MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 132 : PERSIAPAN RITUAL


__ADS_3

Nenek Galuh bangun saat ayam jantan berkokok. Dia buru-buru membangunkan Bu Nisa untuk menunaikan tugasnya pagi itu. Bu Nisa pun buru-buru membangunkan Revan. Revan pun bangun seketika karena ia memang mudah untuk dibangunkan dalam kesehariannya.


Setelah itu, Bu Nisa pun buru-buru membangunkan suaminya yang sedang tertidur di kamar Jatmiko. Ternyata Jatmiko sudah bangun duluan sebelum dibangunkan oleh Bu Nisa. Sedangkan Pak Ade harus berkali-kali dibangunkan oleh istrinya, barulah ia terbangun. Setelah semua orang terbangun,Nenek Galuh menyuruh mereka semua untuk cuci muka dan buang air secara bergantian di kamar mandi yang letaknya di sebelah timur rumah mereka. Awalnya Bu Nisa da Pak Ade masih takut untuk keluar rumah karena masih trauma dengan kejadian semalam. Namun, Nenek Galuh mengingatkan mereka bahwa siang hari itu energi arwah Laras lemah dan tidak akan sanggup muncul di hadapan mereka. Akhirnya u Nisa dan Pak Ade pun berani. Tapi, Revan tetap minta ditemani oleh bapaknya untuk mencuci mukanya dan buang air di dalam kamar mandi karena ia masih trauma dengan kejadian semalam.


Akhirnya semua penghuni rumah sudah selesai membersihkan diri masing-masing. Mereka memang tidak diperbolehkan karena akan memperlemah energi mereka. Jadi, mereka hanya mencuci muka saja secara berjamaah.


Setelah kegatan bersih-bersih diri, Nenek Galuh dan Jatmiko pun melakukan penyembelihan terhadap empat ekor ayam yang khusus dimatera-mantera oleh mereka terlebih dahulu. Dagingnya dibuang ke sumur dan kepalanya dimasukkan ke dalam empat wadah yang sudah disiapkan oleh mereka bersama kembang tujuh rupa yang juga sudah dipersiapkan terlebih dahulu oleh mereka.


“Nisa …. Ade …. Sini!” panggil Nenek Galuh pada mereka.


“Iya, Bu,” sahut Bu Nisa pelan.


“Sekarang kalian duduk melingkar di sekitar wadah-wadah itu. Saya dan Jatmiko akan membacakan mantra untuk keselamatan kalian.” Ucap Nenek Galuh yang langsung diikuti oleh ketiga orang itu.


Bu Nisa, Pak Ade, dan Revan duduk melingkar mengelilingi empat wadah berisi kepala ayam da bunga tujuh rupa. Tangan mereka saling bersentuhan. Kemudian mereka bertiga memejamkan mata sambil menyimak mantra-mantra yang dibaca oleh Nenek Galuh dan Jatmiko.


Pada saat mereka memejamkan mata dan mendengarkan mantra-mantra yang dibaca oleh Nenek Galuh dan Jatmiko, tiba-tiba mereka merasa seperti akan terbang ke atas dan mereka sedikit oleng.


“Berpegangan yang erat! Jangan sampai terjatuh!” teriak Nenek Galuh dari arah belakang mereka.


Akhirnya Bu Nisa dan Pak Ade pun memegangi Revan agar anak mereka itu tidak miring maupun terjatuh. Setelah melakukan ritual itu selama kurang lebih lima belas menit akhirnya ritual itu pun selesai dilaksanakan.


“Sekarang bukamata kalian secara perlahan!” perintah Nenek Galuh.


Mereka bertiga pun membuka matanya secara perlahan. Setelah itu Nenek Galuh pun berkata.


“Di depan kalian itu ada empat wadah berisi kepala ayam dan bunga tujuh rupa. Tugas kalian sekarang adalah menanam keempat wadah itu di empat sudut perbatasan desa ini. Ingat kalian tidak boleh menggali tanah dengan menggunakan alat. Kalian harus menggunakan tangan kosong untuk menggalo tanah itu an memasukkan keempat wadah itu ke tanah. Jangan sampai masih ada  wadah yang belum selesai sampai tengah hari karena itu akan mengurangi perlindungan terhadap kalian. Kalian paham?” tanya Nenek Galuh pada ketiga orang di depannya.


“Pahaaaaam!” jawab Bu Nisa dan Pak Ade.


“Kalau sudah paham, silakan kalian berangkat!” perintah Nenek Galuh.


“Baik, Bu!” jawab Pak Ade dan Bu Nisa.


Setelah itu mereka pun membawa keempat wadah itu dengan menggunakan tangan mereka.Pak Ade membawa dua wadah, dan Bu Nisa juga membawa dua wadah. Sedangkan Revan tidak membawa apa-apa.


