MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 47 : DILEMA


__ADS_3

Kami berdua terkejut karena lagi-lagi papan yang kami pijak turun. Padahal kami yakin, kami belum berayun sebanyak sepuluh kali. Itu artinya, semakin lama, ngejloknya papan-pqpqn itu semakin cepat.


"Mbak, Landasan papan semakin jauh dari bantaran sungai. Sepertinya kalau papan ini ngejlok lagi, kita tidak akan mampu melompat ke bantaran lagi," teriak Clara kepadaku.


"Iya, Clara. Kita harus cepat-cepat berjalan menuju tepi sebelum papan-papan ini ngejlok lagi kebawah.


"Iya, Mbak!" jawab Clara.


"Ayo, Clara. Saya hitung, ya?" teriakku.


"Iya, Mbak," jawab perempuan cantik itu.


"Saaaatuuuu ...," teriakku.


Kami berdua pun melangkah secara bersama-sama menuju pinggiran. Aku sudah bersiap untuk melangkah kedua, namun tiba-tiba.


BRAAAAAK!!!


Aku dan Clara terkejut mendengar suara tersebut. Sekilas aku melihat ada badan seseorang terlempar dan terguling ke as papan. Badan itu pun bergelantungan di as papan tersebut.


"Jangan-Jangan itu badan suamiku yang kalah bertarung dengan Pak Handoyo?" Aku bertanya-tanya sambil mengamati badan laki-laki yang sedang bergelantungan di as sistem papan itu.


"Kamu jangan senang dulu, karena sudah berhasil memukulku jatuh, ya? Karena aku tidak semudah itu untuk dikalahkan," teriak pria yang bergelantungan itu yang ternyata adalah Pak Handoyo.

__ADS_1


"Syukurlah, Mas Diki sudah berhasil memukul jatuh laki-laki tersebut. Aku yakin, Pak Handoko tidak akan kuat bergelantungan seperti itu. Sebentar lagi pegangannya pasti akan terlepas dan ia akan menjadi santapan buaya putih di bawah sana," gumamku di dalam hati.


"Kamu tahu tidak, Mbah Bajol itu pantang makan manusia lebih dari satu dalam satu malam? Dan kamu tahu tidak, istrimu akan jatuh ke bawah sesaat lagi dan menjadi santapan buaya putih itu? Andaipun aku juga jatuh ke bawah, Mbah Bajol pasti akan memilih untuk memangsa istrimu yang cantik itu. Ha ha ha ha ha ..." teriak Pak Handoyo sambil berusaha menarik sebuah pengait di as sistem papan itu.


Kami bertiga terkesiap melihat apa yang sedang dilakukan oleh Pak Handoyo. Rupanya ia telah menarik pengait yang menahan papan yang sedang kupijak. Alhasil ketika papanku berayun ke bawah, tidak bisa bergerak ke atas kembali akibat pengaitnya ditarik oleh Pak Handoyo. Dan papan yang aku pijak pun bergelantungan ke bawah. Buaya putih itu merangkak mendekatiku. Kali ini aku yakin buaya putih itu sudah bisa menjangkauku karena sangat rendahnya posisi papanku.


"Mbak Sintaaaaaaaaaa!!!!!" teriak Clara dari atas. Aku melihat Mas Diki di atas panik melihatku hampir diterkam buaya. Aku lihat Mas Diki berusaha untuk turun ke bawah, tetapi sepertinya ada energi lain yang mengahalangi Mas Diki untuk bisa turun ke bawah. Ia tidak hanya s3kali mencoba untuk turun, tapi lagi-lagi ia terpental ke atas. Hingga ia menangis karena tak tega melihatku yang saat ini berhadapan satu lawan satu dengan buaya putih.


"Aaaaaaaaaaargh!" Buaya putih itu menerkamku. Aku berkelit ke samping sehingga ia mengenai tempat kosong.


"Bertahan, Sayang. Saya akan menolongmu!" teriak Mas Diki masih tidak berputus asa.


"Aaaaaaargh!!!" Buaya putih itu berbalik dan kembali menyerangku.


"Aduuh!" Aku merintih karena kepalaku terantuk batu. Kupegangi bagian kepalaku yang terantuk batu, ternyata mengeluarkan darah segar. Setelahnya mataku berkunang-kunang dan terasa sangat pening.


"Mbah Bajoooool ... waktunya sudah tiba," teriak Pak Handoyo sambil terjatuh ke bawah dari atas sungai. Mungkin tangannya sudah tidak kuat menahan sakit karena harus bergelantungan di as sistem papan. Clara nampaknya sudah lepas berada di oinggir sungai. Ia hanya bisa menonton pertunjukan di bawah sungai, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Di atas sana ada Mas Diki Nur, dan Riki yang sangat mencemaskan nasibku.


Benar apa yang dikatakan oleh Pak Handoyo. Meskipun ia berada pada posisi lebih dekat dengan Mbah Bajol, nyatanya ia memang tidak diserang oleh buaya putih itu. Buaya jelmaan itu sepertinya hanya mengincarku untuk dijadikan tumbal pesugihan Pak Handoyo.


