
Keesokan harinya masyarakat di kota kecil tersebut dihebohkan dengan pemberitaan tentang kematian mengenaskan Pak Ade yang misterius. Ada yang menyebutkan Pak Ade tewas diserang binatang buas, perampok, dan dedemit. Berita tersebut tersebar melalui media lokal dan juga sosial media. Para wartawan memburu berita tersebut secara berebutan. Mulai dari desa Curah Putih sebagai lokasi kejadian, dusun Delima sebagai asal tempat tinggal Pak Ade, dan juga pihak kepolisian sebagai lembaga yang menangani kasus tersebut.
“Maaf, kami masih menunggu keterangan dari istri dan anak korban yang saat ini masih dalam pemantauan petugas medis. Mohon kepada masyarakat untuk tidak berspekulasi tentang penyebab kematian korban. Kami sedang berupaya untuk menyelidiki kasus ini dengan sebaik-baiknya. Dan mohon kepada masyarakat dan wartawan untu tidak terlalu megeksploitasi area di sekitar TKP karena akan menganggu proses penyelidikan yang sedang kami lakukan dan juga kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar TKP,” tutur Kapten Yosi pada para awak media yang sedang mewawancarainya.
“Kalian berdua memang hebat, Herman … Cintia … Berkat kegigihan kalian, akhirnya kasus ini menjadi lebih gamblang. Tinggal menunggu hasil pemeriksaan dan keterangan dari beberapa saksi dan tersangka saja maka semua akan terungkap,” ucap Kapten Yosi pada Herman dan Cintia.
“Beberapa tersangka?” Herman bertanya kepada atasannya dengan penasaran.
“Iya, beberapa tersangka. Oh, kalian belum mendengar informasi terbaru dari bagian Intel? Kurir yang mengantar barang laknat itu kepada Pak Dimas sudah berhasil ditangkap dan dia sudah memberikan keterangannya kepada kami,” jawab Kapten Yosi.
“Oh ya? Apa yang ia sampaikan kepada penyidik?” tanya Herman lagi.
“Awalnya dia masih berbelit-belit, tapi setelah kami tunjukkan rekaman CCTV di berbagai tempat, akhirnya ia tidak berkutik. Dia menyampaikan bahwa dia memang yang menyetok barang untuk Pak Ade. Dan, kalian harus tahu ada suatu informasi yang lebih dahsyat dari perkiraan kita,” ujar Kapten Yosi dengan mata berbinar.
“Apa itu, Kapten?” tanya Cintia.
“Ternyata kurir tersebut adalah tangan kanan dari orang TOP di kota ini,” jawab Kapten Yosi.
“Siapa, Kapten?” tanya Cintia.
“Pemilik Hotel Bunga. Sudah ada bukti yang sulit terbantahkan antara kurir tersebut dan orang tersebut,” jawab Kapten Yosi.
__ADS_1
“Ya Tuhan! Apa Kapten yakin?” Cintia terperangah.
“Yakin seratus persen, Cin. Bahkan, kalau surat penangkapan terhadap orang tersebut sudah keluar, kami akan segera bertindak. Kami yakin ada kejahatan lain yang sering dilakukan di Hotel Bunga,” jawab Kapten Yosi.
“Kejahatan lain?” tanya Herman.
“Iya, Her. Dari bukti-bukti tersebut, kami mencium bahwa Hotel Bunga sering dijadikan tempat perdagangan perempuan. Kami sedang mendalaminya sekarang,” jawab Kapten Yosi.
“Kapten Yosi tahu, kan? Dia itu bukan orang sembarangan?” tanya Herman.
“Siapapun itu kalau memang penjahat, tidak ada ampun untuk mereka. Apalagi, bukti-bukti yang ada sudah cukup kuat,” jawab Kapten Yosi.
“Iya, Kapteb. Kami berdua juga berharap kasus ini agar bisa terungkap sampai ke akar-akarnya” jawab Herman.
“Tugas apa, Kapten?” tanya Herman.
“Tugas apa, Kapten? Tanya Cintia.
“Masa kalian lupa? Coba kalian ingat-ingat!” jawab Kapten Yosi sambil tersenyum dan ngeluyur pergi dengan menyisakan tanda tanya dalam benak mereka.
