MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 120 : KAMAR BERBEDA


__ADS_3

Lagi-Lagi Bu Nisa menutup mata Revan dan mengarahkan pandangan Revan kembali ke depan. Selanjutnya mereka berempat pun berjalan menuju ke kamar Jatmiko. Ternyata kamar Jatmiko cukup luas ukurannya. Lebih luas dari kamar depan dan semua barang di dalamnya tertata dengan rapi.


“Kamu masih rapi saja, Jatmiko!” ucap Pak Ade dengan berkelakar padahal ia masih terlihat kelelahan.


“Iyalah. Emangnya kamu yang dari duu selalu kemproh. Benar begitu, Nisa?” balas Jatmiko.


“Hm … Benar sekali Mas jatmiko. Handuk basah, pakaian kotor, dan benda-benda yang baru dipakai tergeletak di mana-mana dan sudah dibilangi berkali-kali masih saja tidak mau berubah,” sahut Bu Nisa dengan mencurahkan isi hatinya tentang tabiat buruk suaminya.


“Tuh kan, benar aku bilang barusan? Kamu itu dari dulu tetap saja jorok dan tidak bisa berubah!” tegur Jatmiko.


“Perlu kamu ketahui, Jatmiko. Hampir semua laki-laki sejati seperti itu. Nah, kalau yang terlalu rapi seperti kamu ini kelelakiannya masih perlu dipertanyakan. Sampai sekarang kamu belum berani menunjukkan perasaanmu pada wanita, kan? Nah itu dia akibatnya kalau laki-laki terlalu rapih,” kilah Pak Ade seenaknya dengan maksud membercandai sahabat kecilnya itu.


“Halah! Alasan sajakamu, Ade!” jawab Jatmiko.


“Iya, Mas Jatmiko. Itu hanya alasan Mas Ade saja. Buktinya ada tetanggaku yang bernama Pak Herman it orangnya rapih, tapi sudah punya istri. Dan Pak RT juga orangnya rapih, juga sudah punya anak dan istri. Itu alasan orang-orang malas saja,” timpal Bu Nisa.


“Huh, kamu kok malah membela Jatmiko sih, Dik?” keluh Pak Ade sambil menyandarkan kepalanya di bantal empuk milik Jatmiko.


“Kan emang begitu kenyataannya, Mas. Sudahlah, kalau urusan itu Mas emang salah, Nggak perlu alasan lagi,” jawab Bu Nisa.


“Hm … Nggak seru! Oh ya, kalau nggak salah bantal ini kayaknya suah ada sejak kita masi kecil dulu, ya?” ucap Pak Ade sambil memandangi bantal yang baru saja ia sandari.


“Iya, Ade. Itu memang bantal yang dulu biasa kita pakai. Awet, kan? Itu akibatnya kalau rutin dicuci dan dirawat. Lagipula bantal itu rasanya lebih empuk daripada bantal-bantal produksi toko sekarang,” jawab Jatmiko.


“Iya, kamu benar Mas Jatmiko. Barang yang dirawat dengan baik memang akan lebih awet daripada barang yang sering digeletakkan begitu saja oleh orang-orang malas yang sok bersembunyi di balik predikat ‘Jantan’ seperti ayahnya Revan ini!” tegur Bu Nisa lagi.


“Hm .. Sudah … Sudah … Aku nyerah deh kalau kalian main keroyokan!” sahut Pak Ade sambil memasang wajah cemberut karena merasa dipojokkan terus oleh istri dan sahabatnya.


“Ha ha ha ha ha …. Makanya kamu itu harus pelan-pelan merubah tabiat kamu yang buruk agar tidak menjengkelkan untuk orang lain,” timpal Jatmiko.


“Ya deh … Ntar aku usahain,” sahut Pak Ade.

__ADS_1


“Hah, lagu lama kaset baru,” jawab Bu Nisa tidak percaya.


Revan sejak tadi hanya menjadi pendengar yang baik bagi ketiga orang dewasa itu. Ia hanya bisa mencerna beberapa kalimat dari mereka bertiga. Selebihnya ia kurang mengerti. Maklum saja, ia asih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa.


Sementara itu Nenek Galuh yang sedang berjalan menuju dapur nampak sesekali melirik ke kiri dan ke kanan seolah-olah sedang mengintai sesuatu. Ia berjalan lurus menuju ke meja makan tempat beradanya teko air dan gelas yang masih belum dipakai. Meja makan di dapur rumah itu juga tertata dengan baik karena Nene Galuh juga merupakan orang yang cukup peduli dengan kebersihan.


Pada saat Nenek Galuh berjalan menuju meja makan, tiba-tiba ia mendengar suara benda berat diseret di balik tembok.


“Pergi kamu dari sini, Laras!” teriak Nenek Galuh pada tembok di sebelah kiri meja makan.


