
Bu Dewi dengan perasaan was-was pun menggendong Panji dan membuka pintu kamar yang sebelumnya sudah ia kunci dengan rapat.
“Panji, ayo tidur, Nak!” ucap Bu Dewi masih berusaha untuk mempengaruhi anak kecil itu agar tidak melanjutkan kebiasannya beberapa malam ini yang membuat jantung perempuan itu kembang-kempis karena takut.
Saat ini mereka berdua sudah berada di ruang tamu yang lampunya selalu dinyalakan meskipun orangnya tidur. Panji kembali menunjuk ke arah pintu utama rumah. Bu Dewi kembali merasa stres dengan tingkah anaknya itu.
“Duh, Nak. Plis … jangan kayak gini terus. Ibu takut, Nak!” suara Bu Dewi memelas kepada anaknya itu.
Panji hanya tersenyum melihat reaksi ibu angkatnya itu seolah-olah hal itu hanya mainan bagi anak kecil itu. Padahal bagi Bu Dewi hal itu lebih seram dari-ada masuk ke wahana rumah hantu atau naik roller coaster. Karena melihat anaknya sudah tersenyum, Bu Dewi berencana untuk mengajak Panji kembali ke kamar, tapi saat Bu Dewi memutar tubuhnya, kembali Panji menangis dengan keras.
“Oeeeee!!!”
“Aduh, Le … Berhenti ya, Le. Janga buat ibu takut!” ucap Bu Dewi dengan anda memelas.
“Oeeeee …,” kembali Panji menangis dan menunjuk pintu.
Akhirnya, terpaksa Bu Dewi mengikuti keinginan anaknya untuk membuka pintu depan dan keluar dari dalam rumah.
Suasana di luar rumah saat itu tampak sepi. Sebenarnya saat itu masih pukul delapan malam, tapi di dusun Delima jam segitu sudah seperti jam sepuluh malam saja. Terlebih, saat ini tidak ada orang yang berani lewat di depan rumah Bu Dewi malam-malam.
Srrrr …
Angin malam berhembus dengan sepoi-sepoi membuat tengkuk Bu Dewi semakin terasa dingin. Ia mendekap tubuh Panji dengan erat sambil berjalan mengikuti arah tangan anaknya yang masih menunjuk ke arah rumah Laras seperti biasanya.
Malam itu terasa lebih mencekam dari malam-malam sebelumnya. Bu Dewi merasa seperti banyak sosok-sosok yang berdiri di sekitar ia dan Panji, tapi ketika perempuan itu mengedarkan pandangan kesekelilingnya, ia tidak menjumpai seorang pun ada di sana. Perempuan itu hanya bisa berjalan dengan langkah gemetar.
__ADS_1
“Panji … pulang yuk, Nak!” bisik Bu Dewi pada anaknya yang hanya dijawab dengan tangisan sesaat dan tangan yang kembali menunjuk ke arah rumah Laras.
Bu Dewi tiak bisa berbuat apa-apa lagi saat itu. Ia tidak mau Panji menangis keras dan terjadi apa-apa dengan anak itu nantinya. Toh, malam-malam sebelumnya Panji tidak kenapa-kenapa setelah ia menemukan potongan buku harian peninggalan Laras. Mungkin, ini memang yang harus dilakukan oleh Bu Dewi untuk menenangkan Panji. Ia hanya berharap Panji tidak kenapa-kenapa dan juga dirinya selamat agar bisa membesarkan Panji.
Suara serangga dan binatang malam lainnya saat itu tidak terdengar. Padahal di malam-malam biasanya, suara serangga dan kodok saling bersahutan. Bu Dewi menyadari ada yang tidak beres saat itu, tapi ia tetap harus menuruti keingina Panji. Hal itulah yang membuat perempuan itu merasa takut dan ngeri, terlebih saat ini ia sudah sampai tepat di depan rumah yang ditempati oleh Laras sebelum meninggal.
“Laras, pesan apa lagi yang akan kamu berikan kepada bude? Jangan siksa aku dan Panji begini, Laras!” ujar Bu Dewi pada dirinya sendiri.
BRAK!!!
Pintu rumah Lara terbuka dengan sendirinya saat itu dan terbanting dengan keras seolah-olah dibuka dengan emosi.
“Laras, apa kamu marah sama bude karena telah menasehati kamu untuk tidak membalas dendam?” Bu Dewi sengaja berbicara kepada angin agar didengar oleh Laras.
