
Bu Dewi mempersiapkan makanan untuk disajikan kepada tetangganya yang ikut acara tahlilan di rumahnya. Entah kebetulan atau tidak, Jamila dan Minul sore itu datang dan ikut membantu Bu Dewi menata air mineral dan hidangan. Selain menata hidangan, mereka berdua juga ikut membersihkan ruangan yang akan digunakan untuk acara tahlilan sore hari itu.
Bu Dewi sangat berterima kasih kepada dua janda muda dusun Delima itu. Berkat kehadiran mereka di sana, pekerjaan Bu Dewi menjadi jauh lebih ringan.
“Sudah, Bu Dewi jagain Panji saja. Biar kami berdua yang mengatasi di sini,” ucap Minul.
“Iya, Bu Dewi. Mumpung ada kami berdua di sini. Kasihan Panji kalau tidak ditemani,” sambung Jamila.
“Waduh, makasih banyak Jamila ... Minul ... Kalau nggak ada kalian berdua, pasti saya akan kerepotan sekali. Mana Pak Salihun dan Pak Ratno belum datang-datang sampai sekarang. Tidak biasanya mereka berdua datang terlambat,” sahut Bu Dewi.
“Mungkin, Pak Ratno masih kecapekan habis mengambil daun pisang tadi pagi,” sahut Minul.
Jamila terkejut mendengar pembelaan Minul. Ia menjadi teringat kembali saat ia mengintip Pak Ratno bermesraan dengan Minul di kebun pisang. Hatinya kembali teriris saat itu. Jamila tidak marah kepada Minul karena ia yakin itu bukan kesalahan Minul, melainkan karena watak Pak Ratno saja yang gemar menebar pesona pada siapapun.
“Emangnya buat apa Pak Ratno mengambil daun pisang?” tanya bu Dewi tidak tahu menahu.
“Anu, Bu Dewi. Pak Ratno disuruh mengambil daun pisang oleh Bu Reni,” jawab Minul lagi.
“Oalah ... Panteeeess ...,” sahut Bu Dewi.
“Kebun pisangnya Bu Reni kan dekat-dekat ke sini saja? Masa sampai secapek itu? Lagipula kan daun pisang yang diambil tidak begitu banyak,” potong jamila.
“Iya juga, sih. Biasanya Pak Ratno kerja lebih berat dari itu tidak pernah mengeluh,” jawab Bu Dewi.
Minul sedikit terkejut mendengar ucapan jamila yang terkesan memojokkan Pak Ratno. Tapi, ia tidak marah kepada Jamila karena apa yang dikatakan temannya itu memang benar. Tidak mungkin gara-gara itu Pak Ratno terlambat datang membantu majikannya.
“Mungkin sebentar lagi Pak Ratno datang, Bu,” jawab Minul masih berusaha membela Pak Ratno, laki-laki pujaannya.
Jamila merasa sakit yang amat sangat ketika Minul masih berusaha membela Pak Ratno. Ia kesal karena laki-laki yang paling ia benci sekarang ternyata malah dibela mati-matian oleh temannya sendiri.
“Pak Salihun kok juga belum datang, ya?” ucap Bu Dewi sambil menengok ke arah pagar rumahnya.
“Pak Salihun kayaknya kecapekan, Bu sehabis ke pasar membeli perlengkapan acara selamatan yang disuruh Bu Dewi,” jawab Jamila berusaha membela pak Salihun karena ia tahu sendiri tadi Pak Salihun sempat keseleo saat menolongnya. Tapi, ia tidak mungkin menceritakan hal itu ke pada mereka berdua.
“Oh, jadi Pak salihun yang berangkat ke pasar tadi siang?” tanya Bu Dewi.
“Bukankah kamu juga tadi bilang ke aku menitipkan Gio karena mau ke pasar?” potong Minul.
“Iya, Nul. Aku menemani Pak Salihun ke pasar membeli perlengkapan yang disuruh Bu Dewi,” jawab Jamila.
“Kalau kamu bisa langsung bantu-bantu ke sini, kenapa Pak salihun bisa terlambat?” protes Minul.
Sebenarnya ia tidak ingin menyudutkan Pak Salihun di mata Bu Dewi karena selama ini Pak Salihun juga baik terhadapnya. Namun, entah kenapa ia ingin membalas ucapan Jamila barusan yang sedikit menyudutkan Pak Ratno.