“Ayo, Dik, Kita ke bagian selatan desa dulu!” ajak Pak Ade.


“Iya, Mas!” jawab Bu Nisa.


Mereka bertiga pun berangkat menuju ke batas sbalah selatan desa tersebut yaitu gapura desa. Butuh sekitar lima belas menit bagi mereka bertiga untuk sampai di gapura tersebut. Sedangkan Nenek Galuh dan Jatmiko berangkat menuju gua untuk menemui Ki Santo untuk mempersiapkan segala sesuatu yang lain.


Setelah sampai di gapura tersebut, Pak Ade dan Bu Nisa mulai mulai menggali tanah untuk ditempatkan wadah yang sedang mereka bawa. Ketika mereka baru saja menggali sedalam sepuluh senti meter, mereka dikejutkan dengan kemunculan lipan di tanah. Pak Ade dan Bu Nisa pun memilih untuk memindahkan galian di sebelahnya. Sialnya,sama seperti sebelumnya. Ketika mereka berhasil menggali sedalam sepuluh senti meter, juga muncul lipan yang membuat mereka takut.


“Sepertinnya di sini memang tempatnya lipan, biar aku singkirkan lipannya dengan bambu itu,” ucap Pak Ade pada Bu Nisa.


Hampir saja Pak Ade mencongkel lipan itu. Untunglah Bu Nisa buru-buru mengingatkannya.


“Mas, ingat! Kita tidak boleh menggunakan alat untuk mencongkel!” teriak Bu Nisa.


Pak Ade pun sadar bahwa ia hampir saja melakukan kesalahan.


“Terus bagaimana dengan lipan-lipan itu, Dik?” tanya Pak Ade pada istrinya.


“Mas, sepertinya kemunculan lipan-lipan itu juga merupakan bagian dari prosesi yang harus kita lalui. Kita harus berani melawan lipan-lipan itu,” ucap Bu Nisa.


Pak Ade tertegun dengan ucapan istrinya. Dan ia setuju dengan perkataan istrinya itu. Kemudian  ia pun memberanikan diri menggali tanah yang berada di bawah lipan-lipan itu dengan menggunakan tangan kosong.


“Wadaw!” teriak Pak Ade sambil menahan sakit ketika tangannya digigit oleh salah satu lipan.


Anehnya, setelah menggigit tangan Pak Ade, semua lipan itu mendadak masuk ke dalam tanah dan lenyap. Pak Ade pun bisa melanjutkan galian lubangnya sehingga lebih dalam dan cukup untuk digunakan mengubur wadah berisi kepala ayam dan kembang tujuh rupa itu.


“Syukurlah, lipan-lipannya sudah pergi. Tanganmu masih sakit, Mas?” tanya Bu Nisa.

__ADS_1


“Iya, Dik. Sakit tangank. Tapi, tak apalah yang penting wadah ini sudah selesai dikubur. Sekarang ayo kita berangkat menuju atas sebelah barat yaiu sawah dan sungai,” ajak Pak Ade.


“Ayo, Mas!” sahut Bu Nisa.


Mereka bertiga pun berangkat menuju bagian barat desa tersebut. Mereka butu waktu sekita setengah jam untuk sampai di batas barat yang berupa persawahan dan sungai. Sesampai di sana mereka bertiga pun langsung menggali tanah di pinggir sawah  dan sungai. Namun kejadian hampir mirip terjadi saa mereka menggali sedalam sepukuh senti meter. Mereka menemukan ada kepala belut yang sedang menganga membuat ketiga orang itu sedikit menarik tangannya karena ngeri.


“Ayo, kita pindah ke lubang yang lain!” ajak Pak Ade.


Mereka bertiga pun kembali menggali lubang yang lain, tap sayang kembali mereka dihalangi oleh kepala belut yang sedang menganga . Karena penasaran, mereka pun mengulangi lagi menggali lubang di tempat yang lain. Dan benar saa, lagi-lagi ada kepala belut yang menghalangi.


“Mas, biar tanganku saja sekarang yang  masuk ke dalam!” ujar Bu Nisa.


“Kamu nggak apa-apa, Dik?” tanya Pak Ade.


“Aku nggak apa-apa, Mas!” jawab Bu Nisa sambil mencoba memasukkan tangannya ke dalam salah satu lubang galian itu.


Bu Nisa tidak berani melihat ke dalam lubang karena ia juga ngeri terhadap belut. Ketika tangan u Nisa menyentuh kepala belut itu, tiba-tiba tanga Bu Nisa disedot oleh belut itu selama beberapa detik. Terang saja Bu Nisa merasa takut dan kesakitan. Tapi, itu hanya sementara karena belut-belut itu kemudian mudur ke dalam lubang serta menghilang. Bu Nisa dan yang lain pun bisa meneruskan penggalian lubang itu sehingga cukup dalam untuk wadah yang akan dimasukkan ke dalamnya.


