MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)

MARANTI (MAKANAN ORANG MATI)
EPISODE 125 : PENGAKUAN


__ADS_3

Dengan perasaan tidak enak, Bu Dewi membuatkan teh hangat untuk kedua polisi muda tersebut. Ia pun keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Cintia dan Herman menyambut hangat kedatangan Bu Dewi dari arah dapur.


“Duh, Bu Dewi ini repot-repot. Padahal kami niatnya Cuma sebentar, kok!” sambut Cintia dengan berbasa-basi padahal ia juga senang diberi teh hangat pagi-pagi begitu.


“Enggak kok, Bu. Justeru kalau saya tidak menyuguhkan apa-apa malah saya yang tidak enak,” sahut Bu Dewi sambil meletakkan cangkir berisi teh hangat di atas meja.


“Terima kasih, Bu Dewi,” tutur Herman dengan sopan.


“Inggih, Pak .. Bu … Monggo diminum teh hangatnya!” ucap Bu Dewi sambil mengambil tempat duduk di depan kedua polisi muda tersebut.


“Inggih, Bu …,”sahut Cintia dengan sopan.


Kemudian polisi wanita itu pun menuangkan air teh dari cangkir ke lepekan berbentuk bulat. Setelah itu perempuan itu mengangkat lepekan berisi teh hangat itu untuk diminum secara perlahan.


“Hm … segarnya teh hangat buatan Bu Dewi,” puji Cintia.


Herman yang sudah tahu tabiat Cintia pun senyum-senyum sendiri karena perempuan itu terkesan sok berlebih-lebihan memuji teh hangat buatan Bu Dewi. Tentunya ia tidak menegur Cintia saat itu juga karena takut menyinggung perasaan Bu Dewi.


“Monggo, Pak Polisi minum juga teh hangatnya biar nggak ngantuk, Pak. Atau mau saya ganti dengan kopi?” tanya Bu Dewi.


“Tidak usah, Bu Dewi. Ini sudah cukup, kok!” sahut Herman sambil mengambil cangkir berisi teh hangat secara langsung untuk ia seruput secara perlahan isinya.


“Loh, ternyata rasa tehnya memang beda ya, Cin?” tanya Herman sedikit merasa heran karena rasa khas tehnya berbeda dengan yang biasa ia minum sebelumnya.


“Hah, tadi aku bilang apa, Her? Kamu sih tidak percaya. Emang rasa tehnya enak banget, kan?” jawab Cintia sambil mencibir Herman.


“Kok rasanya bisa beda begini, Bu Dewi? Dari mana Bu Dewi mendapatkan teh dengan rasa spesial ini?” tanya Herman pada Bu Dewi langsung.


“Iya, Mas. Tehnya memang spesial. Itu teh asal Tanjung Pinang Riau. Kebetulan salah satu rekanan di perusahaan suami saya itu ada orang asli Riau juga. Nah, ketika suami saya mengirim barang ke tempatnya di luar kota, orang tersebut memberikan oleh-oleh teh khas Tanjung Pinang tersebut,” jawab Bu Dewi jujur.


“Oalah … Panteeeeees!” sahut Cintia secara spontan.


“Syukurlah kalau rasa tehnya enak. Jadi, saya tidak malu, Pak … Bu  …,” jawab Bu Dewi dengan sopan.


“Jangan terlalu formal sama kami, Bu Dewi. Usia kami kan masih di bawah Bu Dewi. Panggil saja saya Herman dan teman saya ini Cintia. Supaya lebih akrab!” balas Herman merasa tidak enak.


“He he he … Iya, Dik … Her-man dan Dik ….hm …,” sahut Bu Dewi sambil berpikir karena lupa.


“Cintia, Bu,” sahut Cintia.


“Iya, maaf, Dik Cintia. Maklum saya sudah agak berumur. Jadi sering lupa,” jawab Bu Dewi.


“Iya, nggak apa-apa, Bu Dewi. Teman saya ini juga sering lupa bayar hutang ke kantin di kantor. Padahal usianya masih muda,” ledek Herman.


“Eh, jangan buka-buka rahasia pribadi lah, Her!” jawab Cintia malu-malu.


“Ada-Ada saja adik berdua ini. Gaji jutaan kok masih hutang segala. Nggak mungkin lah. Paling Cuma bercanda saja,” potong Bu Dewi.


“Loh, saya serius, Bu Dewi!” ledek Herman lagi.


“Awas kamu, Her. Nggak kok, Bu. Teman saya ini hanya bercanda saja. Justeru dia itu yang banyak hutangnya ke koperasi kantor,” balas ledekan Cintia.


“Sudah lunas, Cin, kemarin,” jawab Herman sambil melotot ke arah Cintia.


“Tapi, kata Mbak Kasir belum. Masih kurang lima puluh ribu,” jawab Cintia serius.


“Aduh! Apes aku!” jawab Herman sambil menutup mukanya karena malu.

__ADS_1


“Sudah-Sudah. Nggak usah ngomongin hutang! Saya juga punya hutang. Sama dengan adik-adik ini. Namanya juga hidup! Yang penting ada itikad baik untuk membayar,” jawab Bu Dewi dengan bijak.


“Tuh, dengerin, Cin!” sahut Herman.


“Lah, kok kamu mengingatkan aku? Kamu juga punya hutang,kan di koperasi?” protes Cintia.


“He he he … Iya udah, nanti bayar bareng-bareng, ya?” sahut Herman.


“Ogah!” sahut Cintia.


Bu Dewi pun tersenyum simpul melihat tingkah laku kedua polisi tersebut yang tidak Jaim di depannya. Setelah diam selama beberapa detik tidak ada yang berbicara, Bu Dewi pun mulai mengajak kedua polisi itu berbicara serius.


“Kalau boleh tahu, ada keperluan apa Dik Herman dan Dik Cintia meluangkan waktu datang ke sini? Hm ... Apa keterangan saya dan suami saya semalam masih kurang?” tanya Bu Dewi dengan tutur bahasa yang sopan.


Herman dan Cintia saling bertatapan sebelum menjawab pertanyaan Bu Dewi. Akhirnya Cintia dulu yang memulai berkata-kata.


“Bu, kami ingin mengetahui tentang budenya Nona Larasati,” jawab Cintia singkat.


“Budenya Laras?” pekik Bu Dewi mengulangi perkataan Cintia.


Mata Bu Dewi tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya atas pertanyaan polisi wanita di depannya itu.


“Iya, Bu Dewi. Kami ingin mengetahui informasi tentang budenya Nona Larasati. Ada sesuatu yang harus kami sampaikan kepada budenya Nona Larasati,” jawab Cintia semakin memperjelas maksud pertanyaannya.


Selama beberapa detik, Bu Dewi tertegun dan tidak berkata apa-apa. Kedua polisi itu menunggu ucapan Bu Dewi selanjutnya, tapi tidak kunjung keluar kata-kata dari mulut perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu.


“Bu Dewi …,” tegur Herman karena perempuan di depannya terlihat tercengang.


“Eh … Iya. Maaf. Laras itu awalnya hanya hidup bersama ibunya. Setelah ibunya meninggal, hanya kami berdualah keluarga yang dimiliki oleh Laras.” Akhirnya meluncur kata-kata dari mulut Bu Dewi.


“Bu Dewi yakin? Soalnya, ada seseorang yang menyamar menjadi Nona Larasati dan meminta tolong kepada kami untuk menyerahkan sesuatu kepada budenya,” jawab Cintia dengan suara datar.


“Iya, Bu. Semalam kami bertemu dengan perempuan tersebut di sekitar sini. Tapi, setelah memberian benda itu kepada saya dan berkata bahwa benda itu disuruh sampaikan kepada budenya, perempuan itu keburu menghilang. Kami belum tahu identitas orang itu siapa, Bu. Tapi, dari benda yang ia titipkan kepada kami, barulah kami sadar bahwa perempuan tersebut sedang berpura-pura menjadi Nona Larasati,” jawab Cintia dengan perlahan, tapi cukup jelas.


“Benda apa yang dititipkan oleh orang yang menyamar sebagai Laras itu, Dik Cintia?” tanya Bu Dewi dengan perasaan khawatir dan sedih.


“Maaf, Bu Dewi. Untuk saat ini kami belum bisa memberitahukan kepada siapapun perihal benda yang dititipkan oleh orang yang menyamar menjadi Nona Larasati itu. Tapi, kalau Bu Dewi bisa membantu memberikan info kepada kami tentang budenya Nona Larasati. Niscaya, itu akan sangat membantu kami untuk mengungkap kasus besar yang sedang kami selidiki,” jawab Cintia dengan tegas.


Bu Dewi terdiam tak mampu berkata-kata. Pada saat itu ingin sekali ia mengaku kepada kedua polisi itu bahwa bude yang dimaksudkan oleh kedua polisi tersebut adalah dirinya sendiri. Tapi, ia khawatir sekali hal itu tidak akan berakibat baik untuk nama baik Laras dan terlebih masa depan Panji sebagai darah daging Laras.


“Gimana, Bu Dewi? Apa Bu Dewi tahu sesuatu tentang budenya Nona Larasati? Kami sangat membutuhkan informasi tentang budenya Nona Larasati mumpung waktunya masih ada,” tutur Cintia kembali.


Bu Dewi menatap wajah Cintia dengan perasaan bimbang. Di satu sisi ia ingin berkata jujur, tapi di satu sisi ia juga mengkhawatirkan dampaknya untuk masa depan Panji.


“Eh, anu, Dik Cintia. Untuk sekarang saya belum mengetahui perihal budenya Laras yang Dik Cintia tanyakan barusan, tapi di lain waktu kalau saya ada info tersebut, saya akan menyampaikannya kepada Dik Cintia,” jawab Bu Dewi berbohong kepada polisi wanita di depannya itu.


Cintia dan Herman merasa kecewa saat itu karena tidak mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Dan tentunya hal itu akan menyulitkan bagi mereka untuk memecahkan kasus Narkoba yang sedang mereka selidiki.


“Mungkin sudah tidak ada waktu lagi bagi Nona Larasati untuk mendapatkan keadilan,” jawab Cintia dengan perlahan dan sedikit penekanan.


Bu Dewi terkesiap mendengar perkataan Cintia yang bernada emosional.


“Kenapa tidak ada waktu lai, Dik Cintia?” tanya Bu Dewi memberanikan diri.


“Iya, Bu. Kami hanya punya waktu tiga hari untuk memecahkan kasus ini. Setelahnya kasus ini akan ditutup untuk selamanya dan Nona Larasati tidak akan mendapatkan keadilan. Kami tahu kok, Nona Larasati ini adalah korban,” jawab Herman menyambar pertanyaan Bu Dewi.


“Ya Tuhan!” pekik Bu Dewi.

__ADS_1


Perempuan itu secara spontan menutup mulutnya dengan tangan kanannya karena terkejut dengan ucapan Herman. Kepalanya tambah pening saat itu setelah mendengar bahwa kedua polisi di depannya mengetahui bahwa Laras adalah korban.


“Dik Cintia … Dik Herman …,” pekik Bu Dewi sedikit emosional saat itu.


Bu Dewi masih belum berkata apa-apa. Ia masih ingin menyimpan rapat-rapat tentang kejahatan yang menimpa Laras selama hidupnya karena ia sudah tahu bahwa pelakunya sudah dihukum mati oleh Laras sendiri.


“Bu Dewi … Kami sebenarnya yakin Bu Dewi masih merahasiakan sesuatu tentang Laras terhadap kami, tapi kami tidak ingin memaksa Bu Dewi. Kami ingin Bu Dewi dengan suka rela menyampaikan informasi itu demi Nona Larasati. Agar Nona Larasati bisa beristirahat dengan tenang di alam sana,” tutur Cintia berusaha mensugesti Bu Dewi.


Bu Dewi makin salah tingkah mendapat perkataan seperti itu dari polisi wanita itu.


Bu Dewi menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya secara perlahan melalui lubang hidungnya. Cintia dan Herman menunggu reaksi selanjutnya dari perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan Nona Larasati itu.


“Dik Cintia … Sebenarnya … Bude yang dimaksudkan oleh Laras itu adalah ….,” Bu Dewi mulai berkata-kata lagi setelah pikirannya sedikit tenang.


“Siapa bude yang dimaksudkan oleh Nona Larasati itu, Bu Dewi?” tanya Cintia dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi.


Bu Dewi menatap mata Cintia dan Herman secara bergantian. Ia menangkap aua kebaikan di wajah kedua abdi negara itu. Akhirnyaia pun tak kuasa untuk membohongi mereka lagi.


Bu Dewi pun melanjutkan perkataannya yan sempat tertunda sebelumnya.


“Sayalah bude yang dimaksudkan ole Laras itu. Hik … Hik … Hik …,” Bu Dewi pun menjawab dengan jujur pertanyaan Cintia dan Herman.


“Ya Tuhan!” pekik Herman dan Cintia secara bersamaan. Mereka benar-benar terkejut mendengar pengakuan perempuan baik yang sedang duduk di hadapan mereka saat itu. Mereka berdua saling bertatapan karena benar-benar merasa mendapakan surprise dari Bu Dewi. Bingung dan syok itulah yang dirasakan oleh kedua anak buah Kapten Yosi tersebut.


Sementara itu Bu Dewi langsung menangis begitu mengatakan yang sebenarnya kepada kedua polisi itu.


“Maafkan saya, Dik Cintia ... Dik Herman … Karena saya sempat berkata tidak jujur kepada kalian berdua. Saya tidak bermaksud membohongi kalian berdua. Saya hanya ingin menjaga nama baik Laras dan juga Panji, bayinya Laras yang sedang saya rawat sekarang,” ucap Bu Dewi sambil menangis sesegukan.


Cintia berpindah duduknya di sebelah Bu Dewi. Kemudian ia memeluk Bu Dewi agar perempuan itu bisa menumpahkan rasa sedihnya supaya lebih plong.


“Tenang, Bu Dewi. Kami paham kok maksud Bu Dewi. Sebisa mungkin kami akan membantu Bu Dewi untuk melindungi nama baik Nona Larasati dan juga anak bayinya. Tentunya dengan tidak mengabaikan keadilan yang harus diterima oleh Nona Larasati,” jawab Cintia sambil mengelus-elus pundak Bu Dewi agar lebih tenang.


Selama beberapa menit Bu Dewi menangis di pelukan Cintia. Herman dan Cintia turut merasakan kesedihan yang dialami oleh perempuan itu.


Setelah cukup lama meluapkan emosinya, akhirnya Bu Dewi pun cukup merasa tenang. Ia pun melepaskan pelukannya dari Cintia.


“Bu Dewi sudah merasa agak tenang sekarang?” tanya Cintia sesaat setelah Bu Dewi melepaskan pelukannya.


“Iya, Dik. Terima kasih, ya,” jawab Bu Dewi sambil mengusap air matanya yang tadi membanjir.


“Syukurlah kalau begitu,” jawab Cintia lagi.


Setelah berhasil menenangkan dirinya, Bu Dewi pun memulai lagi pembicaraan.


“Dik Cin … Mana benda yang dititipkan oleh orang yang menyamar menjadi Laras yang Dik Cintia ceritakan tadi?” tanya Bu Dewi pada Cintia.


Sekarang giliran Cintia yang kebingungan harus menjawab apa kepada perempuan di depannya itu.


“Dik Cintia. Saya kan sudah mengaku kepada Dik Cintia bahwa saya adalah bude yang dimaksudkan oleh Laras. Sekarang, mana benda yang akan diberikan kepada saya dari perempuan yang menyamar menjadi Laras itu?” Bu Dewi mengulangi perkataannya dengan lebih jelas.


Cintia menoleh ke arah Herman untuk menentukan langkah apa yang harus ia ambil saat itu karena dia dan Herman sama-sama sudah membaca isi di dalam buku harian itu. Sayangnya, Herman juga menunjukkan kebingungannya pada Cintia. Akhirnya, Cintia harus memutuskan sendiri langkah apa yang harus ia ambil terhadap permintaan istrinya Pak Herman itu.


“Anu, Bu Dewi …,” jawab Cintia dengan terbata-bata.


“Iya, Dik Cintia. Katakan saja! Nggak ada masalah, kan? Dik Cintia kan juga sudah tahu bahwa Laras adalah korban sebuah kejahatan yang harus mendapatkan keadilan? Tidak ada masalah, kan, apabila Dik Cintia menyerahkan benda titipan seseorang yang menyamar menjadi Laras yang mau diberikan kepada saya?” paksa Bu Dewi lagi.


Cintia semakin syok saja mendapat desakan seperti itu dari Bu Dewi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


 Hm ... mana nih yang mau ikutan kuis novel KAMPUNG HANTU? Ayo, buruan ikut supaya hadiahnya bisa kamu raih.... Ditunggu, ya?


__ADS_2