
Otakku berpikir keras untuk mengingat-ingat laki-laki pemilik suara itu. Aku yakin pernah mendengar suara itu sebelumnya, tapi kapan dan di mana aku tidak ingat lagi.
"Guru, mempelai wanita yang kita cari-cari sudah berhasil saya tangkap," lapor sosok hitam itu dengan suaranya yang sengaja disamarkan agar tidak diketahui olehku.
"Bagus! Tidak salah aku memilih kamu menjadi murid terbaik. Di atas itu mayat siapa?" tanya guru sosok hitam itu.
"Oh, itu suami dari mempelai wanita ini," jawab sosok hitam.
Dadaku bagai dihantam gada begitu mendengar laki-laki itu menyebut kata 'mayat' terhadap suamiku. Rupanya pukulan benda keras di kepala belakang Mas Diki itu sangat keras sehingga membuat suamiku harus kehilangan nyawanya.
"Maafkan aku, Mas Diki karena tidak bisa menyelamatkanmu. Kamu adalah suami terbaik yang pernah aku miliki. Semoga surga menjadi tempat peristirahatanmu, Mas ...,"
Aku menangis tersedu-sedu di atas altar yang terbuat dari batu. Pikiranku melayang tanpa arah dan tujuan. Yangbaku pikirkan adalah jenazah Mas Diki dan keadaan Nur serta Mbak Ning.
"Kamu sudah siap menjadi mempelai laki-lakinya, muridku?" tanya sang guru.
"Siap, Guru!" jawab sosok hitam.
"Kamu sudah tahu konsekuensinya, kan?" tanya sang guru.
"Iya, Guru," jawab sosok hitam.
"Anak kalian akan ditumbalkan sebagai tebusan dari kekayaan yang akan kita nikmati bersama," ujar sang guru lagi.
Sosok hitam diam sesaat, kemudian ia pun berkata 'Iya'.
"Ya Tuhan, siapa sebenarnya orang-orang yang sedang aku hadapi ini? Ritual apa yang sedang mereka lakukan? Perbuatan mereka sungguh di luar nalar orang normal. Sudah berapa banyak orang yang tidak bersalah yang menjadi korban kebiadaban mereka? Kenapa aku dan keluargaku yang harus dijadikan tumbal pesugihan mereka?" Aku berkata pada diri sendiri.
"Tidaaaaaaak!!! Saya tidak mau menjadi bagian dari kalian. Bunuh saja saya!" teriakku dengan keras.
__ADS_1
Mereka berdua menghentikan pembicaraannya.
"Kenapa perempuan itu masih meronta-ronta, Muridku?" tanya sang guru.
"Mohon maaf, Guru. Calon istri saya ini memang agak sedikit susah dikendalikan, tapi setelah ritual saya yakin ia pasti akan menjadi istri yang penurut," jawab sosok hitam.
Mereka berdua melangkah ke arah ruangan tempat aku disekap. Dan kali ini aku dapat melihat dengan jelas siapa orang yang dipanggil guru oleh sosok hitam itu.
"Saat aku memberinya obat tidur, apa kamu masih bisa menjaga pantangan untuk tidak menodainya sebelum ritual?" ucap laki-laki yang kali ini menatap lekat wajahku.
"Pak Seno!!!" pekikku terkejut setelah mengetahui identitas orang yang dipanggil guru oleh sosok hitam itu.
"Meskipun aku sangat ingin menodainya saat itu, tapi aku ingat bahwa itu akan membuat semua rencana kita gagal, maka aku susah payah untuk tidak melakukannya, Guru. Aku hanya memberinya ramuan dan jampi-jampi agar hubungan wanita ini dengan suaminya menjadi tidak harmonis," jawab sosok hitam sambil melepas topeng yang sedang ia kenakan.
"Pak RT?"" pekikku dengan sangat terkejut.
"Iya, Dik Sinta ... Ini aku laki-laki yang pernah engkau campakkan. Tapi, sebentar lagi aku akan bisa memilikimu selamanya," jawab Pak RT dengan suara jumawah.
"Apa? Suami? Suamimu sudah menjadi mayat sekarang! Sudah tidak ada lagi penghalang di antara kita!" jawab Pak RT dengan suara keras.
"Benar, Sinta. Setelah ritual nanti kamu akan menjadi wanita yang lebih kaya dan terhormat. Kamu tidak perlu bersusah payah lagi untuk bekerja. Kamu tinggal menikmati hidup yang penuh kemudahan. Dan yang pasti kamu juga akan menjadi muridku," ujar Pak Seno dengan penuh kegilaan.