“Syukurlah, dua wadah sudah selesai kita masukkan ke dalam lubang!” ujar Pak Ade.


“Iya, Mas. Masih ada dua wadah lagi yang harus kita kubur,” jawab Bu Nisa.


“Tanganmu tidak apa-apa, Dik?” tanya Pak Ade.


“Sakit sih, Mas. Tapi, tidak apa-apa lah. Yang penting tugas terselesaikan,” jawab Bu Nisa.


“Sekarang kita akan ke mana, Dik?” tanya Pak Ade.


“Kita pegi ke bawah bukit dulu, Mas. Nanti baru kita ke makam MBah Darmo,” jawab Bu Nisa.


“Ayo, segera kita berangkat! Sepertinya kita membutuhkan waktu cukup lama untuk menyelesaikan ini semuanya. Bayangkan sekarag saja matahari sudah mulai naik. Ingat kata ibunya Jatmiko, kita harus menyelesaikan tugas ini sebelum tengah hari,” ujar Pak Ade.


“Oke, Mas! Ayo, kita berangkat!” ajak Bu Nisa.


“Mas, ayo kita gali lubangnya!” ajak Bu Nisa.


“Ayo!” jawab Pak Ade.


Setelah menggali lubang sejauh sepuluh senti meter, ketiga orang itu harus muntah karena tangan mereka menyentuh kotoran manusia. Kecuali Revan yang memang tidak begitu jijikan.


“Uwek! Uwek!” teriak Pak Ade dan Bu Nisa.


Mereka pun mencoba menggali di tempat yang lain yang lokasinya agak jauh dari lubang semula. Sayangnya, mereka kembali harus menyentuh kotoran manusia. Lagi-Lagi mereka arus muntah.


“Aduh, aku tak tahan lagi, Mas!” pekik Bu Nisa.


“Aku juga, Dik! Sahut Pak Ade.


Tiba-Tiba Revan muncul dan bersuara.


“Biar aku yang melanjutkan galiannya!” ucap Revan dengan gagahnya.


Akhirnya Revan pun melanjutkan untuk menggali lubang itu dengan risiko tangannya menyentuh kotoran manusia yang sangat menjijikkan. Anehnya, setelah tangan evan dimasukkan dan menyentuh kotoran manusia, tiba-tiba semua kotoran itu menghitam dan menyatu dengan tanah begitu saja. Tidak ada aroma menjijikkan yang tercium. Dan Revan pun mampu melanjutkan penggalian lubang itu sampai selesai. Setelah itu mereka bertiga pun memasukkan wadah ketiga berisi kepala ayam dan bunga tujuh rupa ke dalam lubang yang sudah digali oleh Revan. Mereka bertiga pun bisa bernapas lega.


“Wadah ketiga sudah selesai. Sekarang kita harus pergi ke makam Mbah Darmo untuk mengubur wadah keempat.Tapi, aku lapar sekali,” ucap Pak Ade.


“Iya, Mas! Tapi sepertinya tadi ibunya Jatmiko tidak masak. Bagaimana ini? Apa kita beli makanan ke orang-orang yang tinggal di sini?” tanya Pak Ade.


“Iya, Mas. Daripada kita malah pingsan, ntar,” sahut Bu Nisa.


Baru saja mereka berbicara tentang makanan, tiba-tiba ada benda jatuh tepat di tengah-tengah mereka.


Blek

__ADS_1


“Makanlah itu! Hari ini kalian hanya boleh makan makanan itu. Cukup satu kali dan kalian tidak bleh mencuci tangan kalian saat akan memakan makanan yang aku lempar itu,” teriak Nenek Galuh dari aas bukit.


“Iya, Bu!” sahut mereka bertiga.


Bu Nisa pun membuka  bungkusan yang dilempar oleh Nenek Galuh dan ia terkejut ketika membuka isinya karena isiya adalah daging kodok.


“Hiiiii ….,” teriak Bu Nisa karena geli sambil melempar daging kodok itu ke tanah.


“Itulah makanan kalian hari ini kalau kalian ingin selamat. Pungut makanan itu lagi karena itu adlah satu-satunya makanan kalian sekarang!” teriak Nenek Galuh dari atas bukit.


Revan memungut kodok-kodok itu dari atas tanah dan menatanya kembali di atas bungkusan yang tadi. Anak itu memang tidak mudah jijikan dibandingkan orang lain.


“Ayo, Bu … Pak  … kita makan saja ini daripada perut kita kosong!” ajak Revan.


