MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 115: SUAMI SETIA?


__ADS_3

Bu Nisa terkejut karena ia merasa kembali berada di dalam koridor kamar hotel. Bu Nisa mengedarkan pandangan ke sekeliling karena ia khawatir akan bertemu lagi dengan hantu-hantu itu.


“Ya Tuhan! Apa yang diinginkan Laras terhadapku? Pasti dia ingin menghantuiku lagi. Buktinya ia tdak membiarkanku kabur dari hotel ini. Tidak! Aku harus pergi dari sini. Aku tidak boleh menyerah! Aku terlalu taku pada hantu-hantu itu! Aku harus segera pergi! Kenapa Laras tetap menahanku di hotel ini? Tidak! Kalau aku lihat baik-baik. Hotel ini berbeda dengan yang tadi. Yang ini jauh lebih mewah dan rapi dari yang tadi. Dimana aku sekarang? Tapi, suara langkah siapa itu?” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Tap Tep Tap Tep


Terdengar suara langkah yang tegas dari arah lift. Bu Nisa buru-buru bersembunyi di dekat tangga darurat. Hanya di sanalah ia dapat bersembunyi karena posisi kamar yang membentang lurus di hotel tersebut.


“Loh, itu kan Mas Ade? M-“ hampir saja Bu Nisa memanggil suaminya saat itu.


Bu Nisa mengurungkan memanggil suaminya karena ia baru ingat bahwa ia sedang berada di dunia aneh sejak tadi. Ia khawatir akan terjadi sesuatu kalau ia buru-buru memanggil suaminya. Lagipula ia juga merasa penasaran apa yang dilakukan oleh suaminya di tempat tersebut.


“Apa yang dilakukan Mas Ade di tempat ini? Ah, apa mungkin Mas Ade juga akan melecehkan Laras seperti dua sahabatnya yang lain? Tidak mungkin! Mas Ade bukan orang yang tidak setia. Dia memang nakal, tapi aku tahu bahwa dia hanya hobi berjudi dan minum saja. Kalau urusan perempuan, dia sangat anti terhadap hal itu,” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri sambil mengamati gerak-gerik Pak Ade.


Bu Nisa menatap dengan penuh penasaran ke arah suaminya yang sedang memasuki sebuah kamar hotel. Pada saat berada di tangga darurat itulah, Bu Nisa dapat melihat pemandangan di sekitar hotel tersebut dan ia baru menaydari bahwa ia sedang berada di hotel Bunga yang merupakan hotel terbesar di daerahnya.


“Apa sebenarnya yang sedang dikerjakan oleh Mas Ade di hotel ini? Aku kok jadi curiga begini, ya?” ucap Bu Nisa kembali pada dirinya sendiri.


Bu Nisa kembali menatap ke arah pintu kamar yang baru saja dimasuki oleh suaminya.


“Aku harus mengintip ke pintu itu. Aku ingin tahu apa yang sedang dikerjakan oleh suamiku di sana,” ucap Bu Nisa pada dirinya lagi sambil berjalan secara perlahan menuju pintu kamar itu.

__ADS_1


Bu Nisa berjalan secara mengendap-endap karena ia takut ketahuan oleh orang lain. Ia mengatur langkahnya  agar tidak menimbulkan suara yang keras. Setelah berjalan berjingkat-jingkat selama beberapa detik akhirnya Bu Nisa pun sampai tepat di depan pintu kamar yang dimasuki oleh suaminya.


“Haruskah aku menguping? Bagaimana kalau Mas Ade sampai tahu apa yang sedang aku lakukan? Pasti ia akan marah besar karena merasa tidak dipercayai olehku. Tapi, kalau aku melakukannya dengan hati-hati, dia pasti tidak akan tahu dan aku juga bisa mengobati rasa penasaranku ini,” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri.


Kemudian Bu Nisa pun menempelkan telinganya pada pintu kamar hotel tersebut sama seperti yang ia lakukan tadi saat menguping di kamar yang disewa oleh Pak Dimas. Jantung Bu Nisa berdegup dengan kencang karena ia sangat takut dengan apa yang akan ia ketahui setelahnya.


“Bagaimana kalau aku sampai mendengar sesuatu yang akan sangat menyakitkan hatiku?Tidak! Aku yakin Mas Ade bukanlah seorang suami yang tidak setia. Ia sudah berjanji kepadaku bahwa senakal-nakalnya dia, dia tidak akan berselingkuh dengan orang lain. Iya, aku yakin Mas Ade akan memegang janjinya terhadapku,” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri dengan perasaan was-was.


