MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 46 : BAHAYA


__ADS_3

Mas Diki geram mendengar perkataan Pak Handoyo. Ia pun segera menyerang Pak Handoyo.


"Hiaaaaaaaaat!!!" Pukulan Mas Diki gagal mendarat di wajah Pak Handoyo. Ternyata pria tambun itu juga memiliki ilmu bela diri sama seperti suamiku. Mereka berdua terlihat bertarung dengan sengit sekali. Beberapa kali Mas Diki berada di bawah tubuh Pak Handoyo, namun beberapa detik kemudian, Mas Diki berhasil membalikkan keadaan sehingga Pak Handoyo berada di bawah tubuh kekar Mas Diki. Tubuh mereka berdua terlihat berguling-guling di atas rerumputan.


"Clara, cepat buka ikatan pada tangan anakmu! Saya akan membuka ikatan pada tangan Nur!" teriakku pada Clara yang tampak kebingungan.


"Iya, Mbak!" jawab Clara sambil berusaha melepaskan ikatan pada tangan anaknya.


Kami berempat masih berayun-ayun di atas sungai tersebut. Ngeri sekali kalau melihat ke bawah, terutama ketika giliran aku dan Nur yang bergerak ke bawah. Buaya itu melompat ke atas, seakan akan melahap tubuh kami bulat-bulat. Untunglah kotak kami segera berbalik ke atas.


Dengan menggunakab pisau kecil yang kubawa, akhirnya aku bisa membuka ikatan pada tali Nur. Nur sesenggukan menangis dna berusahan memelukku.


"Stop, Nur! Kalau kamu berpindah ke sini, maka Clara dan Riki akan terjun bebas ke bawah," teriakku.


"Iya, Bu. Maaf. Saya takut," jawab Nur.


"Iya, tidak apa-apa. Kita harus bergerak bersama-sama supaya kita berempat bisa selamat. Pengunci papan audah dibuang oleh Pak Handoyo, otomatis tidak ada cara lain selain bergerak secara kompak," ucapku.


"Iya, Bu," jawab Nur. Sementara Clara masih sibuk dengan aktifitasnya melepas ikatan pada kedua tangan Riki.


"Clara, bagaimana?" tanyaku pada perempuan muda itu.


"Hampir, Mbak. Agak susah dibukanya," jawab Clara.


"Gunakan pisau ini, Clara!" teriakku.


"Tolong lemparkan pisaunya, Mbak!" teriak Clara.


"Konsentrasi, ya!" teriakku lagi.


"Siap, Mbak," jawab Clara.


Aku pun melempar pisau kecilku ke arah Clara. Nahasnya saat aku melempar pisau tersebut, tiba-tiba kotak Riki turun ke bawah, sehingga Clara kehilangan keseimbangan. Pisau yang kami lempar sepertinya tidak dapat ditangkap oleh Clara. Di bawah sana, buaya putih itu berusaha menerkam mereka berdua, tapi untunglah kotak mereka kembali naik ke atas.


"Gimana, Clara? Apakah pisaunya bis akamu tangkap?" tanyaku penasaran.


Clara menarik napas dalam-dalam.


"Syukurlah, Mbak. Pisaunya berhasil kutangkap, meskipun tadi saya hamoir terjatuh," jawab Clara.


"Alhamdulillah. Ayo cepat putuskan tali ikatan di tangan anakmu. Setelah itu, ayo kita bergerak bersama-sama keluar dari alat sialan ini!" teriakku.

__ADS_1


"Iya, Mbak!" jawab istri mudanya Pak Handoyo itu.


Akhirnya Clara berhasil melepas ikatan tali di tangan Riki. Riki tampak menangis. Clara berusaha menenangkan Riki untuk tidak panik dan tidak gegabah melangkah.


"Clara, tolong lemparkan pisau itu kembali!" ucapku oada Clara.


"Oke, Mbak!" jawab Clara.


Kemudian perempuan cantik itu melemparkan pisaunya ke arahku. Sayangnya, kotak kami terjun ke bawah dan pisau kecil itu gagal kutangkap. Ia jatuh ke bawah.


"Adih, maaf, Mbak. Saya tidak pandai melempar," teriak Clara.


"Tidak apa-apa, Clara. Ayo sekarang saatnya kita bergerak bersama. Kita harus kompak supaya semuanya selamat," teriakku.


"Oke, Mbak," jawab Clara bergetar.


"Anak-Abak semuanya. Kita akan bergerak ke pinggir. Tapi kita harus bergerak bersama supaya tidak mengganggu keseimbangan. Ingat, tetap jaga keseimbangan karena tidak ada pegangan sama sekali," ucapku.


"Siap, Bu" jawab Nur.


"Siap, Mbak" jawab Clara.


