MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 142 : PERTARUNGAN SERU


__ADS_3

Suara gemuruh itu pun semakin lama semakin keras terdengar dari dalam gua yang terletak di atas bukit desa tersebut. Pak Ade yang saat ini sedang berbaring di atas altar pun mendengar dengan jelas suara gemuruh itu. Jantungnya saat itu berdegup dengan kencang dan pikirannya membayangkan hal-hal yang sangat ia khawatirkan tentang datangnya arwah Laras untuk membunuhnya. Ia tidak ingin mati sekarang makanya ia meminta tolong kepada Jatmiko dan keluarganya untuk menyelamatkan dirinya dan juga keluarganya.


Nenek Galuh dan Jatmiko yang sedang bersembunyi pun turut deg-degan mendengar suara gemuruh yang terdengar dari arah selatan itu. Secara perlahan mereka pun mencoba mengintip ke arah selatan untuk melihat apa sebenarnya yang menyebabkan munculnya suara bergemuruh yang menyeramkan itu. Dan saat mereka berdua menoleh ke arah selatan, mereka benar-benar tercengang begitu melihat ada seekor ular raksasa yang ukurannya tiga kali lipat dari yang mereka lihat semalam. Ular raksasa itu bergerak dengan cepat dari selatan menuju utara. Tepatnya menuju ke gua di atas bukit tersebut. Sesekali ular raksasa tersebut mendongak dan menunjukkan wujud kepalanya yang berbentuk wajah arwah Laras, tetapi jauh lebih menyeramkan dari yang mereka lihat semalam. Kulit ular raksasa itu juga berbeda dari sebelumnya. Di bawah cahaya senja yang semakin temaram berganti dengan cahaya bulan, kulit ular raksasa itu mengkilap seperti emas. Sepertinya malam ini kekuatan ular raksasa itu berkali-kali lipat dari semalam. Mereka berdua tidak yakin dapat mengalahkan ular raksasa tersebut. Kecuali Pak Ade berhasil mengambil mustika berwarna ungu, maka energi ular raksasa itu akan melemah dan mereka bertiga pasti dapat menaklukkannya.


Suara gemuruh itu semakin lama semakin deka saja ke arah mereka. Hingga beberapa detik kemudian, orang-orang yang berada di sekitar gua tersebut menahan napasnya tatkala ular raksasa itu sudah sampai di kaki bukit. Ternyata ular raksasa itu tidak langsung naik ke atas bukit, melainkan ia berhenti di depan bukit tersebut.


“Hm … sepertinya ada makanan lezat di sekitar tempat ini,” ucap ular raksasa tersebut sambil meliuk-liuk mencari mangsa di sekitar tempat tersebut.


Bu Nisa dan Revan yang sedang berada di dalam warung penyembelihan daging ayam pun menjadi ketakutan. Bu Nisa memeluk tubuh Revan dengan kuat sambil bersembunyi di tumpukan kotoran ayam. Saat itu mereka sudah tidak mempedulikan lagi bau amis dan busuk dari kotoran ayam tersebut karena mereka berdua ingin selamat dari kematian oleh ular raksasa yang tentunya bisa menyantap mereka dalam sekali patukan.


Ular raksasa itu meliuk-liuk menyusuri setiap tempat di sekitar bukit tersebut.


“Di mana kalian bersembunyi? Keluarlah! Ayo, kita bermain!” suara ular raksasa itu dengan sangat menyeramkan.


Bu Nisa menutup mulut Revan yang sempat memekik karena ketakutan melihat siluet ular raksasa itu dari lubang-lubang di dinding warung tersebut. Ular raksasa terus saja keluar masuk ke setiap warung yang ada di area tersebut untuk mencari mangsanya. Pada satu waktu, ular raksasa tersebut masuk ke dalam warung yang menjadi tempat persembunyian Bu Nisa dan anaknya. Pada saat itulah mereka berdua dapat melihat dengan jelas wujud ular raksasa yang ternyata jauh lebih besar dan lebih menyeramkan dari yang mereka lihat semalam. Bu Nisa dan Revan pun menutup matanya dan juga menahan napasnya karena saking takutnya.


“Kalian bersembunyi di mana,mangsa-mangsaku?” Ular raksasa itu kembali bersuara dan membuat bulu kuduk sepasang ibu dan anak itu pun semakin ketakutan.

