
Revan berjalan sedikit berlari mengejar mobil-mobilan kesayangannya yang terus menggelinding menjauh dari anak itu menyusuri koridor rumah sakit.
“Jangan lari terus, Mobil! Aku capek yang mau mengejar!” teriak Revan pada mobilnya.
Tentu saja mobil mainan itu tidak menjawab. Mainan itu terus saja menggelinding mengikuti arah putaran rodanya sendiri.
Revan tidak menyerah begitu saja. Ia tidak mau kehilangan mainan pemberian ayahnya itu. Mobil mainan itu terlalu berkesan di hati anak itu karena diberikan oleh ayahnya sebagai kado ulang tahun beberapa bulan yang lalu. Ayahnya memang sering sibuk dengan urusan bisnisnya, tapi ayahnya tidak pernah lupa untuk memberikan kado di hari ulang tahun Revan sejak kecil.
Pada saat hari ulang tahun itu kebetulan Pak Ade sedang ada urusan bisnis di luar kota. Pak Ade sudah berhari-hari tidak pulang. Pak Ade berangkat meninggalkan rumah dua hari sebelum Revan berulang tahun. Pada hari ulang tahunnya, Bu Nisa membeli sebuah kue tar dan mengadakan acara kecil-kecilan yang dihadiri oleh keluarga Pak Dimas dan Pak Jefri. Revan mendapatkan hadiah istimewa dari ibunya saat itu, namun revan tetap merasa sedih karena ketiadaan ayahnya di momen berharga itu.
“Revan, ayo makan! Nasi kuningnya enak banget loh! Tadi Kak Niko sampai habis dua piring saking enaknya. Tinggal giliran Revan yang belum mencicipi nasi kuning buatan ibu,” rayu Bu Nisa sambil mengelus pundak Revan.
“Aku masih kenyang, Bu. Ibu saja yang makan! Revan masih ingin duduk di sini,” jawab Revan datar.
Bu Nisa yang mengetahui perasaan Revan saat itu pun terus saja merayu anaknya itu supaya makan.
“Revan kangen sama ayah, ya? Ayah juga pasti kangen juga sama Revan. Cuma kali ini ayah Revan sedang ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan di sana,” jawab Bu Nisa.
“Revan ingin ngobrol dengan ayah, Bu. Kenapa ayah mematikan Ponselnya? Revan tidak minta kado dari ayah, kok. Revan hanya ingin mendengar suara ayah. Tahun lalu ayah juga ke luar kota pada hari ulang tahun Revan. Masa tahun ini ayah nggak datang lagi? Ayah itu sayang nggak sih sama Revan?” jawab Revan sambil meneteskan air mata.
Bu Nisa memeluk erat Revan. Batin perempuan itu saat itu menangis. Jangankan Revan, ia sendiri juga dicuekin akhir-akhir ini oleh Pak Ade.
“Revan, ayah itu bekerja untuk Revan dan untuk kita semuanya. Kamu jangan pernah meragukan sayangnya ayah kepada Revan lagi, ya? Kasihan ayah di sana ayah pasti sedang kerja keras untuk kita semua,” jawab Bu Nisa sambil menghibur hati anaknya sekaligus menghibur dirinya sendiri.
“Bu, Revan itu ingin hidup yang seperti dulu. Meski tidak punya mobil, tapi ayah selalu ada di rumah menemani Revan bermain. Tidak seperti sekarang! Ayah sekarang sibuk dengan bisnisnya, tapi ayah tidak pernah punya waktu untuk menemani Revan,” jawab Revan sambil menangis tersedu-sedu.
Perkataan Revan itu terang saja menghunjam jantung Bu Nisa. Apa yang dikatakan oleh Revan itu juga mewakili apa yang ada di hati Bu Nisa. Memang, semenjak usaha Pak Ade meningkat, Pak Ade menjelma menjadi sosok yang lain. Ia sudah tidak hangat lagi seperti dulu. Sosoknya menjadi dingin dan mudah marah. Dan yang paling ektrim adalah, Pak Ade jarang sekali berada di rumah dengan alasan urusan bisnis di luar kota. Entah benar atau tidak, tapi sebagai manusia normal, Bu Nisa juga pernah merasa curiga bahwa suaminya itu sudah memiliki wanita idaman lain di luar sana. Namun, lagi-lagi sebagai wanita biasa, Bu Nisa tidak bisa berbuat banyak. Ia harus pasrah dengan semua ini. Namun, ketika hal itu ternyata menyakitkan juga bagi Revan, Bu Nisa mulai berpikir untuk menyampaikan hal itu kepada suaminya karena Bu Nisa tidak mau hal itu dapat mengganggu tumbuh kembang anaknya, Revan.