Kali ini kepalaku benar-benar sakit. Aku tidak bisa bangkit dsri posisiku karena rasa pening yang teramat sangat. Aku hanya bisa memandangi buaya putih itu yang sedang merayap menuju ke tempatku berada. Di belakangnya, Pak Handoyo sedang tertawa puas.


"Inilah akhir nasibmu, Cantiik. Ha ha ha ha ha ...," teriak Pak Handoyo sambil terkekeh-kekeh.

__ADS_1


Buaya putih itu sudah semakin dekat denganku. Mas Diki dan anak-anak berteriak keras memanggil namaku dari atas. Aku tiba-tiba teringat dengan benda bulat pemberian ibu mertuanya Clara. Kurogoh sakuku dan untunhlah benda bulat itu berada di sana. Tepat saat buaya itu akan menerkamku, aku berhasil mengeluarkan benda bulat tersebut. Anehnya, benda itu mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan mata. Pak Handoyo juga tmapak terkejut.


"M-m-mripat b-b-boyo?" pekik Pak Handoyo keheranan. Semantara buaya putih di depanku terpental sejauh beberapa meter.


"Aaaaaaaaaargggh!!!" pekik suara buaya putih itu.


Aku memandangi benda bulat yang bersinar terang itu. Aku heran, kenapa buaya putih itu bisa terlempar hany dengan melihatnya?


Buaya putih itu seperti ketakutan melihat cahaya yang dihasilkan oleh benda bulat itu. Di atas sana bulan bersinar terang sekali dan tepat berada di atas kami bertiga, aku, buaya putih itu, dan Pak Handoyo. Tiba-Tiba buaya putih itu mengeluarkan suara erangan yang sangat keras. Dan, Pak Handoyo terlihat sangat ketakutan secara tiba-tiba.


"Tidaaaaaaaaak!!!!" teriak Pak Handoyo kemudian. Buaya putih itu tiba-tiba mengejar Pak Handoyo. Oak Handoyo berusaha untuk kabur, tapi terlambat, buaya putih itu sudah menerkamnya sekarang. Pak Handoyo yang sudah kehabisan tenaga itu pun tidak bisa berkelit lagi. Ia mencoba bertarung melawan buaya putih itu, namun tenaganya terlalu lemah. Akhirnya buaya putih itu pun dengan sadisnya mencabik-cabik badan Pak Handoyo. Kepala Pak Handoyo juga dilahap habis oleh buaya putih itu. Aku tidak bisa berbuat banyak karena aku juga takut. Akhirnya nyawa Pak Handoyo pun habis di tangan pesugihannya sendiri. Setelah melahap habis badan Pak Handoyo, buaya itu berjalan menjauhiku. Dan anehnya, tabir yang menghalangi Mas Diki sudah terbuka. Mas Diki turun ke bawah untuk menolongku, setelah mencari pengait yang dijatuhkan oleh Pak Handoyo, Mas Diki melemparkan pengait itu ke Nur yang ada di atas. Nur memasang pengait itu kembali. Setelah itu aku digendong suamiku untuk naik ke atas papan lagi. Nur, Riki, dan Clara menaiki bagian papan yang lain untuk menyeimbangkan. Setelah posisi kami seimbang, kami pun berjalan secara berbarengan menuju pinggiran sungai. Ketika sudah hampir tiba di pinggiran, Mas Diki menaikkanku ke pinggir sungai bersamaan dengan Clara yang melompat ke luar. Tinggallah mereka bertiga di papan. Sejak tadi Nur dan Riki beberapa kali melompat untuk menyeimbangkan beratnya dengan Mas Diki. Akhirnya dengan mengatur keseimbangan, mereka bertiga pun berhasil keluar dari sistem papan itu.


Di pinggiran sungai itu kami semua menangis karena sudah berhasil lolos dari kejahatan Pak Handoyo.


Clara kelihatan terpukul sekali dengan kejadian malam itu. Esok paginya ia dan keluarganya pamit untuk pindah ke luar kota. Kami melepas kepergian mereka dengan rasa kesedihan. Riki memberikan lukisannya kepadaku. Akhirnya kami baru mengetahui dari mereka bahwa anak kecil yang pernah ditumbalkan oleh Pak Handoko itu adalah saudara angkat Riki. Berat sebenarnya berpisah dengan mereka, tapi kami juga tidak mau mereka menjadi trauma dengan kejadian itu.


"Kasih kabar, ya, Clara sesampai di sana?" ucapku pada perempuan cantik itu. Iya, hari itu Clara terlihat sanga cantik. Mereka hari itu berpakaian sangat bagus. Mereka keluar kota dengan membawa mobil milik Pak Handoyo. Mereka juga membawa surat-surat berharga peninggalan Pak Handoyo.


Satu jam kemudian, aku melihat ada pesan masuk di WA. Tertulis nama "Bu Rini". Aku segera membuka isi pesannya. Dan betapa terkejutnya aku ketika membaca isinya.


Ini, Mbak foto anak asuh kami yang diadopsi beserta kedua orang tua angkatnya.


Di atas tulisan tersebut, terpajang foto Riki bersama Clara dan seorang laki-laki yang sangat kukenal baik, yaitu ... Arman.

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2