
Bu Nisa kembali dari kantin rumah sakit bersama Pak Jefri dan Bu Jefri. Bu Nisa sudah sepakat untuk memberitahu kabar kematian Pak Dimas kepada Pak Ade setelah Pak Ade sarapan pagi dan meminum obat. Mereka bertiga sampai di kamar Pak Ade beberapa menit setelah Bu Dimas dan Niko meninggalkan ruangan tersebut untuk menjemput jenazah Pak Dimas di ruang pemulasaraan jenazah untuk dikebumikan di dusun Delima.
“Ibuuuu!” Revan berlari dan memeluk ibunya.
“Ke mana saja kamu, Dik? Kok, lama sekali? Tadi aku sampai turun berjalan dengan membawa botol infus karena mengejar Revan yang tiba-tiba ke luar kamar,” sapa Pak Ade.
“Oh ya? Ngapain kamu ke luar, Revan? Ibu kan sudah mengingatkan kamu untuk tidak ke mana-mana selama di rumah sakit? Mas nggak apa-apa tapi, kan?” ujar Bu Nisa sambil mencoba memeriksa kondisi fisik suaminya itu.
“Revan keluar karena melihat Bude, Bu,” jawab Revan polos.
“Oh ya? Terus mana Bude sekarang?” sahut Bu Nisa sedkit kaget dengan jawaban anaknya.
Pak Jefri dan Bu Jefri juga terkejut mendengar pengakuan Revan.
“Aku nggak kenapa-kenapa. Bu Dimas hanya mampir sebentar ke sini karena dia datang tidak sendiri. Dia di temani dua orang polisi,” jawab Pak Ade kalem.
“Oh ya?” Bu Ade kaget begitu Pak Ade menyebutkan ada dua polisi yang bersama dengan perempuan itu. Ia curiga suaminya itu sudah mengetahui tentang kematian Pak Dimas dengan adanya kedua polisi itu.
“Iya. Hampir saja aku bertengkar dengan kedua polisi itu,” jawab Pak Ade lagi.
“Kenapa bisa begitu, Mas? Apa mereka membuat masalah dengan Mas?” tanya Bu Nisa karena ia khawatir suaminya bertengkar karena tidak percaya dengan kabar kematian Pak Dimas dari kedua polisi itu. Karena ia yakin kedua polisi itulah yang berani memberitahukan tentang kematian Pak Dimas. Kalau Bu Dimas tidak mungkin berani membocorkannya setelah diberitahu oleh Pak Jefri semalam.
“Polisi itu mengaku sebagai orang yang memiliki rumah kontrakan yang pernah ditempati oleh Pak Dimas dan keluarganya. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana kejamnya pemilik kontrakan itu mengusir Pak Dimas sekeluarga? Untung ada kita berdua. Kalau tidak, sahabatku itu pasti sudah terlunta-lunta di jalan bersama keluarganya,” jawab Pak Ade sambil menitikkan air mata.
Bu Nisa dan kedua tetangganya itu memperhatikan dengan saksama apa yang disampaikan oleh Pak Ade. Mereka ingin memastikan apakah Pak Ade sudah mengetahui informasi kematian Pak Dimas atau tidak.
Pak Ade melanjutkan omongannya.
“Pak Dimas itu bukan hanya teman bagiku, tapi sudah melebihi saudara. Kalau ada yang berani menyakiti Pak Dimas maka akan berhadapan denganku. Untung saja Bu Dimas sendiri yang mengatakan bahwa polisi itu tidak ikut mengusir mereka. Justeru polisi itu sangat baik hubungannya dengan keluarga Pak Dimas. Yang mengusir mereka adalah ayah tiri polisi itu. Ayah tirinya sengaja mengusir keluarga Pak Dimas saat polisi itu pergi ke luar kota. Duh, kalau sudah ingat sama orang itu rasanya pingin aku robek mulutnya,” ucap Pak Ade dengan penuh emosi.
“Sabar, Mas! Kejadiannya kan sudah lama. Kita kan sudah menolong mereka, mas. Kita harus menjaga Bu Dimas dan Niko,” ucap Bu Nisa sambil meneteskan air mata karena ia tiba-tiba teringat dengan nasib nahas yang menimpa keluarga mereka.
“Kamu kok nangis, Dik?” tanya Pak Ade.
Bu Nisa buru-buru menghapus air matanya yang tidak sengaja terjatuh.
“Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya teringat dengan kejadian pengusiran mereka hari itu,” jawab Bu Nisa lagi-lagi berbohong.
“Iya, Dik. Sewaktu masih sama-sama bekerja di Koperasi Antah Barantah, Pak Dimas itu selalu membantuku dengan senang hati. Tahu sendiri kamu, Dik, aku kan paling nggak mau ribet dengan nasabah. Sementara waktu itu aku tidak punya pekerjaan lain selain di sana. Pak Dimas itu satu-satunya teman yang mau mensupportku sehingga aku bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit tabungan untuk membuka CV sendiri. Kamu masih ingat, kan?” Pak Ade bercerita panjang lebar.
“Iya, Mas. Pak Dimas itu memang orang yang sangat berharga untuk kita,” jawab Bu Nisa dengan air mata yang semakin tak bisa dibendung.
“Duh, kok kita malah jadi menye-menye begini, ya? Maaf ya, Pak Jefri ... Bu Jefri ... Sudah, Dik. Kamu hapus air mata kamu! Malu sama mereka berdua,” ucap Pak Ade sambil melempar senyum kepada Pak Jefri dan istrinya.
“I-iya, Mas,” sahut Bu Nisa yang masih tidak bisa membendung air matanya. Saat ini ia merasa sangat sedih karena suaminya tidak mengetahui kabar kematian Pak Dimas. Dan yang lebih membuatnya sedih adalah ia semakin takut untuk berkata jujur kepada suaminya itu.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Pak Ade. Namanya juga sahabat. Wajar Pak Ade dan Bu Nisa sampai sesedih ini kalau mengingat kejadian itu,” sahut Bu Jefri setelah buru-buru menghapus air matanya yang juga menetes saat melihat sahabat Pak Dimas di depannya ini tidak mengetahui kematian Pak Dimas.
“Loh, Bu Jefri ikut nangis, ya?” tanya Pak Ade.
Bu Jefri hanya bisa melongo mendapat ucapan seperti itu dari Pak Ade.
“Bu Jefri emang seperti itu, Mas. Nggak bisa lihat orang nangis dikit,” potong Bu Nisa berusaha menyelamatkan kebingungan Bu Jefri.
Bu Jefri pun hanya bisa tersenyum kepada Pak Ade. Ia senang karena telah diselamatkan oleh Bu Nisa.
“Kita sarapan dulu, yuk!” ajak Pak Jefri.
“Kalian beli makanan apa?” tanya Pak Ade.
“Nasi pecel, Pak Ade,” jawab Pak Jefri.
“Aku sarapan nasi pecel saja, ya? Males makan nasi ransum terus,” sahut Pak Ade.
“Loh, katanya mau cepat sembuh, Mas. Nasi pecel itu ada kacangnya loh. Ntar lukanya malah gaal bagaimana?” protes Bu Nisa yang matanya sudah bengkak sekarang.
“Aku minta dikit saja ya, Dik. Kamu tahu kan aku paling suka sama nasi pecel?” rayu Pak Ade.
“Oke. Tapi sedikit. Ntar makan nasi ransum saja!” sahut Bu Nisa tegas.
“Iya, deh,” jawab Pak Ade.
“Duh, gini nih kalau sakit. Ada makanan enak malah nggak boleh dimakan,” gerutu Pak Ade.
“Sudah, nggak usah banyak mengeluh. Kalau sudah sembuh, ntar tak belikan nasi pecel satu sama gerobaknya sekalian” jawab Bu Nisa.
Pak Ade hanya bisa mrengut sambil memaksakan diri menelan nasi ransum itu supaya ia bisa meminum obat setelahnya.
Setelah meminum obat yang diberikan perawat, Pak Ade pun kembali merasa mengantuk dan tertidur. Jenazah Pak Dimas masih ada di ruang pemulasaraan jenazah karena masih diurus surat-suratnya. Pak Jefri dan Bu Jefri berencana untuk pamit pulang dan menemani Bu Dimas mengawal jenazah suaminya.
“Bu Nisa. Kami ijin pamit dulu, ya?” ucap Bu Jefri kepada Bu Nisa.
“Loh! Kalian mau ke mana?” tanya Bu Nisa berbasa-basi karena ia juga tidak enak terlalu merepotkan sepasang suami istri itu.
“Kami mau pulang dulu sekarang. Insyaallah besok kami akan ke sini lagi,” jawab Bu Jefri.
“Revan biar tetap di sini ya, Bu Jefri. Besok, tolong bawakan baju-baju Revan. Ini kunci rumah dan kamar,” pesan Bu Nisa pada Bu Jefri.
“Iya, Bu. Insyaallah. Apa ada hal lain yang mau disampaikan? Mumpung kami masih belum pulang,” tanya Bu Jefri.
Bu Nisa menoleh ke arah suaminya yang sepertinya sudah terlelap.
__ADS_1
“Titip salam buat Bu Dimas. Mohon maaf saya tidak ikut mengantar jenazah Pak Dimas ke makam,” ucap Bu Nisa dengan suara sengaja agak dipelankan, tapi suaranya cukup jelas terdengar di telinga Pak Ade seandainya pria tersebut dalam kondisi tidak tertidur.
Bu Jefri mengangguk mendapat amanat itu dan bersiap untuk pulang meninggalkan kamar tersebut sebelum akhirnya ia dan Pak jefri terkejut karena tiba-tiba Pak Ade membuka matanya dan menatap Bu Nisa dengan penuh amarah.
“Apa yang kamu katakan barusan, Dik?” tanya Pak Ade pada Bu Nisa.
Bu Nisa menoleh ke belakang dan ia terkejut karena mendapati suaminya ternyata belum tertidur.
“M-m-maaaaas!!!” ucap Bu Nisa dengan suara terbata-bata.
“Coba ulangi perkataanmu barusan, Dik!” ucap Pak Ade sekali lagi.
Ketiga orang di hadapan Pak Ade dan Revan tercengang seketika saat itu. Dengan melihat ekspresi Pak Ade saat itu, mereka sudah yakin bahwa pria itu sudah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh istrinya, tapi ia hanya ingin memastikan saja bahwa apa yang didengarnya tidak salah.
“M-m-mas ... Maafkan kami!” jawab Bu Nisa sambil menghambur memeluk suaminya.
Tangis Bu Nisa pecah saat itu dalam pelukan suaminya. Tubuh Pak Ade saat itu juga bergetar dengan hebat tanpa bisa dikendalikan. Emosinya meluap dengan seketika saat menyadari bahwa apa yang baru saja ia dengar ternyata benar adanya.
“Di mana Pak Dimas, Dik? Mas salah dengar , kan? Tidak benar, kan, Pak Dimas sudah meninggal?” ucap Pak Ade dengan nada penuh emosi.
Revan pun ikut memeluk ayahnya karena tidak tega melihat ayahnya yang sakit merasakan kesedihan yang sangat mendalam seperti itu. Pak Jefri dan Bu Jefri pun ikut merapat. Mereka berdua berusaha menenangkan Pak Ade yang saat itu sangat bersedih.
“Pak Dimas semalam meninggal, Mas ...,” sahut Bu Nisa sudah tidak bisa lagi menutup-nutupi rahasia tersebut dari suaminya.
“Pak Dimas meninggal kenapa, Dik? Kemarin dia kan masih menemani mas di sini?” teriak Pak Ade dengan suara lemah.
“Pak Dimas meninggal over dosis, Mas!”
“Ya Tuhan! Pak Dimas!!!!!” tangis Pak Ade pun pecah saat itu.
Mereka bertiga berpelukan dengan erat dengan disaksikan oleh Pak Jefri dan istrinya yang tak kuasa membendung kesedihan mereka juga. Suara tangisan mereka terdengar sampai ke ruang perawat. Beberapa perawat sampai masuk ke ruangan Pak Ade untuk memastikan bahwa Pak Ade bak-baik saja. Dokter Marni sampai turun tangan untuk menjaga kondisi Pak Ade karena pria itu memaksa untuk melihat jenazah Pak Dimas untuk yang terakhir kalinya. Awalnya permintaan Pak Dimas ditolak oleh seluruh petugas rumah sakit itu, tapi karena Pak Ade memaksa akhirnya diijinkan, tapi nanti setelah jenazah Pak Dimas melintas di depan kamar Pak Ade. Pak Ade pun menyanggupi hal itu.
Sekitar pukul sebelas siang barulah jenazah Pak Dimas dikeluarkan dari dalam ruang pemulasaraan. Bu Dimas dan Niko menangis tersedu-sedu saat melihat jenazah Pak Dimas. Suasana mengharukan terjadi saat Pak Ade membuka tirai penutup wajah jenazah Pak Dimas.
“Pak Dimaaaaaas!!!” teriak Pak Ade tak kuasa menahan kesedihannya saat melihat jenazah temannya itu.
Semua orang yang ada di situ pun turut menangis menyaksikan tangisan seorang pria yang kehilangan sahabat terbaiknya. Dokter dan perawat pun turut menitikkan air mata saat itu. Setelah kurang lebih lima menit akhirnya dokter Marni pun menarik tubuh Pak Ade dan menyuruh petugas membawa jenazah Pak Dimas meninggalkan rumah sakit. Pak Ade dibawa ke kamar untuk beristirahat kembali. Setelah mengecek kondisi Pak Ade, dokter Marni pun kembali menyuntikkan obat tidur ke botol infus Pak Ade agar Pak Ade bisa kembali beristirahat.
Sementara itu Bu Nisa memeluk erat tubuh Bu Dimas dan Niko di depan kamar Pak Ade.
“Yang sabar ya, Mbak ... Niko ... aku akan selalu ada untuk kalian berdua ...,” ucap Bu Nisa dengan berderai air mata.
“Terima kasih, Mbak ...,” jawab Bu Dimas juga dengan tangis terisak.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Lanjut nggak, nih?