“Kamu ingat, Her, tugas apa yang belum kita selesaikan?” tanya Cintia.
__ADS_1
“Enggak. Kayaknya Kapten belum memberikan tugas lain,” jawab Herman dengan rasa penasaran.
Sementara kedua polisi itu terlihat kebingungan, Kapten Yosi memperhatikan gerak-gerik mereka sambil tersenyum simpul sendiri.
“Kalian berdua ini memang handal dalam mengungkap kasus yang sudah buntu, tapi kalian berdua ini sagatlah naif menyelesaikan kasus di hati kalian sendiri. Naif …. Naif …,” gumam Kapten Yosi.
*
Dusun Delima sebagai tempat tinggal Pak Ade menjadi daerah yang juga ramai dikunjungi wartawan karena ingin memburu informasi tentang latar belakang keluarga Pak Ade. Sayangnya orang-orang terdekat Pak Ade, seperti keluarga Pak Jefri dan Bu Dimas enggan memberikan keterangan kepada para jurnalis tersebut. Mereka takut salah memberikan statement kepada para pemburu berita yang nantinya dapat mendiskreditkan Bu Nisa dan Reva. Akhirnya para wartawan itu hanya mendapatkan keterangan sekedarnya saja dari Pak RT dan beberapa tetangga yang lain.
Masyarakat di dusun Delima tak henti-hentinya membicarakan tentang kematian Pak Ade yang masih menyisakan misteri. Selain berita yang simpang siur di media sosial, berita yang beredar dari mulut ke mulut warga dusun Delima juga tak kalah beragamnya. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa Pak Ade adalah tumbal pesugihannya sendiri. Yah, satu-satunya orang di dusun Delima yang paling tahu tentang kematian suami Bu Nisa tersebut adalah Bu Dewi. Namun, perempuan tersebut tentunya tidak ingin mengungkapkan apa yang diketahuinya kepada siapapun karena ia tidak mau nama Laras dan terlebih lagi Panji akan tercemar nantinya.
Bu Dewi sedih mendengar kabar kematian Pak Ade dari Cintia. Ternyata kedua polisi itu terlambat datang ke desa Curah Putih dan mendapatkan Pak Ade sudah dalam keadaan tewas. Semalaman perempuan itu tidak bisa tidur dengan nyenyak memikirkan hal itu. Pada saat perempuan itu tertidur ia bermimpi bertemu dengan Laras. Laras pamit pergi kepada Bu Dewi dengan mengendarai kuda sambil tersenyum. Sayangnya, suara Pak Herman yang sedang membuka pintu depan membangunkan Bu Dewi dari mimpinya. Bu Dewi berpikir bahwa Laras sudah pamit pergi setelah menuntaskan dendamnya.
Malam pun menggelayut di dusun Delima. Bu Dewi seperti biasa tidur terlebih dahulu tanpa menunggu suaminya pulang dari tempat kerjanya. Rasa capek seharian merawat Panji membuat perempuan itu tidur sangat lelap malam itu. Bahkan ketika suaminya datang, Bu Dewi tidak bangun sama sekali. Bu Dewi baru terbangun sekitar jam tiga malam, itu pun karena ia mendengar suara suaminya sedang mengigau dari ruang tamu. Istri Pak Herman itu pun membuka matanya karena tidak tega mengetahui suaminya tidur di ruang tamu.
Perempuan itu pun melangkah menuju ke arah pintu dan membukanya secara perlahan. Bu Dewi terkejut karena ruang tamu dalam keadaan gelap saat itu. Suaminya memang kadang-kadang tidur di ruang tamu kalau ia tidak terbangun saat suaminya datang, tapi tidak pernah suaminya mematikan lampu saat tidur di ruang tamu. Bu Dewi pun mencari saklar di dinding untuk menyalakan lampu ruang tamu tersebut. Dan perempuan itu terkejut setelah berhasil menyalakan lampu ruang tamu karena ia mendapati suaminya tidur sambil mengigau di kursi dengan hanya mengenakan ****** *****. Padahal saat itu kondisi udara di dusun Delima sangatlah dingin dan menusuk tulang. Bu Dewi saja harus mengenakan jaket dulu sebelum keluar kamar karena saking dinginnya.
BERSAMBUNG
Jangan lupa baca novelku yang lain ya, Kak?
__ADS_1