"Cuih!!!! Kalian ini sudah gila rupanya!" ucapnya sambil berusaha meludah ke arah mereka berdua.
Aku tidak dapat mengendalikan emosiku saat itu. Aku benar-benar marah dengan mereka. Gara-Gara mereka berdua anggota keluargaku banyak yang mati.
"Dasar wanita bodoh! Kamu tahu aku siapa? Aku ini calon gurumu. Orang yang juga berhak tidur denganmu selain suamimu! Kalau saja kamu bukan keturunan Nyi Kembang pasti sudah kubunuh kamu sekarang!" bentak Pak Seno dengan wajah penuh amarah kepadaku.
Aku bergidik ngeri mendengar ucapan Pak Seno yang sedikit banyak mengutarakan aturan yang ada dalam sekte sesatnya.
__ADS_1
"Saya yakin akan ada keluargaku yang akan datang ke sini untuk menolongku. Kalian semua akan mendekam lama di penjara!" teriakku pada mereka.
"Keluarga? Hah, apa aku tidak salah dengar! Siapa? Anakmu yang masih ingusan itu? Paling-Paling dia sudah mati ketakutan diserang oleh hantunya Agung kirimanku! Jangan mimpi kamu! Andai pun ia selamat, ia tidak akan tahu keberadaanmu di sini! Dan perlu kamu tahu, pada akhirnya anak itu juga akan mengalami hal yang sama denganmu. Menjadi tumbal lelanang bagi pengikut padepokan kami. Atau jangan-jangan kamu sedang menunggu pertolongan keluargamu yang lain? Muridku, apa perempuan ini sudah menonton rekaman CCTV-nya?" teriak Pak Seno dengan keras.
"Sepertinya belum, Guru. Karena ia sama sekali tidak menunjukkan gelagat mencurigakan," jawab Pak RT.
"Ha ha ha .... Dasar perempuan bodoh! Seandainya kamu menonton video itu lebih awal, pastinya kamu tidak akan terperangkap di sini. Itu artinya kamu memang sudah saatnya menjadi salah satu anggota kami," teriak Pak Seno dengan girangnya.
Aku benar-benar sedih saat mendengar bahwa anakku akan mati oleh arwah Pak Agung. Aku berharap keajaiban terjadi untuk anakku dan Mbak Ning. Semoga ada keajaiban juga untukku agar aku bisa selamat dari cengkraman dua begundal ini.
Perihal CCTV itu. Aku memang belum sempat melihatnya. Aku penasaran ada fakta apa di dalam video rekaman CCTV itu.
"Apakah hal ini ada hubungannya dengan salah satu keluargaku? Apakah ada anggota keluargaku yang menjadi pengikut mereka? Siapa? Ya Tuhan! Jangan-Jangan Bulek Darsih. Bukankah ia mengalami peningkatan kekayaan yang tidak masuk akal? Bukankah ada guru di sekolah Bulek Darsih yang meninggal secara tidak wajar? Bukankah sehari sebelum meninggal, Bude Yati jalan-jalan bersama Bulek Darsih? Bukankah Bulek Darsih orang yang menolongku saat aku tertidur di mobil Pak RT? Apa benar Bulek Darsih pelakunya? Begitu teganya kamu, Bulek. Demi harta kamu rela menumbalkan satu persatu keluargamu?" Aku bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Muridku, segera persiapkan dirimu! Sebentar lagi kita akan melakukan ritualnya," ucap Pak Seno.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu kakak guru?" tanya Pak RT.
"Hm ... Iya benar. Dia harus menyaksikan ini. Bukankah dia juga yang sejak lama ingin menikahkan kalian berdua!" ujar Pak Seno.
"Iya, Guru," jawab Pak RT sambil menunduk sebagai tanda hormat.
"Siapakah orang yang dimaksudkan oleh mereka berdua?" tanyaku di dalam hati.
BERSAMBUNG
Terima kasih atas kesetiaannya membaca novel ini. Jangan lupa novel horor kami yang lain.
KAMPUNG HANTU
__ADS_1
SEKOLAH HANTU
Novel cetak KAMPUNG HANTU seharga 75 ribu dapat anda miliki (bonus pouch dan ganci KH) dengan menghubungi nomor 085236533388