“Eh, mungkin sebentar lagi Pak Salihun datang, Nul,” jawab Jamila tak mau berpanjang lebar.
“Oke, kita lanjutkan saja pekerjaan kita. Kalau nanti Pak Salihun dan Pak Ratno belum datang juga, kita selesaikan saja semua pekerjaan di sini,’ jawab Jamila.
Lima belas menit setelah mereka selesai berbincang-bincang, muncullah pak Salihun dan Pak Ratno dari arah pagar. Pak Salihun datang dengan wajah berbunga-bunga sedangkan Pak Ratno nampak cemberut, terutama setelah melihat ada jamila juga di rumah Bu Dewi. Jamila pun begitu, ia membuang muka ketika melihat Pak ratno datang ke tempat tersebut. Jamila sebenarnya tidak mau datang hari itu ke rumah Bu Dewi, tapi karena acara di rumah Bu Dewi sudah hampir usai maka ia pun mengiyakan ketika diajak Minul untuk membantu di rumah Bu Dewi.
“Eh, Pak Ratno. Akhirnya datang juga. Sudah dari tadi ditungguin loh!” sapa Minul dengan kenesnya.
“Maaf, Nul, aku datang terlambat. Terima kasih sudah ditungguin,” jawab Pak Ratno sengaja menyambut ramah sapaan Minul karena ia benar-benar kesal dengan Jamila.
Jamila yang mendengar perbincangan Pak Ratno dan Minul pun terbakar api cemburunya saat itu.
__ADS_1
Pak Salihun yang saat itu tampak berbunga-bunga pun menyapa Jamila yang kelihatan cemberut.
“Mil, kamu datang juga hari ini?” sapa Pak Salihun dengan ramahnya.
Jamila yang hatinya sedang panas melihat kemesraan Pak Ratno dan Minul pun seperti mendapat bahan bakar ketika mendapat sapaan ramah dari Pak Salihun.
“Iya, Pak Salihun. Maaf ya, aku baru bisa datang sekarang,” jawab Jamila dengan suara dilembutkan.
Giliran Pak Ratno yang emosi melihat keakraban Pak Salihun dan Jamila.
“Nul, bantuin aku menggelar karpet, ya? Aku megang ujung yang sini, kamu megangin ujung yang sana!” ucap Pak Ratno dengan nada semakin dibuat lembut agar Jamila semakin terbakar cemburu.
“Iya, Pak Ratno. Sini aku bantuin!” jawab Minul semakin berbunga-bunga karena merasa diperhatikan oleh Pak Ratno. Ia tidak menyadari bahwa ia hanya dimanfaatkan oleh Pak Ratno untuk menyakiti hati Jamila.
“Makasih banyak ya, Nul? Kamu ini emang peka orangnya,” balas Pak Ratno.
Jamila yang mendengar ucapan Pak Ratno yang sangat lembut kepada Minul itu pun semakin emosi dan ia pun tak mau kalah dengan Pak Ratno. Ia berjalan dan menggandeng tangan Pak Salihun menuju ke halaman depan rumah Pak Herman.
“Pak, sepertinya hari ini akan banyak orang yang datang ikut tahlilan di sini. Sebaiknya kita menyiapkan alas di halaman juga,” jawab Jamila dengan mesra.
“Iya benar dugaanmu, Mil. Acara tahlilan di sini kan sudah hampir selesai. Pasti banyak orang yang kemarin tidak ikut tahlilan sekarang ikut tahlilan. Ayo, kita pasang alas di halaman juga,” sahut Pak Salihun dengan lembut dan mata berbinar.
Pak Salihun benar-benar tidak menyangka Jamila akan bersikap selembut ini kepadanya.
“Ayo, buruan, Pak!” ucap Jamila sambil menarik lengan Pak Salihun.
Pak Ratno yang melihat adegan berlebihan yang dilakukan Jamila itu pun menjadi semakin cemburu dengan kebersamaan mereka berdua. Rasanya ia ingin menjotos Pak Salihun saat itu, tapi apalah daya ia bukan siapa-siapanya Jamila dan juga ia tahu bahwa Jamila diam-diam memang menyukai Pak Salihun. Sepertinya ia memang harus mengalah dengan takdir yang tidak berpihak padanya.
