
Pak Ade dan Bu Nisa menunggu dengan penuh tanda tanya siapakah gerangan yang akan masuk ke dalam ruangan mereka. Bu Nisa berpikir kalau orang itu adalah keluarga Bu Jefri, tetangganya yang membawa Revan yang akan melihat kondisi ayahnya, tapi Bu Nisa tidak yakin karena ini sudah lewat dari jam besuk. Ia juga heran kenapa Pak Jefri tidak mengantarkan Revan ke rumah sakit, padahal ia sudah menitip pesan kepada Pak Dimas dan istrinya untuk mengatakan kepada Pak Jefri agar membawa Revan ke rumah sakit.
“Permisi …,” suara seorang perempuan kemudia terdengar tidak asing di telinga Bu Nisa.
“Ya …,” sahut Bu Nisa sambil memusatkan pandangan ke arah lorong masuk sambil menunggu seseorang muncul dari balik tembok. Pintu masuk ada di balik tembok tersebut lengkap dengan tempat alas kaki.
Beberapa detik selanjutnya muncullah sosok perempuan yang sangat dihapal oleh Bu Nisa.
“Dokter Marni!!!” pekik Bu Nisa dengan terkejutnya.
Pak Ade menatap tak kalah terkejutnya kepada perempuan berbaju serba putih itu. Dia adalah dokter yang merawat luka Pak Ade. Pak Ade sempat mengenalinya sebelum tertidur karena efek obat tidur di dalam tabung infus.
Dokter Marni hanya tersenyum simpul menjawab sapaan perempuan cantik di depannya. Selanjutnya dokter itu pun menghampiri mereka berdua.
“Dokter Marni belum pulang sejak pagi tadi?” tanya Bu Nisa.
Dokter Marni kembali hanya menjawabnya dengan senyuman. Bu Nisa tidak mempermasalahkannya karena ia meyakini bahwa seharian ini perempuan itu sudah banyak mengeluarkan tenaga dan pikiran untuk merawat banyak pasien di rumah sakit ini. Justeru ia senang karena dokter Marni masih menyempatkan waktu untuk menjenguk suaminya yang sedang dalam masa perawatan.
“Ini dokter Marni yang aku ceritakan tadi, Mas,” ujar Bu Nisa pada Pak Ade.
“Iya, Dik. Mas tahu …,” jawab Pak Ade.
Dokter Marni mengeluarkan alat-alat seperti stetoskop dan lain-lain dari dalam tasnya. Bu Nisa memperhatikan semua yang dilakukan perempuan tersebut terhada suaminya. Dari gerakan tangannya sudah bisa dipastikan bahwa dokter Marni adalah tenaga kesehatan berpengalaman dan memiliki jam terbang yang tinggi.
“Dokter Marni kira-kira masih butuh waktu lama di sini?” tanya Bu Nisa kemudian.
Sepertinya perempuan itu teringat akan sesuatu. Dokter Marni tiba-tiba menghentikan aksinya setelah mendengar pertanyaan Bu Nisa.
__ADS_1
“Kenapa? Bu Nisa mau membeli makanan di kantin, ya?” Tiba-Tiba kalimat tersebut terlontar dari mulut dokter Marni.
“Hm … Iya, Bu … Boleh, nggak saya titip suami saya dulu?” ujar Bu Nisa malu-malu karena merasa merepotkan dokter Marni.
Bu Nisa sebenarnya cukup kaget kok bisa dokter Marni mengetahui isi hatinya. Tapi, ia tidak mau ambil pusing. Yang penting ia bisa punya waktu untuk pergi ke kantin membeli nasi dan makanan ringan untuk ia bawa ke kamar dan dimakan agar perutnya selamat dari penyakit mag yang acapkali menyerangnya beberapa tahun belakangan ini.
“Silakan, tapi jangan lupa saya juga dibelikan,” jawab dokter Marni sambil tersenyu.
“Siap, Bu. Nanti saya beli dua bungkus untuk saya dan untuk Dokter Marni juga,” jawab Bu Nisa dengan senang hati.
“Maaf, Bu. Saya hanya bercanda. Saya sudah ada makanan, kok,” jawab dokter Marni sambil memasang sabuk pengukur tensi darah di lengan Pak Ade.
“Baiklah, Dokter. Saya berangkat dulu ke kantin,” ujar Bu Nisa sambil melangkah pergi meninggalkan suaminya untuk diperiksa oleh dokter Marni.
Bu Nisa buru-buru keluar dari dalam kamar Pak Ade dan berjalan di koridor. Suasana di luar kamar saat itu cukup sepi. Terlebih lingkungan kamar VIP memang jarang dilalui orang. Perempuan itu mencari penanda arah atau petugas rumah sakit yang bisa ditanyai letak kantin di rumah sakit tersebut. Akhirnya, setelah berjalan beberapa langkah perempuan itu menemukan penunjuk arah yang ia butuhkan. Ternyata kantin letaknya cukup jauh dari kamar Pak Ade.
“Nasinya masih bagus nggak, Mbak?” tanya Bu Nisa pada kasir tersebut.
“Nasinya masih hangat kok, Bu. Itu baru datang beberapa menit yang lalu. Yang nitip memang sengaja datang beberapa kali ke sini agar nasinya tidak basi,” jawab kasir tersebut.
Bu Nisa pun mencoba memegang nasi bungkus tersebut. Ternyata benar. Kondisinya masih hangat. Ia pikir ini adalah rejekinya dan rejeki dokter Marni karena ia memang akan membeli dua bungkus untuk ia sendiri dan juga untuk dokter Marni. Akhirnya, Bu Nisa pun menyerahkan dua bungkus nasi bungkus tersebut kepada kasir. Selain itu, ia juga mengambil beberapa makanan ringan untuk ia makan sendiri dan untuk dokter Marni juga. Tak lupajuga ia membeli ar mineral beberapa botol.
“Assalamualaikum … Hai, Din. Aku beli tisunya dong!” Tiba-Tiba seorang perempuan masuk ke kantin.
Dari cara bicaranya sepertinya perempuan itu sudah mengenal baik dengan kasir kantin.
“Waalaikumsalam … Ini. Titipan dokter Marni, ya?” tanya kasir sambil menyerahkan tisu yang sudah ia scan dan ia pun menerima uang dari perempuan tersebut.
__ADS_1
Bu Nisa menoleh ke arah dua orang yang sedang bertransaksi tersebut karena mereka berdua menyebut nama dokter Marni
“Enggak kok. Ini untuk aku sendiri. Lagipula dokter Marni sudah pulang tadi,”jawab perempuan berpakaian rapi tersebut.
Bu Nisa berpikir mungkin orang tersebut adalah staf atau asisten dokter Marni. Bu Nisa kaget karena perempuan itu mengatakan bahwa dokter Marni sudah pulang sejak tadi. Ia baru teringat dengan suaminya yang saat ini sedang diperiksa oleh dokter Marni di kamarnya.
Bu Nisa pun buru-buru berjalan ke arah meja kasir.
“Mbak, totalin!” ucap Bu Nisa pada Mbak Kasir.
“Iya, Bu,” jawab Mbak Kasir.
“Mbak, barusan sampean bilang dokter Marni sudah pulang dari tadi. Apa benar itu, Mbak?” tanya Bu Nisa pada mbak-mbak berpakaian rapi tersebut.
“I-iya, Bu. Dokter Marni sudah pulang sejak tadi. Kenapa, Bu?” tanya perempuan itu.
“Ng-nggak apa-apa, Mbak. Berapa, Mbak? Buruan!” ucap Bu Nisa dengan ada agak tinggi pada Mbak Kasir.
“Sembilan puluh ribu, Bu,” jawab Mbak kasir dengan gelagapan karena seja tadi ibu di depannya sangat sopan, kok mendadak agak kasar seperti itu.
“Ini, Mbak. Kembaliannya nggak usah!” jawab Bu Nisa sambil menyerahkan uang seratus ribu dan ia pun buru-buru mengambil pesanannya dan berjalan dengan sedikit berlari keluar dari dalam kantin.
Bu Nisa terus berjalan dengan cepat meninggalkan kantin menuju kamarnya. Ia sebenarnya ingin berlari saat itu tapi kondisi fisiknya sudah tidak memungkinkan. Ia bingung dan takut teradi apa-apa dengan suaminya. Ia tidak habis pikir kenapa ada seseorang yang menyerupai dokter Marni sedang berada di kamar suaminya saat ini sedangkan mba-mbak tadi bilang bahwa dokter Marni sudah pulang sejak tadi. Ia takut hal buruk terjadi pada suaminya.
“Jangan-Jangan dokter Marni tadi itu …,”
BERSAMBUNG
__ADS_1
Lanjut nggak, nih?