MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 100 : MAKAN MALAM


__ADS_3

Bu Nisa melotot juga ke arah sosok perempuan itu karena saking terkejutnya.


“Ini aku …,” ucap perempuan itu dengan polosnya sambil mengikat rambutnya yang barusaja terurai.


“Eh, Ibu … Mohon maaf,” jawab Bu Nisa salah tingkah.


“Kamu nggak usah takut! Meskipun rumah ini tidak semewah rumah kamu, selama kamu berada di dalam rumah ini kamu dan keluargamu aman. Nggak usah parnoan begitu!” jawab Nenek Galuh.


“I-iya, Bu. Saya mohon maaf,” jawab Bu Nisa dengan malu-malu.


Ia sadar bahwa saat itu ibunya Jatmiko sedang membaca isi hatinya yang memang sedang merasa ketakutan.


“Sudah, ayo kita makan malam! Supaya kalian tidak kehilangan energi untuk menghadapi hal apapun nanti,” ajak Nenek Galuh.


“Iya, Bu,” jawab Bu Nisa dengan menundukkan kepalanya.


Nenek Galuh pun berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang pembatas menuju bagian belakang rumah. Ketiga orang di belakang itu pun mengikuti arah jalan Nenek Galuh. Di sudut ruangan mereka melihat Jatmiko sedang duduk di kursi menghadap meja berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu jati.


“Bawa anakmu ke kamar mandi itu! Airnya memang tidak ada, kalian bisa menggunakan air persediaan minum di timba itu,” perintah Nenek Galuh yang tentu saja kembali mengagetkan Bu Nisa dan Pak Ade.


“I-iya, Bu …,” sahut Bu Nisa dengan terbata-bata.


Bu Nisa dan Pak Ade pun membawa Revan ke kamar mandi yang rusak itu. Bu Nisa mengambil air dari timba di pojok ruangan untuk dibawa ke kamar mandi. Sedangkan Pak Ade membawa Revan ke kamar mandi yang tidak dipakai itu.


“Ya Tuhan!” Bu Nisa berteriak karena terkejut.


“Ada apa, Dik?” tanya Pak Ade dari kamar mandi.


“A-da suara perempuan dari balik tembok, Mas!” sahut Bu Nisa sambil mundur perlahan dari timba yang letaknya di pojok ruangan itu.


“Tidak usah takut, Nduk! Laras tidak akan bisa masuk ke dalam rumah ini. Ia hanya akan menakutimu dari luar rumah. Semakin kamu takut, maka dia akan semakin gencar menakutimu. Kamu harus melawannya!” sahut Nenek Galuh sambil duduk di sebelah Jatmiko.

__ADS_1


“Tapi, Bu-“ jawab Bu Nisa dengan ketakutan.


“Kamu harus melawan rasa takutmu sendiri kalau tidak ingin semalaman ini kamu akan diganggu terus oleh perempuan itu!” teriak Nenek Galuh dengan cukup keras.


“I-iya, Bu,” jawab Bu Nisa dengan memberanikan diri melangkah ke depan untuk mengambil air di dalam timba dengan menggunakan ayung berwarna abu tua.


Aarrrrrrgh ….


Itulah suara yang didengar oleh Bu Nisa, tapi ia berusaha untuk memberanikan diri melawan rasa takutnya. Dan akhirnya ia pun berhasil mengambil air dari dalam timba dan dibawa ke kamar mandi untuk digunakan Revan mencuci mukanya.


“Kamu nggak apa-apa, Dik?” tanya Pak Ade.


“Ibu kenapa?” tanya Revan ketika melihat ekspresi ketakutan ibunya.


“Tidak apa-apa, Revan,” jawab Bu Nisa sambil mengelus rambut anaknya.


“Sebaiknya kalian segera memberitahu anak itu, supaya anak itu juga ikut waspada!” teriak Nenek Galuh dari tempat duduknya.


“Sebenarnya ada apa, Bu?” tanya Revan lagi.


Bu Nisa dan Pak Ade makin panik saja dengan pertanyaan anak semata wayang mereka itu.


“Kamu cuci mukamu dulu, ya! Habis ini ibu jelaskan semuanya,” ucap Bu Nisa sambil menyuruh anaknya itu mencuci mukanya sendiri.