Sementara itu, Jamila juga sebenarnya ingin menampar Minul. Tapi, apalah daya Minul selain temannya, ia tahu bahwa cintanya kepada Pak Ratno hanyalah bertepuk sebelah tangan. Buktinya, Pak Ratno semakin dekat dengan Minul. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Setelah semua persiapan usai, datanglah satu persatu tamu ke rumah Bu Dewi. Acara sore itu berjalan dengan sangat tertib dan khidmat. Bu Dewi bahagia karena lambat laun tetangganya sudah banyak yang mau datang berkunjung. Meskipun saat ini perempuan itu merisaukan hal lain. Ia sedang risau dengan arwah Laras yang tak kunjung tenang. Setelah Pak Hartono dan Pak Dimas yang dibunuh oleh arwah Laras. Siapa lagi yang akan dibunuh oleh arwah anak angkatnya itu.
“Pak Ratno, aku takut pulang sendirian?” ucap Minul dengan suara menggemaskan.
“Tenang, Nul. Aku antarin, kok! Aku nggak tega melihat perempuan harus jalan sendirian dalam situasi dusun kita yang seperti ini,” jawab Pak Ratno.
Jamila sebenarnya agak kecewa dengan Minul karena ia berangkat bareng Minul, tapi pulangnya Minul malah minta diantar oleh Pak Ratno. Ia tidak mungkin pulang bareng mereka berdua karena ia tidak mau jadi korban kebucinan mereka berdua.
Pak Salihun seperti mengerti dengan perasaan Jamila. Ia kemudian berkata kepada Jamila.
“Mil, boleh aku antar kamu pulang?” tanya Pak Salihun dengan gentelnya.
“Beneran, nih?” tanya Jamila.
“Beneran, dong! Masa aku bohong sama kamu,” balas Pak Salihun.
“Makasih banyak ya, Pak. Pak Salihun emang baik banget, deh!” jawab Jamila sengaja dilebih-lebihkan.
Pak Salihun pun bahagia mendapat senyuman dari perempuan yang sudah lama ia taksir itu. Pak Ratno yang juga mendengar perbincangan mereka berdua saat itu tentu saja menjadi semakin cemburu.
Mereka berempat pun pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan yang berbeda-beda. Pak Salihun dan Minul tentu saja bahagia karena merasa diperhatikan oleh orang yang mereka taksir, sedangkan Jamila dan Pak Ratno tentu saja harus berpura-pura bahagia padahal hati mereka saat itu sedang menangis.
Sementara itu di rumah sakit, Pak Ade masih berbaring di tempat tidurnya dan ditemani oleh istrinya yang setia berada di sebelahnya. Sementara itu revan sedang asyik bermain dengan mainan mobil-mobilannya di atas karpet yang digelar di lantai.
“Dik, kalau mas sudah sembuh, mas ingin mengajak Dik Nisa jalan-jalan keliling dunia,” ucap Pak Ade.
__ADS_1
“Ah, Mas Ade ini sukanya bikin GR orang saja,” sahut Bu Nisa.
“Mas serius loh, Dik!” jawab Pak Ade.
“Eman uangnya, Mas. Mending buat masa depan Revan saja,” jawab Bu Nisa.
“Untuk Revan pasti ada, Dik. Mas hanya ingin menebus kesalahan mas kepada Dik Nisa selam ini,” jawab Pak Ade lagi.
“Mimpi apa aku semalam ya, Mas? Kok, Mas Ade jadi baik mendadak begini?” sahut Bu Nisa.
“Sudah seharusnya mas itu memberi kebahagiaan buat Dik Nisa. Dulu mas kan sudah janji mau membahagiakan kamu, Dik. Tapi, mas terlalu sibuk dengan urusan yang lain,” jawab Pak Ade.
“Yang penting Mas Ade sembuh dulu. Nggak usah mikirin yang lain! Aku sebenarnya nggak masalah meskipun tidak diajak keliling-keliling dunia, Mas. Diajak keliling-keliling kota ini pake motor saja aku sudah bahagia, Mas,” jawab Bu Nisa.
“Kamu memang istri mas yang luar biasa, Dik! Maafin atas semua ketidakpedulian mas selama ini, ya?” ucap Pak Ade dengan haru.
“Iya, Mas. Aku juga minta maaf atas ketidaksempurnaanku selama menjadi istri Mas Ade,” jawab Bu Nisa.
