
Kepala itu tidak hanya memutar menghadap ke belakang, tapi juga matanya seolah-olah sedang melotot ke arahku.
"Astagfirullah!!!" pekikku tertahan karena terkejut.
"Kenapa, Dik?" tanya Mas Diki padaku secara berbisik.
"I-i-itu, Mas. Ternyata itu ha-ha-hantunya Pak Handoko!" pekikku menahan takut.
"Iyakah, Dik?" tanya Mas Diki sambil mengintip kembali apa yang dilakukan pria tambun itu di sana. Baru beberapa detik saja Mas Diki mengintip, ia tiba-tiba gemetaransama sepertiku.
"I-i-iya, Dik. Itu hantunya Pak Handoko," ucapnya lagi.
"Apa yang harus kita lakukan, Mas?" tanyaku cemas.
"Entahlah, Dik. Mas masih bingung," jawab Mas Diki nampak kebingungan.
"Coba Mas intip lagi! Apa yang sedang dilakukan hantu itu?" ujarku.
Mas Diki pun langsung menundukkan kepalanya untuk mengintip kembali seperti apa yang ia lakukan sebelaumnya.
"Sekarang hantunya berdiri dan berjalan ke sini," ucap suamiku.
__ADS_1
"Ya Tuhan!!!!" pekikku tertahan.
Aku merapatkan tubuhku ke suamiku karena ketakutan. Mas Diki memberanikan diri mengintip kembali melalui celah-celah daun. Kemudian ia bergerak memutari tanaman berdaun lebat di depan kami. Aku mengikuti gerakan Mas Diki untuk memutar. Kami berdua memutari tanaman itu, hingga kedua kaki kami berada dekat dengan kolam ikan. Perasaanku mengatakan, hantu itu sudah berada dekat denganku. Dan suamiku melakukan gerakan ini untuk bersembunyi dari hantu seram itu.
Akibat gerakan memutar itu, akhirnya kami sekarang berada di posisi hantu tadi berada yaitu di pinggir kolam. Aku mengira hantu itu sekarang berada di posisi kami berdua tadi. Semoga saja hantu itu tidak menyadari kehadiran kami berdua dan terus berjalan ke depan. Mas Diki mengangkat kepalanya kembali, kemudian ia berkata kepadaku.
Cukup lama aku menunggu situasi terbaru dari suamiku. Aku menunggunya dengan harap-harap cemas.
Beberapa detik kemudian, Mas Diki mengangkat kepalanya kembali.
"Dik, hantu Pak Handoko sudah pergi," ucap suamiku kemudian bermaksud menenangkanku.
"Pergi ke mana dia, Mas?" tanyaku ragu.
"Syukurlah, Mas. Nggak kebayang kalau dia sampai muncul di depan kita," ucapku.
"Iya, Dik. Ayo, kita segera ke belakang saja untuk mencari Nur, sebelum kita kehilangan jejak Clara dan suaminya!" ucap suamiku.
"Ayo, Mas!" jawabku dengan masih gemetaran karena takut.
Mas Diki kemudian melangkah secara perlahan meninggalkan tempat tersebut untuk melanjutkan misi kami semula yaitu mencari Nur dan Riki. Mas Diki tetap berjalan di depan, sedangkan aku tetap mengekor di belakangnya. Setiap Mas Diki maju ke depan beberapa langkah, aku menoleh ke belakang untuk memastikan arwah tadi tidak muncul secara tiba-tiba di belakangku. Aku melakukannya tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Syukurlah, setiap aku menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa di belakangku.
__ADS_1
Pemandangan di timur rumah Pak Handoko ini terlihat semakin seram karena tanaman-tanaman yang berada di sana tidak terawat. Tumbuhnya acak dan tidak beraturan. Mungkin, selama ini suami Clara sebagai pemilik tempat ini terlalu sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk merawatnya. Suasana angker begitu kentara di tempat itu. Dengan cahaya yang temaram karena hanya disinari oleh sinar bulan, tanpa adanya cahaya lampu listrik di malam hari, rasanya tidak akan mungkin ada orang lain yang berani masuk ke tempat segelap dan seseram ini.
