
Kakiku sudah menginjak teras rumah pak RW. Ada tiga pasang sandal yang berada di undakan di belakangku. Dua pasang sandal besar dan satu pasang sandal kecil dengan gambar kartun di bagian tengah. Satu pasang tentunya adalah milikku, satu pasang sandal kecil tentunya milik anaknya Clara, dan satu pasang lagi aku ragu itu milik Clara atau milik nenek tua itu. Jauh di lubuk hatiku, aku menduga nenek tua itu bukanlah manusia, melainkan makhluk jadi-jadian, makanya tidak ada sandalnya di teras.
Semakin mendekati pintu, entah mengapa suhu udara tiba-tiba agak hangat dan membikin gerah. Sayup-Sayup aku mendengar perdebatan di dalam rumah tersebut. Aku tidak dapat mendengarnya secara jelas, tetapi aku yakin yang sedang berdebat di dalam sama-sama perempuan. Pikirku, si Clara sedang berdebat dengan nenek tua itu. Aku yang semula menganggap nenek tua tadi hanyalah dedemit, mulai meragukan perkiraanku sendiri.
[Tok tok tok]
"Assalamualaikum ...."
Aku mengetuk pintu dan mengucap salam tepat di depan pintu. Terdengar teriakan keras sekilas, tetapi tidak begitu jelas. Aku mengetuk pintu kembali dengan agak dikeraskan. Entah mengapa, muncul sedikit keinginan di dalam hatiku, semoga mereka yang sedang berdebat di dalam segera menghentikan apa yang mereka lakukan setelah mendengar ketukan kerasku di pintu.
Selanjutnya, aku mendengar suara derap langkah agak keras sedang berjalan menuju ke arah pintu dari arah dalam rumah tersebut. Sedetik kemudian, tepat saat aku akan mengucapkan salam yang kedua. Tiba-Tiba pintu yang semula tertutup rapat, mendadak terbuka dengan lebar. Dari balik pintu itu muncullah Clara sambil menyungging senyuman.
"Eh, Kamu, Mbak?" pekik Clara dengan nada terkejut.
"Iya, Clara," jawabku berusaha membaca rona di wajahnya.
"Di dalam ada apa, Clara, kok sepertinya ramai sekali?" tanyaku menelisik.
"Nggak ada apa-apa, Mbak. Kebetulan saya baru saja menyuapi anak," jawab Clara.
"Anak sebesar itu masih kamu suapi, Clar?" sergahku tak percaya.
"Mau gimana lagi, Mbak? Kalau tidak digitukan, seharian dia tidak akan makan. Dia cuma asik dengan koleksi komik yang dibelikan ayahnya," jawab Clara dengan nada tinggi.
"Seharusnya kamu mulai mengajarinya untuk bisa makan sendiri. Anak itu sudah besar loh, ntar kalau disuapi terus, dapat menghambat perkembangan kemandiriannya," jawabku.
"Mbak Sinta sih, enggak tahu gimana sulitnya mengatur anak itu! Ntar deh, kalau sudah tahu keras kepalanya anak itu, pasti Mbak Sinta bakal kewalahan juga!" jawab Clara membela diri.
__ADS_1
"Oke, nanti saya akan mencoba membantumu, Clar," jawabku sambil melempar senyum kepada perempuan muda tersebut. Entah kenapa, saat itu aku teringat dengan masa kecil Nur yang bisa dibilang hiperaktif. Sudah tidak terhitung perkakas rumah yang amburadul akibat aksi supernya. Yang masih aku ingat sampai sekarang adalah saat ia mengguntingi kain milik beberapa pelanggan yang sudah kupotongi untuk dijadikan baju sesuai pesanan mereka. Iya, waktu itu aku masih membuka usaha taylor kecil-kecilan di rumah untuk membantu mas Diki yang masih bekerja serabutan. Stres, itulah yang kurasakan saat itu. Bagaimana tidak? Kain-Kain itu adalah milik para tetangga yang akan dipakai dua hari lagi untuk acara pengajian akbar di daerahku. Sedangkan, aku tahu sendiri harganya cukup mahal karena aku juga ikut menemani ibu-ibu tetangga membeli kain tersebut. Tak terbayang darimana aku harus memperoleh uang untuk mengganti kerugian yang harus kutanggung itu. Saking bingungnya, aku hampir saja memukul keras-keras anak semata wayangku itu. Untunglah, mas Diki tiba-tiba muncul di belakangku dan berteriak kencang ke arahku tepat saat tangan kananku mengacung ke udara, bersiap memberikan pukulan keras kepada buah hatiku itu.
Saat itu aku seperti sedang kesetanan. Darahku terasa berkumpul semua di kepalaku. Tak bisa kubayangkan seandainya aku benar-benar memukul anakku saat itu. Nur bisa jadi cacat atau meninggal karenanya.
Kupeluk erat tubuh mungil anakku saat itu. Kuciumi kepalanya dengan penuh derai air mata. Berkali-kali aku meminta maaf kepada anakku yang menatapku dengan wajah polosnya. Sedangkan, mas Diki juga memelukku dari belakang. Ia bukannya memarahiku karena hampir mencelakai Nur karena kehilangan kesabaran. Ia justru meminta maaf kepadaku karena belum bisa memenuhi kebutuhan keluarga dengan baik, sehingga, aku harus kelelahan karena juga bekerja di rumah di samping mengurus urusan rumah tangga. Bahkan saat itu mas Diki juga mengatakan kepadaku kalau aku boleh menggadaikan kalung warisan keluarganya untuk mengganti kain-kain yang sudah semrawut akibat ulah Nur kecil.
"Terima kasih, Mas," jawabku lirih sambil menyeka air mataku yang tak kunjung reda.
"Alhamdulillah, akhirnya istri cantik mas kembali," jawab mas Diki dengan senyum manisnya.
"Saya, kan, tidak kemana-mana, Mas?" protesku.
"Enggak, takutnya dibawa kabur, soalnya barusan ada Mak Lampir lewat sini," jawab suamiku dengan kembali menyungging senyumnya lebih lebar.
"Ah, Mas Diki, ada-ada saja," sergahku setelah mengerti maksud gurauan suamiku itu. Iya, mas Diki memang menyampaikan nasihatnya dengan cara bercanda, tetapi jauh di lubuk hatiku, aku benar-benar merasa bersalah dan malu dengan kesalahanku tadi. Aku berjanji kepada diriku sendiri, aku akan lebih sabar mengurus anakku. Tidak ada alasan bagiku untuk berbuat kasar kepada anak dan suamiku. Mereka jauh lebih bernilai dari apapun di dunia ini. Meskipun kain-kain itu mahal harganya, aku masih bisa bekerja lebih keras untuk membelinya. Namun, anak dan suamiku, jika mereka tiada, aku tidak akan mendapatkan mereka lagi. Membayangkan hal itu, kembali tangisku pecah.
"Enggak, Clar. Mbak ingat sesuatu saja," jawabku ringan.
"Apa itu, Mbak?" tanyanya penasaran.
"Bukan apa-apa, kok," jawabku sambil menyeka air mataku.
"Oke, kalau begitu," ucap Clara tidak mau menelisik lagi.
"Clar, ini saya membawa sedikit makanan untuk kamu dan ...," Aku menghentikan perkataanku sambil berharap Clara akan melanjutkannya dengan menyebut kata 'Ibu' untuk mewakili sosok perempuan tua yang beberapa kali menggangguku.
"Anakku?" jawab Clara sedikit mengecewakanku karena ia tidak menyebut nama perempuan tua itu.
__ADS_1
"Iya, Clar," jawabku menutupi rasa kekecewaanku.
"Terima kasih banyak, ya, Mbak. Mbak sudah repot-repot mengantarkan makanan ke sini," jawab perempuan muda tersebut.
"Ah, bukan apa-apa, kok," jawabku.
"Silakan duduk dulu, Mbak!" ucap Clara sambil menunjuk ke salah satu kursi. Aku pun duduk di kursi yang ditunjukkan Clara. Salah satu kursi jati milik Pak RW.
"Saya tinggal ke belakang dulu, ya, Mbak, untuk memindahkan makanan ini?"
"Iya, Clar."
Clara pun meninggalkan aku sendiri di ruang tamu yang ukurannya lumayan besar tersebut.
Aku mengamati keseluruhan isi ruang tamu tersebut. Tidak ada yang berubah. Masih sama dengan sewaktu rumah ini ditempati Pak RW dan keluarganya. Hanya tidak ada lagi tempelan-tempelan foto di dindingnya. Mungkin sudah dipindahkan ke rumah yang baru.
Agak lama aku menunggu Clara masuk ke dalam. Tiba-Tiba aku mendengar suara rintihan seseorang dari arah kamar di sebelah ruang tamu ini. Aku menajamkan telinga untuk memastikan apakah aku tidak salah dengar. Ternyata pendengaranku tidak salah.
"Claraaaaaaa!!!" panggilku di sela-sela rintihan suara itu.
Tidak ada sahutan dari arah dalam. Sedangkan, suara rintihan itu semakin keras terdengar.
"Claraaaaaaa!!!!" panggilku lebih keras lagi, bertarung dengan suara rintihan menyayat dari dalam kamar.
Masih saja tidak ada sahutan dari dalam. Entah mengapa bulu kudukku tiba-tiba meremang saat itu.
Bersambung
__ADS_1