
"Dik, bangun! Bangun, Dik!" teriak Mas Diki sambil menggoyang-goyangkan badanku.
"Syukurlah, kamu datang, Mas. Tolongin saya!" sahutku.
"Tolongin apa? Kamu hanya mimpi buruk," jawab Mas Diki.
"Beneran barusan itu hanya mimpi, Mas?" tanyaku lagi.
"Iya. Ayo bangun dan bergegas mandi. Sebentar lagi sudah mau magrib. Makanya kalau habis asar itu jangan tidur biar nggak mimpi buruk!" ujar Mas Diki sambil memijati pundakku yang terasa kaku.
"Maunya saya sih hanya tidur-tiduran saja, Mas. Tapi ternyata terbawa sampai tidur beneran," jawabku.
"Ya sudah. buruan, nggih mandi!" tukasnya.
"Iya, Mas," jawabku.
Aku pun bergegas menuju kamar mandi. Mimpi yang terasa nyata itu masih saja membayangi saat aku ke kamar mandi. Selepas salat Magrib aku pun berdoa kepada Allah SWT agar menerima almarhum Bude Yati sebagai hambanya yang salihah.
Selepas salat Magrib sambil menunggu salat Isya, aku mengajak Mas Diki untuk mengobrol.
"Mas, saya kok merasa ada yang janggal dengan kematian Bude Yati, ya?" Aku membuka obrolan.
"Janggal gimana, Dik? Bude Yati kan memang sudah cukup berumur?" Mas Diki membantah omonganku.
"Bukan begitu, Mas. Saya masih tidak habis pikir. Malam harinya Bude Yati masih ke sini sehat wal afiat bareng Bulek Darsih, lah kok dini harinya tiba-tiba meninggal," jawabku menegaskan.
"Umur nggak ada yang pasti, Dik. Yang baru lahir saja kadang meninggal duluan. Mungkin saja Bude kecapekan sehingga tidak menyadari kesehatannya tiba-tiba drop," kilah Mas Diki.
"Mas, tadi itu saya mimpi Bude Yati datang dan meminta tolong pada saya," ujarku kemudian.
"Mimpi itu hanya bunga tidur, Dik. Kamu kecapekan terus lupa berdoa sebelum tidur. Makanya jin datang ke dalam mimpimu menyerupai Bude Yati," jawab Mas Diki.
"Iya, kali ya, Mas. Saya yakin bude sudah tenang di alam sana. Bude itu orangnya baik, pasti disayang oleh Allah," sambungku.
"Aamiiin ...," sahut Mas Diki.
"Mas, gimana kabar penjualan toko hari ink, Mas?" tanyaku sambil merebahkan badanku di bahu kiri Mas Diki yang kokoh.
"Alhamdulillah ... barusan anak-anak WA hasil penjualan seminggu ini. Ada kenaikan omset, Dik," jawab Mas Diki dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu, Mas. Oh, ya, gimana kabar tentang keberangkatan kita ke tanah suci, Mas?" tanyaku sambil melempar senyum kepada Mas Diki.
"Kalau masalah keberangkatannya masih belum tahu, Dik. Yang penting nama kita sudah masuk ke database dulu," jawab Mas Diki.
"Saya sangat kepengen sekali berangkat ke tanah suci, Mas," ujarku.
__ADS_1
"Kepengen jalan-jalan apa kepengen ibadah?" goda Mas Diki.
"Ya, kepengen ibadah lah, Mas. Masa kepengen jalan-jalan?" Aku menjawab dengan sewot.
"Kalau niatnya ibadah harus ikhlas. Kapan pun diberangkatkan sama saja. Nunggu tiba waktunya. Insyaallah semua dicatat oleh Allah SWT sebagai amal ibadah, meskipun kita belum berangkat," jawab Mas Diki.
"Iya, tapi saya kepengen menghajikan orang tua dan keluarga kita, Mas," jawabku.
"Hm ... Gimana kalau untuk orang tua kita menghajikan mereka dengan Haji Badal?" ujar Mas Diki.
"Haji Badal?" Aku bergumam.
"Iya, kita membayar orang untuk menghajikan orang tua kita. Biasanya kita bisa mendaftarkan kepada panitia haji," jawab Mas Diki.
"Wah, ide yang bagus itu, Mas. Biar orang tua kita bisa segera panen pahala," sahutku.
"Oke, kalau begitu nanti saya akan mencarikan infonya ke teman-teman yang sudah pernah melakukannya. Konon bayarnya murah, kok," jawab Mas Diki.
"Iya, Mas. Saya tunggu infonya," sahutku.
"Oh ya, Dik. Bahas hajinya sudah, nih? Gimana kalau kita bahas yang lain?" ujar Mas Diki dengan tatapan aneh.
"Bahas apaan, Mas?" tanyaku curiga.
"Bahas ibadah yang pahalanya tidak kalah dengan pahala ibadah haji," jawab Mas Diki.
Kemudian Mas Diki berbisik di telinga kiriku.
"Ih, Mas Diki nih! Tuh sudah waktunya salat Isya malah bahas gituan. Ntar kalau kedengaran Nur gimana?" protesku.
"Makanya barusan mas bisikin kamu saja. Berarti habis Isya, ya?" goda suami dengan wajah memelas.
"Habis salat Isya, ya, makan malam bareng Nur," jawabku.
"Habis makan malam?" tanya Mas Diki lagi.
"Nonton tivi," jawabku.
"Acaranya jelek-jelek," jawab Mas Diki.
"Kalau acaranya jelek, ya, tidur," godaku.
"Oke, tidurnya bareng, kan?" Ancam Mas Diki.
"Enggak! Mas Diki tidur di ruang tamu saja," godaku.
__ADS_1
"Oke! Tapi, kalau kamu nanti tidur sendirian di kamar, hati-hati kalau ada-," jawab Mas Budi dengan suara sengaja diseram-seramin untuk menakutiku.
"Ih, Mas Diki jahat banget, sih. Ya udah, deh!" jawabku.
"Udah, deh, maksudnya mau?" tanya Mas Diki sambil menatap mataku dengan tersenyum.
Aku pun mengangguk.
"Horeeee!" Mas Diki berteriak kegirangan.
*
Esok harinya kembali aku menutup butik karena hari ini aku akan berada seharian di rumah Bude Yati. Tentunya aku sudah mengabari semua customerku via status WA sebelum berangkat. Mas Diki mengantarku sampai ke rumah Bude Yati sebelum akhirnya ia harus berangkat ke salah satu toko untuk melakukan audit.
Ternyata di rumah Bude Yati sudah ada Bulek Darsih yang datang lebih dahulu daripada aku.
"Loh, kenapa kamu nangis, Mbak Ning?" tanyaku pada kakak sepupuku itu.
"Ini, Dik. Ikbal mau ikut Bulek Darsih katanya," jawab Mbak Ning.
"Lah emangnya kenapa, Mbak Ning kalau Ikbal ikut Bulek Darsih, kan Bulek Darsih ini masih saudara to? Bukan orang lain," protesku.
"Iya. Bilangi itu Mbak Ningmu, Sin ..," tandas Bulek Darsih.
"Maksudnya, Ikbal ini mau meninggalkan rumah ini dan tinggal bersama Bulek Darsih, Dik Sin. Bukan ikut ke mana, gitu," sahut Mbak Ning.
"Ya Allah ... Jangan, Bal. Eh-" Aku keceplosan.
"Emang kenapa, Sin, kalau Ikbal ikut saya? Ikbal itu butuh sosok ibu yang bisa membimbing dia. Kamu tahu sendiri, kan, di sini Ning dan suaminya nggak mungkin ada waktu untuk membimbing Ikbal. Ntar kalau Ikbal malah salah pergaulan gimana?" bantah Bulek.
"Tidak begitu, Bulek. Rumah ini akan sepi kalau nggak ada Ikbal," bantah Mbak Ning.
"Kamu mikirin rumah ini apa masa depan adikmu?" bantah Bulek Darsih.
"Bulek ... Mbak Ning ... Ada baiknya kita nggak usah bahas ini dulu, ya? Kita konsentrasi ke acaranya Bude Yati dulu. Nanti kalau sudah selesai tujuh harinya atau empat puluh harinya, baru kita bahas hal ini." Aku menengahi.
"Oke. Benar katamu, Sin. Tapi, aku akan pastikan Ikbal untuk ikut denganku. Toh, anaknya mau, kok?" ujar Bulek.
"Dia mau ikut Bulek karena Bulek mengiming-iminginya akan membelikan motor," protes Mbak Ning sambil menangis.
"Lah, emang apa salahnya saya membelikan alat transportasi buat dia agar bisa ke sekolah?" bantah bude dengan suara ketus.
Aku membawa Mbak Ning ke kamarnya agar bisa menenangkan diri. Saat aku masuk ke kamarnya, aku seperti merasakan ada sosok lain di dalam kamar itu sebelum lampu dinyalakan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Ditunggu like dan komentarnya, ya, Kak....