MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 62 : PUCUK DICINTA


__ADS_3

Pak Salihun berjalan menuju pertigaan sesuai dengan instruksi Pak Ratno. Di pertigaan itulah nantinya Pak Salihun akan bertemu dengan orang yang akan menemaninya ke pasar untuk membeli perlengkapan acara tahlilan terakhir di rumah Bu Dewi majikannya. Pertigaan itu adalah ujung dusun Delima yang berbatasan langsung dengan jalan antara ke kebun dan menuju jalan besar. Pada jam siang seperti itu hanya orang yang akan pergi ke kota atau pulang dari kota saja yang akan lewat di pertigaan itu. Jadi tempat itu paling strategis kalau dijadikan sebagai tempat untuk bertemu seperti sekarang ini. Sayangnya Pak Salihun tidak mengetahui siapa orang yang akan menemaninya untuk berangkat ke pasar. Seandainya Pak Salihun tahu siapa orangnya, pasti dia akan langsung mendatangi rumahnya saja daripada harus menunggu di tempat itu. Lebih pasti dan tidak capek menunggu.


“Duh, ke mana sih orangnya kok nggak datang-datang? Ratno ini serius apa enggak sih sebenarnya?” ucap Pak Salihun pada dirinya sendiri.


Sementara itu Jamila yang baru saja selesai berdandan pun membawa Gio ke rumah Minul. Sebenarnya Jamila mau mengajak Gio ke pasar, tapi anak itu menolak. Ia lebih suka bermain dengan anaknya Minul.


“Assalamualaikum ...,” ucap Jamila dari depan rumah Minul.


“Waalaikumsalam ...,” sahut Minul dan anaknya sambil berjalan ke ruang tamu.


Minul memperhatikan penampilan Jamila dari ujung kepala ke ujung kaki. Saat itu Jamila menggunakan baju casual dan riasan minimalis.


“Ada apa, Mil? Tanya Minul dengan tatapan mata aneh dan tidak lepas dari pakaian Jamila.


“Nul, aku boleh titip Gio, nggak? Aku mau pergi sekitar sejam dua jam-an lah. Gio nggak mau aku ajak,” jawab Jamila dengan melempar senyuman ramahnya.


“Hore!!!! Aku ada temannya! Sini Gio main sama aku!!!” sorak anak Minul dan langsung mengajak Gio ke dalam rumahnya untuk ditunjukkan koleksi mainannya.


“Oke lah, kamu lihat sendiri anakku juga senang bermain dengan Gio. Aku tak bisa menolak permintaanmu tentunya. Tapi, dengan pakaian jadul begini kamu nggak salah mau pergi ke pasar?” ucap Minul dengan ekspresi risih.


“Jadul gimana, Nul? Aku nyaman kok pakai pakaian ini,”jawab Jamila tetap ramah.


“Mil … Mil … Kamu ini jangan malu-maluin predikat janda, dong! Kalau kamu mau, aku pinjemin bajuku,ya? Kayaknya ada yang cocok sama kamu. Kamu tahu bajuku yang ada kancing variasi berukuran seperti pirig di bagian depan? Aku ambilkan, ya?” ucap Minul dengan ekspresi senang.


“Duh, jangan, Nul. Aku nggak percaya diri kalau pakai baju model begituan. Iya kalau kamu cantik, pake baju apa saja,” jawab Jamila terpaksa berbohong karena ia tidak punya senjata lain lagi untuk menolak keinginan Minul.


“Tahu aja kamu ini, Mil! Kamu juga cantik, kok! Cuma perlu belajar fashion lagi. Ntar deh aku ajarin kamu kalau ada waktu. Ya sudah, kalau kamu nggak mau aku pinjemin bajuku, kamu aku pakein pemerah pipi sama gincuku, ya? Biar nggak kelihatan pucat?” ujar Minul dengan antusias.


“Maaf, Nul. Lain kali saja, ya? Soalnya aku sudah ditungguin orang,” jawab Jamila pura-pura terburu-buru.


