MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 87 : PULANG


__ADS_3

Agak siang, akhirnya Dokter Marni datang ke kamar Pak Ade. Kedatangan Dokter Marni disambut dengan hangat oleh Bu Nisa dan Pak Ade.


“Wah, kayaknya sudah siap-siap mau pulang, nih?” goda Dokter Marni.


“He he he … Iya, Dok!” jawab Pak Ade sambil melempar senyuman kepada dokter senior di rumah sakit itu.


“Hm … Tapi, ini bukan karena kurangnya pelayanan kami, ya?” ujar Dokter Marni.


“Enggak kok, Dok! Kami sangat puas dengan pelayanan di sini. Tapi, masa kami harus di sini terus?” jawab Pak Ade.


“Ya enggak lah, Pak. Ya sudah sekarang saya cek kondisi Bapak dulu, ya? Semoga saja kondisi Bapak memang sudah memenuhi syarat untuk bisa rawat jalan. Ya, kalau belum, Bapak harus siap-siap menginap lagi sehari dua hari loh, ya?” ujar Dokter Marni.


“Iya, Dok!” Sekarang giliran Bu Nisa yang menjawab.


Dokter Marni pun mulai memeriksa tekanan darah, detak jantung, dan kondisi luka serta persendian Pak Ade. Bu Nisa dan Pak Ade hanya bisa harap-harap cemas saat itu. Mereka sudah tidak sabar menunggu untuk pulang.


Setelah mengecek semua kondisi fisik Pak Ade, Pak Ade dengan tidak sabar langsung menanyakan hasilnya kepada dokter itu.


“Gimana, Dokter? Apa saya sudah boleh pulang?” tanya Pak Ade kepada Dokter Marni.


Dokter Marni memasukkan peralatan medisnya ke dalam tas berwarna hitam yang ia bawa.


“Pak, Setelah saya lakukan pemeriksaan terhadap Bapak. Kondisi luka sudah mulai menutup,tapi kok detak jantung Bapak agak tinggi, ya? Apa Bapak sedang memikirkan sesuatu?” tanya Dokter Marni dengan rasa penasaran.


“Eh, enggak kok, Dok. Mungkin itu karena saya hanya panik saja menunggu hasil pemeriksaan Dokter,” jawab Pak Ade berbohong.


“Apa Bapak yakin seperti itu? Soalnya, kalau dari hasil pengukuran detak jantung barusan, Bapak kayak orang ketakutan? Bapak baik-baik saja, kan?” tanya Dokter Marni lagi karena tidak yakin dengan jawaban Pak Ade.


“Iya, Dok. Saya baik-baik saja, kok. Saya hanya kepikiran dengan hasil pemeriksaan Dokter Marni. Jadi, saya boleh pulang sekarang kan, Dok?” rayu Pak Ade.


Dokter Marni tersenyum kepada Pak Ade. Kemudian Dokter Marni menoleh ke arah Bu Nisa.


“Sepertinya Bapak sudah benar-benar ingin pulang, Bu,” ujar Dokter Marni.


“Tapi, dengan kondisi demikian apa suami saya memang bisa pulang, Dok?” tanya Bu Nisa.


“Yah, boleh sih pulang. Tapi, Ibu harus benar-benar menjaga makan dan kondisi kejiwaan Bapak biar luka-lukanya segera pulih dan juga gejala lainnya bisa segera reda,” jawab Dokter Marni.


“Gimana, Mas? Dokter Marni sebenarnya masih ingin Mas Ade dirawat di sini supaya benar-benar sembuh seperti sedia kala,” ujar Bu Nisa pada suaminya.


“Dokter Marni kan barusan sudah bilang kalau aku sudah boleh pulang, Dik, asal makanan dan pikiran mas dijaga bener-bener. Ya kan, Dok?” sahut Pak Ade.


Bu Nisa hanya bisa tersenyum mendengar jawaban suaminya.


“Tuh kan, Dok? Suami saya emang begitu orangnya. Gimana ini, Dok?” ujar Bu Nisa.


Dokter Marni menghela napas cukup panjang.


“Yah, sebaiknya dituruti saja dulu kemauan Bapak. Daripada dipaksakan di sini malah jadi stres. Justeru nggak sembuh-sembuh jadinya,” jawab Dokter Marni.


