
Aku membaca gelagat mencurigakan dari Pak Dimas.
“Itu apa, Pak?” tanyaku dengan polosnya.
“Katanya kamu mau tahu barang apa yang aku antar ke orang itu. Begini, Laras … Pak Ade itu adalah orang yang telah banyak berjasa dalam hidupku. Jadi, sepantasnya aku harus bisa membalas jasanya juga. Jadi, aku bekerja kepada Pak Ade agar dapat melancarkan usaha Pak Ade.” Jawab Pak Dimas.
“Maksud Pak Dimas apa? Saya tidak paham,” jawabku mulai bingung dan takut.
“Oh, kamu belum paham, toh? Begini Laras yang cantik. Setahu kamu, Pak Ade dan aku ini orang yang baik, kan?” ujar Pak Dimas.
“I-iya, Pak,” jawabku polos.
“Kami memang orang baik, Laras. Kami ini hanya orang yang tidak ingin kalah. Jadi, kalau ada CV lain yang akan mengalahkan CV kami. Kami harus melakukan segala cara untuk dapat mengalahkannya. Yah, akulah yang ditugaskan oleh Pak Ade untuk mengatasi CV-CV yang mau mengalahkan CV Pak Ade. Yah, aku pakai barang di dalam kardus itu untuk mengalahkan mereka,” jawab Pak Dimas dengan tenang.
“Apa barang yang berada di dalam kardus itu, Pak?” Akhirnya aku melontarkan pertanyaan itu.
__ADS_1
“Nah, itu pertanyaan cerdas, Laras. Seharusnya sejak tadi kamu menanyakan hal itu kepadaku. Kenapa kamu baru sekarang menanyakannya?” ujar Pak Dimas.
“Iya, Pak.Saya ingin tahu benda apa yang ada di dalam kardus yang Pak Dmas berikan pada orang itu,” jawabku lagi.
“Kamu yakin ingin tahu hal itu, Laras?” tanya Pak Dimas.
“I-iya, Pak, jawabku polos.
“ke, baiklah. Karena kamu menanyakan hal itu berarti kamu sudah harus siap dengan konsekuensinya,” jawab Pak Dimas.
“Konsekuensi apa, Pak? Kalau itu memang rahasia usaha kalian berdua, Pak Dimas tidak perlu menceritakannya kepadaku,” protesku.
“Tidaaak!!! Apa yang akan Pak Dimas lakukan? Toloooooon!!!!” Aku meronta dan berteriak.
Pecuma saja aku berteriak dan meronta karena Pak Dimas telah membungkam mulut dan hidungku dengan menggunakan sapu tangan yang sebelumnya ia tuangkan cairan ke dalamnya. Bau cairan kimia itu sangat menyengat di hidungku dan anehnya aku yang awalnya meronta secara perlahan tenagaku melemah dan aku kehilangan kesadaran diriku. Namun, aku masih dapat mendengar Pak Dimas berbisik di telingaku sambil menyumpal hidungku.
__ADS_1
“Aku menjebak saingan Pak Ade dengan menggunakan Narkoba. Dan aku juga yang menghubungi pihak kepolisian untuk memberitahukan tentang kepemilikan Narkoba itu. Sehingga saingan Pak Ade pun ditangkap atas kepemilikan Narkoba itu. He he he … Kamu baru tahu itu sekarang, kan? Kamu tidak menyangka aku dan Pak Ade sejahat itu, kan? Gimana, kamu kaget? Nggak usah kaget, Laras. Kehidupan memang seperti itu. Orang baik dan jahat itu susah untuk dibedakan. Apa? Kamu mau melaporkanku ke polisi? Silakan, kalau kamu mau melaporkan! Tapi, kamu bisa apa sekarang? Kamu sudah tidak berdaya. Kamu sudah berada di dalam genggaman tanganku, Laras! Ha ha ha ha … Apa? Kamu mau bilang aku jahat? Tidak, Laras! Aku bukanlah orang jahat. Aku hanya iri dengan si Hartono. Enak saja dia bisa memiliki kamu. Aku juga mau lah seperti Hartono. Sudah paham kamu, Laras?” Itulah ucapan pria keparat itu yang masih bsia aku dengar sebelum aku tidak sadarkan diri.