“Hm … Ya sudah deh. Hati-Hati di jalan!” jawab Minul.


Akhirnya Jamila merasa lega karena terbebas dari malpraktik Minul yang selera fashionnya jauh berbeda dengan dirinya itu. Jamila teringat dengan kejadian setahun lalu. Waktu itu Gio dan anaknya Minul dipilih oleh sekolah untuk tampil menari di pentas kenaikan kelas. Mereka berdua sudah berlatih keras. Pagi-Pagi sekali mereka berdua sudah berangkat ke sekolah untu bersiap-siap. Aku dan Minul datang jam delapan sesuai undangan. Ketika kami berdua sudah sampai di sekolah, kedua anak itu sudah dalam keadaan siap tampil. Mereka dimake-up oleh wali kelasnya sendiri. Ternyata Minul tidak suka dengan riasan anaknya. Ia yang ke mana-mana selalu membawa peralatan make-up pun langsung memoleskan gincu merah ke bibir anaknya dan eye shadow merah merona ke pipinya. Ketika kedua anak itu tampil di depan pentas, anaknya Minul menjadi bahan tertawaan tetamu yang datang karena terlihat menor dan akhirnya anaknya Minul itu pun menangis karena menjadi bahan tertawaan penonton.


“Makasih banyak ya, kamu sudah mau dititipin Gio,” ucap Jamila sebelum pergi.


“Oke. Sama-Sama,” jawab Minul sambil mengantar temannya itu ke depan rumahnya.


Setelah menunggu selama lima belas menitan, akhirnya Pak Salihun pun melihat ada seseorang yang berjalan kaki dari kejauhan menuju tempat ia duduk.


“Loh, itu kan Jamila? Mau ke mana dia dengan pakaian model jadul itu? Kenapa dia terus berjalan ke arah sini? Jangan-Jangan dialah orang yang disuruh oleh Bu Dewi untuk bareng aku berbelanja ke pasar?” Pak Salihun bertanya-tanya pada dirinya sendiri sambil matanya tidak pernah lepas dari Jamila.


Jamila yang sedang berjalan menuju ke pertigaan juga melihat sosok Pak Salihun sedang duduk-duduk di pertigaan sambil menatap ke arahnya.


“Mau ke mana Pak Salihun dengan pakaian terang benderang seperti itu? Apa dia mau ikut karnaval? Ah,, perasaanku kok tidak enak, ya? Jangan-Jangan Pak Salihun inilah yang akan menemani aku pergi ke pasar?” Jamila juga bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Setelah berjalan selama semenit, akhirnya Jamila dan Pak Salihun saling berhadapan dengan jarak tidak lebih dari tiga meter.


“Jamila mau ke mana?” tanya Pak Salihun.


“Pak Salihun mau ke  mana?” tanya Jamila.


Keduanya kemudian saling bertatapan dan mereka mulai sama-sama mencurigai sesuatu.


“Aku disuruh-“ ucap keduanya secara bersamaan sehingga mereka pun sama-sama menghentikan ucapannya.


“Apa kamu disuruh?” Lagi-Lagi keduanya mengucapkan kalimat yang sama secara bersamaan.


Mereka pun sama-sama menghentikan ucapannya karena sudah yakin bahwa mereka sama-sama disuruh oleh Bu Dewi.


“Ayo, kita segera berangkat! Supaya bisa pulang lebih cepat!” ajak Pak Salihun setelah keduanya berhenti berkata selama beberapa detik.


“Ayo, Pak!” sahut Jamila dengan entengnya.


Mereka berdua pun mulai berjalan kaki meninggalkan dusun Delima menuju jalan besar. Mereka berdua tidak menyadari bahwa sejak tadi ada seseorang sedang mengintip mereka dari semak-semak. Dia adalah Pak Ratno yang sedang ingin menguji perasaan Jamila terhadap Pak Salihun.

