
Bu Nisa dan Pak Ade menunggu perkataan Nenek Galuh dengan harap-harap cemas. Sedangkan Revan sedang asyik bermain game di Ponsel pribadi milik Bu Nisa.
“Nak Ade … Nduk Nisa … waktu kita sudah tidak banyak lagi sekarang. Besok pagi kalian harus membantuku untuk melancarkan rencana kita,” ucap Nenek Galuh membuka percakapan.
Bu Nisa dan Pak Ade saling menoleh mendengar ucapan dari Nenek Galuh barusan. Mereka bingung dengan permintaan tolong perempuan tua itu. Mengingat dia dan suaminya sangatlah awam dalam hal ilmu mistis seperti itu.
“Kalian berdua tidak usah bingung. Saya meminta tolong kepada kalian untuk urusan fisik saja, kok! Masa kalian tidak kasihan sama saya yang sudah tua ini. Pagi setelah matahari terbit, saya minta kalian berdua untuk menimbun kepala ayam dan bunga tujuh rupa di setiap penjuru desa Curah Putih ini. Dengan adanya kepala ayam itu maka kekuatan arwah Laras itu akan berkurang. Saya yakin suamimu yang waktu kecil pernah tinggal di desa ini, pasti tahu batas-batas desa ini. Iya kan, Nak Ade?” ucap Nenek Galuh.
“Oh, saya kira bantuan apa, Bu? Kalau bantuan seperti itu pasrahkan saja sama kami berdua. Kami berdua yang akan melaksanakannya. Kamu masih ingat kan, Mas?” ujar Bu Nisa dengan penuh kelegaan setelah mendapat pencerahan dari Nenek tua tersebut.
“Mmmmmm … Sebelah timur, batasnya makam Mbah Darmo. Sebelah barat batasnya waduk. Sebelah selatan batasnya gapura desa. Dan sebelah utara batasnya bukit itu. Benar kan, Bu?” tanya Pak Ade sambil berusaha mengingat-ingat kenangan masa kecilnya.
“Tidak sia-sia waktu kecil kamu dan Jatmiko selalu jauh kalau bermain, Nak Ade!” jawab Nenek Galuh sambil terkekeh teringat dengan masa kecil mereka berdua.
“Apa hanya itu yang bisa kami bantu, Bu? Kami masih siap untuk mengerjakan pekerjaan yang lain,” tantang Pak Ade.
“Oh ya. Saya sampai lupa. Selama menanam kepala ayam itu kalian tidak boleh menggunakan alat bantu. Kalian halus menggali lubang dengan menggunakan kedua tangan kalian. Dan ingat kalian harus menyelesaikannya sebelum tengah hari agar khasiat dari tapal batas itu bisa maksimal,” jawab Nenek Galuh dengan nada serius.
“Iya, Bu,” sahut Bu Nisa.
“Setelah keempat tapal batas itu sudah kalian tanam semua, kalian bertiga pergilah ke makam Mbah Darmo. Sesampai di sana kalian harus memutari makam Mbah Darmo sebanyak tujuh kali. Tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang,” tutur Nenek Galuh.
“Kenapa, Bu?” tanya Bu Nisa penasaran.
“Kalau putarannya lebih, maka kekuatan arwah Laras akan menjadi dua kali lipat lebih kuat. Sedangkan kalau putarannya kurang, maka kekuatan kami yang akan membantumu akan menjadi setengah kali lebih lemah. Jadi, kalian harus benar-bena teliti dalam menghitungnya agar rencana kita bisa berjalan dengan baik,” jawab Nenek Galuh dengan serius.
“Apa ada cara ampuh agar kami tidak lupa dalam hitungannya, Bu?” tanya Bu Nisa.
__ADS_1
“Selain dengan cara menghitung dengan teliti, ada pertanda alam yang akan membantu mengingatkan kalian tentang hitungan putaran kalian,” ujar Nenek Galuh lagi.
“Oh ya? Ada pertanda apa yang dapat membantu hitungan kami, Bu?” tanya Bu Nisa lagi.
“Setiap kalian selesai memutari makam Mbah Darmo sebanyak satu kali, akan muncul satu ular di atas makam Mbah Darmo. Pada putaran selanjutnya, akan muncul satu ular lagi di sana. Terus begitu, setiap satu putaran kalian akan memunculkan ular baru di sana yang semuanya berdiri mengamati kalian bertiga yang sedang mengelilingi makam tersebut,” jawab Nenek Galuh dengan ekspresi sedih.
“Ya Tuhan! Aku takut sekali sama ular, Bu! Bagaimana dengan Revan? Ia juga pasti akan menangis histeris apabila melihat ular-ular yang jumlahnya bertambah banyak sesuai dengan jumlah putaran yang kami tempuh itu?” protes Bu Nisa.