"Kalau arwah yang muncul di hadapan kami berdua tadi itu hantunya Pak Handoko, berarti Pak Handoko sudah mati, dong? Bagaimana Pak Handoko bisa mati? Apakah ia juga mati karen dijadikan tumbal oleh suaminya Clara? Apa hubungan antara suami Clara dengan Pak Handoko. Bukankah menurut suamiku, Pak Handoko adalah pemilik sah rumah ini? Buktinya tulisan di pagar itu juga berbunyi 'Pak Handoko'. Berarti memang benar, rumah ini miliknya. Kenapa Pak Handoko bisa menjadi hantu gentayangan seperti itu, ya?" Aku bertanya-tanya di dalam hati.
Memikirkan hal tersebut membuat bulu kudukku tiba-tiba merinding. Darahku mendesir secara tiba-tiba.
"Oh, tidak! Ini pasti ada yang tidak beres. Biasanya kalau aku sampai merinding seperti ini, ada makhluk gaib sedang berada di dekatku. Ya Tuhan, Tidaaaak!!!"
Aku merasa dingin di tengkukku. Aku merasa ada yang sedang memegangi kerah bajuku. Kuatnya pegangan itu membuat aku tidak bisa berjalan mengikuti suamiku karena ada yang menahanku dari belakang. Mas Diki tidak menyadari ketidakberesan itu. Ia tetap melangkah ke depan seolah tidak memperdulikanku. Aku akan berteriak memanggil nama suamiku, tetapi suaraku tercekat di kerongkongan. Mas Diki masih saja asyik dengan aktivitasnya, sehingga jarak Mas Diki dan aku semakin jauh saja. Untunglah, kedua tangan kami masih saling memegang erat. Aku semakin mempererat pegangan tanganku pada suamiku dengan maksud untuk memberi kode kepada suamiku bahwa aku sedang berada di dalam bahaya.
Bau langun tercium di hidungku. Aroma tak sedap yang lain turut mengikuti setelahnya. Muncul keyakinan di dalam hatiku bahwa yang sedang berdiri di belakangku bukanlah manusia biasa, melainkan arwah Pak Handoko. Rasa penasaran menyeruak ke dalam batinku. Aku ingin menoleh ke belakang untuk memastikan siapa sebenarnya makhluk di belakangku saat ini. Sementara Mas Diki mulai menyadari adanya ketidakberesan karena ia tidak dapat melangkah lagi ke depan karena tertahan oleh tanganku.
Aku senang melihat Mas Diki mulai gelisah dan berusaha menarik tanganku. Tetapi aku juga menarik tangannya, sehingga tangan kami berdua saling tatik-tarikan. Mungkin karena tidak nyaman dengan apa yang telah aku lakukan, Mas Diki pun akhirnya menoleh ke belakang, yaitu ke arahku.
"Dik, kok tanganku di---. Astagfirullaaaaah!!!" pekik Mas Diki dengan mata terbelalak sambil menoleh ke arah makhluk yang berdiri di belakangku. Entah karena sudah merasa agak tenang karena Mas Diki menyadari adanya makhluk tersebut, aku pun memberanikan diri menoleh ke belakang.
"Ya Tuhaaaaaan!!!!!" Aku memekik ketakutan begitu melihat arwah Pak Handokolah yang sedang memegangi kerah bajuku. Benar kata suamiku, kepala Pak Handoko terpelintir ke belakang, twrlihat begitu menyeramkan. Sedangkan kedua matanya yang pucat juga menatap tajam ke arahku.
"Ya Tuhan!!!" pekikku tercekat di kerongkonganku.
Aku merasa Mas Diki menarikku kuat-kuat dan berusaha melepaskanku dari cengkraman arwah gentayangan itu. Tapi, entah kenapa tenaga Mas Diki tak cukup kuat untuk melakukannya. Mas Diki terus mencoba melepaskan aku, tapi usahanya seperti sia-sia. Mendadak aku tidak bisa mendengar suara apa-apa. Semua menjadi hening dan senyap. Aku tiba-tiba limbung tak bertenaga. Kepalaku pening dan aku merasa seperti akan pingsan, sementara wajah arwah Pak Handoko semakin terlihat seram di hadapanku. Beberapa detik kemudian, aku tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung