
Keesokan harinya, aku bangun agak kesiangan karena semalam mimpi buruk. Aku bermimpi ada gempa, tapi anehnya saat itu aku tidak berada di rumah ini, melainkan ada di rumah kontrakan Clara. Mimpi itu terasa sangat nyata sekali, sehingga aku sampai takut untuk tidur lagi. Ketika mendekati waktu salat Subuh, barulah rasa kantuk itu datang lagi, sehingga aku bangun kesiangan.
"Dik, besok kamu bisa nggak bantuin mas di pasar? Saya dan Siti kewalahan, lagi banyak-banyaknya pelanggan," ujar suamiku.
"Iya deh, Mas. Tapi, saya bantu di bagian kasir saja, ya?" rengekku karena aku merasa nggak PD kalau harus membantu di bagian penjualan.
"Iya, nggak apa-apa!" jawab Mas Diki.
Pagi itu pun akhirnya aku ikut serta bersama Mas Diki ke pasar. Ketika aku membonceng motor Mas Diki, tanpa sengaja aku melihat pemandangan yang cukup aneh di rumah Clara. Lebih tepatnya di bagian belakang rumah itu. Aku melihat Clara sedang memukul Riki dengan menggunakan sapu lidi.
"Mungkin Riki sudah berbuat nakal, sehingga Clara menghukumnya. Pasti mukulnya juga pelan-pelan selayaknya orang tua menghukum anaknya. Ah, dasar Riki, mirip sekali dengan kecilnya Nur dulu ..."
Seharian aku berkutat dengan uang di stand pasar Mas Diki. Ternyata benar apa yang dikatakan suamiku, pembeli yang datang banyak sekali. Untunglah kami memiliki karyawan yang rajin dan cekatan seperti Siti, jadi semua masalah bisa teratasi. Siti sekarang tinggal di rumah Yu Darmi bersama kedua anak almarhumah. Laba dari usaha ini juga sebagian dinikmati oleh kedua keponakan suamiku tersebut. Syukurlah, untuk urusan pendidikan mereka berdua masih bisa teratasi.
"Siti sini!" panggilku pada karyawan suamiku tersebut.
"Ada apa, Mbak?" Ia bertanya.
"Gimana, kamu sudah ada calon lagi?" tanyaku penasaran.
"Duh, Mbah Shinta ini selalu tanya hal itu. Saya masih capek ngurusi kayak gitu, Mbak. Masih trauma dengan hubungan sebelumnya. Biar wes saya mau konsen cari uang dulu biar ke depannya enak nggak ngerepotin orang tua lagi," jawabnya jujur.
"Iya sudah kalau memang itu rencanamu. Oh ya, Sit. Kalau toko ramai begini, kenapa Mas Diki tidak menambah karyawan saja, ya?" Aku sengaja bertanya kepada Siti karena kalau bertanya langsung kepada Mas Diki, aku takut ia salah mengira aku malas membantu pekerjaannya di toko.
"Oh, kalau masalah itu sepertinya saya bisa bantu jawab, Mbak. Kalau hari-hari biasa tokonya tidak seramai ini. Tenaga kami berdua cukuplah untuk mengatasinya, tapi karena sekarang ini lagi musim panen kopi di desa, maka pengunjung pasar meningkat secara drastis," jawab remaja manis tersebut.
"Ooo ... begitu rupanya!" Aku manggut-manggut mendengar penjelasan anak buah suamiku itu.
Saat kami asyik berbincang berdua, tiba-tiba ...
"Koraaan!! Koraaan!!! Koraaaan!!!"
*
Sore hari kami bertiga pun pulang dari pasar. Aku membonceng suamiku lagi. Saat kendaraan kami sampai di tikungan dekat pasar, tiba-tiba terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Dik, korannya jatuh! Tolong kamu ambilkan, ya!" teriak suamiku sambil menghentikan laju motornya.
"Iya, Mas!" jawabku sambil turun dari boncengan dan melangkah ke arah jatuhnya koran yang dibeli oleh suamiku tadi di pasar.
Suamiku menungguku tanpa turun dari jok motornya. Jarak antara motor suamiku dan posisi jatuhnya koran tersebut sekitar lima meteran.
"Ya Tuhan!!!" teriakku agak keras.
"Kenapa, Dik?" tanya Mas Diki sambil menoleh ke arahku.
