MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 29 : TERPAKSA


__ADS_3

Aku memicingkan mata untuk memusatkan penglihatan pada kaca mobil di depanku.


"P-a-k R-T?" pekikku tidak percaya.


Aku cukup terkejut dengan kehadiran pria di depanku ini. Sungguh aku tidak menduga kalau mobil ini adalah milik pria itu. Setahuku, mobil yang ada di rumahnya berbeda merek dengan yang ini. Ternyata orang ini tepat waktu juga. Bahkan mungkin ia sudah datang beberapa menit sebelumnya di tempat yang sudah kita sepakati.


'Duh, mana Mbak Srintil belum datang, nih!'


"Dik Sinta datang sendirian? Mana suami Dik Sinta?" tanya Pak RT sambil turun dari mobilnya yang tergolong mewah itu.


Aku yang masih syok dengan kemunculan tiba-tiba pria ini pun menjadi salah tingkah.


"E .... Anu, Pak ... Eh, suami saya tiba-tiba ada urusan mendadak," jawabku terbata-bata.


Pria yang saat ini sedang memakai kemeja lengan pendek dan celana bahan berwarna senada itu pun berjalan menuju ke arahku. Wangi parfum mahalnya tercium dari jarak beberapa meter di depannya.


"Lantas apakah kita akan pergi berdua saja?" tanyanya saat sudah tepat berada di depanku.


Jujur saja pertanyaannya sepertinya memang terkesan menjengkelkan, tapi saat itu tidak nampak aura ganjen dalam pertanyaannya. Ia melontarkannya dengan nada serius.


"Tentu tidak, Pak. Saya sudah menghubungi seseorang untuk ikut bersama dengan kita," jawabku berusaha tenang.


"Seseorang?" tanyanya dengan penasaran.


Alisnya yang tebal nampak berkerut ketika ia mengutarakan hal itu.


Baru kali ini aku berkomunikasi dengan jarak cukup dekat dengan Pak RT tentunya setelah sekian lama kita berdua dipisahkan oleh waktu dan perjalanan hidup masing-masing. Sekelebat bayangan masa lalu kembali hadir di pikiranku saat aku dan Pak RT ini masih sama-sama remaja. Iya, sebenarnya Pak RT ini sosok orang yang baik. Dan ia juga banyak dikejar-kejar oleh para gadis baik di sekolahnya maupun di sekitar tempat tinggalnya. Konon, kata Mbak Ning Pak RT ini agak terlambat menikah karena masih mengharapkan aku.


'Duh, kenapa aku jadi terpikir hal bodoh itu, ya?'


Aku buru-buru menghilangkan pikiran aneh itu. Aku tidak ingin larut dalam perasaan yang tidak patut untuk aku ungkit-ungkit lagi. Bukankah Pak RT sudah punya keluarga sendiri? Dan aku juga sudah punya suami yang jauh lebih sempurna dari Pak RT. Pertemuanku dengan Pak RT bukanlah untuk menghancurkan kebahagiaan kita masing-masing, tetapi karena ada hal penting yang harus aku lakukan demi mengungkap keganjilan di rumah Mbak Ning.


"Iya, Pak RT. Aku sudah minta tolong Mbak Srintil untuk menemani kita," jawabku dengan nada datar.


"Srintil? Oh, tidak!" pekik pria tampan itu tiba-tiba.


Ia memegangi kepalanya sambil merutuk dirinya sendiri.


"Kenapa, Pak? Nggak masalah, kan, saya mengajak Mbak Srintil?" tanyaku penasaran melihat aksinya yang membuatku kebingungan.

__ADS_1


"Tadi itu Srintil datang ke rumah dengan bingung. Sepertinya ia sudah ke sana ke mari meminta bantuan, tapi tidak berhasil. Ia tadi meminta tolong kepada saya untuk mengantarnya ke suatu tempat. Karena saya merasa ada janji dengan Dik Sinta otomatis saya menolak untuk membantu Srintil. Bodohnya, saya tadi tidak menanyakan kepada Srintil, ia mau pergi ke mana. Saya tadi juga keburu-buru, sih, takut terlambat," jawab Pak RT dengan ekspresi menyesal.


"Duh, kok bisa begitu, sih? Tapi, kok Mbak Srintil tidak menghubungi saya, ya, kalau ia tidak mendapat tumpangan?" gerutuku kebingungan.


"Coba kamu hubungi dia. Barangkali ia sedang di jalan dan sedang perjalanan ke sini," perintah Pak RT.


