
Bu Dewi menjadi deg-degan mendengarkan omongan Bu Sinta. Perempuan itu pun mempererat gendongannya pada Panji. Ia tidak ingin Panji bangun dan menangis setelah melihat sebuah penampakan, karena Bu Sinta sudah mengatakan padanya bahwa mata batin Panji juga dibuka untk kesuksesan misi tersebut.
Baru saja Bu Dewi bersiaga sesuai dengan instruksi sahabatnya itu, tiba-tiba ekor mata perempuan itu sudah menangkap penampakan segerombolan ular besar di sisi kanan jalan. Sontak saja Bu Dewi langsung begidik ngeri karena ukuran ular-ular itu sangat tidak lazim. Dan Bu Dewi tahu bahwa ada ular kobra di antara gerombolan itu.
“Sin, apakah itu ular yang memangsa Pak Ade?” bisik Bu Dewi pada Bu Sinta.
“Diam, Wi! Jangan tatap ular-ular itu dan upayakan ketika kamu melangkah jangan sampai mengenai tubuh mereka!” pesan Bu Sinta.
“Bukankah kalau kita terlihat melompat, ular-ular itu akan tahu kalau kita dapat melihatnya?” tanya Bu Dewi lagi.
“Upayakan ketika kamu menghindari kontak fisik dengan mereka seolah-olah kamu sedang membuat gerakan alami!” jawab Bu Sinta.
Bu Dewi langsung paham dengan maksud perkataan sahabatnya itu. Ia pun selanjutnya berpura-pura untuk tidak melihat ke arah segerombol ular yang sedang memutar suatu tempat itu seakan-akan berpatroli di sana. Sangat berat bagi kedua perempuan itu untuk berpura-pura tidak melihat ular-ular itu karena tampilan fisik ular-ular itu sudah membuat kedua perempuan itu mengeluarkan keringat dingin saking takutnya.
Ketika mereka tepat berada satu garis lurus dengan ular-ular itu, entah sengaja atau tidak tiba-tiba ular king cobra yang sebelumnya hanya berada di pinggir jalan tiba-tiba kepalanya menghadang mereka di tengah jalan. Seandainya mereka berdua tetap berjalan maka mereka akan bersentuhan dengan kepala king cobra itu.
“Wi, nanti kalau anakmu sudah diobati sama dukun itu, kamu harus menuruti semua perintah dukunnya, ya?” ucap Bu Sinta dengan suara medium sambil menghentikan langkahnya secara mendadak dan menoleh ke arah Bu Dewi.
“Iya, Bu. Pasti akan saya turuti semua perintah dukunnya agar anak saya cepat sembuh,” jawab Bu Dewi sambil menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Bu Sinta.
“Nah, itu baru bagus!” sahut Bu Sinta kembali.
Mereka berdua melakukan sandiwawa itu dengan tepat sekali saat king cobra itu sepertinya sedang mencoba mengamati mereka. Selanjutnya king cobra itu pun kembali ke pinggir jalan dan memutari area yang ia lewati sebelumnya. Bu Dewi dan Bu Sinta pun melanjutkan perjalanannya kembali melewati kawanan ular raksasa itu tanpa dicurigai. Mereka berdua menjadi sangat lega ketika mereka sudah cukup jauh dari kawanan ular itu.
“Ya Tuhan, untung kita tadi cekatan, ya?” bisik Bu Dewi.
“Iya. Kamu keren sekali aktingnya tadi, Wi!” jawab Bu Sinta
“Kita akan ke mana sekarang, Sin?” tanya Bu Dewi.
“Kita akan pergi ke bukit itu sesuai dengan liputan yang ada di televisi lokal di mana Pak Ade dan keluarganya ditemukan. Aku yakin suamimu berada tidak jauh dari tempat itu,” jawab Bu Sinta dengan yakin.
“Sin, kamu jangan jauh-jauh dari aku, ya? Aku takut!” sahut Bu Dewi.
“Tenang, Wi! Kamu nggak usah takut!” jawab Bu Sinta sambil menarik lengan Bu Dewi untuk berjalan sesuai arahannya.
Kedua perempuan itu pun melanjutkan perjalanannya. Ternyata di sepanjang jalan yang mereka lalui, mereka melihat di setiap halaman rumah penduduk itu ada makhluk-makhluk aneh yang terlihat menyeramkan. Mungkin mereka itu ditugaskan untuk menjaga rumah-rumah itu. Bu Sinta selalu mengingatkan sahabatnya itu untuk tidak menatap ke arah makhluk-makhluk menyeramkan itu. Di antara makhluk-makhluk tak kasat mata itu ada yang paling menjijikkan yaitu makhluk yang sedang menjilati sesajen-sesajen yang diletakkan ada di sana. Untunglah kedua perempuan itu masih tahan untuk tidak muntah saat melihatnya dari sudut mata.
__ADS_1
Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya kedua perempuan itu sudah hampir mencapai kaki bukit yang sedang mereka tuju. Tiba-Tiba dari kejauhan Bu Dewi melihat seorang laki-laki yang sangat mirip dengan suaminya.
“Sin, coba kamu lihat ke depan! Sepertinya itu suamiku?” ucap Bu Dewi pada sahabatnya.
“Pria itu ya, Wi? Iya, dia itu suamimu, Wi! Hati-Hati! Kamu jangan langsung lari!” tegur Bu Sinta pada sahabatnya yang hendak berlari menuju suaminya.
“Loh, apa yang dilakukan suamiku di sana Sin? Ya Tuhan! Bukankah yang berada di sebelahnya itu ular besar, Sin? Apa yan harus kita lakukan, Sin?” tanya Bu Dewi dengan panik.
“Tenang, Wi! Jangan panik! Kita nggak boleh gegabah!” jawab Sinta.
Mereka berdua pun secara perlahan mendekati sambil mengendap-endap ke arah Pak Herman yang sedang bercumbu dengan ular raksasa itu. Bu Dewi terperangah saat mengetahui bahwa ular raksasa itu berkepala Laras. Pada saat itu perempuan itu tidak bisa menguasi emosinya. Ia langsung keuar dari persembunyiannya dan berteriak lantang ke arah mereka berdua.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Bu Dewi dengan emosi.
Pak Herman dan ular raksasa itu pun menoleh ke arah Bu Dewi.
“D-dddik! … to-long a—aku!” pekik Pak Herman tertahan.
“Hi hi hi hi hi … akhirnya kamu datang, Bude! Iya, Bude! Aku ingin merebut Pakde dari Bude untuk selamanya!” suara ular raksasa itu sambil meliuk-liuk di angkasa.
“Laras! Sadar kamu, Nduk! Apa yang kamu lakukan ini tidak pantas!” teriak Bu Dewi.
“Tapi, ini tidak pantas kamu lakukan, Laras! Kami itu adalah orang tua kamu!” sahut Bu Dewi.
“Aku tidak peduli, Bude! Aku ingin hidup bahagia hanya berdua dengan Pakde! Dan sebaiknya aku membunuh Bude juga agar tidak mengganggu hubungan kita! Hi hi hi hi hi …,” teriak ular raksasa itu sambil berusaha menukikkan mulutnya ke arah Bu Dewi.
“Tidaaaak!” teriak Bu Dewi sambil menghindari serangan Laras.
Kepala ular raksasa tu membentur tanah.
“Ternyata Bude ini hebat juga, ya?” teriak Laras kemudian.
Laras tidak kehabisan akal untuk mencelakai Bu Dewi. Ia kemudian merayap dan melilitkan badannya yang panjang ke sekujur tubuh Bu Dewi. Perempuan itu hanya bisa menangis karena ketakutan.
“Sadar, Nduk! Sadar! Apa yang kamu lakukan ini salah!” Bu Dewi terus menasehati anak angkatnya yang sudah menjelma menjadi seekor ular itu.
Tentu saja nasehat Bu Dewi tidak dihiraukan oleh Laras yang sedang dalam pengaruh pusaka Ki Santo itu. Selanjutnya Bu Dewi yang sudah dillit oleh ular raksasa itu pun tidak bisa berkutik. Pak Herman yang saat itu sudah mulai sadar dari pengaruh jahat Laras pun berusaha membantu melepaskan lilitan ular dari tubuh istrinya. Namun, usahanya berkali-kali gagal. Tubuhnya dihempaskan oleh ekor ular tersebut ke tanah.
__ADS_1
“Oooo … Pakde sudah nggak mau sama aku juga, ya? Pakde cintanya sama Bude, ya? Bude sebentar lagi akan aku bunuh, Pakde. Jadi, Pakde itu akan bersama dengan aku selamanya,” teriak Laras pada Pak Herman yang terus berusaha tanpa lelah melepaskan lilitan istrinya dari ular raksasa itu.
“Lepaskan budemu, Laras!” teriak Pakde yang tentu saja tidak digubris oleh Laras.
Selanjutnya mata Laras sudah memerah dan Pak Herman sudah terlempar agak jauh dari tempat tersebut. Laras sudah bersiap untuk menghabisi Bu Dewi. Kepala Laras mendekati Bu Dewi.
“Budeeee ….. bersiaplah untuk mati sekarang!” ucap Laras pada budenya tersebut.
Pada saat itu posisi kepala ular raksasa itu sudah sangat dekat sekali dari kepala Bu Dewi. Tanpa diduga Panji yang sedan tidur nyenyak di pelukan Bu Dewi, keluar dari jarik dan melihat wajah ular raksasa itu.
“Mmmmmmaaaa …,” ucap Panji sambil tangannya memegang kepala ular itu.
Laras yang tidak mengetahui bahwa Panji sedan digendong oleh Bu Dewi itu pun terkejut saat melihat anaknya tiba-tiba muncul tepat di depan matanya.
“Panjiiiiiii …” Itulah kata yang terlontar dari mulut Laras.
Panji mengelus-elus wajah ibunya yang saat itu masih berwujud ular raksasa. Balita itu tertawa kegirangan karena melihat orang yang sangat ia sayangi. Tiba-Tiba kekuatan lilitan Laras melemah terhadap Bu Dewi. Laras terharu dan menangis ketika melihat anaknya yang sangat ia cintai itu. Pada detik tersebut Bu Sinta keluar dari persembunyiannya. Dengan ilmu bela dirinya ia melompat ke arah kepala ular itu dan menarik pusaka yang ditanam di kepala Laras.
“Aaaaaaaaaargh!!!” teriak Laras dengan sangat nyaring saat pusaka milik Ki Santo lepas dari kepalanya.
Badan Laras yang semula berbentuk ular secara perlahan kembali berubah wujud menjadi sosok berpakaian putih dan selanjutnya Laras pun berubah wujud menjadi sosok yang cantik.
“Laras!” pekik Bu Dewi saat melihat anak angkatnya itu berubah menjadi cantik.
“Maafkan Laras, Bude! Itu semua bukan kemauan Laras!” ucap Laras sambil menangis.
Bu Dewi berusaha meraih tangan Laras, tapi ia tidak bisa menyentuh gadis itu. Semakin lama tubuh Laras semakin terlihat menipis dan buram di mata mereka.
“Bude … Laras pamit pergi, ya? Laras titip Panji, ya? Maafkan laras, Bude. Pakde tidak bersalah, Bude! Dia laki-laki yang baik! Panjiiiiiii … selamat tinggal ya, Nak! Mama pergi dulu! Doakan mama ya, Nak!” ucap Laras sebelum menghilang bersama angin malam.
“Mmmaaama …,” suara Panji sambil menatap kepergian ibunya dengan perasaan sedih.
“Laraaaas ….,” Bu Dewi tidak sanggup berkata apapun saat itu.
Pak Herman melangkah dengan tertatih menuju istrinya. Ia pun kemudian bersujud di kaki istrinya. Bu Dewi mengangkat kepala Pak Herman dan memeluknya dengan erat. Hatinya masih sakit saat itu, tapi perempuan itu berusaha untuk tetap tegar. Bu Sinta menatap haru atas peristiwa yang baru saja terjadi di depannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1