"Siap, Bude" jawab Riki.


Kami berempat melangkah secara bersama-sama, sehingga posisi kotak tetap seimbang. Tapi kami merasa semakin ketakutan karena harus benar-benar menjaga keseimbangan, terutama ketika papan kami sedang bergerak ke bawah.


"Rentangkan tangan, supaya seimbang!" ucapku pada mereka bertiga.


Kami pun merentangkan tangan untuk mencapai keseimbangan supaya tidak terjatuh ke bawah.


"Duaaaaaaa ...," teriakku sambik melangkah satu langkah lagi ke pinggir sungai.


Mereka bertiga mengikutiku untuk bergerak. Perasaan takut semakin terasa ketika kami semakin jauh dari kotak, karena posisi kami semakin terbuka. Buaya putih di bawah semakin bringas melihat kami.


"Tigaaaaaaaa!!!" teriakku diikuti oleh mereka. Akhirnya posisi kami sudah semakin dekat dengan bantaran sungai. Namun tiba-tiba.


GLODAAAAAK!!!


Tubuh kami tersentak ke bawah secara bersamaan. Hampir saja Nur dan Riki jatuh ke bawah karena terkejut. Untunglah Aku dan Clara dengan sigap menahan tangannya sehingga mereka berdua menemukan keseimbangannya kembali. Kami berempat masing-masing berdiri oada papan yang berbeda, tapi kami dan kedua anak kami maaih bisa berpegangan tangan.


"Kenapa papan ini merosot ke bawah, Mbak?" tanya Clara kebingungan.

__ADS_1


"Entahlah, Clara, saya juga bingung," jawabku.


"Tidak usah kaget, Cewek-Cewek Cantik. Papan itu akan bergerak ke bawah secara otomatis setiap sepuluh ayunan. Saya sengaja membuatnya seperti itu.Saya sudah mempersiapkab semua ini. Jadi, apa pun yang kalian lakukan untuk menyelamatkan diri, akan percuma saja. Justeru kalian semua akan mati disantap oleh buaya putih itu. Ha ha ha ha ha ...," teriak Pak Handoyo saat posisinya agak jauh dari Mas Diki. Mereka berdua masih berduel dengan sengitnya. Wajah keduanya sama-sama bonyok oleh pukulan keras lawan masing-masing.


"Hati-Hati, Dik" teriak Mas Diki dari kejauhan.


"Ayo, kita lanjutkan langkahnya. Empaaaat!!!" teriakku kembali.


Kami pun kembali melangkah bersama-sama.


"Aaaaaaaaaaa!!!" teriak kami ketika tubuh kami mengayun ke bawah karena mulut buaya itu semakin dekat dengan kaki kami.


"Limaaaaaaaa!!!!" teriakku lagi memberi aba-aba.


Kami sudah semakin dekat dengan pinggiran sungai. Aku melihat Nur dan Riki sudah sangat syok. Aku pun berteriak kepada Clara.


"Clara, anak-anak sepertinya sudah sangat kelelahan, Clara!" teriakku.


"Iya, Mbak. Apa yang harus kita lakukan. Apa kita suruh anak-abak melangkah dulu secara bersama-sana. Biar kita berdua dulu yang tetap di papan?" teriak Clara.


"Maksudku memang begitu ,Clara. Tapi kita berdua harus bertukar posisi dengan anak-anak. Karena papan utamanya adalah yang ditempati anak-anak. Kalau oapan tersebut dikosongkan, maka kita berdua akan terjatuh ke bawah," jawabku.


"Ooo begitu, Mbak. Baiklah, ayo anak-anak kita bersiap bertukar tempat," teriak Clara.


Nur dan Riki tampak lemas sekali. Aku pun segera menghitung kembali.


"Kita akan bertukar tempat oada hitungan ketiga dari sekarang. Satuuuuu ... duaaaaaa ... tigaaaaa," teriakku.


KRIIIEEEEEET ...


Kami berempat berhasil bertukar tempat dengan penuh adegan yang menantang karena papan sempat oleng sebentar. Untunglah papan kembali stabil eeperti sedia kala. Buaya di bawah semakin beringas saja menunggu santapannya.


"Ayo, anak-anak. Ibu akan menghitung langkah kalian untuk sampai ke pinggir. Setelah sampai di pinggir, segera lari menjauhi pertarungan itu. Pahaaaam?" teriakku.


"Pahaaaaam," jawab mereka lemas.


"Satuuuuuuu duaaaaaaaaa tigaaaaaaa ...,"


Akhirnya kedua anak itu berhasil mencapai bibir papan. Mereka pun melompat ke pinggir dan berlari ke semak-semak, menyisakan aku dan Clara yang berayun-ayun dengan semakin seram.


GUBRAK!

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2