__ADS_1


“Kamu nggak apa-apa jalan kaki ke depan, Mil? tanya Pak Salihun setelah mereka berjalan selama beberapa menit dengan tidak saling bercakap-cakap.


“Ya, nggak apa-apa. Emangnya kenapa?” Jamila balik bertanya.


“Nggak gitunya, Mil. Ntar kakimu sakit,” balas Pak Salihun dengan nada berhati-hati.


“Oh … Nggak apa-apa, Pak,” jawab Jamila kalem.


Pikiran Jamila langsung terbayang kepada Pak Ratno. Pak Salihun yang hanya ia anggap sebagai tetangga biasa ternyata lebih perhatian kepada Jamila. Sedangkan Pak Ratno yang ia cintai ternyata di belakangnya selalu berbuat yang menyakiti hati perempan itu.


“Ah, kenapa aku masih memikirkan Pak Ratno? Tidak! Aku harus membuang jauh-jauh pikiran itu. Pak Ratno bukanlah laki-laki yang baik untukku. Aku tidak mau Gio memiliki seorang ayah yang gemar bermain perempuan,” ucap Jamila pada dirinya sendiri.


“Mil …,” panggil Pak Salihun.


“Iya. Kenapa, Pak?” Jamila bertanya balik.


“Maafkan aku kalau pernah bersikap kurang ajar sama kamu, ya?” ucap Pak Salihun.


“Kurang ajar? Enggaklah! Pak Salihun selama ini selalu sopan, kok, sama aku,” jawab Jamila polos.


Sedangkan waktu itu yang ada di pikiran Pak Salihun adalah kejadian kemarin malam saat ia tanpa sengaja memegang tangan lembut Minul yang ia kira sebagai Jamila.


“Maksud aku, kejadian kemarin malam, Mil,” balas Pak Salihun berusaha memperjelas omongannya.


“Kemarin malam? Ah, enggak. Pak Salihun itu selalu bersikap baik dan sopan terhadapku,” jawab Jamila sambil mengingat-ingat kejadian yang ia alami kemarin malam.


Seingat Jamila, kemarin malam ia tidak banyak berbincang-bincang dengan Pak Salihun. Ia hanya melihat dan menyapa Pak Salihun sekilas ketika sama-sama menyaksikan kedatangan polisi di rumah Pak Dimas. Selebihnya, ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Pak Ratno yang saat ini membuat hatinya dongkol.


“Begitu ya, Mil? Ya sudah kalau menurut kamu itu tidak salah. Aku berterima kasih banyak kepadamu,” balas Pak Salihun.


Jamila hanya tersenyum sesaat. Ia tidak menyangka kalau hati Pak Salihun selembut itu. Menurut Jamila, sikap Pak Ratno pada saat menyapanya kemarin malam itu biasa saja, tapi Pak Salihun menganggapnya sebagai perbuatan tidak sopan. Berbeda dengan Pak Ratno yang jelas-jelas menyakiti hatinya, tapi ia tidak pernah mengucapkan kata maaf pada Jamilah.


“Alhamdulillah, Mil. Kita sudah sampai di jalan raya. Kita tunggu angkutan umum di sini, ya? Kamu haus nggak, Mil?” ucap Pak Salihun ketika mereka sudah sampai di jalan besar.


“Nggak usah, Pak. Aku nggak haus, kok,” jawab Jamila kalem.


“Nah, itu angkutannya sudah datang, Mil!” ucap Pak Salihun sambil menunjuk ke arah barat.


“Iya, Pak. Alhamdulillah …,” sahut Jamila.


Angkutan umum itu pun berhenti tepat di depan mereka berdua. Pak Salihun memberi kesempatan kepada Jamila untuk masuk duluan ke dalam angkutan umum disusul oleh Pak Salihun. Setelah mereka berdua masuk ke dalam angkutan umum, sopir pun segera menginjak pedal gas dan mobil angkutan pun melaju dengan kecepatan sedang. Namun, baru saja mobil itu berjalan beberapa meter, ada seseorang dengan pakaian compang-camping mencoba menghantikan mobil tersebut. Sopir itu pun berhenti tepat di sebelah orang tersebut. Pria dengan pakaian compag-camping dan bermasker itu pun masuk ke dalam mobil dan duduk di depan Jamila dan Pak Salihun yang duduk bersebelahan.