“Revan, kamu doakan ayah ya semoga sehat dan segera selesai urusannya di luar kota. Jadi, ayah bisa segera pulang. Tapi, sekarang Revan harus makan dulu supaya Revan tidak sakit. Karena kalau Revan sampai sakit, nanti ayah kalau sudah pulang malah nggak bisa ngajak Revan jalan-jalan lagi. Iya, kan?” rayu Bu Nisa lagi.
Revan tidak menyahut. Ia tahu persis kalau itu hanyalah cara ibunya untuk menghibur perasaannya. Namun, kalau ia tidak mau makan, nanti ibunya akan semakin sedih. Revan pun mengusap air matanya. Bukan karena ia sudah kehilangan rasa sedihnya, tapi karena ia tidak ingin ibunya bersedih.
Tiba-Tiba terdengar suara dari arah belakang mereka berdua.
“Siapa yang sejak pagi tadi tidak mau makan?” Suara itu terdengar tidak asing lagi bagi kedua orang itu.
Bu Nisa dan Revan dengan spontan menoleh ke belakang. Ternyata suara itu berasal dari Pak Ade yang sedang membawa tas punggung.
“Mas Ade ...,” sapa Bu Nisa dengan menyungging senyuman.
Pak Ade melihat senyuman istrinya saat itu. Memang istrinya sudah tidak muda lagi, namun kecantikan istrinya masih belu pudar sepenuhnya meksipun sehari-hari istrinya itu direpotkan dengan urusan rumah yang tidak ada ujung pangkalnya.
“Ayaaaaaaah!!!!” teriak Revan histeris begitu melihat sosok ayahnya tiba-tiba muncul di depannya.
Revan berlari dengan gembira menuju ayahnya. Begitu sampai di depan ayahnya, anak kecil itu langsung memeluk tubuh ayahnya erat-erat. Pak Ade mengangkat tubuh kecil ayahnya dan menggendongnya. Revan makin erat memeluk ayahnya itu seolah-olah ia tidak ingin ayahnya pergi lagi.
“Katanya ada yang ulang tahu hari ini? Ayah kok tidak diundang?” Pak Ade pura-pura bertanya pada Revan.
“Iya, aku yang ulang tahun hari ini, Ayah. Aku sudah berusaha menghubungi nomor ayah, tapi tidak terhubung,” jawab Revan dengan suara merengek.
__ADS_1
“Maafin ayah ya, Nak. Ayah sedang sibuk dengan pekerjaan sampai lupa mengisi baterai Ponsel,” jawab Pak Ade.
“Tidak apa, Yah. Yang penting ayah sudah datang sekarang. Aku sudah senang, kok!” sahut Revan.
“Tapi, meskipun ayah datang terlambat. Ayah tidak lupa menyiapkan kado untuk Revan, loh!” jawab Pak Ade.
“Oh ya? Beneran, nih?” tanya Revan tidak percaya.
“Beneran. Nih, ayah bawa kado buat Revan!” jawab Pak Ade sambil memberikan sebuah kotak mainan untuk anaknya.
“Ya Tuhan! Mobil-Mobilan?” pekik Revan tidak percaya.
“Iya. Ayah sengaja membelikan ini untuk Revan. Kamu suka, kan? Tapi, maaf ayah nggak sempat membungkusnya dengan kertas kado,” jawab Pak Ade.
“Terima kasih banyak, Yah. Tidak apa-apa tidak dibungkus. Revan ngerti kok ayah itu sibuk banget,” jawab Revan.
“Sekarang kamu turun dan buka dulu ya hadiahnya! Ayah mau mengobrol sama ibu kamu,” ucap Pak Ade sambil menurunkan Revan dari atas gendongannya.
“Iya, Yah!” jawab Revan sambil membawa mainan mobil-mobilannya ke atas kursi.
Pak Ade berjalan mendekati istrinya.
“Dik, gimana keadaan rumah?” tanya Pak Ade.
“Baik, Mas. Paling hanya nggak ada sosok suami dan ayah saja,” jawab Bu Nisa dengan nada sedikit menyindir.
“Aku sudah punya kalung, Mas. Ada tiga malahan. Yang aku butuhkan sekarang adalah sosok ayah untuk Revan. Kasihan anak itu kalau malam susah tidurnya karena nyariin mas terus,” jawab Bu Nisa sambil mengambil tas yang dipegang suaminya dan dibawa ke kamar.
“Tapi, Dik-“ protes Pak Ade.
“Sebaiknya Mas segera mandi dulu! Aku sudah siapkan air hangatnya! Setiap hari malah,” sahut Bu Nisa tanpa bisa dibantah lagi oleh Pak Ade.
Setelah berlari selama beberapa menit mengejar mobil-mobilannya akhirnya Revan berhasil meraih mainan kesayangannya itu. Namun, saat mobil-mobilan itu sudah ada di tangannya, tiba-tiba Revan dikejutkan dengan kehadiran sesosok bayangan putih melintas di depannya.
“Siapa itu?” teriak Revan sambil memegang mobil-mobilannya dan menoleh ke kiri dan ke kanan memanggil sosok berpakaian putih yang datang dan menghilang dengan cepat tersebut.
Tidak ada sahutan dari orang lain. Revan hanya sendirian waktu itu. Tidak ada penghuni rumah sakit yang lain yang ada di koridor. Penerangan lampu pun tidak begitu terang di tempat itu.
Setelah berdiri selama beberapa detik tidak kunjung juga muncul sosok berpakaian putih yang ia cari, Revan pun berencana untuk kembali ke kamarnya lagi.
“Ya sudah, kalau tidak mau keluar, aku mau masuk ke kamar lagi!” teriak Revan sambil berusaha memutar tubuhnya untuk kembali ke kamar perawatan ayahnya.
Saat Revan berkata seperti itu, tiba-tiba angin sepoi-sepoi berhembus di sekitar tempat tersebut. Revan merapatkan kedua tangannya ke dadanya untuk menghalau rasa dingin itu. Dan dari sudut mata anak itu terlihat seseorang berpakaian putih dan berambut panjang sedang duduk di sebuah kursi di depan salah satu kamar yang lampunya tidak dinyalakan. Mungkin tidak ada pasien di dalamnya.
Revan menajamkan pandangannya ke arah sosok wanita berpakaian putih yang sedang duduk di kursi itu. |Entah mendapat keberanian dari mana, Revan pun berjalan secara perlahan mendekati sosok berpakaian putih yang sedang duduk sambil menunduk dan rambut panjangnya tergerai menutupi keseluruhan wajahnya.
“Tante ngapain?” panggil revan pada sosok perempuan itu.
Sosok berbaju putih itu tidak menyahut. Ia tetap saja menunduk. Revan seperti terhipnotis untuk terus berjalan mendekati perempuan itu. Ia seperti dapat merasakan bahwa sosok perempuan itu sedang bersedih dan ia ingin menghiburnya. Revan melawan rasa takutnya sendiri untuk berjalan mendekati perempuan itu. Semakin Revan mendekati perempuan itu, ia semakin jelas mendengar kalimat yang diucapkan oleh perempuan misterius itu.
__ADS_1
“Tanteeeee ... Tante kenapa?” tanya Revan dengan lugunya.
Perempuan itu tidak menjawab. Ia terus saja bergumam. Revan berusaha untuk menajamkan pendengarannya untuk dapat mendengar suara yang diucapkan oleh perempuan itu. Tanpa ia sadari, kali ini Revan sudah berada pada jarak satu meter dari posisi duduk perempuan misterius itu. Dan ia sudah bisa mendengar dengan cukup jelas perkataan perempuan itu.
“Matiiiiiiii ... Matiiiiiii ...,” suara yang keluar dari mulut perempuan itu.