Akhirnya Bu Nisa pun menempelkan daun telinganya di daun pintu yang cukup lebar itu sekitar delapan puluh centimeter sesuai dengan lebar daun pintu pada umumnya. Dengan perasaan was-was, Bu Nisa pun memusatkan pendengarannya pada suara-suara di dalam kamar tersebut.


“Laras … kamu sudah dinodai oleh kedua sahabatku yaitu Hartono dan Dimas. Dan kali ini kamu juga akan kembali dinodai oleh salah satu kontraktor terbesar di kota ini yang sebentar lagi akan menjadi pejabat  di kota ini. Harusnya aku tidak perlu mengalah pada kotraktor tersebut. Tapi, setelah dipikir-pikir kalau benar dia akan menjadi pejabat di kota ini maka dengan memiliki rekaman hubungan intim kamu dengan kontraktor itu maka aku akan mudah mendapatkan tender-tender proyek di masa yang akan datang. Jadi, untuk kali ini biarlah aku membiarkan kontraktor itu memenangkan tendernya dan kamu aku berikan sebagai hadiah kepada bandot tua itu. Memang ini di luar rencanaku semula, tapi dengan memberikanmu pada bandot tua itu maka aku akan mendapatkan tender-tender besar di masa yang akan datang,” ucap Pak Ade pada Laras yang sedang pingsan di dalam kamar.


“Oh, ternyata benar. Suamiku adalah seorang laki-laki yang sangat setia. Dia hanya memanfaatkan Laras untuk memperlancar proyek-proyeknya. Aku salut sama Mas Ade. Dia memang sangat mencintaiku dan menjaga komitmen pernikahannya denganku. Pokonya Mas Ade is the best, dah!” ucap Bu Nisa pada dirinya sendiri sambil melanjutka aksinya menguping suaminya sendiri.


“Sialan! Ternyata suamiku tidak seperti yang aku duga.Dia ternyata diam-diam sudah sering menggunakan jasa perempuan bayaran. Kurang ajar kamu, Mas Ade! Aku kira kamu itu laki-laki setia. Tidak kusangka kamu tega menghianati cintaku!” ucap Bu Nisa dengan perasaan penuh amarah.


“Laras ... Kamu diam saja, ya! Aku akan menjadi ayah dari anakmu nanti. Ha ha ha ha ha …,” ucap Pak Ade dengan suara mesum.


Bu Nisa benar-benar marah kepada Pak Ade karena merasa sudah dibohongi dan dihianati selama ini. Dengan penuh amarah ia pun membuka pintu kamar hotel yang ternyata tidak dikunci.


“Mas Adeeeeee!!!” teriak Bu Nisa dengan sangat keras begitu melihat suaminya sudah bersiap untuk melecehkan Laras yang sedang pingsan.

__ADS_1


Pak Ade terkejut dengan kedatangan istrinya saat itu.


“Diiiiik … Ini tidak seperti yang kamu lihat!” ucap Pak Ade sambil merengek dan berlari dan berlutut di kaki Bu Nisa.


“Apa kamu kira aku bodoh, Mas? Kamu jekas-jelas sudah mengakui bahwa kamu ini terbiasa tidur dengan *****-***** yang kamu sewa. Dan kali ini kamu juga akan meniduri anak ingusan itu!” bentak Bu Nisa dengan penuh amarah.


“Maafkan aku, Dik!” ucap Pak Ade dengan terus memohon di kaki istrinya.


“Tidak ada ampun bagimu, Mas! Kamu sudah kelewat batas!” teriak Bu Nisa lagi.


“Tidak, Dik! Aku khilaf! Maafkan aku, Dik!” Pak Ade terus memohon-mohon agar dimaafkan oleh istrinya.


“Tidak, Mas! Kamu sudah terlambat, Mas!” teriak Bu Nisa.


Setelah itu Bu Nisa merasa pusing di kepalanya. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit laur biasa itu. Yang didengar oleh Bu Nisa saat itu adalah suara Laras yang mengulang-ulang ucapannya.


“Sudah terlambat, Bu Nisa! Sudah terlambat! Suamim sudah merusak masa depanku! Sudah terlambat!” suara Laras yang berputar-putar di kepala Bu Nisa.


“Tidaaaaaak!!!!!” teriak Bu Nisa dengan keras karena ia masih syok atas perilaku suaminya yang sangat menyakiti hatinya selama ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Berikan like dan komentar di novel KAMPUNG HANTU karyaku dan menangkan hadiah pulsa!


__ADS_2