
Clara pulang beberapa saat sebelum Mas Diki dan Nur datang. Anakku, Nur memandang lekat ke arahku seolah-olah ingin memastikan bahwa aku tidak berbuat buruk kepada Clara.
"Belajar sana, Nur! Ibu capek, mau leyeh-leyeh di kamar," ujarku ketika anak semata wayangku itu mau duduk di depanku. Mungkin ia bermaksud menanyakan apa yang sudah aku lakukan terhadap Clara. Anakku yang penurut itu pun tak membantah. Ia langsung menuju kamarnya untuk belajar.
"Kok tumben habis magrib sudah nyusul mas ke kamar?" tanya suamiku.
"Enggak kok Mas, saya ke sini untuk membicarakan sesuatu dengan Mas," jawabku sambil duduk di pinggir tempat tidur.
"Ooo ... kirain mau ngapain," ujar Mas Diki dengan tatapan mata genit.
"Ih! Mas Diki ini nggak tahu orang lagi pusing," jawabku.
"Ya sudah, apa sih yang kamu pusingkan, Dik. Ngomong sama mas, siapa tahu mas bisa membantu," ujarnya.
"Gini Mas. Barusan saya baru berbicara banyak hal dengan Clara. Kami tidak hanya membicarakan tentang kehidupan pribadinya Clara, tapi juga tentang nasib anak kita, Nur." Aku mulai bertutur.
"Emangnya ada apa dengan kehidupan pribadi tetangga kita itu? Apa hubungannya juga dengan anak kita, Nur?" Mas Diki memicingkan matanya sebagai tanda ketidakmengertiannya.
Aku menghela napas dalam-dalam, kemudian berkata,
"Pria berumur yang kapan hari kita lihat mengobrol dengan Pak RW itu adalah bapak angkat Clara sekaligus suami Clara sekarang." Aku memulai ceritaku.
Mas Diki melongo keheranan dengan ceritaku. Dan aku pun melanjutkan perkataanku.
"Bapak angkat Clara itu melakukan perjanjian dengan jin untuk pesugihan. Suami pertama dan ibu angkat Clara sudah dikorbankan sebagai tumbalnya. Jin itu menginginkan tumbal terakhir yaitu darah daging bapak angkatnya itu. Makanya bapak angkatnya memaksa Clara menikah dengannya berharap akan lahir janin untuk dijadikan tumbal. Sayangnya, bapak angkatnya itu ternyata mandul, makanya jin itu meminta ganti tumbalnya dengan sepuluh anak-anak yang lahir hari Jumat. Nur dan Riki adalah target yang akan ditumbalkan. Tapi mereka berdua diberi gelang oleh Clara agar tidak bisa dilukai oleh jin yang menjadi sesembahan bapak angkatnya itu.
," lanjutku.
"Berarti penampakan yang beberapa waktu lalu mengganggu anak kita itu adalah ulah bapaknya Clara itu?" tanya Mas Diki.
"Iya, Mas. Saya dan Clara bingung. Kami takut anak-anak akan kenapa-kenapa akibat ulah pria itu," pekikku.
"Kita harus segera bertindak sebelum terlambat!" pekik Mas Diki.
"Apa yang harus kita lakukan, Mas?" tanyaku.
"Dik, sepertinya Siti mengenal seseorang yang dapat membantu kita," ujar suamiku.
"Benarkah begitu, Mas?" Aku bertanya.
"Iya, Dik. Siti pernah bercerita kalau pakdenya memiliki kemampuan khusus menangani hal seperti ini," jawab Mas Diki.
__ADS_1
"Syukurlah Mas kalau begitu. Saya agak tenang. Saya akan menelpon Siti sekarang," ujarku kegirangan.
Aku pun mengambil gawaiku untuk menghubungi Siti. Namun, nomer Siti ternyata tidak aktif. Aku mengulangi sampai beberapa kali, hasilnya tetap sama.
"Gimana, Dik? Apa sudah terhubung dengan Siti?" tanya Mas Diki gelisah.
"Belum Mas, nomernya tidak aktif," jawabku kurang bersemangat.
"Mungkin hapenya tidak sempat dicas karena kecapekan, Dik. Apa kita samperin ke sana saja?" tanya suamiku.
"Besok pagi saja, Mas, di pasar," jawabku.
"Ya sudah kalau begitu," tandas Mas Diki.