Aku bergegas melakukan panggilan telepon kepada Mbak Srintil melalui gawaiku. Tapi, nomor Mbak Srintil berada di luar jangkauan.


"Duh, nomornya tidak aktif, Pak. Tadi Mbak Srintil memang bilang kalau batrai Ponselnya drop," jawabku agak kesal.


"Mungkin dia sedang di jalan," ujar Pak RT.


"Bisa jadi. Tapi, bagaimana kalau Ponsel Mbak Srintil eror karena batrainya terlalu drop?" ujarku.


"Coba kamu telpon Mbak Ningmu untuk menanyakan Mbak Srintil," ujar Pak RT.


"Baiklah," jawabku.


Aku pun langsung menghubungi nomor Mbak Ning dan langsung terhubung.


"Mbak, sampean nggak lihat Mbak Srintil? Dia janji mau ikut saya," tanyaku.


"Oke, Mbak. Terima kasih," jawabku.


Setelah aku menutup telepon, Pak RT bertanya lagi.


"Gimana, Dik Sinta?"


"Mungkin Mbak Srintil sudah di jalan, Pak. Kita tunggu saja," jawabku.


"Baiklah kalau begitu. Boleh saya duduk di sebelah sini?" tanya Pak RT dengan sopan.


"Pak RT nunggu di dalam mobil saja, biar saya yang menunggu di sini," jawabku.


"Gimana kalau Dik Sinta saja yang menunggu di dalam mobil? Saya menunggu di sini?" balas Pak RT.


"Tidak, Pak. Saya menunggu di sini saja," jawabku.


"Ya sudah. Kita sama-sama menunggu di sini saja," jawab Pak RT.

__ADS_1


Pak RT pun duduk di sebelahku dengan jarak yang cukup jauh. Jujur, agak risih juga kalau harus duduk dekat-dekat dengan Pak RT. Selama beberapa menit kami hanya duduk terdiam sambil menunggu dengan gelisah. Sebenarnya aku tidak sungkan berbicara dengan Pak RT, tapi aku hanya tidak ingin terlalu akrab dengan pria itu.


Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, barulah Pak RT menyapaku.


"Dik Sin, kok Srintil belum datang-datang, ya?" tanya Pak RT.


"Iya, Pak. Coba saya hubungi lagi," jawabku sambil melakukan panggilan kembali ke nomor Mbak Srintil.


"Gimana, Dik?" tanya Pak RT kemudian.


"Masih sama dengan tadi, Pak," jawabku lesu.


"Dik ... apa sebaiknya kita urungkan saja keberangkatan kita?" tanya Pak RT tiba-tiba.


"Loh, kenapa, Pak? Apa Pak RT ada acara lain? Kalau memang begitu, ya, nggak apa-apa, sih," jawabku.


"Bukan begitu, Dik Sin. Saya takutnya Pak Seno keburu pergi dari rumahnya kalau kita terlalu siang ke sana. Pak Seno itu orang sibuk, Dik Sin," jawabnya.


"Duh, gimana, ya, Pak?" Aku menyuarakan kebingunganku.


"Sedangkan kalau kita hanya pergi berdua, saya nggak enak dengan Dik Sinta dan juga suami Dik Sinta." Akhirnya keluar juga kalimat yang juga ada di pikiranku.


Mendengar ucapan Pak RT yang penuh ketulusan itu, aku jadi berpikir ulang untuk menggagalkan rencana ini. Bukankah orang yang mengatakan dengan jujur rasa tidak enaknya berarti ada ketulusan di sana dan itu artinya tidak akan terjadi apa-apa kalau aku dan Pak RT pergi berdua ke rumah Pak Seno.


'Ayo, Sin, cepat putuskan? Bukankah ini siang hari? Aman, kok, meskipun kamu harus pergi berdua dengan Pak RT,' suara dari hatiku.


Aku menarik napas dalam-dalam kemudian berkata.


"Pak, gimana kalau kita tetap berangkat ke rumah Pak Seno?" ucapku.


"Maksudmu, kita berangkat berdua?" tanyanya.


Aku mengangguk perlahan.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Pak RT.


"Kita tidak punya pilihan lain, Pak. Saya butuh sekali dengan isi rekaman CCTV itu," jawabku.


"Baiklah, kalau begitu, Dik Sin. Ayo, kita segera berangkat supaya bisa bertemu dengan Pak Seno," jawab Pak RT sambil membukakan pintu mobilnya untukku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2