Orang-Orang merasa risih dengan kehadiran pria asing tersebut. Dan mereka agak menjaga jarak dengan pria itu. Ternyata, diam-diam pria misterius itu sambil menunduk tetap memperhatikan Jamila dan Pak Salihun.


“Mil, Gio kenapa tidak diajak?” tanya Pak Salihun berbasa-basi.


“Dia nggak mau pas aku ajak, Pak. Dia memilih main sama anaknya Minul,” jawab Jamila jujur.


“Minul? Kamu akrab sama dia?” tanya Pak Salihun.


“Akrab lah. Kenapa? Apa Pak Salihun naksir sama Minul?” goda Pak Salihun.


“Eng-gak, Mil. Kamu kok malah ngomong kayak gitu padahal aku Cuma nanya saja,” sanggah Pak Salihun padahal di dalam hatinya dia ingin berkata kalau dia sudah lama naksir sama Jamila.


“Ya nggak apa-apa, kan, aku ngomong kayak gitu? Pak Salihun dan Minul kan sama-sama single. Apa salahnya kalau saling suka? Aku mau kok jadi comblangnya kalau Pak Salihun beneran suka sam Minul,” jawab Jamila dengan renyahnya.


“Loh, aku kok malah jodoh-jodohin Pak Salihun sama Minul? Bukankah Minul itu sukanya sama Pak Ratno? Apa karena aku tidak terima hubungan mereka berdua, ya? Ah, ngapain aku ngurusi playboy itu,” rutuk Jamila pada dirinya sendiri.


“Ada-Ada saja kamu, Mil? Enggak lah, aku justeru sukanya sama orang lain,” jawab Pak Salihun.


Sayangnya, perkataan Pak Salihun yang terkahir ini tidak diperhatikan oleh Jamila. Perempuan itu sibuk dengan pikirannya sendiri.


Sementara itu pria dengan pakaian compang-camping itu memperhatikan mereka berdua dengan hati yang panas.


Setelah berjalan selama beberapa menit, sampailah kendaraan umum itu di depan sebuah pasar. Jamila dan Pak Salihun turun dari dalam mobil angkutan dan diikuti oleh pria dengan pakaian compang-camping itu. Karena kasihan, Jamila memberikan uang kembalian dari sopir angkutan umum kepada pria dengan pakaian compang-camping itu. Pria itu menerima pemberian Jamila dengan ekspresi ketus.

__ADS_1


“Aneh banget orang itu. Dikasih duit kayak orang marah,” gerutu Pak Salihun.


“Biarin saja, Pak! Mungkin lagaknya memang begitu,” jawab Jamila.


Mereka berbelanja di pasar tersebut kurang lebih selama setengah jam. Jamila yang melakukan transaksi dan Pak Salihun yang membawa barang-barangnya. Pria misterius itu terus saja membuntuti mereka berdua secara diam-diam dan ia pun semakin panas hatinya ketika menyaksikan Jamila terlihat kompak bersama dengan Pak Salihun. Meskipun sampai sejauh ini, ia tidak melihat ada sinyal-sinyal asmara di antara mereka berdua.


“Alhamdulillah, sudah lengkap belanjaannya, Pak. Ayo, kita pulang sekarang!” ajak Jamila.


“Apa kita tidak sebaiknya minum-minum dulu di warung, Mil?” tawar Pak Salihun.


“Enggak lah, Pak. Aku nggak enak kalau harus menitipkan Gio terlalu lama kepada Minul,” jawab Jamila.


“Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang, ya?” ajak Pak Salihun.


“Ayo!” jawab Jamila.