Selepas salat Isya, karena kecapekan, kami semua segera menuju pembaringan. Malam itu berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Tengah malam aku terbangun karena mendengar suara kucing peliharaan kami seperti mengamuk di depan rumah. Kemudian aku melanjutkan tidurku kembali hingga menjelang azan Subuh. Keesokan harinya aku dibuat terkejut karena mendapati kucingku sudah tewas terkapar dengan penuh luka di sekujur tubuhnya.
"Ada apa, Dik?" tanya suamiku yang terkejut mendengar jeritanku.
"Kucing peliharaan kita mati, Mas!" jawabku.
"Ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya. Kenapa tubuhnya sampai penuh luka seperti itu?" tanya suamiku.
"Apa ada hewan buas yang menyerangnya, ya?" tanya suamiku lagi.
"Entahlah, Mas. Tapi kalau melihat luka-luka di tubuhnya. Mirip sekali dengan yang menimpa kucing kita sebelumnya," jawabku.
"Apa ia tewas karena melindungi kita dari serangan makhluk halus, Dik?" tanya suamiku tiba-tiba.
"Entahlah, Mas. Sebaiknya kita segera menguburnya. Saya nggak tega melihat luka-lukanya, Mas!" jawabku.
"Ada apa, Bu?" suara Nur tiba-tiba muncul.
"Kucingnya mati lagi, Nur" jawabku.
"Ya Tuhan! Lasihan sekali kulitnya sampai lebam-lebam seperti itu," pekik Nur.
"Iya, Nur. Ayo segera kita kubur saja. Ibu nggak tega melihatnya lama-lama," ujarku.
Kami bertiga pun akhirnya menguburkan kucing itu di samping kucing kami yang tewas sebelumnya. Kami membungkus mayat kucing tersebut dengan kain putih sebelum dipendam di dalam tanah.
"Terima kasih, Pus. Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami selama ini. Kami memang tidak tahu apa penyebab kematianmu, tapi kami berharap semoga pelakunya mendapat balasan yang setimpal sesuai perbuatannya," ucapku di dalam hati.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, akhirnya kami bertiga pun berangkat menuju tujuan masing-masing. Aku dna Mas Diki berangkat ke pasar, sedangkan anak kami berangkat ke sekolah.
"Nur, hati-hati di jalan dan di sekolah, ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa minta bantuan Pak Arman di sekolahmu," teriakku pada Nur saat berpisah di pertigaan.
"Iya, Bu!" jawab anakku.
Sesampai di pasar, kami sudah melihat Siti sedang menata barang dagangan. Karena masih pagi, pembeli belum ada yang datang.
"Siti, saya ada perlu sama kamu," sapa suamiku.
"Iya, ada apa sih?" tanya Siti keheranan.
"Begini, saya ingin tanya, apakah pakdemu yang orang pintar itu masih sehat?" tanya Mas Diki.
"Hem ... Pakde sekarang sedang sakit. Kolesterolnya naik lagi. Emang kenapa, Mas?" Siti balik bertanya.
"Kami butuh bantuan pakdemu, Siti." Aku menyela berbicara.
"Bantuan apa, Mbak?" tanya Siti lagi.
"Panjang kalaj diceritakan, Siti. Lebih baik kami berbicara langsung dengan pakdemu saja. Pakdemu tinggal dimana? Biar kami samperin ke sana," ujarku.
"Nah, itu dia, Mbak. Semenjak pakde sakit, ia dibawa menantunya ke luar daerah. Saya belum tahu alamatnya yang sekarang," jawab Siti.
"Duh, padahal kami sangat membutuhkan pertolongan pakdemu, Siti. Ini semua demi keselamatan Nur," jawabku sedikit berputus asa.
"Ada apa dengan Nur, Mbak?" Siti bertanya dengan wajah penasaran.
"Siti mau dijadikan tumbal pesugihan oleh seseorang, Siti!" jawabku.
"Ya Tuhan! Siapa yang tega melakukan hal itu kepada Njr, Mbak?" Siti memekik tertahan.
"Tolong kami, Siti! Pasti ada cara untuk mengetahui keberadaan pakdemu sekarang." Aku memohon pada karyawan suamiku itu.
"Tapi saya memang tidak tahu alamat terbarunya, Mbak. Sedangkan nomer hape sepupu saya yang membawa pakde ada di memory HP. Dan HP sejak semalam tidak dapat berfungsi," jawab Siti seakan menguburkan semua harapan kami berdua.
BERSAMBUNG
Pengiriman novel cetak KAMPUNG HANTU sudah sukses untuk periode pertama. Bagi yang ingin memesan novel tersebut, bisa menghubungi penerbit maupun penulis sendiri.
Salam Seram dan Bahagia
__ADS_1