
Pak Ade tertidur nyenyak sambil menggenggam tangan istrinya. Pukul lima pagi mereka semua terbangun karena ada petugas cleaning service yang akan membersihkan kamar yang ditempati oleh mereka. Pak Ade pagi itu bangun dengan kondisi badan yang lebih bugar. Bu Nisa memang meminta kepada dokter Marni untuk memberikan obat terbaik untuk suaminya. Pak Ade pagi itu mengajak Revan bermain jari sambil tetap duduk di kasurnya. Kehadiran Revan di sana menambah semangat pria itu untuk segera sembuh.
Setelah mandi pagi secara bergantian di kamar mandi rumah sakit, Bu Nisa pun menyeka tubuh Pak Ade dengan air hangat sehingga badan pria tersebut menjadi lebih segar lagi. Sekitar pukul enam pagi, suster dengan ditemani mahasiswa fakultas kedokteran mendatangi kamar Pak Ade untuk melakukan pemeriksaan dan wawancara dengan Pak Ade. Pak Ade sendiri yang menjawab semua pertanyaan para mahasiswa itu dengan antusias.
“Mas, kayaknya kamu akan pulih lebih cepat,” ujar Bu Nisa dengan senyum mengembang.
“Syukurlah, Dik. Nggak enak, Dik, berlama-lama di sini,” jawab Pak Ade.
“Siapa juga yang betah berada di rumah sakit, Mas?” sahut perempuan itu.
Beberapa waktu kemudian muncul dokter Marni di ruangan tersebut.
“Eh, dokter Marni. Selamat pagi, Dok?” sapa Bu Nisa.
“Selamat pagi, Bu. Bagaimana kondisi Bapak pagi ini? Semalam bagaimana istirahatnya?” tanya dokter Marni.
“Hari ini badan saya lebih fit, Dok. Semalam saya tidurnya cukup nyenyak,” jawab Pak Ade.
“Baguslah kalau begitu. Saya cek dulu kondisi luka dan kondisi badan Bapak, ya?” ujar dokter Marni.
“Iya, Dok,” jawab Pak Ade.
Bu Nisa memperhatikan ketika dokter Marni melakukan tugasnya dengan sangat cekatan. Perempuan itu sudah tidak sabar menunggu kalima yang akan disampaikan oleh dokter Marni.
“Wah, saya lihat pemulihan lukanya bagus dan juga kondisi Bapak sangat banyak kemajuan. Hm … Sepertinya besok pagi Bapak sudah bisa pulang,” tutur dokter Marni singkat, padat, dan jelas.
“Wah, syukurlah kalau memang begitu, Dok!” sahut Bu Nisa senang.
“Terima kasih banyak ya, Dok, atas bantuannya. Oh ya, semalam istri saya lupa memberikan nasi bungkusnya kepada Dokter. Akhirnya nasi bungkus itu diberikan kepada suster Marisa,” ujar Pak Ade.
“Oh … nggak apa-apa Bapak. Semalam saya sudah keburu pulang,” jawab dokter Marni sambil memasukkan senjata perangnya ke dalam saku besar di jas kerjanya.
“Sekali lagi saya mohon maaf, Dok. Entah dengan apa kami bisa membalas kebaikan dokter Marni,” sahut Bu Nisa.
“Tidak usah repot-repot, Bu. Melihat Bapak pulih lebih cepat saja saya sudah senang. Nanti suster Marni akan mengantarkan obat luar dan dalamnya. Tolong obatnya dikonsumsi secara teratur biar besok Bapak sudah benar-benar bisa rawat jalan,” jawab dokter Marni.
“Tentu, Dok. Semua nasehat Dokter akan saya ikuti agar saya cepat sembuh dan bisa beraktifitas lagi,” jawab Pak Ade.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Oh ya, saya dapat kabar dari suster Marisa, katanya semalam ada tiga orang dewasa dan satu anak kecil yang ikut menginap di sini. Apa benar?” tanya dokter Marni yang cukup mengejutkan mereka.
“I-iya, Dokter. Kenapa? Apa kami telah melakukan kesalahan?” tanya Pak Ade dengan terbata-bata.
“Begini, Pak … Bu … di rumah sakit ini berlaku peraturan satu pasien hanya boleh dijaga oleh satu pendamping. Tentunya kalau jumlah pendampingnya lebih dari itu melanggar aturan di sini,” jawab dokter Marni dengan tegas.
“M-maafkan kam ya, Dok. Semalam anak saya ini rewel ingin sekali ketemu ayahnya. Akhirnya anak saya diantar oleh sepasang suami istri tetangga saya. Nah, begitu sampai di sini. Saya yang melarang mereka pulang karena sudah malam,” jawab Bu Nisa.
“Apapun alasannya, hak itu tidak dibenarkan di sini, Bu. Tolong jangan diulangi lagi. Manfaatkan jam berkunjung pasien dengan baik. Semua itu kami lakukan agar pasien dapat beristirahat denga nyaman,” jawab dokter Marni.
“I-iya, Dok. Terima kasih banyak atas semua bantuanya,” jawab Bu Nisa.
“Ya sudah. Saya pamit dulu ke ruangan saya,” ujar dokter Marni sambil berjalan meninggalkan kamar Pak Ade.
__ADS_1
“I-iya, Bu,” sahut Bu Nisa.
Setelah mengantar dokter Marni ke pintu, Bu Nisa kembali masuk dan berjalan menuju suaminya yang melanjutkan permainannya lagi dengan Revan.
“Dik, Pak Jefri dan Bu Jefri pamit ke mana?” tanya Pak Ade.
“Tadi sih bilangnya mau ke depan membeli sarapan,” jawab Bu Nisa.
“Untunglah, barusan mereka tidak ada ketika dokter Marni menegur kita,” balas Pak Ade.
“Iya, Mas,” sahut Bu Nisa enteng.
“Memangnya kenapa kalau kami ada di sini?” Tiba-Tiba Pak Jefri sudah ada di dalam kamar itu bersama istrinya.
“Eh … Pak Jefri. Dari mana kalian sejak tadi?” sapa Pak Ade pada tetangganya itu.
“Kami dari depan membeli kue untuk sarapan. Sekali lagi saya ingin tahu, kenapa kalau kami berdua ada di sini?” tanya Pak Jefri lagi.
Bu Nisa dan Pak Ade saling berpandangan dan Bu Nisa memilih untuk mengatakan yang sebenarnya kepada tetangganya itu.
“Begini, Pak Jeri … Mbak … Barusan kami berdua ditegur oleh dokter Marni perihal jumlah penunggu Mas Ade yang katanya melanggar peraturan di sini. Tapi, Pak Jefri dan Bu Jefri jangan tersinggung, ya? Jujur, keberadaan kalian berdua sangat membantu saya dan Mas Ade. Entahlah, kalau tidak ada kalian berdua, saya parti bingung sendirian,” jawab Bu Nisa dengan sopan.
“Oooo … begitu. Enggak kok, Bu Nisa .. Pak Ade … Kami berdua tidak tersinggung karena kami paham tentang peraturan tersebut,” jawab Pak Jefri.
“Terima kasih atas pengertiannya, Pak Jefri … Mbak …,” jawab Bu Nisa sopan.
“Oh ya, kita sarapan dulu, yuk?” ajak Bu Jefri.
Dan mereka pun akhirnya sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, tiba-tiba pintu diketuk seseoran. Suster Marisa datang membawa obat-obatan dan perban.
“Selamat pagi, Suster!” sapa Bu Nisa.
“Selamat pagi Ibu … Wah, kayaknya Bapak segeran pagi ini?” ujar suster Marisa.
“Iya, Sus. Ini berkat bantuan Suster juga. Suster bawa apa saja sekarang?” kata Pak Ade.
“Saya membawa obat-obatan untuk diminum hari ini dan juga saya disuruh mengganti perban luka Bapak oleh dokter Marni,” jawab suster Marisa.
“Oke, Suster,” jawab Pak Ade.
Karena ada suster Marisa di ruangan tersebut, Bu Nisa pun ingin berbincang-bincang dengan Pak Jefri dan Bu Jefri perihal Pak Dimas.
“Mas, saya ke luar dulu sebentar, ya?” ucap Bu Nisa.
“Mau ke mana, Dik?” tanya Pak Ade.
“Mau ke kantin dulu. Sebentar, kok!” jawab Bu Nisa.
“Jangan lama-lama! Jawab Pak Ade.
Bu Nisa pun berjalan ke luar kamar. Pak Jefri dan Bu Jefri yang mengerti tujuan Bu Nisa keluar itu pun segera berjalan menyusul Bu Nisa.
__ADS_1
“Saya mau ke kantin juga!” ucap Pak Jefri dengan sengaja dikeraskan agar didengar oleh Pak Ade.
“Aku ikut, Mas!” jawab Bu Jefri sambil berjalan menyusul suaminya.
Sesampai di luar kamar, Pak Jefri dan Bu Jefri ternyata sudah ditunggu oleh Bu Nisa.
“Pak Jefri. Bagaimana kabar terbaru tentang Pak Dimas?” tanya Bu Nisa.
“Jenazah Pak Dimas sejak semalam sudah ada di rumah sakit ini,” jawab Pak Jefri.
“Oh ya? Kapan jenazahnya sampai di sini?” tanya Bu Nisa penasaran.
“Pada saat Bu Nisa dan istri saya tertidur, saya melihat polisi dan tim medis sedang mendorong brankar berisi jenazah Pak Dimas lewat di depan kamar ini,” jawab Pak Jefri.
“Loh, kenapa kamu tidak membangunkan aku, Mas?” protes Bu Jefri.
“Saya tidak tega mengganggu tidur kalian berdua. Satu lagi alasan saya tidak membangunkan kalian adalah saya tidak mau mengundang keributan malam-malam. Ntar malah Pak Ade tahu kalau Pak Dimas meninggal,” jawab Pak Jefri.
“Ya, kamu benar, Pak Jefri. Saya khawatir Mas Ade syok kala mendengar kabar ini,” jawab Bu Nisa.
“Semalam saya juga sempat mengobrol dengan Bu Dimas juga, tapi tidak lama karena khawatir dengan keadaan di kamar,” jawab Pak Jefri.
“Menurut Pak Jefri, kita tetap merahasiakan ini dari Mas Ade atau kita sampaikan saja?” tanya Bu Nisa.
“Hm … Kalau menurut saya kita kasih tahu sekarang saja, Bu Nisa. Toh, keadaan Pak Ade sekarang sudah mendingan. Mumpung jenazah Pak Dimas belum dikebumikan. Kalau kita memberitahukannya setelah jenazah dikebumikan, saya khawatir pak Ade akan marah,” jawab Pak Jefri.
“Hm .. Kamu yakin, Pak Jefri?” tanya Bu Nisa dengan penuh kebimbangan.
“Iya, Bu. Lebih amannya begitu. Pak Ade pasti akan mara besar kalau tahu kematian Pak Dimas sengaja dirahasiakan terhadapnaya,” jawab Pak Jefri.
“Ya sudah, kalau begitu sehabis makan pagi saya akan menyampaikannya Mas Ade. Tolong Pak Jefri dan Bu Jefri menemani saya!” ujar Bu Nisa.
“Baiklah, Bu,” jawab mereka berdua.
“Kalau begitu ayo sekarang kita ke kantin biar Mas Ade tidak curiga!? Ajak Bu Nisa.
“Ayo!” jawab Pak Jefri dan Bu Jefri.
Mereka bertiga akhirnya berangkat menuju kantin. Tanpa mereka sadari, saat mereka berbelok ke kantin, Bu Dimas dan Niko dengan didampingi Herman dan Chintia berjalan melalui koridor kamar VIP menuju kamar mayat. Seandainya mereka datang semenit lebih awal pasti bertemu dengan mereka.
“Itu kamar Pak Ade. Haruskah aku mampir sekarang ke sana? Tapi, kalau nanti Pak Ade menanyakan suamiku bagaimana? Bukankah tadi malam Pak Jefri bilang kepadaku kalau Pak Ade tidak diberitahu dulu tentang kematian suamiku sampai kondisinya bena-benar stabil? Sebaiknya, aku langsung ke kamar jenazah saja untuk menjemput jenazah suamiku untuk dimakamkan di rumah,” kata Bu Dimas pada dirinya sendiri.
Namun, hal di luar dugaan terjadi. Saat ia melintas di depan kamar Pak Ade, bersamaan dengan keluarnya suster Marisa dari dalam kamar. Pada saat itu Revan berada di dalam kamar dan dapat melihat ada Bu Dimas di luar kamar melalui celah daun pintu yang terbuka.
“Budeeeeeee ….,” panggil Revan dengan keras.
Bu Dimas dan Pak Ade terkejut dengan teriakan anak kecil itu.
BERSAMBUNG
Monggo yang mau ngobrol bisa masuk ke group chat-ku!
__ADS_1