Revan pun langsung mencuci mukanya dengan bersih. Setelah itu ia pun ikut dengan bapak dan ibunya berjalan menuju Jatmiko dan Nenek Galuh. Revan duduk dengan diapit oleh Pak Ade dan  Bu Nisa.


“Sebaiknya kamu jelaskan sekarang kepada anakmu, Nduk!” suruh Nenek Galuh dengan suara lebih lembut.


“Iya, Bu,” sahut Bu Nisa sambil menoleh kepada anaknya.


Revan menunggu penjelasan ibunya dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


“Revan masih ingat dengan hantu yang Revan temui di rumah sakit?” tanya Bu Nisa memulai pembicaraan.


“Hantu tante-tante itu?” tanya Revan.


“Iya. Dia itu hantu yang jahat. Dia itu akan mencelakai Ibu, Revan, dan Bapak,” tutur Bu Nisa dengan perasaan sedih.


Revan dan semua orang yang ada di tempat itu menyimak dengan baik-baik perkataan Bu Nisa. Mereka sadar di antara mereka, Bu Nisa lah yang mampu menjelaskan kepada Revan sesuai usia anak itu.


“Malam ini hantu itu akan mengganggu kita bertiga lagi. Semakin kita takut, maka hantu itu akan semakin kuat tenaganya untuk menakuti kita. Tapi, kalau kita berani dan tidak menganggap gangguan hantu itu maka kekuatan hantu itu akan lemah” lanjut penjelasan Bu Nisa.


“Apa kayak dulu waktu Revan ikut puasa sama Mas Ibnu? Kalau ingat makanan maka rasa lapar akan semakin datang, tapi kalau aku bawa main, maka nggak kerasa sudah waktunya berbuka?” tanya Revan.


“Pinter. Persis seperti itu. Dan selama kita bertiga ada di dalam rumah ini, kita akan aman dari gangguan hantu itu karena rumah ini sudah dipagari oleh Om Jatmiko dan Nenek Galuh. Jadi, Revan tidak perlu takut kepada hantu itu. Kalau hantu itu malam ini mengganggu Revan, Revan tahu kan apa yang harus dilakukan?” tanya Bu Nisa.


“Iya. Revan akan memikirkan hak lain. Revan mau mikir mainan mobil-mobilan Revan dan juga mikirin Mas Ibnu,” jawab Revan dengan cerdasnya.


“Kamu memang pintar, Nak!” jawab Bu Nisa sambil memeluk anaknya yang sedang duduk di sebelahnya


Nenek Galuh yang sedang ada di depan Bu Nisa memberi kode kepada Bu Nisa untuk menjelaskan semua kejadian yang mungkin terjadi pada besok malam, tapi Bu Nisa menggunakan bahasa isyarat kepada Nenek Galuh bahwa malam ini ia cukup menjelaskan hal tu saja kepada Revan. Masih ada besok pagi untuk menceritakan semuanya kepada anak kesayangannya itu.


“Sekarang waktunya makan!” ajak Jatmiko yang menyadarkan lamunan semua orang yang ada di tempat itu.


Mereka pun menyantap makanan dengan lahap seolah-olah itu adalah makan malam terakhir buat mereka. Setelah selesai makan malam, Nenek Galuh menyampaikan sesuatu untuk Bu Nisa dan Pak Ade. Bu Nisa memberika Ponselnya kepada Revan untuk mengalihkan perhatian anak satu-satunya itu.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, Nenek Galuh melempar sesuatu ke sekeliling ruangan sambil merapal mantra. Terdengar suara teriakan dari luar rumah. Bu Nisa dan Pak Ade kebingungan dengan apa yang mereka lihat.


“Nak Ade  … Nduk Nisa … Tidak usah takut! Barusan itu saya memagari dobel rumah ini agar hantu itu tidak mendengar apa yang akan kita bicarakan,” ucap Nenek Galuh.


Pak Ade dan Bu Nisa hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban Nenek Galuh. Di dalam hati mereka mengagumi kesaktian ibunya Jatmiko itu dan yakin bahwa ibunya Jatmiko akan bisa melenyapka hantu Laras dari kehidupan mereka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2