MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 122 : SENDIRI


__ADS_3

Cintia bangun pagi-pagi sekali karena ia sengaja menyetel alarm agar tidak ketinggalan salat Subuh. Ia biasa menyetel alarm di Ponselnya kalau sehari sebelumnya ia sibuk. Ia memang biasa melakukan hal itu karena dulu ia pernah kesiangan setelah sehari sebelumnya ia sibuk menangani kasus sehingga lembur sampa malam hari. Tapi, jika ia sedang cuti atau libur bekerja maka ia tidak perlu memasang alarm karena dijamin ia pasti bisa bangun pagi-pagi sekali.


Tidak seperti hari-hari sebelumnya, Cintia pagi itu masih merasa was-was. Terlebih setelah semalam ia bertemu dengan perempuan misterius yang kedatangannya menyisakan banyak pertanyaan pada diri polisi wanita itu. Bahkan ia harus berbeda pendapat denganrekan kerjanya Herman atas kemunculan perempuan misterius itu. Menurut Herman itu manusia biasa atau sahabat dari Nona Larasati yang ingin membantu polisi menangani kasus tersebut, sedangkan menurut Cintia perempuan misterius semalam adalah arwah Nona Larasati. Yang lebih meyakinkan hati Cintia adalah ketika ia tanpa sengaja melihat sosok perempuan itu mengikuti Herman pulang.


“Hi … kok  pagi-pagi aku sudah setakut ini? Duh, mana di rumah aku lagi sendirian,” omel Cintia pada dirinya sendiri.


“Gimana aku harus berangkat ke kamar mandi untuk berwudu kalau aku takut begini?” gerutu Cintia sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Perempuan muda itu masih teringat dengan perempuan cantik misterius semalam. Memang sih wajah perempuan itu tidaklah menyeramkan, tapi cara datang dan perginya itu yang membuat Cintia merasa seram.


Pada saat Cintia merasa ragu untuk pergi ke kamar mandi, tiba-tiba terdengar suara azan Subuh.


“Alhamdulillah … terdengar azan Subuh. Saatnya aku pergi ke kamar mandi sekarang. Kala sudah subuh begini, tidak ada lagi setan yang berani muncul di permukaan bumi. He he he …,” ucap Cintia pada dirinya sendiri.


Cintia pun berangkat menuju kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk menunaikan salat Subuh. Cintia pun merasa lebih tenang setelah menunaikan salat Subuh. Tidak ada lagi perasaan takut terhadap kemunculan perempuan misterius itu lagi.  Perempuan muda itu pun baru mengambil Ponselnya untuk mengecek pesan masuk.


“Hm … ternyata Herman mengirim pesan. Dia mengajakku pergi ke rumah Bu Dewi lagi untuk menanyakan perihal budenya Nona Larasati dan juga untuk mengecek CCTV di warung di dekat dusun Delima. Hm, aku balas oke saja dong!” ucap Cintia pada dirinya sendiri sambil mengirim pesan kepada Herman.


“Jam berapa?” Herman membalas.


“Jam delapan, ya?” balas Cintia.


“Okeeeeee!! Emput di rumah, ya!” balas Cintia.


“Jangan bilang kamu mau tidur lagi habis ini!” balas Herman.


“Sudah tahu nanya!” balas Cintia.


“Nggak baik tidur sesudah sholat Subuh, loh!” balas Herman lagi.

__ADS_1


“Daripada ngeghibah, kan?” balas Cintia tidak mau kalah.


“Dasar!” balas Herman dengan kesal.


Cintia pun membalas dengan mengirim gamabr smiley orang tersenyum. Setelah itu gadis muda itu pun melanjutkan tidurnya kembali dengan tenang karena ia yakin nanti kalau ia terlambat bangun, ada Herman yang akan membunyikan klakson keras-keras dari arah jalan.


Sementara itu Herman yang sejak semalam memikirkan tentang perempuan yang ia temui bersama Cintia pun mulai merasa bingung kenapa ia juga melihat perempuan itu kembali muncul di Angkot yang dinaiki oleh Cintia.


“Tapi, kenapa ketika aku samperin kok perempuan itu mendadak lenyap, ya? Ah apa benar perempuan tadi malam yang menyerahkan potongan buku harian kepada Cintia itu adalah hantu sesuai ucapan Cintia? Tidak mungkin rasanya. Wujudnya terlalu nyata dan aku bisa menyentuh tangannya. Masa hantu bisa disentuh seperti itu? Pasti itu adalah orang yang memiliki kedekatan dengan Nona Larasati, ” tanya Herman pada dirinya sendiri.


