
Bu Dewi benar-benat tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat di depannya saat ini. Beberapa detik yang lalu suaminya masih terbaring tidak berdaya akibat luka-luka di kepala dan sekujur tubuhnya. Namun, saat ini ayahnya Revan itu sedang berdiri di samping dipan tempat ia tidur.
“Mas?” cetus Bu Nisa dengan mulut ternganga dan mata terbelalak saking kagetnya. Namun, ada gurat senyum yang terukir di bibir perempuan pecinta musik rock itu.
“Kenapa kaget, Dik?” Pak Ade balik bertanya.
“Mas kok sudah bisa berdiri?” jawab Bu Nisa masih menyisakan pertanyaan yang lain.
“Yah, seperti yang kamu lihat sekarang. Mas sudah bisa berdiri, kan? Meskipun masih harus menggunakan pengaman lutut,” jawab Pak Ade dengan bangganya.
“Wah, Mas emang pria yang hebat dan tangguh. Tapi, kok aku yang khawatir, ya?” ujar Bu Nisa.
“Nggak usah khawatir berlebihan, Dik. Mas begini karena disuruh oleh dokter Marni. Mas disuruh untuk sedikit latihan. Jangantidur terus katanya. Pengaman lutut ini juga diberi oleh dokter Marni tadi pas kamu ke kantin,” jawab Pak Ade lagi.
“Baguslah kalau begitu, tapi udah jangan lama-lama berdirinya. Ntar Mas pusing lagi atau malah keseleo,” jawab Bu Nisa.
“Nggak kok, Dik. Mas kan tahu sampai dimana batas kekuatan Mas sendiri. Tapi, mas kok pusing, ya? Aduh, Dik!” ujar Pak Ade sambil memegangi kepalanya dan tubuhnya seolah mau rubuh.
“Mas … Awas!” teriak Bu Nisa sambil berlari ke arah Pak Ade dan bersiap menangkap tubuh Pak Ade yang sediki oleng.
“He he he … Mas bercanda kok, Dik!” jawab Pak Ade sambil menegakkan tubuhnya kembali dan tertawa girang karena prank-nya berhasil mengecoh istrinya.
“Dasar, Mas ini! Bikin orang jantungan saja!” sahut Bu Nisa sambil mencubit pipi suaminya karena gemas.
“Aduh, Dik. Sakit!” teriak Pak Ade.
“Habisnya kamu tega-teganya ngerjain aku?” jawab Bu Nisa.
“Iya, tapi cubitan kamu sakit banget barusan. Jauh lebih sakit dari proses menjahit luka di kening mas,” protes Pak Ade.
“Duh, maaf ya, Mas?” sahut Bu Nisa kemudian.
“Dasar tukang cubit!” omel Pak Ade sambil duduk dan merebahkan dirinya kembali di kasur.
“Maaf deh. Sini aku pijitin kakinya, Mas!” ucap Bu Nisa sambil memijit kaki suaminya.
“Aw! Itu luka mas yang kamu pijit, Sayang!” teriak Pak Ade kembali.
“Heheheh … Maaf lagi, Mas!” sahut Bu Ade malu-malu.
“Sudah, kamu segera makan nasi bungkus itu. Ntar keburu basi!” ujar Pak Ade.
“Iya, Mas!” jawab Bu Nisa sambil berjalan menuju rak di bawah televisi.
Bu Nisa mengambil nasi bungkus dari atas rak dan membawanya ke samping Pak Ade. Di sebelah Pak Ade ada meja makan.
“Mas mau makan juga?” tanya Bu Nisa.
“Tidak, Dik. Mas masih kenyang. Kamu aja yang makan!” jawab Pak Ade.
__ADS_1
“Baik, Mas.Aku cuci tangan dulu,” jawab Bu Nisa sambil berjalan menuju wastafel. Wastafel terletak di depan kamar mandi dan di balik pintu masuk.