Revan terkejut setelah mendengar perkataan perempuan itu. Anak kecil itu tiba-tiba merasa ngeri mendengar ucapan yang keluar dari sosok perempuan itu. Ia pun menarik kepalanya agar menjauhi sosok perempuan berbaju putih itu. Namun, belum selesai revan menarik kepalanya untuk menjauhi perempuan itu, perempuan itu tiba-tiba menoleh ke arah Revan dan rambut yang menutupi wajahnya pun tersibak sehingga menampakkan wajah yang mengerikan yang semula disembunyikan oleh perempuan itu.
“Hantuuuuuuuuu!!!!” teriak Revan sambil berlari meninggalkan sosok perempuan itu.
Ketika Revan berlari meninggalkan sosok mengerikan itu, Revan dapat merasakan sosok perempuan itu seperti mengejarnya dari belakang. Dan hal itu membuat Revan berlari semakin kencang untuk menghindari kejaran hantu berwujud perempuan itu.
Revan terus berlari dengan segenap sisa kekuatannya. Yang ada di pikirannya saat itu adalah bagaimana caranya ia dapat lepas dari kejaran hantu itu dan segera bertemu dengan ayah serta ibunya yang akan melindunginya dari bahaya yang mengancam.
“Ibuuuuuu!!! Ayaaaaaah!!!” teriak Revan memanggil nama ayah dan ibunya agar segera keluar dari dalam kamar.
Namun, revan menyadari suatu hal bahwa dalam kondisi seperti itu ternyata suara yang dikeluarkan oleh Revan tercekat di tenggorokannya sendiri. Keringat Revan mengucur dengan deras sehingga bajunya basah oleh keringatnya sendiri. Jantung anak kecil itu juga berdetak dengan tidak beraturan saking paniknya. Revan tidak menyerah. Ia terus saja berlari menuju kamar perawatan ayahnya.
Setelah Revan bersusah payah menghindari kejaran hantu perempuan itu, sampailah Revan di depan pintu kamar ayahnya. Revan sedikit bernapas lega karena sebentar lagi ia akan sampai ke kamar ayahnya dan bertemu dengan kedua orang tuanya. Namun, lagi-lagi Revan dibuat terkejut karena begitu ia sampai di depan pintu kamar ayahnya itu, ada sebuah tangan yang mencengkram lehernya dan menangkap Revan dalam pelukannya.
Revan syok seketika. Ia merasa bahwa hantu perempuan dengan wajah mengerikan itu sudah berhasil menangkap dirinya.
“Jangan! Jangan makan aku! Aku pahit! Aku jarang mandi! Tolong, jangaaaaaan!!!’ rengek Revan dengan mata terpejam pada hantu perempuan yang sedang menangkapnya.
“Revan!!! Revan!!! Kamu kenapa, Nak?” suara orang yang menangkap Revan.
Revan mulai membuka kedua matanya dan ia terkejut karena yang ada di depannya bukan hantu wanita itu, tapi ibunya.
“Ibu??” pekik Revan tidka percaya.
“Iya, ini ibu. Kamu dari mana barusan?” tanya Bu Nisa dengan perasaan khawatir.
“Revan barusan mengambil mobil-mobilan yang menggelinding keluar kamar. Terus ... di sana itu Revan melihat ada hantu perempuan. Makanya Revan lari,” jawab Revan sambil menunjuk ke arah kursi yang ada di depan sebuah kamar kurang lebih tiga kamar jaraknya dari kamar yang ditempati mereka saat ini.
Bu Nisa menoleh ke arah kursi yang ditunjuk oleh anaknya. Ia tidak melihat apapun di tempat itu. Pikirnya, itu hanya omongan anak kecil semata yang salah lihat saja.
“Ayo, kita masuk ke dalam! Makanya kalau magrib-magrib jangan keluar!” ucap Bu Nisa sambil mengajak Revan masuk ke dalam kamar.
Revan masih merasakan ketakutan saat itu. Keringat dingin masih membanjiri tubuhnya.
“Sudah ketemu Revannya, Dik?’ tanya Pak Ade yang sedang gelisah di atas dipannya.
“Sudah, Mas. Revan kelaur mengambil mobil mainannya,” jawab Bu Nisa.
“Iya, Tah. Di luar sana Revan ketemu sama hantu perempuan rambutya panjang segini,” sahut Revan sambil mempergakan sosok perempuan yang baru saja ia temui.
“Apa? Hantu perempuan?” pekik Pak Ade terkejut mendengar pengakuan anaknya itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1