Mereka berdua pun langsung mencari angkutan umum untuk pulang. Setelah beberapa waktu akhirnya mereka pun sampai di jalan menuju ke dusun Delima. Mereka turun dari dalam angkutan umum di sana. Selanjutnya mereka harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju rumah Bu Dewi.


“Alhamdulillah, kita pulang dengan cepat, Mil,” ucap Pak Salihun.


“Iya. Barang-Barang yang ditulis oleh Bu Dewi juga lengkap semuanya,” jawab Jamila senang.


“Iya, untung tadi aku minta kardus jadi enak membawanya,” jawab Pak Salihun yang sedang menenteng kardus dengan mengguakan tangan kiri dan kanannya.


“Berat ya, Pak? Sini aku bantuin!” Jamila menawarkan diri.


“Nggak usah, Mil! Biar aku saja yang bawa,” jawab Pak Salihun dengan gagahnya.


“Sini, Pak, biar aku bantuin. Aku juga kuat, kok!” Jamila memaksa sambil berusaha menarik kardus yang ada di tangan kiri Pak Salihun.


“Jangan. Mil! Ini berat!” protes Pak Salihun berusaha mempertahankan kardusnya.


“Enggak. Sini, biar aku bantuin!” Jamila terus memaksa.


Kali ini Jamila menarik dengan kuat kardus yang dipegang oleh tangan kiri Pak Salihun. Pak Salihun pun tidak bisa mempertahankan kardus tersebut karena Jamila menarik lebih kuat. Karena ditarik terlalu kuat oleh Jamilam akhirnya tali rafia yang mengikat kardus itu pun putus dan Jamila kehilangan keseimbangan. Tubuhnya oleng ke arah kiri dan perempuan itu pun berteriak.


“Aduuuuh!!!” teriak Jamila sebelum akhirnya dengan cekatannya Pak Salihun  menangkap tubuh Jamila yang hampir rubuh ke arah kiri.


“Mil!!!” teriak Pak Salihun sambil menangkap tubuh Jamila.


Akibat insiden itu tubuh Pak Salihun terguling di tanah dengan Jamila berhasil mendarat sempurna di lengan pria tua itu.


Selama beberapa detik mereka berdua tidak bergerak dan memikirkan apa yang sedang terjadi saat itu.


“Mil, kamu nggak apa-apa?” tanya Pak Salihun dengan cemasnya.


“Enggak, Pak. Aku nggak kenapa-kenapa. Makasih banyak ya, Pak. Kamu sudah menyelamatkan aku. Kalau enggak, kepalaku mungkin sudah terbentur ke batu,” jawab Jamila sambil berusaha lepas dari pelukan Pak Salihun.


“Syukurlah, kamu nggak apa-apa, Mil. Aduh!” pekik Pak Salihun sambil memegang lengan kirinya yang sakit.


“Kenapa lenganmu, Pak?” tanya Jamila cemas.


“Nggak apa-apa, Mil! Hanya digigit semut saja barusan,” jawab Pak Salihun senang karena melihat reaksi cemas Jamila.


“Oalah, kirain kenapa-kenapa,” jawab Jamila lega.


Sementara itu Pak Ratno yang sedang mengintai mereka berdua di semak-semak dengan menggunakan pakaian compang-camping pun menjadi kesal dan marah dengan kedua orang yang terlihat mesra itu. Ia tidak kuat lagi untuk melanjutkan pengintaiannya. Perasaannya terlalu sakit melihat Jamila dan Pak Salihun semesra itu. Pak Ratno pun melemparkan pakaian compang-campingnya ke parit. Ia terus berjalan menuju rumahnya dengan perasaan hancur dan kecewa.


BERSAMBUNG


Ayo ikutan GAME BERHADIAH


Caranya : Like dan komen di setiap bab novel MARANTI


Setiap akun yang ikutan akan diundi awal Desember 2022 untuk memperebutkan pulsa @10 ribu u/ 3 pemenang

__ADS_1


Aku tungguin ya partisipasimu!


__ADS_2