Bu Nisa melihat wajahnya di cermin saat itu benar-benar terlihat lusuh. Ia memang belum mandi sejak pagi tadi dan tubuhnya terasa gerah.
Setelah mencuci tangan, Bu Nisa pun berniat untuk berjalan lagi menuju dipan Pak Ade, tapi ia dikejutkan dengan sosok wajah yang berdiri tepat di balik pintu. Wajah orang itu terlihat di kaca yang tembus pandang sedangkan bagian badannya terhalang oleh daun pintu.
“Siapa?” tanya Bu Nisa pada perempuan itu secara refleks.
“Permisi, Bu. Saya suster yang ditugaskan memberikan suntikan obat tidur pada infus Bapak Ade. Apa saya boleh masuk, Bu?” jawab suster itu sambil membuka pintu.
“Si-silakan. Mbak. Saya sampai terkejut karena muncul tiba-tiba di pintu,” jawab Bu Nisa terkejut.
“Maafkan saya ya, Bu. Saya barusan mau mengetuk pintu, tapi sudah Ibu sapa duluan. Jadi, saya mengurungka niat untuk mengetuk pintu jadinya,” jawab suster sambil melempar senyum.
“Tidak apa-apa, Sus. Yang penting bukan hantu saja,” jawab Bu Nisa.
Suster tersebut hanya tersenyum saja.
“Siapa, Dik?” tanya Pak Ade dari dalam kamar.
“Suster, Mas. Mau memberi obat tidur di infus Mas,” jawab Bu Nisa.
“Silakan masuk, Mbak. Mohon maaf, istri saya itu emang agak penakut,Mbak,” jawab Pak Ade.
“Iya, tidak apa-apa, Pak.
Entah sudah menajdi ritual atau apa. Setiap petugas yang masuk ke ruangan Pak Ade selalu mengukur tensi dan detak jantung laki-laki itu.
“Sudah, Mbak. Minum obatnya juga sudah,” jawab Pak Ade.
“Apa sekarang Bapak lapar? Untuk malamnya Bapak memang tidak dikirimi ransuman karena kata dokter Marni Bapak jangan terlalu kenyang dulu kalau malam soalnya Bapak punya riwayat sakit lambung. Apa benar itu?” tanya suster
“Benar sekali, Sus. Lagipula saya masih kenyang, kok!” jawab Pak Ade.
“Tapi, kalau Bapak ingin makan snack, kami ada stok. Nanti saya ambilkan,” jawab suster.
“Tidak usah, Sus. Saya sudah kenyang,” jawab Pak Ade.
“Kalau begitu sekarang saya akan menyuntikkan obat tidur ke selang infusnya. Kemungkinan paling lama setengah jam lagi Bapak sudah tertidur. Mohon Ibu menajga Bapak dengan baik,ya. Jangan sampai bapak terganggu istirahatnya Kalau misalnya Ibu ijin pulang, nggak apa-apa kok. Kami akan selalu standby menjaga bapak,” jawab suster.
“Tidak, Sus Saya tidur di sini saja. Kasihan suami saya kalau ditinggal sendirian,” jawab Bu Nisa.
“Oke. Tapi, Ibu harus janji untuk menjaga ketenangan bapak. Kalau bapak istirahatnya cukup, kemungkinan lusa bapak sudah bisa pulang,” jawab suster.
“Benar begitu, Sus?” tanya Pak Ade.
“Iya, Pak. Makanya Bapak harus banyak istirahat, ya. Obatnya diminum dan turuti semua anjuran dokter maupun suster yang bertugas merawat Bapak,” jawab suster.
“Siap, Sus. Terima kasih banyak” jawab Bu Nisa.
__ADS_1
Suster pun menyuntikan cairan obat tidu ke dalam infus yang dipasang ke lengan Pak Ade. Bu Nisa dan Pa Ade memperhatikan selama suster itu menyuntikkan cairan iu ke ujung tabung infus yang diagantung di penyangga infus. Mereka kagum dengan kelihaian suster tersebut.