“Dik, kalau seandainya mas nanti mati duluan, kamu jagai Revan dengan baik, ya? Jadikan dia anak yang sukses, ya?” ucap Pak Ade.
“Kamu ngomong apaan sih, Mas? Nggak boleh ngomong kayak gitu. Itu omongan jelek, Mas!” jawab Bu Nisa dengan sedikit emosi.
“Mas kan cuma berandai-andai, Dik?” jawab Pak Ade.
“Iya, tapi nggak boleh ngomong kayak gitu. Itu juga menyakiti hatiku, Mas. Kita akan membesarkan Revan bersama-sama,” jawab Bu Nisa.
“Doakan aku ya, Dik!” jawab Pak Ade.
“Mas, sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan ke Mas Ade,” jawab Bu Nisa.
“Apa, Dik? Kamu katakan saja!” tanya Pak Ade.
“Mas nggak tersinggung, kan?” tanya Bu Nisa.
“Cepat kamu katakan saja! Aku nggak akan tersinggung,” jawab Pak Ade dengan rasa penasaran.
“Mas, bagaimana kalau Mas tidak terlalu mengejar-ngejar tender besar itu?” ucap Bu Nisa dengan terbata-bata. Ia takut suaminya akan tersinggung.
“Maksudmu apa, Dik? Tender besar itu kan juga untuk menyelamatkan perusahaan? Itu juga untuk masa depan kita,” protes Pak Ade.
“Mas, kalau dipikir-pikir. Uang kita sekarang memang lebih dari cukup, tapi rasanya ketenangan hati masih lebih tenang waktu Mas Ade masih dapat proyek-proyek kecil itu. Kita tidak dikejar-kejar setoran bank, dan juga kita tidak perlu terlibat dengan bandar-“ jawab Bu Nisa perlahan.
“Yah, aku tahu maksudmu, Dik. Tapi, kita sudah terlanjur menceburkan diri. Tidak ada jalan lain bagi kita untuk lepas dari ini semua. Kecuali kamu mau kalau kita kehilangan semua aset-aset yang kita miliki sekarang. Bisa-Bisa kita akan tinggal di jalan seperti yang dialami oleh keluarga Pak Dimas dulu,” jawab Pak Ade.
“Mas Ade jangan marah, ya? Aku hanya ingin menyampaikan hal itu. Aku nggak mau setiap hari kita akan semakin menumpuk dosa karena tender-tender itu,” jawab Bu Nisa.
“Doakan mas saja, Dik! Oh ya, mana Revan?” Pak Ade melihat ke lantai tidak ada Revan di sana.
“Loh, tadi Revan kan di situ, Mas?” sahut Bu Nisa sambil menunjuk ke arah karpet.
”Nggak ada, Dik! Cepat cari!” teriak Pak Ade panik.
Bu Nisa pun buru-buru berlari meninggalkan Pak Ade yang sedang panik dan ia melihat pintu kamar terbuka. Bu Nisa mencari Revan di kamar mandi, tapi tidak ada. Perempuan itu pun keluar kamar dan memanggil nama anaknya.
“Revaaaaaaaaan!!!!” teriak Bu Nisa dengan sangat khawatir
__ADS_1
Beberapa menit sebelumnya, Revan yang sedang asyik main mobil-mobilan tiba-tiba mobilnya menggelinding meninggalkan karpet. Revan pun berjalan mengejar mobil-mobilan itu. Pada saat mobil itu menggelinding, tiba-tiba ada angin berhembus dan membuka pintu kamar VIP tersebut. Mobil-Mobilan itu pun menggelinding ke luar kamar perawatan ayahnya. Karena tidak mau kehilangan mobil-mobilannya, Revan pun keluar kamar mengejar mobil-mobilannya itu. Sementara pada saat itu matahari sudah tenggelam di ufuk barat dan suasana di depan kamar VIP itu cukup sepi karena pada saat magrib biasanya penghuni rumah sakit jarang yang mau keluar kamarnya. Alhasil, Revan hanya sendirian di luar kamar itu dan mobil-mobilannya pun masih terus berjalan menjauhinya. Revan tidak mau kehilangan mainannya. Pada saat ia mengejar mainannya, tiba-tiba ada sekelebat bayangan putih melintas di hadapan anak kecil tersebut.
BERSAMBUNG