“Emang beneran nggak apa-apa, Dok, suami saya pulang sekarang?” tanya Bu Nisa lagi untuk meyakinkan dirinya.


“Yah, sebaiknya begitu, Bu. Tapi, saya minta tolong banget sama Ibu untuk menjaga betul kondisi Bapak,” jawab Dokter Marni.


“Iya, Dok Terima kasih banyak atas bantuan Dokter Marni selama ini,” jawab Bu Nisa sambil melihat ke arah suaminya.


Pak Ade langsung berbinar mendapat keputusan yang baik dari Dokter Marni.


“Sebentar saya siapkan suratnya ya untuk Ibu bawa ke bagian administrasi,” ujar Dokter Marni pada Bu Nisa.


“Iya, Dok,” sahut Bu Nisa.


Dokter Marni pun meninggalkan kamar VIP tersebut.


“Dokter Marni sebenarnya masih kepikiran dengan kondisimu, Mas,” ujar Bu Nisa.


“Iya, aku tahu, Dik. Tapi, aku sudah tidak kuat berada di sini. Aku tidak tenang berada di sini,” jawab Pak Ade.


“Emangnya kalau Mas Ade di rumah bisa tenang? Ingat! Mas itu sekarang berada dalam bahaya. Arwah Laras sedang mengincar kita semua. Terutama Mas Ade!” ujar Bu Nisa.

__ADS_1


“Jangan keras-keras, Dik Nanti Reva dengar!” tegur Pak Ade.


“Tidak, Mas! Revan kalau sudah konsen main game, dia nggak akan dengar apa-apa lagi,” jawab Bu Nisa.


Pak Ade menoleh ke arah Revan yang sedang duduk di atas karpet dengan Ponsel ibunya di tangannya. Revan tidak bereaksi apa-apa selain sibuk memainkan tombol Ponselnya. Barulah Pak Ade percaya dengan omongan istrinya.


“Dik, mas tadi sudah menelpon Jatmiko. Untuk sementara kita akan tinggal dirumah Jatmiko sampai kita bisa memusnahkan arwah Laras,” ucap Pak Ade pada istrinya.


“Apa, Mas? Kenapa Mas Ade tidak ngomong dulu kepadaku sebelum membuat keputusan,” protes Bu Nisa.


“Kita tidak punya pilihan lain, Dik. Ini semua mas lakukan demi keselamatan kita. Kita nggak mungkin tinggal di dusun Delima selagi arwah Laras masih gentayangan. Di sana tidak akan ada orang yang bisa menolong kita. Sementara kalau kita tinggal dengan Jatmiko dan ibunya, mereka berdua pasti punya cara untuk menolong kita dari gangguan arwah Laras,” jawab Pak Ade berusaha meyakinkan istrinya.


Bu Nisa mendengarkan ucapan suaminya kata perkata.


“Iya, Mas. Aku ngerti tujuan Mas Ade sebenarnya baik. Tapi, apa kita tidak akan merepotkan Jatmiko dan ibunya. Ingat, kita ini bertiga loh, Mas. Dan kamu tahu kan? Rumah Jatmiko itu agak terpelosok. Gimana kalau Revan butuh apa-apa?” protes Bu Nisa.


“Itu semua bisa diatur, Dik. Jatmiko tidak keberatan kok kita bertiga menginap di sana. Dia malah senang mendengarnya. Kalau masalah kebutuhan Revan, kita bisa membelinya sebanyak-sebanyaknya selagi kita masih di kota,” jawab Pak Ade.


“Ya sudah lah, Mas. Kalau menurut Mas Ade itu adalah keputusan terbaik, aku ngikut saja,” jawab Bu Nisa.


“Nah, gitu, dong!” jawab Pak Ade.


“Mas, aku ke ruangan Dokter Marni dulu untuk mengambil surat keterangan dan juga sekaligus resep obat untuk dibawa ke apotik. Habis itu aku langsung ke bagian administrasi untuk mengurusi kepulangan kamu,” ujar Bu Nisa.


“Iya, Dik. Hati-Hati, ya!” jawab Pak Ade.


Bu Nisa pun meninggalkan suami dan anaknya berdua di kamar VIP tersebut. Ia kemudian berjalan menuju ruangan Dokter Marni.


“Permisi!!!” sapa Bu Nisa


“Silakan masuk, Bu!” jawab Dokter Marni


“Terima kasih, Dok!” sahut Bu Nisa.


“Bu, ini surat keterangan dan resepnya. Silakan dibawa ke apotik dan bagian administrasi!” ucap Dokter Marni sambil menjulurkan dua buah surat untuk istri Pak Ade itu.


“Terima kasih banyak, Dok. Mohon maaf kalau kami terkesan memaksa pulang hari ini,” ujar Bu Nisa.


“Iya, Dok. Sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan Dokter terhadap suami saya,” sahut Bu Nisa.


“Sama-Sama, Bu,” jawab Dokter Marni.


Setelah menerima surat dari Dokter Marni, Bu Nisa langsung pergi ke apotik yang berada di dalam rumah sakit itu untuk menebus obatnya. Setelah menebus obat, Bu Nisa mengurusi kepulangan Pak Ade di bagian administrasi. Di sana perempuan itu membayar sejumlah uang untuk melunasi tagihan biaya perawatan Pak Ade selama di sana. Pihak rumah sakit menawarkan mobil ambulan untuk mengantar Pak Ade pulang. Namun, ditolak oleh Bu Nisa karena Pak Ade sempat berpesan pagi tadi kepada Bu Nisa untuk pulang naik taksi saja karena Pak Ade sudah bisa duduk agak lama. Setelah semua urusan administrasi selesai, Suster Marissa datang ke kamar Pak Ade untuk melepas selang infus yang dipasang di lengan Pak Ade. Pak Ade keluar dari rumah sakit dengan menggunakan kursi dorong. Salah satu petugas membantu mendorong Pak Ade sampai di halaman depan rumah sakit. Di tempat itu sudah menunggu sebuah mobil taksi yang dipesan Bu Nisa untuk mengantar mereka bertiga pulang ke rumah Jatmiko di desa Curah Putih.


Taksi melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit yang sudah memberikan kenangan bagi Bu Nisa dan Pak Ade. Selama di dalam mobil, Revan masih saja terpaku dengan Ponsel milik ibunya.


“Kita mau ke mana, Bu?” tanya sopir taksi.


“Ke desa Curah Putih, Pak! Jawab Bu Nisa.


Pak Ade yang duduk di sebelahnya diam saja sambil menyandarkan kepalanya di penyandar kepala jok belakang sedang tersebut.


“Mau ke makam Mbah Darmo ya, Bu? Untuk berdoa meminta kesembuhan Bapak?” tanya sopir taksi itu lagi


“Tidak, Pak. Kami mau ke rumah teman suami saya. Kebetulan teman suami saya ini penduduk asli desa Curah Putih,” jawab Bu Nisa.


“Saya sering ke sana, Bu. Mengantar orang-orang yang mau mencari kesembuhan dari penyakit di makam Mbah Darmo. Ibu ke makam Mbah Darmo saja sekalian biar Bapak cepat sembuh,” jawab sopir taksi.


“Memangnya seampuh itu makam Mbah Darmo yang Bapak ceritakan barusan? Kok sampai orang-orang banyak yang datang ke sana?” tanya Bu Nisa.


“Yah, begitulah, Bu. Buktinya sudah banyak orang yang saya antar ke sana dengan menggunakan taksi ini. Berarti banyak yang cocok meminta kesembuhan di makam Mbah Darmo, kan?” jawab sopir taksi.


“Memangnya siapa itu Mbah Darmo, kok makamnya sampai dikeramatkan?” tanya Bu Nisa dengan asa penasaran.


“Mbah Darmo itu ayahnya Mbah Artomoyo, dukun terkenal di desa Curah Putih di masa lalu,” sela Pak Ade.


“Siapa lagi itu Mbah Artomoyo?” tanya Bu Nisa.


“Mbah Artomoyo itu salah satu nama yang disebut oleh warga desa Curah Putih setiap mengadakan acara sesembahan kepada penghuni bukit di desa tersebut. Aku juga tidak paham siapa nama-nama itu. Tapi, semasa aku tinggal di sana, nama-nama itu pasti disebut oleh tetua yang ada di sana. Termasuk oleh ibunya Jatmiko,” jawab Pak Ade.

__ADS_1


“Saya juga kurang paham tentang itu semuanya, Bu. Yang penting kalau ada penumpang yang meminta antar kepada saya ke sana, ya saya antar,” sahut sopir taksi.


Setelah berkendara selama beberapa menit sampailah mereka di desa Curah Putih. Di desa Curah Putih banyak ditemui orang-orang yang melakukan ritual-ritual yang tidak pernah dijumpai di tempat lain baik dari segi cara maupun peralatan ritualnya. Bu Nisa terhenyak ketika melihat ada sebuah tempat ibadah yang cukup besar, tapi dalam keadaan terbengkalai.


“Loh, tempat ibadah itu kok seperti tidak dirawat, Mas?” tanya Bu Nisa tak kuasa menahan rasa penasarannya.


“Iya, Dik. Konon di sini dulu penduduknya mayoritas memeluk agama tertentu. Namun, semenjak Mbah Artomoyo berkuasa di sini, sedikit demi sedikit masyarakat meninggalkan ajaran agamanya dan lebih memilih untuk menekuni dunia perdukunan seperti Mbah Artomoyo,” jawab Pak Ade.


“Wah, berarti Mbah Artomoyo ini sangat berpengaruh di sini, ya?” tanya Bu Nisa.


“Sangat berpengaruh, Dik. Bahkan saking saktinya Mbah Artomoyo, penduduk sampai seperti mendewakan beliau, jawab Pak Ade.


“Wah, sampai sehebat itu, ya?” gumam Bu Nisa.


“Konon nih dari cerita yang beredar dari mulut ke mulut, Mbah Artomoyo seperti itu karena dendam kepada kekasihnya yang menghianati cintanya,” jawab Pak Ade.


“Mas ini tahu banget ya, sejarah tentang desa ini?” tanya Bu Nisa.


“Ganteng-Ganteng begini, Mas kan juga pernah tinggal di desa ini, Dik!” jawab Pak Ade.


Mobil sedan berhenti di depan sebuah rumah yang berukuran cukup besar. Namun, jenis bangunannya masih kuno. Jadi, jika dilihat dari depan terkesan bernuansa mistis. Mereka bertiga turun dari dari dalam taksi.


“Mas, apa benar ini rumah Jatmiko?” tanya Bu Nisa seperti tidak percaya.


“Iya, Dik, benar. Aku masih sangat hapal dengan model rumah Jatmiko karena dari dulu tidak diubah baik model maupun warna catnya,” jawab Pak Ade.


“Tapi, kok nggak ada orangnya?” tanya Bu Nisa.


“Mungkin orangnya sedang di dalam, Dik. Ayo, kita segera ketok pintunya!” ajak Pak Ade.


Mereka pun berjalan meninggalkan sedan taksi dengan dibantu oleh sopir taksinya. Setelah membayar biaya antarnya kepada sopir taksi, sang sopir taksi langsung pamit pergi.


“Terima kasih ya, Bu …,” ujar sopir taksi karena bayarannya dilebihkan oleh Bu Nisa


“Sama-Sama, Pak,” jawab Bu Nisa.


Sesampai di depan pintu yang dalam kondisi tertutup, Bu Nisa pun mengetuk pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Sedangkan Pak Ade duduk di sebuah kursi tua yang diletakkan di beranda.


Tok Tok Tok


“Permisi!!!” teriak Bu Nisa dengan suara sediit dikeraskan.


Tidak ada sahutan dari dalam rumah tersebut.


“Mas, apa Jatmiko dan ibunya sedang keluar, ya?” tanya Bu Nisa.


“Kamu coba ketuk sekali lagi, Dik. Mungkin orangnya tidur siang!” jawab Pak Ade.


Tok Tok Tok


“Permisi!!!!” Sekali lagi Bu Nisa mengetuk pintu dengan suara lebih dikeraskan dari sebelumnya.


Lagi-Lagi tidak ada sahutan.


“Mas, kalau nggak ada orang, bagaimana? Revan sepertinya sudah mengantuk, Mas?” ucap Bu Nisa.


Pak Ade menoleh ke kursi di sebelahnya. Revan sedang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan mata sayu.


“Coba sekali lagi, Dik!” perintah Pak Ade.


“Iya, Mas!” sahut Bu Nisa.


Bu Nisa p[un sekali lagi mengetuk pintu itu.


Tok Tok Tok …


Krieeeeeeet …


Tiba-Tiba pintu yang diketuk oleh Bu Nisa terbuka sendiri ke arah dalam. Bu Nisa dan Pak Ade terkejut seketika.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2