“Sudah. Sekarang saya pamit, Pak … Bu …,” uajr suster sambil beranjak mau pergi dari ruangan Pak Ade.
“Tunggu dulu, Sus. Apa suster mau kalau saya beri nasi bungkus. Saya tadi membelinya di kantin. Rencananya mau diberikan ke dokter Marni, tapi kelupaan,” ujar Bu Nisa.
“Ibu gimana?” tanya suster.
“Saya beli dua, Sus. Satu buat saya sudah ada, satunya buat suster,” jawab Bu Nisa.
“Oke. Kebetulan malam ini saya juga belum makan malam. Biasanya saya juga membeli di kantin. Lumayan lah buat penggajal perut. Semalaman ini saya yang piket,” jawab suster.
“Wah, kebetulan kalau begitu. Ini Sus nasinya,” ujar Bu NIsa sambil menyodorkan nasi bungkus yag dibungkus kresek hitam.
“Makasih banyak, Bu,” jawab suster.
“Sama-Sama. Oh ya, nama Suster siapa?” tanya Bu Nisa.
“Marisa, Bu. Kebetulan name tag saya rusak belum diganti,” jawab suster Marisa.
“Baik, Suster Marisa. Terima kasih banyak atas bantuannya,” ujar Bu Nisa.
“Saya pamit dulu, Pak … Bu … selamat malam,” ujar suster Marisa.
“Selamat malam, Suster Marisa,” jawab Bu Nisa.
Suster Marisa pun beranjak dari kamar Pak Ade. Ia pergi dengan menutup pintu kamar kembali. Akhirnya tinggal Pak Ade dan Bu Nisa kembali di dalam kamar VIP tersebut.
“Dik, kayaknya Mas mulai mengantuk. Kamu jaga di sebelah sini, ya? Jangan jauh-jauh!” ucap Pak Ade.
“Iya, Mas. Nggak usah takut. Ada aku di sini yang jagain kamu,” jawab Bu Nisa.
“Tai, kamu makan dulu tapi. Ntar nasinya basi,” jawab Pak Ade.
“Oke, Mas!” sahut Bu Nisa sambil berjalan menuju meja di sebelah suaminya.
Ia pun membuka nasi bungkus itu dan ia pun memakannya dengan lahap. Pak Ade memperhatikan cara istrinya makan. Ada perasaan kasihan dan sayang yang dirasakan oleh pria itu terhadap istrinya. Ternyata benar kata orang, kalau sedang sakit bukan selingkuhan bukan LC yang menemani, tapi istri tercinta.
Pak Ade merasa sangat mengantuk saat itu dan ia pun mulai tertidur. Sementar Bu Nisa sudah selesai melahap nasi bungkus di depannya. Bu Nisa menoleh ke arah suaminya, ternyata suaminya sudah tertidur. Perempuan itu merasa lega melihat suaminya beristirahat, tapi dengan kondisi kamar yang sepi, perempuan itu kembali merasa ketakutan. Takut Laras akan datang ke tempat tersebut. Tidak ada yang bisa menolongnya saat itu. Suaminya dalam keadaan tidur nyenyak.
Bu Nisa mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sepi dan tidak terdengar suara apapun selain suara hembusan AC di kamar tersebut. Bu Nisa merasa tidak enak berada di posisi tersebut. Tapi, perempuan itutidak punya pilihan lagi. Semua demi kesembuhan suami tercinta.
Saat Bu Nisa sibuk bertarung dengan perasaan takutnya, tiba-tiba perempuan itu dikejutkan dengan suara Ponselnya sendiri. Ada panggilan masuk dari seseorang yang ia kenal baik.Ibunya Revan itu pun mengangkat panggilan tersebut.
“Halo!!!” sapa Bu Nisa.
“Apaaaaa???” pekik Bu Nisa saking terkejutnya dengan jawaban dari ujung telepon.
BERSAMBUNG
__ADS_1