“Kalian tidak punya pilhan lain, Nduk! Kekuatan arwah Laras itu sangat besar. Kebenciannya terhadap suamimu yang membuatnya seperti ini. Kamu harus menguatkan diri untuk melakukan ritual tersebut agar kalian sekeluarga bisa selamat. Kuatkan juga hati Revan! Saya lihat anakmu itu memilik mental yang luar biasa. Tidak seperti kamu yang penakut!” jawab Nenek Galuh dengan sedikit kecewa terhadap Bu Nisa.
Pak Ade yang melihat ekspresi tidak mengenakkan dari ibunya Jatmiko itu pun menyenggol lengan istrinya sebagai kode agar istrinya tersebut mau meminta maaf kepada Nenek Galuh. Bu Nisa pun menuruti ucapan suaminya.
“Maaf atas kelancangan saya, Bu!” ucap Bu Nisa kemudian.
“Sudah! Tidak usah pikirkan hal itu. Ada lagi satu hal yang harus kalian ingat. Terutama kamu, Nduk! Kamu dan anakmu nanti kan tidak naik ke atas bukit, ya?” tanya Nenek Galuh.
“Nanti kalian berdua akan sembunyi di warung-warung kecil di bawah bukit itu, kan? Bersembunyilah di warung penjual daging ayam yang lokasinya paling dekat dengan bukit itu! Arwah Laras akan kesulitan menemukan aroma tubuh kalian kalau kalian berdua bersembunyi di tempat yang kotor dan berbau itu. Kebetulan pedagangnya jarang membuang bulu-bulu dan kotoran-kotoran jeroan ayam dari warungnya sehingga baunya sangat menyengat,” pesan Nenek Galuh lagi.
“Begitu ya, Bu. Baiklah, kami berdua akan bersembunyi di tempat itu,” jawab Bu Nisa.
“Kalian tidak perlu takut dengan kondisi ini. Jika kalian fokus dengan semua yang kalian lakukan, kalian tidak akan terbunuh oleh arwah Laras! Lakukan semuanya dengan sungguh-sungguh!” ucap Nenek Galuh.
“Iya, Bu. Sekali lagi kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu dan Mas Jatmiko yang telah sudi membantu kami,” ucap Bu Nisa sambil menoleh ke arah Jatmiko yang sedang menemani Revan bermain game.
“Sebaiknya sekarang kalian beristirahat! Besok kita semua akan bekerja sejak pagi. Ingatlah untuk tidak memikirkan tentang arwah perempuan itu! Agar kalian bisa tertidur dengan nyenyak malam ini dan bangun esok pagi dalam keadaan bugar,” ucap Nenek Galuh.
“I-iya, Bu. Kami akan pergi beristirahat sekarang. Semoga Ibu dan Mas Jatmiko juga sehat selalu,” ucap Bu Nisa sambil berusaha mencium tangan neek tua itu.
__ADS_1
Setelah sekian lama berkomunikasi dengan perempuan tua itu, baru kali ini Nenek Galuh mau berjabat tangan dengan Bu Nisa. Bu Nisa dan Pak Ade pun senang karena hubungan Bu Nisa dan ibunya Jatmiko sudah membaik.
“Revan! Tidur, yuk!” ajak Bu Nisa pada anak semata wayangnya.
“Sebentar, Bu! Masih seru mainnya sama Om Jatmiko,” jawab Revan.
“Ayo! Om Jatmikoya sudah mengantuk, tuh! Ayo, kamu bisa lanjutkan lagi mainnya besok!” sahut Bu Nisa.
“Iya, Bu!” jawab Revan.
“Salim dulu sama Om Jatmiko dan nenek!”ucap Bu Nisa dengan suara agak keras agar diturut oleh anaknya.
Revan pun langsung mencium dan menjabat tangan Jatmiko dan ibunya.
“Revan pamit tidur dulu ya, OM!” ucap Revan kepada Jatmiko.
“Revan tidur dulu ya, Nek!” ucap Revan pada ibunya Jatmiko.
“Baiklah! Tidur yang nyenyak ya, Revan!” jawab Jatmiko sambil mengelus kepada Revan.
“Jangan rewel, ya! Anggap tidur di rumah sendiri!” jawab Nenek Galuh pada Revan.
Setelah berpamitan, Revan dan kedua orang tuanya pun berjalan menuju kamar depan tempat pribadi mereka di rumah itu. Kali ini Bu Nisa sudah tidak begitu takut lagi melewati ruang pembatas antara ruang tengah dan dapur yang agak gelap itu. Perempuan itu masih ingat pesan Nenek Galuh bahwa ia tidak boleh memikirkan arwah Laras terus agar arwah Laras tidak menjadi lebih kuat.
BERSAMBUNG
Ayo, yang mau hadiah pulsa, LIKE dan KOMEN di semua bab novel KAMPUNG HANTU. Yang ikutan sedikit loh! Kayaknya kamu bisa menang!
__ADS_1