Blap Blep Blap Blep
Panji menunjuk ke arah daun pintu yang sedang terbuka seolah menyuruh Bu Dewi untuk masuk ke dalam. Bu Dewi pun menuruti keinginan Panji untuk masuk ke dalam rumah tersebut meskipun hatinya takut.
“Panji ….” Tiba-Tiba terdegar suara wanita dari arah belakang Bu Dewi.
Perempuan it pun menoleh ke belakang untuk memastikan ada orang di belakang mereka. Namun saat ia menoleh ke belakang, suara panggilan itu berpindah dari arah dalam rumah tersebut.
“Panji …,” suara perempuan yang sangat mirip dengan suara Laras.
“Laras!! Jangan kamu teruskan hal itu, Nduk! Biarkan orang-orang yang menyakiti dirimu mendapat balasan dari Tuhan sesuai apa yang telah mereka lakukan. Kamu tidak perlu mengotori tangan kamu untuk membunuh mereka, Laras!” teriak Bu Dewi dengan cukup keras.
__ADS_1
Brak!!!
Tiba-Tiba pintu di belakang Bu Dewi terbanting dengan keras sampai Panji terkejut dan kembali menangis.
“Oeeee …” tangis Panji.
“Laras! Kamu lihat anakmu ini ketakutan karenamu! Tolong Laras hentikan!” teriak Bu Dewi cukup keras.
Suasana hening seketika. Panji memeluk erat Bu Dewi. Tangan kecil Panji tidak lagi menunjuk-nunjuk seperti sebelumnya. Bu Dewi merasa khawatir dengan Laras. Ia berusaha membuka pintu di belakangnya yang tertutup rapat.
“Tolong buka, Laras! Apa kamu tidak kasihan dengan anakmu ini! Dia ketakutan!” teriak Bu Dewi lagi.
Ajaibnya, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Bu Dewi berniat untuk membawa pergi anak itu dari rumah Laras. Namun, sebelum Bu Dewi beranjak pergi, tiba-tiba ada potongan kertas yang serupa dengan buku harian Laras kemarin di depan mata Bu Dewi. Potongan kertas itu jatuh dari atas pintu dan mendarat di tangan Bu Dewi. Bu Dewi awalnya sudah enggan untuk mengambilnya karena ia takut tidak siap membaca isi di dalamnya, tapi jiwa penasaran perempuan itu terlalu kuat sehingga ia tetap mengambil potongan kertas itu dan ia bawa lari bersama Panji meninggalkan rumah Laras menuju rumahnya sendiri.
“Panji …,” terdengar suara lirih dari arah rumah Laras yang didengar oleh Bu Dewi.
Bu Dewi tidak tega mendengar suara Laras. Ia bisa merasakan betapa Laras itu sangat kehilangan Panji karena dipisahkan oleh kematian.
“Kasihan kamu Laras harus berpisah dengan anakmu. Tapi, aku janji akan membesarkan anakmu dengan segenap jiwa ragaku,” ucap Bu Dewi di dalam hatinya. Ia berharap Laras dapat mendengar suara hatinya.
Setelah sampai di rumahnya, Bu Dewi buru-buru mengunci pintu rapat-rapat dan membawa Panji ke kamarnya. Ia juga mengunci kamarnya dari dalam. Setelah itu ia pun mendekap panji dalam pelukannya Dibalurinya tubuh Panji dengan minyak kayu putih agar anak kecil itu merasa hangat. Panji saat itu masih menunjukkan rasa ketakutannya. Mungkin suara pintu yang keras tadi telah membuatnya terkejut dan takut. Bu Dewi dengan telaten menenangkan anak itu agar bisa tertidur dengan tenang. Butuh waktu agak lama bagi Bu Dewi untuk menenangkan Panji, tapi akhirnya Panji pun tertidur dengan lelap di pelukan perempuan pecinta bunga mawar itu.
Bu Dewi ta kunjung terlelap setelah mengalami kejadian menakutkan tadi.Ia khawatir Laras akan membututinya ke sini. Dan yang paling ia takutkan adalah Laras akan mengambil Panji darinya. Tidak masuk akal memang tapi dari film-film yang pernah ia lihat, ada kuntilanak mencuri anak kecil karena ia teringat dengan anaknya yang meninggal.
“Tidur yang nyenyak, Nak. Ibu akan menjagamu sampai bapakmu datang,” ucap Bu Dewi sambil menatap Panji yang sedang tertidur nyenyak.
__ADS_1
BERSAMBUNG