MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
BAB 27 KENANGAN BURUK


__ADS_3

Nenek tua itu pun mengikuti aku naik ke dalam angkutan umum. Kutuntun nenek tua itu untuk duduk di sebelahku. Di dalam mobil carry yang dicat kuning itu hanya ada kami berdua sebagai penumpang dan laki-laki paruh baya yang duduk di balik kemudi sebagai sopirnya.


"Turun di mana, Mbake?" tanya sang sopir sesaat kami berdua sudah berhasil duduk dengan sempurna.


"TK Amanah Bangsa 3, Pak. Tapi, nanti kita turun sebentar di balai desa Curah Putih. Nenek ini tersesat di jalan sejak kemarin. Rumahnya ada di salah satu dusun di desa Curah Putih," jawabku diplomatis.


"Oke, Mbake," jawab sang sopir ramah.


Saya acungi jempol untuk sopir angkutan umum ini. Baik secara pakaian dan cara bersikapnya terhadap penumpang. Dandanannya cukup rapi, tidak seperti sopir-sopir angkutan umum lainnya yang biasa saya jumpai di jalan. Mereka biasanya berpakaian seadanya saja. Sedangkan sopir ini terlihat rapi dan cukup menarik. Kemeja batik yang ukurannya pas di badannya. Warnanya senada dengan kulitnya yang terlihat bersih dan cerah. Model rambutnya pun seperti anak muda kekinian, ditambah dengan kacamata yang menambah ketampanan pemiliknya. Saya mulai meragukan profesinya sebagai sopir angkutan umum.


"Sudah lama, Pak, jadi sopir?" tanyaku curiga.


"Eh, tidak. Eh, iya, Mbake," jawabnya belibet.


"Loh, iya apa tidak, sih?" tanyaku lagi.


"Begini, Mbake. Sebenarnya saya ini berprofesi sebagai sopir pribadi di Surabaya. Kebetulan dua hari ini saya pulang kampung. Yang jadi sopir angkutan umum ini adalah bapak saya. Nah, bapak saya hari ini kurang enak badan, jadi saya sementara menggantikan bapak saya tersebut. Maklum, usianya sudah sepuh, Mbake," jawab sopir tersebut.


"Kenapa tidak libur beroperasi saja, Pak? Bukankah hal ini mengurangi waktu berlibur sampean?" tanyaku lagi.


"Maunya gitu, tapi nggak boleh sama bapak?" jawabnya.


"Loh, emangnya kenapa?" tanyaku penasaran.


"Kata bapak, kalau libur beroperasi nanti akan mengurangi loyalitas bapak terhadap juragan angkutan umum ini. Bisa-Bisa angkutan umum ini dioperkan ke orang lain," jawabnya.


"Duh, masa sampai segitunya, Pak? Bapak kan sakit?" tanyaku tak percaya.


"Yah, begitulah, Mbake. Juragan bapak agak Kardi orangnya. Salah dikit bisa dipecat," jawab sopir itu.


"Ooooo," jawabku mengerti dan ikut merutuk juragan angkutan umum yang Kardi alias Karepah Dibik yang artinya egois dalam bahasa madura itu.

__ADS_1


"Nenek kok bisa tersesat? Untung ketemu mbake ini," sapa sang sopir pada nenek tua di sebelahku.


"Iya, Le. Maklum nenek nggak hapal jalan. Maunya jenguk makam kakek malah nyasar jauh sekali," jawab nenek tua itu malu-malu.


"Lain kali kalau mau keluar rumah pamit sama anak-anak nenek, ya? Kasihan keluarga nenek di rumah, mereka pasti bingung mencari nenek yang hilang," ujar Pak Sopir.


"Iya, Le," jawab si nenek singkat.


Aku tersenyum sambil menggenggam tangan keriput nenek tua tersebut.


"Nek, nanti saya nggak bisa mengantar nenek sampai ke rumah. Saya hanya bisa menitipkan nenek ke staf desa Curah Putih saja, ya?" ucapku pada nenek tua itu.


"Iya, tidak apa-apa, Nduk. Biar mereka yang mengantar nenek ke rumah. Oh, ya, nama Nduk siapa, ya?" tanya nenek tua itu.


"Nama saya Sinta, Nek," jawabku kalem.


"Sinta???" guman nenek sambil seolah-olah berpikir.


"Hm ... Nggak apa-apa, Nduk," jawab nenek tua itu.


"Nduk Sinta nggak mau main ke rumah saya?" tanya nenek tiba-tiba.


"Maaf, kalau sekarang nggak bisa, Nek, karena ada hal penting yang harus saya selesaikan segera. Mungkin lain kali saja saya ke sana untuk mencari Nenek ...," ucapku.


