak ada orang yang lewat jalan ini loh! Ntar kalau ada yang mencegatmu di jalan, siapa yang mau nolongin kamu?” tegur Pak Ratno.
“Yah, setidaknya aku merasa lebih aman kalau lewat jalan ini,” jawab Jamila.
__ADS_1
“Gimana kalau aku temani kamu sampai ke rumah?” Pak Ratno menawarkan bantuannya.
“Terima kasih, Pak. Tapi, aku bisa pulang sendiri. Nggak enak juga dilihat orang kalau kita berduaan. Tahu sendiri, kan, orang di sini senang mepergunjing tetangganya?” protes Jamila. Ia tiba-tiba teringat dengan omongan Minul waktu di depan rumah Pak Dimas yang mengatakan kepadanya untuk jangan kegatelan karena ia mengobrol dengan Pak Ratno.
“Kamu kenapa, Mil? Tadi, kamu nggak seperti ini? Kok, sekarang tiba-tiba menutup diri begini?” protes Pak Ratno.
“Nggak apa-apa, Pak. Aku baru sadar saja kalau kita ini emang harusnya bisa menjaga sikap. Apalagi malam-malam begini,” jawab Jamila dengan menekan perasaan tidak tega di dalam hatinya.
Jamila tidak menyahut, ia terus saja berjalan melewati jalanan yang rutenya agak panjang itu. Sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa Pak Ratno masih di sana. Karena sebenarnya ia masih merasa takut berjalan sendirian di malam hari. Terutama setelah melihat kondisi jenazah Pak Dimas yang terlihat menyeramkan. Pak Ratno pun begitu. Sebenarnya pria itu bukanlah seorang pemberani. Namun, entah mengapa jika bersama Jamila hasrat melindunginya muncul dan ia pun memberanikan diri untuk berjalan hanya berdua saja menyusuri jalanan dusun Delima.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Jamila pun sampai di rumahnya. Ia buru-buru masuk ke dalam kamarnya dan ia menunjukkan seolah-olah tidak mempedulikan kehadiran Pak Ratno di sana. Padahal, ketika ia sampai di kamarnya, ia masih mengintip Pak Ratno melalui kaca jendelanya. Ia kasihan kepada Pak Ratno yang ternyata perhatian kepadanya.
“Maafkan aku, Pak Ratno. Aku tidak bermaksud seperti itu. Sebenarnya penyebab terbesar dari perlakuanku ini bukan karena aku takut berselisih paham dengan Minul semata. Tapi, lebih kepada aku masih ragu apakah kamu adalah jodohku atau bukan? Karena aku melihat kamu itu baik kepada semua orang. Tidak hanya kepadaku saja,kamu juga baik terhadap Minul. Seandainya kita sudah terlalu dekat dan ternyata jodohmu adalah Minul, tentunya Minul akan mengingat bahwa kita sering jalan bareng. Pasti, ia akan selalu curiga kepadaku. Aku tidak mau hal itu terjadi padaku di masa depan. Lebih baik aku menjauh darimu untuk sementara sampai kamu benar-benar menentukan pilihanmu,” ucap Jamila sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
Sementara itu Pak Ratno di rumahnya juga memikirkan perubahan pada Jamila yang begitu cepat. Setelah saat Magrib perempuan itu masih terlihat hangat. Tapi, setelah betemu di rumah Pak Dimas kenapa Jamila berubah menjadi sosok yang menjaga jarak dengannya.
“Mil, apa hanya aku yang memiliki perasaan tertarik kepadamu? Sedangkan kamu tidak! Terus, perhatian yang aku lihat selama ini itu apa? Atau, jangan-jangan aku sudah salah menduga terhadapmu? Apakah kamu sebenarnya hanya menggunakan aku sebagai jalan untuk dekat dengan Salihun? Tidakkah kamu tahu, sebenarnya mendekatimu itu risiko besar yang harus aku ambil karena aku tahu Salihun itu suka sekali terhadapmu. Tapi, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku itu suka dan sayang sekali sama kamu, Mil. Tapi, kenapa kamu sekarang bersikap dingin terhadapku? Apa benar dugaanku bahwa yang kamu dekati sebenarnya bukan aku, tapi Salihun?” Pak Ratno berkata pada dirinya sendiri.
Semalaman ini mereka berdua sama-sama susah untuk tidur. Kegelisahan dan rasa bersalah menghinggapi hati dan pikiran keduanya. Ternyata benar apa kata pepatah bahwa kalau cinta sudah melekat, tahi kucing terasa coklat. Semua warga dusun Delima sedang membicarakan kematian Pak Dimas, mereka berdua malah memikirkan perasaan mereka sendiri.
“Pak Ratno, sepertinya aku harus mengetesmu. Iya, aku akan mengatur rencana untuk membuat kamu bisa berduaan dengan Minul. Aku ingin melihat dengan kepalaku sendiri apa yang akan kamu lakukan jika kamu berdua saja dengan Minul. Kebetulan tadi Bu Reni meminta tolong kepadaku untuk mengambil daun pisang di kebunnya besok pagi. Aku akan meminta tolong kepada Minul dan Pak Ratno untuk pergi ke kebun pisang dengan alasan disuruh Bu Reni. Dan aku sendiri akan mengintip mereka secara diam-diam. Yes! Akhirnya aku bia tidur nyenyak sekarang,” ucap Jamila sepuluh menit sebelum ia tertidur dengan lelap.
“Yes! Aku punya rencana bagus untuk mengetahui bagaimana perasaan Jamila terhadap Salihun. Aku harus membuat mereka bisa berdua-duaan. Bukankah tadi Bu Dewi menitipkan uang kepadaku untuk berbelanja kebutuhan tahlilan hari ketujuh di toko kue yang letaknya di jalan depan dusun Delima? Aku akan mengatur keduanya supaya bisa berdua-duaan besok siang. Sedangkan aku akan mengintip mereka dari kejauhan. Jika memang sebenarnya Jamila menunjukkan ketertarikan kepada Salihun, berarti benar dugaanku bahwa Jamila hanya memanfaatku saja untuk bisa dekat dengan Salihun. Hatiku pasti akan sakit apabila itu yang terjadi, tapi bagaimanapun lebih cepat aku mengetahuinya akan lebih baik,” ucap Pak Ratno pada dirinya sendiri sepuluh menit sebelum akhirnya ia bisa tertidur lelap karena kelelahan.
Dusun Delima malam itu begitu sepi mencekam. Terutama di rumah Bu Dewi. Perempuan itu baru saja terlelap dalam tidurnya setelah menangis melihat kondisi jenazah Pak Dimas yang diperlihatkan secara ajaib melalui layar Ponselnya. Ketika suara sirine dan gemuruh suara orang menggema dari rumah Pak Dimas, perempuan itu tidak ikut berkerumun seperti yang lain. Ia sibuk menjaga anak bayinya yang sedang tertidur lelap. Namun, ia sudah tahu dengan pasti bahwa Pak Dimas sudah tewas dan yang membunuhnya adalah Laras.
BERSAMBUNG
__ADS_1