
Jatmiko pun langsung memusatkan perhatiannya kembali setelah lepas dari pengaruh arwah Laras. Kedua matanya sudah kembali dapat melihat dengan jelas. Tanpa menunggu waktu lagi pria itu pun langsung berlari ke arah pintu rumahnya yang sedang terbuka sambil tetap membawa pria kecil bernama Revan yang disandarkan di pundaknya.
Jatmiko sudah sangat yakin bahwa saat itu arwah Laras tidak menyadari bahwa ia sudah lepas dari blokade penglihatan yang dibangun oleh arwah jelmaan Laras. Namun, dugaan pria tersebut ternyata keliru. Ketika ia dan Revan sudah hampir sampai di pintu tersebut, sosok menyeramkan arwah Laras kembali muncul di hadapan Jatmiko sambil menunjukkan wajahnya yang lebih seram dari sebelumnya.
“Wuaaaaaaaaa!!!” pekik Jatmiko dengan sangat keras saat netranya secara tiba-tiba menangkap sosok makhluk halus yang menghalangi langkahnya.
“Hi hi hi hi hi ....” Perempuan jadi-jadian itu pun tertawa dengan suara sangat melengking di telinga Jatmiko.
“Tidak! Kali ini aku tidak boleh menyerah dengan arwah perempuan itu! Aku harus melawannya. Bukankah ibu juga sudah mengajarkanku mantera untuk menghadapi makhluk jadi-jadian seperti dia?” Jatmiko berkata-kata pada dirinya sendiri.
Jatmiko yang sebenarnya sudah siap untuk menarik diri dari bertabrakan dengan arwah Laras, rupanya urung untuk menghentikan larinya. Pria itu lebih memilih untuk menghadapi rasa takutnya dengan merapal mantera yang pernah diajarkan oleh ibunya.
“Sun ajian pelebur sukma ….” Demikianlah anak satu-satunya dari pasangan suami istri ritual Ki Santo dan Nenek Galuh itu pun melanjutkan langkahnya untuk membentur arwah Laras.
Arwah Laras yang sedang cekikikan itu tidak menyangka bahwa Jatmiko akan nekad untuk menghadapinya. Ketika diihatnya Jatmiko ternyata tidak berbalik arah setelah melihatnya, perempuan jadi-jadian itu pun terkejut dan berusaha untuk menakuti Jatmiko dengan lebih seram lagi. Sayangnya arwah perempuan itu sudah terlambat. Jatmiko sudah meludah ke arahnya setelah merapal mantra yang diajarkan oleh ibunya. Arwah Laras pun terlambat menyadari hal itu sehingga ludah yang dilepaskan oleh Jatmiko pun mampu menembus tabir antara alam nyata dan alam gaib, sehingga air ludah yang dikeluarkan oleh Jatmiko pun mendarat di wajah arwah Laras dan hal itu menimbulkan kesakitan yang luar biasa pada arwah Laras tersebut.
“Aduuuuuuu! Sakiiiiiiiit!!!” teriak arwah Laras dengan suara sangat memekakkan telinga siapapun yang mendengarnya.
Arwah Laras yang semula berusaha menghalangi Jatmiko dengan penampakannya yang sangat seram itu pun terlempar ke pintu dengan keras. Setelah menyentuh pintu, arwah perempuan itu pun terpental lagi ke depan dengan cukup keras. Mungkin mantra Nenek Galuh di rumah itu lah yang menyebabkan arwah Laras tidak dapat masuk ke dalam rumah millik Jatmiko dan ibunya itu.
“Aaaaaaaaargh! Pekik Jatmiko sambil tetap membawa Revan di pundaknya.
Kali ini Jatmiko sudah berhasil menembus pertahanan arwah Laras. Ia sudah berhasil membawa Revan masuk ke dalam rumah tersebut tanpa perlu khawatir diserang lagi oleh arwah Laras karena arwah Laras tidak mungkin dapat memasuk rumah warisan ayah dan ibu Jatmiko itu.
__ADS_1
“Syukurlah! Akhirnya aku bisa menyelamatkan Revan. Aku harus segera menyadarkan anak ini dari pingsannya.,” ucap Jatmiko sambil membawa Revan ke kamar depan.