Biadabnya pria itu ternyata tidak kalah dari Pak Hartono. Ketika aku bangun, aku sudah berada di sebuah hotel melati di pinggiran kota. Entah apa yang telah dilakukan oleh pria itu terhadapku yang jelas ketika aku bangun kepalaku pusing tak tertahankan. Pria itu sudah pergi entah ke mana aku tak tahu. Aku marah dan ingin membunuh pria terkutuk itu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ada keinginan di hatiku untuk melaporkan kejahatan pria itu dan Pak Ade kepada polisi agar mereka berdua dihukum seberat-beratnya. Tapim aku urungkan niatku setelah aku melihat ada beberapa lembar fotoku di atas kasur. Foto itu sungguh membuatku sesak karena di sana berisi gambarku yang sangat tidak pantas untuk diketahui orang banyak. Tubuhku lemas seketika saat itu. Terlebih ada sebuah kertas bertuliskan ancaman terhadapku.
“Sayang, kalau kamu memberitahukan rahasiaku dan Pak Ade, maka foto ini dipastikan akan menyebar ke seluruh penjuru kota ini. Dan kamu pasti tidak mau melihat Bu Dewi malu, kan?”
Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku tidak ingin membuat malu Bude dan Pakde. Makanya saat itu aku pun memilih untuk diam dan mengurungkan niatku untuk melapor ke polisi.
Aku tidak mampu menahan capek di tubuhku dan aku pun tertidur lagi padahal perutku masih sangat lapar.
Bu Dewi membaca kalimat terakhir yang ditulis oleh Laras di buku harian itu. Sekali lagi jantung Bu Dewi seperti meledak tatkala mengetahui bahwa tidak hanya Pak Hartono yang telah melakukan pelecehan terhadap gadis malang itu, tetapi juga Pak Dimas. Orang yang terkenal sopan dan baik di dusun ini.
“Ya Tuhan! Aku tidak menyangka Pak Dimas tega melakukan hal itu terhadap Laras. Aku harus melaporkan kejahatan Pak Dimas ke polisi agar ia dapat menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Aku juga harus melaporkan kejahatan yang dilakukan oleh Pak Ade atas lawan-lawan bsinisnya. Tapi, aku tiak punya cukup bukti untuk menjebloskan mereka berdua ke penjara. Apa yang harus aku lakukan? Apakah ini saatnya aku harus mengatakannya kepada Mas Herman? Kalau itu aku lakukan, berarti aku harus menunjukkan buku harian ini kepada suamiku. Dan itu sama saja dengan aku menunjukkan kepada Pak Herman bahwa Laras memang menjadi hantu dan telah membunuh Pak Hartono dan juga menakut-nakuti penduduk di dusun ini. Oh tidak!!!! Apa yang harus aku lakukan? Apa aku lapor polisi saja biar polisi yang mencari bukti-buti kejahatan mereka. Tapi, kalau bukti itu tidak ditemukan, mereka bisa menuntut balik aku dan aku bisa dipenjara. Bagaimana dengan nasib Panji tanpa aku? Ya Tuhan … berikan aku jalan terbaik untuk semua ini. Aku bingung, Tuhan!!!” pekik Bu Dewi dengan penuh kebingungan.
“Pak Dimas!!! A-apakah Laras akan membunuh Pak Dimas juga? Kenapa Laras menunjukkan buku harian ini kepadaku. Apa LAras akan membunuh Pak Dimas? Tidaaaak!!! Aku tidak ingin Laras mengotori tangannya lagi untuk membunuh manusia. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menelpon Pak Dimas agar ia bisa berhati-hati. Mana HP-ku? Mana HP-ku?” Bu Dewi panik dan mencari-cari ponselnya tidak ketemu-ketemu.
__ADS_1
“Syukurlah, HP-nya ketemu. Aku harus segera menghubungi Pak Dimas. Aku tidak ingin Laras menjadi seorang pembunuh,” ucap Bu Dewi sambil menekan panggilan atas nomor Pak Dimas. Namun, suatu keanehan kembali terjadi di depan mata Bu Dewi. Ketika ia menekan tombol panggil, layar Ponsel Bu Dewi menampilkan gambar yang membuat perempuan itu terkejut.
BERSAMBUNG