Setelah menunaikan salat Subuh di mesjid dekat rumahnya, Herman pun melanjutkan dengan olah raga dan dilanjutkan dengan bersih-bersih rumahnya dan kemudian pada pukul enam lewat tiga puluh menit, pria tersebut berangkat mandi. Dia memang terkenal sangat disiplin sejak kecil. Setelah mandi, Herman pun menghangatkan mesin mobilnya sambil menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan oleh ibunya.


“Duh, kok kayaknya kamu senang sekali akhir-akhir ini, Herman?” tanya ibunya ketika Herman sudah selesai menyantap tiga potong roti dicampur selai.


“Apaan sih, Mi? Biasa saja kok,” jawab Herman datar karena ia sudah tahu arah pembicaraan ibunya yang biasa ia panggil Umi tersebut.


“Coba umi tebak pasti kamu bareng sama Cintia terus, ya?” goda ibunya Herman.


“Her … Usiamu itu nggak mungkin berkurang loh, ya? Kapan nih kamu memberanikan diri melamar Cintia. Umi senang banget loh kalau kamu berjodoh sama Cintia. Dia itu orangnya baik  dan berasal dai keluarga yang juga baik,” jawab ibunya.


“Herman belum siap, Bu,” jawab Herman jujur.


“Kenapa belum siap, Her? Kamu takut ditolak sama Cintia? Kalau begitu biar umi yang ngomong sama Cintia. Umi yakin Cintia tidak akan menolak. Kamu jangan lengah, Her. Cintia itu cantik dan pasti banyak yang suka. Kalau kamu terlambat, dia bisa dilamar oleh orang lain nanti kamu akan kecewa,” jawab ibunya lagi.


“Bukan begitu, Mi. Cintia itu belum siap kalau menikah sekarang. Dia masih ada target yang lain,” jawab Herman.


“Semua cewek pasti ngomong begitu, Her. Itu hanya menguji seberapa kuat kamu menunjukkan rasa cintamu pada dia. Pokoknya umi nggak mau tahu, umi akan ngomong segera ke anak itu. Nunggu kamu kelamaan banget. Umi ini sudah merindukan untuk bisa menggendong cucu, Her,” jawab ibunya lagi dengan geregetan.


“Ih, nikah saja belum, Umi sudah nuntut punya cucu? Bagaimana kalau salah satu dari kita ntar mandul?” protes Herman.

__ADS_1


“Hus! Jangan ngomong sembarangan kamu, Her! Omongan itu doa. Ngomong yang baik-baik saja. Kamu nggak usah protes. Sudah sewajarnya umi itu menginginkan kehadiran cucu dari anaknya,” jawab ibunya lagi.


“Iya, Mi. Tapi kan nggak semua pasagan suami isteri itu diberi momongan oleh Tuhan. Ada yang menikah belasan tahun tidak kunjung diberi momongan,” protes Herman.


“Iya, kalau itu sudah takdir namanya, Her. Harus diterima dengan ikhlas. Punya anak yang nyebelin kayak kamu ini juga sudah takdir bagi umi,” gerutu ibunya Herman.


“Ih, Umi kok malah marah? Maafin Herman ya, Mi. Herman tidak bermaksud begitu sama Umi. Tapi, Herman hanya minta waktu saja kepada Umi,” rayu Herman sambil merangkul ibunya.


“Satu hari?” ucap ibunya.


Herman menggelengkan kepalanya tanda penolakan.


“Satu minggu?” tanya ibunya lagi.


Lagi-Lagi Herman menggeleng.


“Satu bulan?” tanya ibunya lagi.


Herman terdiam  dan selanjutnya ia pun mengangguk. Tentu saja ibunya senang mendengarnya.


“Tapi, bukan menika loh, Mi? Hanya melamar saja?” protes Herman.


Ibunya Herman pun menyungging senyum. Sebagai wujud rasa kebahagiaannya, ibunya Herman pun menyuapi Herman dengan pisang yang ada di piring buah.


“Sudah, Mi! Herman sudah kenyang tadi habis tiga potong roti!” protes Herman.


“Anak cowok kok makannya sedikit. Ayo makan yang banyak!” ucap ibunya Herman.


Herman pun tak kuasa menolak keinginan uminya tersebut.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Ayo, buruan ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU sebelum waktunya habis.


__ADS_2