“Hi hi hi hi hi … Aku tidak akan pergi dari sini sebelum berhasil membunuh pria bejat yang telah menghancurkan hidupku itu!” teriak arwah Laras yang kembali berwujud ular raksasa dari balik tembok.


“Kamu nampaknya belum kapok, ya? Rasakan ini!” ucap Nenek Galuh sambil meludahi tembok itu setelah merapal mantera.


“Arrrrgh!” teriak arwah Laras karena ia tiba-tiba terlempar menjauh dari tembok rumah Jatmiko.


Nenek Galuh kembali melanjutkan aktifitasnya mengambil teko berisi air dan gelas kosong dari atas meja. Setelah itu perempuan tua itu pun berjalan menuju kamar anaknya, Jatmiko. Di dalam kamar Jatmiko sudah menunggu empat orang yang malam itu berada di rumah itu.


“Nak Ade … Nisa … Revan … Ini airnya sudah aku ambilkan di dapur. Segera kalian minum untuk mengembalikan energi kalian yang habis akibat kejadian tadi,” sapa Nenek Galuh menyela perbincangan ketiga orang dewasa di kamar itu.


Bu Nisa pun menuangkan segelas air untu diminum Pak Ade.


“Mas, minum dulu airnya supaya tenagamu pulih kembali!” ucap Bu Nisa sambil menyodorkan segelas air putih kepada suaminya yang sedang duduk bersandar pada bantal kenangannya itu.


“Iya, Dik. Terima kasih,” jawab Pak Ade sambil menerima gelas berisi air putih pemberian istrinya.


Pak Ade pun meneguk segelas air putih itu dengan lahapnya dan ia tidak menyisakan sedikitpun air putih di dalam gelas tersebut. Setelah air putih itu habis diminum olehnya, Pak Ade kembali menyerahkan gelas kosong itu kepada istrinya.


“Lagi, Mas?” tanya Bu Nisa berupaya menawarkan air putih tambahan untuk suaminya.


“Sudah, Dik. Kalian berdua juga minum,ya!” jawab Pak Ade sambil menghela napas panjang.

__ADS_1


“Iya, Mas,” sahut Bu Nisa sambilmengisi kembali gelas koson tersebut dengan air putih dari dalam teko tua itu.


Setelah menuangkan air putih ke dalam gelas, Bu Nisa menyodorkan air putih itu kepada anaknya, Revan.


“Ini, Revan. Kamu minum juga supaya kamu lebih tenang,” ucap Bu Nisa.


Tanpa banyak berbicara, Revan langsung meraih gelas tersebut dan menyeruput isinya. Tentu saja ia hanya minum setengahnya saja karenaukuran gelasnya lumayan besar.


“Sudah, Bu,” ucap Revan sambil meyerahkan gelas yang masih ada isinya kepada ibunya.


Tanpa babibu, Bu Nisa pun meminum sisa air yang masih berada di dalam gelas. Mereka bertiga memang sudah terbiasa tidak jijik meskipun menggunakan gelas yang sama untuk minum. Karenamsih kurang, Bu Nisa pun mengisi kembali gelas yang sudah kosong dengan sedikit tuangan dan ia meneguknya dengan penuh semangat karena ia memang merasa cukup kehausan setelah dikejar-kejar arwah Laras tadi.


“Mas Jatmiko nggak mau minum juga?” tanya Bu Nisa.


“Biar aku langsung minum langsung dituang ke tekonya saja, Nisa,” jawab Jatmiko.


“Ini, Mas!” ucap Bu Nisa sambil menyodorkan teko berisi air putih pada sahabat suaminya itu.


“Terima kasih, Nisa,” jawab Jatmiko sopan.


Setelah itu Bu Nisa bermaksud membawa teko dan gelas ke dapur, tapi dicegah oleh Nenek Galuh.


“Jangan Nisa! Biar ditaruh di sini saja! Siapa tahu nanti suamimu haus lagi,” tegur Nenek Galuh.


“Iya, Bu,” jawab Bu Nisa sambil meletakkan teko dan gelas kosong di atas meja kecil di sebelah tempat tidur.


“Sekarang, ayo kamu ikut saya ke kamar! Kita bersiap untuk tidur saja! Ini sudah larut malam,” ajak Nenek Galuh pada Bu Nisa.


“Iya, Bu,” sahut Bu Nisa kalem sambil menggandeng Revan.


“Ade … Kamu jangan mikir yang jelek-jelek lagi! Jatmiko, bacakan mantera yang sudah saya ajarkan sebelum tidur agar kalian berdua tidak diganggu oleh arwah sialan itu lagi!” pesan Nenek Galuh sebelum berjalan ke kamarnya.

__ADS_1


“Iya, Bu,” sahut Pak Ade dan Jatmiko.


BERSAMBUNG


__ADS_2