__ADS_1


Untunglah ular raksasa itu tidak menemukan tempat persembunyian mereka di tempat tersebut. Mungkin memang benar kata Nenek Galuh bahwa kotoran-kotoran dan bekas daging-daging busuk itu yang menghalangi indra penglihatan dan penciuman ular siluman tersebut.


“Oke, saat ini aku tinggalkan mangsa kecilku dulu karena aku sudah mencium mangsa besar dari atas sana. Tunggu aku kembali dan akan aku obrak-abrik tempat ini agar kalian yang bersembunyi di sini bisa aku ketahui tempat persembunyiannya,” ucap ular raksasa itu sambil meninggalkan area warung di bawah bukit desa itu.


Ular raksasa itu pun mendaki bukit dengan mudahnya. Tidak sampai hitungan  menit, ia sudah sampai di atas dan menemukan sebuah gua.


“Hi hi hi hi hi … Mau ke  mana kamu, Pak Ade! Aku tahu kamu saat ini sedang berada di dalam. Mau lari ke manapun kamu akan tetap aku temukan. Hi hi hi hi hi …,” ucap arwah Laras sambil merayap masuk ke dalam gua tersebut.


“Hi hi hi hi hi … Ternyata kamu sudah siap mati, Pak Ade!” teriak arwah Laras begitu melihat orang yang diincarnya sedang berbaring di atas altar.


Pak Ade tak berani membuka matanya saat itu karena ia benar-benar takut. Ia mengingat dengan baik pesan dari Nenek Galuh dan Ki Santo bahwa ia harus tetap tenang dan fokus pada misinya yaitu mencari mustika berwarna ungu.


“Kamu sudah siap mati, Pak Ade?” teriak ular raksasa tersebut membuat Pak Ade semakin ketakutan.


Pak Ade tidak berani menyahut. Keringat dengar mengucur membasahi tubuhnya. Arwah Laras semakin bernafsu ingin segera menghabisi Pak Ade. Kepala ular itu pun naik ke atas dan mulutnya dibuka lebar-lebar sehingga taringnya kelihatan.


“Saatnya kamu mati, Pak Ade!” teriak arwah Laras sambil menukik tajam ke bawah menuju tubuh Pak Ade.

__ADS_1


Bruak!


Tubuh ular raksasa itu langsung terlempar ke dinding gua saat menyentuh tubuh Pak Ade yang sedang ketakutan itu.


“Aduh! Rupanya kamu ma main-main denganku, Pak Ade! Oke, aku layani!” teriak ular raksasa itu.


Pak Ade yang dapat merasakan bahwa ular raksasa itu terpental begitu menyentuh tubuhnya pun semakin percaya dengan omongan Nenek Galuh dan Ki Santo bahwa ia bisa selamat dari serangan arwah Laras asal mengikuti ucapan mereka.


Ular raksasa tidak tinggal diam dengan kegagalannya. Ular itu pun merubah dirinya menjadi sesosok perempuan berambut panjang dan kuku-kukunya juga panjang. Dengan kekuatan penuh arwah Laras pun mencakar tubuh Pak Ade yang saat itu sedang terbaring ketakutan sambil melayang-layang di atas tubuh pria tersebut.


“Rasakan cakaranku ini, Pak Ade!” teriak arwah Laras yang saat itu wujudnya begitu menyeramkan.


Tidak hanya kukunya yang panjang, tetapi taring perempuan itu juga panjang dan seandainya Pak Ade saat itu membuka matanya, pasti ia akan pingsan karena melihat wujud arwah Laras yang jauh lebih seram dari hantu yang pernah ia temui atau mimpikan sebelumnya. Kuku-Kuku panjang arwah Laras semakin lama semakin dekat dengan tubuh Pak Ade. Pak Ade hanya bisa mengulangi membaca mantra yang diajarkan oleh Nenek Galuh.


BERSAMBUNG


Aku mau promo nih .... Aku punya dua novel baru loh yang sedang on going yag berjudul SUAMI RAHASIA PENYANYI DANGDUT dan TITISAN MARANTI.

__ADS_1


Jangan lupa dibaca juga, ya!


__ADS_2