Jatmiko meletakkan Revan di atas kasur. Setelah itu ia pun mencari minyak angin di sekitar kamar itu untuk alat bantu baginya dalam membangunkan Revan yang sedang pingsan. Syukurlah, ia menemukan minyak angin di kamar itu karena Bu Nisa termasuk orang yang selalu membawa minyak angin ke manapun ia pergi untuk berjaga-jaga.
Setelah menemukan minyak angin di dalam kamar itu, pria itu pun segera mengusapakan minyak angin itu ke hidung Revan sambil berusaha menggoyang-goyangkan tubuh anak kecil itu dan memanggil namanya agar terbangun. Sayangnya, panggilan itu tidak langsung digubris oleh anak kecil itu.
“Revaaaaan!!! Bangun, Nak!” panggil Jatmiko sambil menggoyang-goyangkan badan Revan.
“Revan,dingin sekali kakimu, Nak! Om takut kamu kenapa-kenapa, Nak! Ayo, bangu, Nak!” ucap Jatmiko dengan bergumam.
Setelah dipanggil sebanyak tiga kali barulah ada reaksi dari Revan.
“Ehhhhh …,” suara yang keluar dari mulut Revan saat menggeliatkan badannya.
“Revan! Ayo, bangun, Nak!” panggil Jatmiko sekali lagi.
“Ooooom Jatmiko!” teriak Revan saat matanya terbuka sempurna, tapi suaranya sangat lemah didengar oleh Jatmiko.
Revan pun memeluk Jatmiko dengan erat. Jatmiko membalas pelukan Revan sambil menangis.
“Om, Revan takut!” suara yang terdengar dari mulut kecil Revan yang membuat hati Jatmiko seakan teiris.
“Tenang, Revan. Ada Om Jatmiko di sini. Jangan takut! Tidak ada yang akan mengganggu kamu sekarang. Kamu sudah aman berada di kamar ini,” bisik Jatmiko ke telinga Revan.
__ADS_1
“Om, mana bapak dan ibu?,” tanya Revan pada Jatmiko.
Wajar saja ia bertanya pada Jatmiko karena ia pingsan duluan di kamar mandi saat diganggu oleh arwah Laras. Jatmiko menarik napas dalam-dalam untuk menjawab pertanyaan anak kecil itu.
“Revan, bapak dan ibumu masih ada di luar. Om menyelamatkan Revan terlebih dahulu karena disuruh oleh bapakmu,” jawab Jatmiko dengan perasaan tidak karuan.
“Om, apa bapak dan ibu akan baik-baik saja?” tanya Revan lagi.
“Tidak, Revan! Mereka harus diselamatkan juga ke dalam rumah ini karena hantu yang mengganggu Revan itu tidak dapat masuk ke dalam rumah ini. Dia hanya bisa mencelakai kalian bertiga kalau ada di luar rumah,” jawab Jatmiko.
“Om, bantuin bapak dan ibuku, Om? Revan tidak mau mereka dicelakai oleh hantu itu,” jawab Revan.
“Kalau itu keinginanmu, baiklah! Om akan menyelamatkan bapak dan ibumu, tapi ada syaratnya. Revan harus berani ditinggal sama Om di sini. Gimana?” ucap Jatmiko.
“Tapi, Om, Revan takut dia datang ke sini mengganggu Revan lagi,” jawab Revan dengan polosnya.
“Tidak, Revan. Selagi kamu berada di dalam rumah ini kamu akan aman. Om punya saran sama kamu. Kamu sembunyi di dalam selimut dan tutup telinga kamu! Jangan menoleh ke arah jendela. Apabila kamu mendengar suara apapun jangan kamu hiraukan! Ingat! Selagi kamu masih berada di dalam rumah ini kamu akan aman. Gimana?” tanya Jatmiko.
“Tapi, Revan takut, Om,” jawab Revan.
“Revan sayang, kan, sama bapak dan ibu? Kalau Revan sayang sama mereka berdua, Revan harus mau melakukan perintah Om, biar Om bisa menolong mereka berdua,” rayu Jatmiko.
Revan pun menatap mata Jatmiko dengan terpaku. Sepertinya ia sedang berpikir saat itu. Dan setelah menatap selama beberapa detik, ia pun berkata pada teman ayahnya itu.
__ADS_1
“Iya, Om. Reva mau ditinggal sendirian di sini. Tolong selamatkan bapak dan ibu, ya?” jawab Revan dengan penuh keyakinan.
BERSAMBUNG