Pak Ade menjadi trenyuh melihat perjuangan anak dan istrinya saat itu. Ia semakin menyesal telah berbua jahat selama ini kepada Laras.


“Maafkan aku ya, Dik! Revan …,” ucap Pak Ade.


Bu Nisa tidak menyahut. Ia dan Revan memaksakan diri untuk makan daging kodok yang disediakan oleh Nenek Galuh. Pak Ade juga menguatkan dirinya untuk makan kodok itu juga. Akhirnya mereka bertiga pun dapat menghabiskan daging kodok itu dengan bimbingan Revan. Bayangkan, Pak Ade dan Bu Nisa sebenarnya jijik dengan daging kodok itu terlebih ia masih terbayang-bayang dengan kotoran manusia yang tadi tak sengaja mereka pegang. Namun, demi mengisi perut yang kosong akhirnya mereka berjuang untuk tidak muntah saat memakan daging kodok itu.


“Bagus! Akhirnya kalian berhasil memaka daging kodok itu. Kalian bertiga memang hebat dan kompa. Kalau kalian seperti ini terus, maka  bisa dipastikan arwah Laras tidak akan bisa membunuh kalian!” ucap Nenek Galuh dengan percaya dirinya.


Ketiga orang itupun kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke makam Mba Darmo yang merupakan tujuan akhir bagi mereka. Butuh sekitar setengah jam bagi mereka bertiga untuk sampai di makam tersebut. Padahal saat itu matahari suda mulai meninggi  dan waktu mereka sudah tinggal sedikt lagi.


“Ayo, buruan, Dik! Waktu kita tidak lama lagi!” ajak Pak Ade.


“Iya, Mas!” sahut Bu Nisa.


Akhirnya mereka pun sampai di makam Mbah Darmo saat waktu sudah menipis. Sesampai di sana mereka langsung menggali tanah. Baru saja mereka menggali sejauh sepuluh senti meter, mereka dikejutkan dengan kemunculan kalajengking di dalam lubang itu. Mereka bertiga pun mencoba menggali di tempat yang lain, sayangnya hasilnya sama. Muncul kalajengking dari dalam lubang yang mereka gali.


“Waktunya sudah  menipis, Dik! Biar aku masukkan tanganku untuk menghalau kalajengking itu,” ujar Pak Ade.


Pak Ade pun langsung memasukkan tangannya ke dalam lubang yang dipenuhi kalajengking itu dan kontan saja tangan Pak Ade langsung dijepit oleh kalajengking itu.


“Wadaw!” teriak Pak Ade sambil mengangkat tangannya dari dalam tanah.


Tangan Pak Ade bengkak sedangkan kalajengking itu masih ada di bawah. Hanya sedikit berkurang dibanding sebelumnya.


Pak Ade sudah tidak mungkin memasukkan tangannya lagi karena kedua tanganya sudah sakit. Sekarang giliran Bu Nisa yang menawarkan diri.


“Biar aku saja, Mas yang melanjutkan usahamu,” ucap Bu Nisa.


Bu Nisa memasukkan tangannya ke dalam tanah dan benar saja. Tangam bu Nisa juga dijepit oleh kalajengking itu.


“Aduuuuh!” teriak Bu Nisa sambil mengangkat tangannya yang bengkak.


Anehnya, di dalam lubang itu masih tersisa satu kalajengking yang ukurannya  cukup besar.


“Biar Revan yang menyelesaikannya, Pak .. Bu …,” ucap Revan pada kedua orang tuanya.


”Jangan Revan! Nanti tanganmu terluka!” teriak Bu Nisa.


Tapi Revan tidak memperdulikan peringatan ibunya karena ia tahu hanya itu caranya agar ada kemungkinan bagi mereka bertiga bisa selamat dari serangan arwah Laras.


Revan memasukkan tangannya ke dalam lubang itu dan sama saja dengan nasib yang menimpa bapak dan ibunya, Revan juga digigit oleh kalajengking itu   dan ia pun menangis karena kesakitan .


“Wadaw!!!” teriak Revan.


Namun Revan tidak menarik tangannya. Tangannya tetap di abwah lubang dan sudah tidak dicapit lagi oleh kalajengking karena kalajengkingnya  sudah sirna. Dengan sisa-sisa tenaganya, Revan pun melanjutkan galian lubangnya dan mereka bertiga pun memasukkan wadah terakhir ke dalam lubang sesaat sebelum waktunya habis. Mereka bertiga senang sekali karena masih bisa menyelesaikan tugas-tugas mereka secara tepat waktu.


BERSAMBUNG


Hm ... jangan lupa ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU. Caranya klik like dan tuls komentar di setiap bab novel KAMPUNG HANTU dan dapatkan hadiah menarik

__ADS_1


__ADS_2