"Nenek Galuh," potongnya.


"Iya. Lain kali saya insyaallah main ke rumah nenek Galuh," jawabku berbohong.


'Tidak, Nek. Aku tidak akan mungkin main ke rumah Nenek Galuh. Maafkan aku, Nek,'


"Nduk Sinta nggak apa-apa? Kok, kayak mikir sesuatu?" tegur Nenek Galuh seolah mengerti aku sedang mengingat-ingat sesuatu.

__ADS_1


"Oh, ya, Nek. Ki Sukmo apa masih menjabat kepala desa di sana?" tanyaku tiba-tiba.


"Tidak lagi, Nduk. Ki Sukmo sudah lama meninggal," jawab Nenek Galuh.


"Oooo ...,"


"Kenapa, Nduk?" tanya Nenek Galuh lagi.


"Nggak apa-apa, Nek," jawabku lagi-lagi berbohong.


Aku menyandarkan tubuhku ke palang besi yang sengaja dipasang sebagai sandaran di angkutan umum tersebut. Ingatan masa lalu muncul di benakku.


Saat itu aku masih kelas satu SMP. Ibu mencemaskan kondisiku yang sering berteriak-teriak ketakutan karena melihat hantu. Iya. Semenjak mengalami datang bulan pertama, aku tidak bisa mengkonsumsi makanan selamatan orang meninggal. Arwah orang meninggal itu muncul di hadapanku kalau aku melanggar pantangan itu. Saat itu aku tidak dapat menerima hal itu. Makanya aku berteriak-teriak histeris ketika arwah itu muncul di hadapanku. Tetangga banyak yang menganggapku sudah gila karena hal itu. Melihat kondisiku yang seperti itu, ibu bermaksud menutup mata batinku. Saat itu ibu membawaku ke dusun Krasak yang berada di desa Curah Putih. Ibuku kenal baik dengan Ki Sukmo selaku kepala desa di sana.


Ki Sukmo mengantarkanku ke rumah dukun yang bernama Ki Santo yang ternyata masih kerabat dari Ki Sukmo. Saat itu aku benar-benar takut dengan tampang Ki Santo yang menurutku agak seram mirip preman. Setelah sampai di rumah Ki Santo, Ki Sukmo meninggalkan aku dan ibuku di sana. Sore itu juga aku diruwat dengan cara dimandikan air kembang dan dibacakan mantra-mantra.


Kupikir setelah acara tersebut aku akan segera pulang ke rumah. Ternyata tidak, Ki Santo mengatakan kepada ibuku bahwa kami berdua harus menginap di sana untuk melakukan ritual lagi di tengah malamnya. Akhirnya ibuku pun menyanggupi hal itu. Malam itu aku dan ibuku menginap di tempat tersebut. Aku dan ibu menempati salah satu kamar di tempat praktik Ki Santo.


Tepat tengah malam, Ki Santo membangunkan kami berdua untuk melakukan ritual terakhir. Ternyata di tengah malam itu, kembali aku harus mandi kembang dan dibacakan mantra-mantra oleh Ki Santo. Dinginnya suhu udara di dusun Krasak tersebut membuatku menggigil. Setelah acara mandi kembang itu pun aku menuju kamar mandi untuk membersihkan badanku dari sisa-sisa kembang yang menempel di sekujur tubuhku. Saat aku hampir selesai membersihkan tubuhku, aku seperti mendengar dengusan napas seseorang di balik dinding kamar mandi yang terbuat dari anyaman bambu. Awalnya aku mengira itu hanya pikiranku saja. Ternyata tidak, di balik dinding kamar mandi itu memang ada sekelebat bayangan seseorang yang sedang mengintipku mandi. Aku pun berteriak karena ketakutan. Ibuku dan Ki Santo pun datang dan memeriksa sekitar tempat itu.


"Tidak ada siapa-siapa, Nduk. Itu hanya perasaanmu saja," ucap Ki Santo.


"Tidak, Pak. Saya melihat ada seorang remaja mengintip dari luar. Sisa wangi parfumnya masih ada, kan?" protesku.


"Tidak, Nduk. Ini wangi parfum saya," jawab Ki Santo.


Aku kembali mengendus. Iya juga, sih. Tapi, wangi parfum ini sudah terdengar sebelum Ki Santo dan ibuku datang. Ah, sudahlah. Siapa juga yang akan percaya dengan argumen gadis kecil yang sudah dianggap gila oleh sebagian orang.


"Mbak, sudah sampai," panggil sopir angkutan umum itu menyadarkan lamunanku.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2