Aku berlari menuju Mas Diki sambil memegang koran yang agak basah itu karena terkena air.
"Ada apa, Dik?" tanya suamiku lagi dengan semakin penasaran.
"Buruan jalankan motornya, Mas!" jawabku sambil menepuk pundak suamiku.
"Ada apa, Dik?" tanya suamiku lagi sambil menstarter motornya.
Aku memeluk erat pinggang suamiku tanpa menoleh ke belakang lagi. Mas Diki yang sudah paham dengan sifatku tidak bertanya-tanya lagi.
"Kamu habis melihat apa tadi, Dik?" tanya suamiku sambil menoleh sebentar ke belakang untuk memastikan suaranya tidak dibawa angin.
"Saya tadi kaget karena salah lihat, Mas!" jawabku perlahan.
"APA, DIK?" tanya suamiku karena suaraku yang pelan tidak sampai ke telinganya dengan jelas.
"Saya tadi salah lihat, Mas!" jawabku dengan keras supaya suaraku cukup didengar oleh Mas Diki.
"Ooo emangnya tadi kamu melihat apa, Dik?" tanya Mas Diki sambil menoleh lagi.
"Tadi saya awalnya ngeliat mayat di dalam lubang, ternyata ... setelah dilihat lagi, itu bukan mayat, tapi hanya gedebok pisang yang hanyut terbawa air," jawabku getir karena efek salah lihat tadi masih terasa sampai sekarang.
"Ooo .... Tapi, ..." gumam suamiku yang sayup-sayup terdengar olehku.
"Tapi apa, Mas?" Aku bertanya dengan sangat penasaran.
__ADS_1
"Emmm ... Nggak ada apa-apa, Dik!" jawab suamiku tanpa menoleh sehingga suaranya terdengar pelan karena terbawa angin. Aku sengaja merapatkan badanku ke punggungnya untuk lebih bisa mendengar suara suamiku.
"Ayo, jujur bilang sama saya, Mas!" ucapku lagi.
"Bilang apa, Dik?" kata suamiku pura-pura bertanya.
"Mas mau bilang apa tadi? Mas tahu, kan, saya paling tidak suka dibohongi?" ancamku pada suamiku.
"Oke, tapi kamu janji untuk tidak berpikir macam-macam, ya!" ucap suamiku sambil menoleh sebentar seperti tadi.
"Sudah, cepat katakan saja, Mas!" jawabku dengan semakin penasaran.
"A-anu, Dik .. tapi bener, ya, kamu jangan mikir aneh-aneh!" ujar suamiku lagi.
"Iya!!" jawabku seenaknya.
"Kamu ingat cerita mas tentang penemuan mayat anak kecil kemarin?" ucap Mas Diki.
"Iya, Mas. Saya masih ingat," jawabku.
"Mayat anak kecil itu ditemukan di lubang yang kamu lihat tadi!" jawab suamiku dengan nada berat.
"YA TUHAN!!!" Badanku terasa lemas seketika. Aku menyandarkan tubuhku ke pundak suamiku. Ada perasaan menyesal kenapa aku harus menanyakan hal itu kepada Mas Diki.
"Kamu nggak apa-apa, kan, Dik?"
Aku tidak menjawab pertanyaan suamiku karena pikiranku kembali terbayang pada mayat anak kecil berkaos salur hitam-putih yang sedang tertelungkup barusan.
*
Akhirnya kami berdua pun sampai di rumah. Sebelum masuk ke dalam rumah, aku melihat Pak RW dan seorang laki-laki sedang berbincang di teras rumah yang ditempati Clara. Kami menyapa Pak RW sekedarnya, kemudian kami masuk ke rumah dan bergegas untuk mandi. Menjelang Magrib, aku mengintip ke luar jendela, ternyata Pak RW dan laki-laki tadi sudah tidak ada di sana. Rumah itu terlihat kembali sepi seperti biasanya.
"Siapa laki-laki yang sedang bercengkrama dengan Pak RW tadi, ya? Apakah itu suaminya Clara? Ah masa? Kenapa setua itu, tidak sebanding dengan usia Clara yang masih relatif muda?" jiwa kepo-ku menggeliat.
Bersambung
__ADS_1
Yang like dan komen, kok sedikit, ya? Padahal view-nya cukup banyak loh? Mmmm ... Padahal like dan komen kalian semua adalah penyemangat bagi author untuk melanjutkan cerita ini.